Sajak-Sajak T. Alias Taib

ADMIN SASTRAMEDIA 6/15/2019
Sajak-Sajak T. Alias Taib - sastramedia.com

Pandangan dari Sebuah Daratan

langit dan laut bersetubuh
di atas ranjang senja
dan lahirlah sebuah kapal

laut dan langit begitu berat
melepaskan kapal itu
dari pelukan mereka

dari tebing pantai
kulihat garis panjang-sepi
di atasnya kapal merangkak
bak kura-kura

seperti kapal itu
begitulah hatiku
merangkak ke suatu titik
kecil dan mengerdip jauh
bak bintang

1989

Sandiwara Seoul

seharian angin itu
                 mengekoriku
menjilat pipiku
menyelak kulitku
meramas rambutku

seharian angin itu
                menegurku
mendengar tuturku
mempelajari tabiatku
bertanya darahku

seharian angin itu
               mengibarkan
bendera Korea
di jantungku


Seoul, Musim Gugur 88

Pandangan dari Sebuah Terminal Bas

tidak ada yang abadi
di pelabuhan riuh dan tergesa ini
penumpang-penumpang tiba dan berangkat
meninggalkan jemu mengepul
dan udara yang menghamilkan suara

tidak ada yang hening
di lautan yang senantiasa berdebur ini
penumpang-penumpang tiada waktu
memuja langit kulit limau
atau mengutip tembaga senja

yang ada di sini
di perhentian panas dan sementara ini
ribut yang sukar dimaknakan
debu kering bergulingan
di antara ketibaan dan keberangkatan
tidak ada yang seresah
mata mencari penumpang-penumpang

1989

Pengantin

Mahkota kesayangannya diserahkan. Di dalam
kelambu itu, bermulalah adegan dari babak
berduri yang ditakuti tetapi diingini.
Di atas tilam itu, terapung berahi hijaunya
dipukul laut pahit tak berombak.

Daun jendela hidupnya diselakkan. Di luar,
terbentang dunia suram yang tak jelas
bagai huruf-huruf pada petak silang kata.
Angin dan malam menggosok leher pohon.
Pohon menggeliat, melepaskan jerit yang
sukar dimaknakan.

Seperti angin dan malam yang berkongsi
leher pohon, begitulah mereka berkongsi
pelamin kehidupan di bawah langit biru-
keliru, dihadapan gelombang tenang-resah
dan di simpang jalan bercabang.

Penyanyi

kurapati dunia riuhmu
dunia gemuruh yang menyilaukan
kumasuki dunia gemerlapmu
di bawah suluhan ribuan lampu
kau berdiri di situ
melegarkan suaramu
bagai merak rimba
memperagakan kilau bulunya

di hadapanku pentas hidupmu
dipagari tangan menggapai
pada pentas itu sebuah tangga
kau perlahan-lahan menaikinya
dan berdiri di situ
mengisahkan lukamu
bagai sungai tua
merangkak dihimpit batu

kutinggalkan dunia gemerlapmu
dan kembali ke dunia senyapku

1987

Bunyi

bagaimana dapat kukeluar
dari mulut pagi riuh
dari raung singa lapar ini?

fajar tersentak bagai gonggok
dengan kicau kanak-kanak
tersepit dalam enjin bas
radio dan tv sehari suntuk
menggelegak di sudut kamar
hon van sayur berulang kali
menghiris buaian bayi
sementara jerit kereta sorong
meninggi bersama matahari

senja letih disambut salak
sekumpulan anjing yang galak
penghuni kota menerbangkan keluarga
menghampiri pipi malam
yang digebukan pelbagai bedak

jauh di sebuah gang
di bawah kilat gincu lampu
suara berbaur dari babak berahi
suara yang menghidupkan malam

bagaimana dapat kulari
dari mulut malam riuh
ke dalam perut burung sunyi?

1987

Tentang Penyair

T. Alias Taib, lahir 20 Februari 1943 di Kuala Terengganu, pendidikan awal di sekolah melayu Gong Kapas, Sekolah Inggeris Sulatan Sulaiman, dan melanjutkan pendidikan di Pusat Latihan Perguruan, Kuala Terengganu. Mengajar di berbagai sekolah di sekitar Kuala Terengganu. Pindah ke Kuala Lumpur dan sampai kini mengajar di kota itu.

Mulai menulis cerpen dan puisi tahun 1960. Buku-buku puisi yang telah diterbitkan Pemburu Kota (1978), Seberkas Kunci (1985), Opera (1988), dan Piramid (1990). Ia sangat menyukai sajak-sajak penyair Malaysia A. Samad Said, dan penyair Indonesia Bur Rasuanto, Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad dan Rendra. Ia menyatakan sajak-sajak awalnya amat terpengaruh puisi-puisi Rendra.

Memperoleh Hadiah Sastra Malaysia untuk puisinya Sekali-sekala (1976), Setinggam dan Papanianda Kota (1978), dan Kukutip Makna Sunyi (1978-88), sajak-sajaknya dimuat di berbagai majalah di Malaysia antara lain; Dewan Bahasa, Dewan Masyarakat, Utusan Zaman, Beerita Minggu. Pernah membacakan sajak-sajaknya di kampus-kampus Universitas di Korea (1987) dan Jakarta (1989).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »