Sajak-Sajak Ngantuk (2) - Sutardji Calzoum Bachri

ADMIN SASTRAMEDIA 6/16/2019
oleh Sutardji Calzoum Bachri

Sajak-Sajak Ngantuk

Karena dia belum berhasil mengkonkretkan pengalaman puitiknya.

Kata-kata dalam kebanyakan sajaknya hanyalah sebagai alat untuk mengantarkan pengertian. Maka yang kita dapat dari sajaknya hanyalah pengertian. Kita mengerti apa maunya, tapi sajaknya kering dari perasaan. Kita tidak tersentuh. Jargon, klise, dan semacamnya banyak bertaburan dalam baris-baris sajak Budiman. 

Maka ketika ia menyatakan dirinya bahwa dia adalah maut (Akulah yang bernama maut/ Aku, itulah hidup/ Jiwa adalah aku/ Aku juga raga itu sendiri/ nafas dan darah/ Namaku juga adalah semangat dan nafsu/ Tapi derita dan kerja / selalu menyertaiku/ tiada selembar pun batas/ antara aku dan maut/ Maut dan aku/ aku dan maut/ satu adanya) dalam sajak yang dia beri judul “ia Namakan Dirinya Maut", kita tidak tergetar apa? “Aku” dan “Maut" tidak berhasil dia hadirkan pada kita.

Tentang “ke-Aku-an” nampaknya Budiman tidak ambil pusing amat. Dia tidak ambil peduli pada pencarian orisinalitas. Maka dalam kumpulan Sebelum Tidur yang berisikan sajak-sajak dari tahun 1960-1976, di sana-sini terdengar suara penyair lain. 

Dalam tahun enampuluhan di masa dunia persajakan kita penuh dengan sentimentalitas, Budiman sudah turut menyumbang sajak-sajak sentimentil yang berbau Hartoyo Andangjaya atau Mansur Samin: 

“Aku sekarang pulang, adikku sayang 
Tahu arti cinta dan kampung halaman 
Masihkah kau ingat ciri luka di pipiku 
Masihkah kauingat suara dan langkahku?

 (“Surat Seorang Abang kepada Adiknya”, 1960). 

Tapi enambelas tahun kemudian, yakni pada tahun 1976, penyar kita ini masih belum juga menemukan suaranya sendiri. Sajak-sajaknya “Kupandang Langit dari Beranda” dan “Sebelum Engkau Terlambat” sarat dengan suara-suara Goenawan Mohamad atau Sapardi Djoko Damono: 

"Adakah yang akan kaukatakan menjelang parak siang, sebelum mimpi kembali datang lalu menjelma menjadi bayang-bayang? Engkau selalu terdiam apabila aku bertanya adakah hari akan hujan kalau aku berangkat. Dan sekarang kita berpisah dan engkau merasa tak perlu lagi menunggu di beranda itu. Tapi memang ada yang hilang sekarang: cahaya matamu yang mengembun di balik kaca jendela.

Dari beranda rumah itu, malam itu sebelum berangkat aku masih ingat, rasanya ada kulihat engkau terbang, samar kabur di langit. Adakah yang tertinggal di kamar belakang ketika aku buru-buru pamit malam itu dan lupa menutup pintu sementara engkau membetulkan selimutmu? Ketika itu radio sudah menutup siaran dan nuri tak lagi tergantung di halaman. Dan sekarang, di sini, aku bergumam sendirian: “Kupandang langit...” 

(“Kupandang Langit dari Beranda”, 1976) 
Budiman S. Hartoyo bukanlah satu-satunya penulis sajak kita yang bergantung pada suara-suara penyair lain. Masih ada segudang penyair yang semacam dia.


Bersambung ke: Sajak-Sajak Ngantuk (3)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »