Tokoh dan Pengarang - Goenawan Mohamad

ADMIN SASTRAMEDIA 6/22/2019
oleh Goenawan Mohamad


Tokoh dan Pengarang

SASTRAMEDIA.COM - Sebuah cerita Andersen yang amat bagus tapi jarang dikenal berkisah tentang sarjana yang datang ke sebuah negeri panas. Di negeri itu, dalam jam-jam ketika sendirian, ia ditemani hanya oleh bayang-bayangnya. Matahari sangat terang dan kuat, dan bayang-bayang itu pun makin menegas, ia juga makin kukuh. Pada akhirnya ia mendapatkan otonominya sendiri: ia membebaskan diri dari sang sarjana. Pada penutup dongeng, sang bayangan itulah yang akhirnya menikah dengan putri kerajaan yang disembuhkan, sementara. sang sarjana terbenam, menghilang, ketika terompet berbunyi.

Saya membaca cerita itu beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah terjemahan Trisno Sumardjo di tahun 1955. Sejak itu, tiap kali ada persoalan tentang seorang pengarang dan karyanya -satu soal yang tampaknya tak putus-putusnya ada di
dalam kritik sastra- saya selalu ingat akan dongeng Andersen tentang sang bayang-bayang.

Bagi saya, sebuah karya sastra -puisi, novel- adalah ibarat bayang-bayang penulisnya. Di katulistiwa yang luas, bayang-bayang itu, dalam khayal saya, makin lama makin besar, menjadi bertambah penting, dan dalam perkembangannya kemudian, setapak demi setapak, secara ajaib, mengambil kemandiriannya sendiri. Pada gilirannya, novel atau sajak itulah yang jadi mempelai, Dialah yang disambut dan dialah yang dibicarakan. Sang pengarang undur ke tempat lain, agak jauh dari podium, atau mungkin juga tenggelam, dengan atau tanpa kesedihan. Dewasa ini misalnya, novel seperti Salah Asuhan dan Siti Nurbaya selalu hadir di dalam pembicaraan-pembicaraan penting atau tak penting tentang sastra, meskipun sudah lama tak dicetak ulang lagi, sementara siapa yang masih menganggap perlu berbicara tetek bengek riwayat Abdui Muis atau Marah Rusli?

Bukan karena sebuah novel adalah sebuah monumen dan karena itu awet. Roman atau puisi justru bukan monumen, yang dipasang setelah obituari ditulis dan kenangan ditakutkan hendak lepas ke dalam gua yang gelap. Saya justru membayangkan sebuah batu gunung (maafkanlah kebiasaan mencari kiasan ini) yang terpancang di tebing. Dalam proses menggelinding ia terhenti beberapa jaraknya dari kepundan yang sesekali muntah. Dengan kata lain, ia sebuah output yang tampak, tertinggal, mengesankan, sekaligus sesuatu yang senantiasa bisa dibentuk dengan tilikan dan imajinasi baru.

Dengan demikian, dalam keadaan stasioner itu, ia tidak mandek. Keabadian sebuah karya sastra bukanlah karena ia menorehkan "luka yang abadi”, seperti dikatakan Robert Frost, melainkan karena ja mempunyai sebuah kamar rahasia, tempat tersimpan sumber tenaga yang seakan-akan tak habis-habis.

Itulah sebabnya sia-sia saja membuatnya jadi sebuah ikhtisar. Pengarangnya sendiri tidak selalu bisa meletakkannya dalam sebuah program bahkan untuk sajak yang tidak luar biasa.

Beberapa tahun yang lalu seorang redaktur sebuah ruangan kebudayaan di sebuah harian, meminta kepada saya menceriterakan apa yang saya maksud dengan sajak Pariksit. Saya, untuk beberapa hari lamanya, tidak tahu akan menjawab apa. Ia seolah-olah menanyakan sebuah rahasia yang seakan-akan saya simpan baik-baik, sebuah kunci dari sederet kode yang sengaja saya pasang agar orang tidak tahu maksud saya sebenarnya. Ia lupa, atau memang tidak mengerti, bahwa sebuah puisi bukanlah kata-kata sandi. Sebuah puisi justru berbicara langsung, hanya kadang-kadang, jalan yang ditempuhnya bukanlah jalan yang dipetakan satu petak demi satu petak. Tak ada flow chart: yang ada hanya degup, suara dan warna dan paduan benda seperti pagi, di mana ide, hadir seperti sisa bulan tadi malam: yakni sebuah bayang putih, membaur, tanpa supremasi, terasa jauh.

Sebuah puisi, bahkan sebuah novel, karena itu selalu lari dari satu ide yang hendak dipasangkan secara persis — sebuah ide sebagai satu-satunya sumber terang. Milan Kundera pernah menyebut sesuatu yang ia namakan "kearifan sang novel”, yang berbeda dari kepintaran sang pengarang. “Novel-novel besar”, kata Kundera, "selalu lebih pandai ketimbang pengarang mereka”. Tolstoy merencanakan tokoh Anna Karenina yang berbeda ketika ia merencanakan menulis novelnya itu, tapi dalam proses novel itu mengambil jalan perkembangannya sendiri.

Kesulitan kita ialah bahwa di masa ketika puisi dan novel penting tidak lagi dibaca, seperti sekarang, akhirnya para pengaranglah yang mengambil alih peran kesusastraan. Di satu sisi kritik sastra berkembang menjadi psikoanalisa, dan, akhirnya, gosip. Di sisi lain sang pengarang jadi tokoh publik.

Yang penting bukanlah lagi sajak-sajak, tapi tingkah laku, dan tatkala karakter seperti Aki (dalam cerita Idrus atau Lu Hsun) tidak dilahirkan lagi yang berada dalam sorotan kamera dan membekas dalam ingatan adalah sang pengarang sendiri. 

Norman Mailer jadi buah bibir orang, tapi kita tak ingat lagi siapakah yang punya profil menonjol dalam The Naked and The Dead dan siapa pula yang tak terlupakan dalam Tough Guys Don't Dance, Sutardji Calzoum Bachri dipotret dalam keadaan teler oleh bir, dan seorang pembahas mengatakan dialah penulis sajak mabuk-mabukan: kita lupa bahwa sajak-sajak Sutardji adalah sajak-sajak yang amat religius. Dan bila kita bicara Rendra sebagai tipe ideal seorang penyair penulis protes sosial, kita agaknya hanya mengingatnya sebagai seorang yang pernah menulis Nyanyian Angsa. Dan tentang Pramudya Ananta Toer: sebenarnya yang kita hargai dalam karya seperti Bumi Manusia (sampai dengan Jejak Langkah) adalah karena novel-novel itu memperkaya kerohanian kita, ataukah karena kenyataan bahwa Pramudya Ananta Toer menuliskannya dalam keadaan sebagai orang tahanan, dan karya-karyanya kemudian tetap dilarang?

Orang akan mengatakan, mungkin, bahwa karya kita harus dibaptiskan dengan kulit kita yang terbakar. Harga sebuah kata, ditentukan oleh tebalnya lapisan penderitaan yang membuat kata itu ditulis. Sebuah puisi, sebuah novel, adalah pencerminan pribadi, dan pribadi adalah sebuah komposisi dari pengalaman yang tulen. Saya kira itu benar. Tapi justru karena puisi atau novel mendapatkan kekuatannya dari sana, ia tidak perlu tersisih dari perhatian. Di sampingnya, sang pengarang seharusnya tak perlu lagi menunjukkan diri.

__
Sumber: Horison, Nomor 1, Tahun XX, Januari 1986

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »