Sajak-Sajak Ngantuk (1)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/16/2019
oleh Sutardji Calzoum Bachri


Sajak-Sajak Ngantuk (1)



Semula Kauulurkan tanganMU
kukecupkan bibirku
Melangit
angan
hilang
anggun
abadi.

Lalu senyum itu...
(dunia yang hilang
duka pun hinggap di angan)
Gulungan kenangan
indah di ujung langit
mengawan.

Ciuman-ciuman sudah terlalu badani
terlalu insaru
Akulah ruh
Engkau pun ruh
Satu
dalam
ruh

kudekap Engkau
ruh :
bertemu

ruh.

(Catatan 1969)

Penyair yang baik bisa mengkonkretkan pengalaman puitik yang didapatnya dalam perjalanan hidup batinnya sehari-hari. Entah itu didapatnya dari pertemuannya dengan sehelai daun yang kena tetes hujan, luka kena pedang atau sipilis, pertemuannya dengan seekor ular, batu, pertemuannya dengan Tuhan, atau kerinduannya terhadap Tuhan, pertemuannya dengan setan, dengan lonte, atau dengan anak-anak, atau pun alkohol, dan seterusnya.

Untuk mengkonkretkan pengalaman puitiknya itu, penyair membutuhkan kata-kata sebagai materi konvensionil. Dengan kata-kata dia berusaha mengkonkretkan pengalaman puitiknya. Tetapi kata-kata biasanya hanyalah alat untuk mengantarkan pengertian. Dia hanyalah alat untuk menyuguhkan pengertian. Atau lebih tepatnya lagi: dia adalah alat yang cenderung untuk menyuguhkan pengertian.

Penulis sajak bisa lupa atau lengah, bahwa kata hanya sekadar alat untuk menyampaikan pengertian. Dia bukanlah sekadar pipa atau saluran untuk menyampaikan arti. Kata-kata mempunyai segi lain yang sering dilupakan, yakni bahwa kata-kata itu hadir, eksis dengan segala bunyinya: bahkan dengan segala bentuk fisiknya sebagai abjad. Dan dalam kehadirannya, kata-kata bahkan mempunyai aroma tertentu, mempunyai bau tertentu. Di sinilah diuji atau ditantang kepekaan atau bakat penyair terhadap kata-kata. 
Dengan kata lain, kata-kara itu konkret. Dia bisa seperti batu, kita bisa tersentuh atau tersandung olehnya: tanpa dimengerti. 

Penyair yang baik bisa mengkonkretkan pengalaman puitiknya, sehingga kita bisa tersentuh walaupun tidak bisa mengerti. Dengan kata lain, setiap sajak yang berhasil adalah konkret walaupun tidak termasuk dalam jenis puisi konkret. 

Tentu saja tidak setiap penulis sajak bisa mengkonkretkan apa yang dirasakannya sebagai pengalaman puitiknya. Paling tidak ada dua hal yang menyebabkan ketidakberhasilan itu. Mungkin apa yang dikira atau dirasanya itu sebagai pengalaman puitik yang hebat, bagi orang lain ternyata adalah hal yang biasa-biasa saja. Atau mungkin pengalaman puitik tersebut dapat kita mengerti sebagai sesuatu yang besar dan hebat atau dalam, hanya saja dia gagal dalam usaha mengkonkretkannya dalam sajaknya. 

Kerinduan pada Tuhan, pertemuan dengan Tuhan, kegairahan padaNya mendapat porsi yang sangat besar dalam sajak-sajak Budiman S. Hartoyo dalam kumpulannya Sebelum Tidur (Dunia Pustaka jaya, 1977, hal. 88). Kalaulah hanya dengan pertemuan dengan sehelai rambut atau rumput, seorang penyair bisa mendapat rangsangan atau pengalaman puitik yang besar, maka dapat dimengerti betapa besarnya pengalaman puitik dalam kerinduan dan pertemuannya dengan Tuhan. 

Saya bisa mengerti rangsangan besar apa atau pengalaman dahsyat apa yang dirasakan Budiman ketika dia bertemu dengan Tuhannya yang “dilaporkannya” kepada kita: 

Yang berhadapan kini adalah 
aku dan Engkau 
Tenggelam dalam pekat perasaan 
saling bertanya 
dan menduga 

Dengan baris-baris di atas saya hanya mengerti apa yang dirasakan sang penyairnya. Tetapi saya tidak berhasil diajak ikut serta dalam perasaannya. Saya tidak ikut tersentuh. Padahal sebuah sajak yang baik haruslah bisa menyentuh perasaan pembacanya, seperti sebuah batu yang menyentuh kaki kita. Kenapa? 

Sebabnya sederhana saja Budiman belum membuat sajak, dia baru membuat laporan-laporan. Dia adalah reporter yang baik. Dia memberikan reportase pertemuannya dengan Tuhannya dan di sana-sini dilampirkannya pertanyaan-pertanyaan banal: (Ciuman-ciuman sudah terlalu badani/ terlalu insani/ Akulah ruh/ Engkau pun ruh/Satu/dalam/ruh)

Kenapa Budiman belum membuat puisi?

Bersambung ke: Sajak-Sajak Ngantuk (2)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »