Ungkapan "Aku" dalam Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme, Nietzsche

ADMIN SASTRAMEDIA 6/01/2019
Oleh Kistiriana Agustin Erry Saputri 


2. Ungkapan Ich (aku)  Dalam Puisi Du Hast Gerufen – Herr, Ich Komme, Nietzsche 

Bait ke-1:


Du hast gerufen:
Herr : ich eile
Und weile
An deines Thrones Stufen.
Von Lieb entglommen
Strahlt mir so herzlich,
Schmerzlich

Dein Blick ins Herz ein : Herr , ich komme.

engkau memanggil:
Tuhan: aku bergegas
dan kini mendamba
di tangga singgasanaMu
dinyalakan cinta
pandangMu alangkah ramah
menyakitkan
berkilau menembus kalbu:Tuhan kuhampiri
 
Baris pertama puisi diawali dengan seruan ich (aku)  kepada Tuhannya. Du hast gerufen (engkau memanggil), dalam baris pertama ini ich (aku) menyebut Tuhannya dengan kata du (kamu). Du dalam bahasa Jerman digunakan untuk sebutan kepada orang lain yang bisa dikatakan sudah akrab. Di sisi lain, sebutan untuk orang yang lebih dihormati atau belum akrab biasa digunakan kata Sie
(anda).

Penjelasan kata du (kamu) tersebut dapat diinterpretasikan bahwa ich (aku) menganggap Tuhan sudah sangat dekat dengannya. Hal ini tentu juga akan dilakukan oleh semua orang yang ingin memohon kepada Tuhannya. Pada saat berdo’alah mereka merasa sangat dekat dengan Tuhannya, sehingga dalam do’anya mereka selalu menggunakan kata “padamu atau engkau” yang dapat diartikan bahwa pada saat itulah mereka merasa dekat dengan Tuhan.

Selanjutnya kata rufen (memanggil) pada baris pertama ini juga dapat dimaknai dengan makna menyeru. Ich (aku) menyebutkan bahwa du (sebutan kata yang digunakan ich (aku) untuk menyebut Tuhannya) telah menyeru atau memanggil. Maksud dari seruan di sini tidak akan luput dari eksistensi Tuhan.

Eksistensi Tuhan yang berupa seruan yang ditunjukan dengan  kasih sayang Tuhan terhadap umatnya. Kasih sayang Tuhan disini juga dapat disebut dengan hidayah. Rufen dalam puisi ini dapat diinterpretasikan bahwa Tuhan telah memberi hidayah kepada ich (aku), dan ich (aku) merasa terpanggil dan segera merespon seruan atau hidayah Tuhan tersebut.

Bait pertama dalam puisi tersebut kemudian dilanjutkan dengan kalimat Herr: ich eile (Tuhan aku bergegas). Ich eile (aku bergegas), bergegas yang dapat diartikan melakukan sesuatu secara cepat atau bisa diartikan dengan terburu-buru. Makna kalimat ini meneruskan makna kata sebelumnya yaitu rufen (memanggil).

Ungkapan ich (aku) di sini adalah, dengan adanya rufen yang diartikan seruan Tuhan, ich (aku) dengan segera merespon seruan itu dengan cepat atau menyambut seruan Tuhan dan siap untuk menghadap, melakukan apa yang harus dilakukan. Bergegas di sini juga dapat disebut dengan ketaatan seorang umat kepada Tuhannya. Dalam puisi ini kata bergegas dapat diinterpretasikan bahwa ich (aku) ingin segera kembali ke jalan Tuhan, karena seperti yang telah diungkapkan oleh ich (aku) sebelumnya bahwa ich (aku) telah mendapat hidayah dari Tuhannya.

Bergegas atau merespon yang ditunjukan ich (aku)  disini sama halnya seperti seseorang yang dengan segera menjawab dan merespon jika telah dipanggil. Sebagai contoh jika seorang pegawai atau bawahan yang telah dipanggil dan diperintah oleh pimpinan  atau majikannya, pasti dengan segera merespon dan dengan segera mematuhi apa yang diperintahnya.
Pada baris ketiga dan keempat und weile (dan kini mendamba), an deines Thrones Stufen (di tangga singgasanaMu) ich (aku) mengungkapkan bahwa ia mendamba di tangga singgasanaNya. Mendamba yang berasal dari kata damba, yang mempunyai arti sangat menginginkan atau sangat merindukan, dan singgasana yang bermakna tahta raja atau tempat untuk raja. Ich (aku) menggunakan kata singgasana karena ich (aku) menganggap Tuhan seperti raja karena dilihat dari makna paling tinggi. Raja mempunyai posisi paling tinggi untuk para rakyatnya, tetapi posisi Tuhan menjadi posisi yang paling tinggi dari segalanya.

Dilihat dari makna pada baris ketiga dan keempat, dapat diinterpretasikan bahwa ich (aku) sangat menginginkan atau sangat merindukan kembali ke jalan Tuhannya, karena untuk menggapai singgasana Tuhan perlu melewati tangga singgasanaNya.

Dambaan diatas juga dapat dimaknai dan ditujukan untuk segala sesuatu yang positif dan bertujuan baik. Sebagai contoh jika laki-laki yang mendambakan istri baik dan sholehah bertujuan agar bisa memberikan contoh yang baik untuk anaknya kelak ataupun seorang perempuan yang mendambakan suami yang baik dan sholeh bertujuan agar dapat membimbingnya menuju jalan benar yaitu jalan Tuhan. Begitu juga para umat manusia yang pasti menginginkan atau mendambakan untuk surga Tuhan.

Baris ke -5, -6, -7, -8 von Lieb entglommen (dinyalakan cinta), strahlt mir so herzlich (pandangMu alangkah ramah), schmerzlich (menyakitkan), dein Blick ins Herz ein: Herr, ich komme (berkilau menembus kalbu: Tuhan, kuhampiri). von Lieb entglommen (dinyalakan cinta) pada baris ke-5 dapat diartikan dengan, ditampakkan atau dihidupkan cinta. Cinta disini dimaksud dari cinta sang Tuhan. Cinta sang Tuhan diwujudkan dengan segala nikmat yang selalu diberikan untuk semua umatNya. Tuhan telah menampakkan atau menghidupkan cintaNya yang dapat diwujudkan dengan segala nikmat dan karunia.

Strahlt mir so herzlich (pandangMu alangkah ramah) PandangMu disini dapat juga dimaknai dengan perhatian, pandangan atau perhatian Tuhan kepada umatnya. Pandangan yang senantiasa memancar, dan memberikan penerangan kepada seluruh umat. Dalam puisi ini menyebutkan bahwa pandangan Tuhan alangkah ramah dan menyakitkan. Pandangan Tuhan yang ramah selalu diberikan kepada para umat yang senantiasa menjalankan perintah dari Tuhannya.

Ungkapan ich (aku) pada baris ini dapat diinterpretasikan bahwa Tuhan yang selalu memancarkan menghidupkan cintaNya yang diwujudkan dengan nikmat dan karunia, Tuhan juga mempunyai perhatian yang ramah dan menyakitkan kepada umatNya, dan perhatianNya tersebut sangat dirasakan ich (aku) dan menyentuh hatinya sehingga, ich (aku) memutuskan untuk menghampiri Tuhannya atau kembali ke jalan yang telah ditentukan oleh Tuhannya, ditunjukkan pada kata Herr, ich komme (Tuhan, kuhampiri).

Kesimpulan konsep ausdruck yang terdapat pada bait pertama adalah, ich (aku) merasa bahwa Tuhannya telah menyerunya dan ich menganggap adanya eksistensi Tuhan dengan perantara hidayah yang telah diberikan kepadanya. Ich (aku) merasa rindu dan sangat menginginkan untuk kembali ke singgasana atau jalan Tuhan. Dalam meraih singgasana Tuhan ich (aku)  sadar bahwa Tuhan selalu memancarkan kasih dengan caraNya, memberikan perhatian yang ramah dan kadang menyakitkan kepada umatNya, tergantung perilaku umatNya tersebut. Pancaran kasih Tuhan begitu menyentuh hati ich (aku), dan semakin membuatnya sadar bahwa Tuhan telah memanggilnya untuk kembali ke jalanNya yaitu jalan kebenaran.

Bait ke-2


Ich war verloren
Taumeltrunken
Versunken,
Zur Höll und Qual erkoren.
Du standst von ferne:
Dein Bück unsӓglich
Beweglich
Traf mich so oft : nun komm’ ich gerne.

dulu aku tersesat
mabuk mimpi
terbenam
terpilih bagi neraka dan sengsara
dulu kau menjulang jauh
pandangMu tak terpermanai 
berkisar

menyentuhku kerap sekali: kini gemar kuhampiri

Pada baris ke-9, -10, -11, -12 ich war verloren, (dulu aku tersesat,), taumeltrunken (mabuk mimpi), versunken, (terbenam,), zur Höll und Qual erkoren (terpilih bagi neraka dan sengsara) ich (aku) mengungkapkan bahwa dulu ia tersesat, merasa telah dimabukkan oleh mimpi, merasa terbenam, dan ia juga merasa bahwa dirinya terpilih untuk neraka dan akan sengsara. Kata verloren (tersesat) pada baris ke -9 dapat diartikan dengan menempuh jalan yang tidak seharusnya atau salah. Tersesat dalam puisi ini diartikan bahwa ich (aku) berada di jalan yang salah, jalan yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan. tersesatnya ich (aku) disini berupa perilaku ich (aku) yang tidak sesuai dengan perintah Tuhan yang telah ditetapkan.

Tersesat juga sering dialami oleh semua orang. Banyak faktor yang mengakibatkan seseorang menjadi tersesat. Tersesat menuju ke suatu tempat karena tidak mempunyai petunjuk yang jelas seperti peta misalnya. Tersesat yang dialami oleh ich (aku) juga dialami oleh beberapa masyarakat. Kalangan masyarakat sekarang ini banyak sekali yang percaya akan adanya kekuatan supra natural seperti dukun, pelet, sesaji, guna-guna, dan lain sebagainya. Mereka tidak sadar bahwa kepercayaan mereka terhadap hal-hal seperti itu mengakibatkan mereka tersesat ke jalan yang tidak benar. Jalan yang jauh dari Tuhan dan tidak disukai oleh Tuhan.

Taumeltrunken (mabuk mimpi) di baris ke-10 seperti pada pemaparan ungkapan bagian pertama bahwa dapat diartikan hilangnya kesadaran diri karena terlalu banyak berkhayal. Mabuk mimpi juga dapat diartikan dengan kesadaran yang hilang diakibatkan oleh kenikmatan dan kesenangan sementara. Kenikmatan dunialah yang mempengaruhi hilangnya kesadaran ich (aku). Versunken (terbenam) pada baris selanjutnya memperkuat baris sebelumnya. Terbenam dapat diartikan dengan menghilang. Sebagai contoh pada saat matahari terbenam, berarti matahari mulai menghilang atau tidak terlihat lagi. Terbenam disini juga dapat diartikan dengan masuk ke dalam keadaan yang buruk atau kesengsaraan.

Pada baris ke-12 zur Höll und Qual erkoren (terpilih bagi neraka dan sengsara) terdapat kata neraka dan sengsara yang mempunyai makna, neraka adalah alam akhirat tempat penyiksaan untuk orang yang berdosa, tempat untuk semua umat Tuhan yang tidak menjalankan perintahNya. Sengsara yang berarti menderita kesusahan dalam hidup. Neraka dan sengsara mempunyai hubungan yang sangat kuat karena, kehidupan di neraka pasti akan menimbulkan kesengsaraan. Kesengsaraan yang tidak diinginkan oleh siapapun. Kehidupan yang jauh dari kebahagiaan.

Penginterpretasian dari ungkapan ich (aku) pada baris ke-9, -10, -11, -12 adalah, ich (aku) pernah merasa tersesat atau berada di jalan yang salah yaitu jalan yang tidak sesuai dengan aturan Tuhannya. Ich (aku) telah terbuai dengan kenikmatan duniawi yang telah ia rasakan, dan membuatnya menjadi lupa diri. Ia juga sadar bahwa akibat dari perilakunya, dia akan menjadi penghuni neraka dan mengalami kesusahan dalam hidupnya. Hal ini tentu juga dirasakan oleh semua orang yang pernah merasa tersesat dan tidak menjalankan perintah dari Tuhannya.
Ungkapan ich (aku) pada baris ke-13 dan -14 Du standst von ferne (dulu kau menjulang jauh) dein Blick unsäglich (pandangMu tak terpermanai) adalah, ia merasa bahwa dulu Tuhannya menjulang jauh, dan pandanganNya tak terpermanai. Menjulang jauh yang dapat diartikan dengan keberadaan yang berada di tempat yang sangat jauh dan tidak dapat diraih. Menjulang jauh disini bukan berarti berada di tempat yang jauh tetapi, menjulang jauh mempunyai makna bahwa Tuhan terasa jauh dari jiwanya dikarenakan perilaku yang menyimpang dari ajaran Tuhan. Seseorang yang sudah terjerumus dengan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Tuhan pasti akan merasa bahwa Tuhan jauh dari mereka. Semua itu karena mereka tidak pernah menganggap adanya Tuhan dengan melakukan suatu hal yang sudah jelas bukan petunjuk dari Tuhannya.

Akibat dari Tuhan yang menjulang jauh, membuat dein Blick unsäglich (pandangMu tak terpermanai). Pandang Tuhan yang selalu memancar, atau perhatian Tuhan yang selalu diberikan kepada umatNya, tidak dapat dirasakan karena Tuhan yang menjulang jauh. Penafsiran ungkapan ich (aku) pada bait ini menjadi penguat penafsiran ungkapan ich (aku) pada baris sebelumnya yaitu, akibat dari perilakunya yang tidak sesuai dengan ajaran Tuhan, maka Tuhan akan terasa jauh dari dirinya, dan perhatian atau kasih Tuhan tidak dapat ia rasakan.

Baris ke-15, dan -16 beweglich (berkisar), traf mich so oft: nun komm’ ich gerne (menyentuhku kerap sekali: kini gemar kuhampiri). Kata berkisar pada baris ke-15 mempunyai arti beralih atau berpindah. Kata berpindah dalam konteks puisi ini menunjuk kepada Tuhan, yang mempunyai makna bahwa Tuhan itu selalu ada dimanapun umatNya berada. Tuhan selalu memperhatikan semua umatNya, memperhatikan dimanapun umatNya berada, dan apapun yang umatNya lakukan. Selanjutnya adalah kata menyentuh pada baris ke-16, yang berasal dari kata sentuh dan mempunyai arti memegang secara langsung. Dalam konteks puisi, kata menyentuh dapat dimaknai dengan mengingatkan. Tuhan tidak akan berhenti untuk mengingatkan umatnya kapanpun dan dimanapun.

Ungkapan ich (aku) pada dua baris terakhir bait kedua ini dapat diinterpretasikan bahwa Tuhan tidak akan jauh dari umatNya walaupun umatNya merasa jauh denganNya. Tuhan juga tidak akan berhenti mengingatkan umatnya apapun keadaannya. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat Tuhan yang akan selalu memaafkan segala kesalahan umatNya sebesar apapun kesalahan itu, selagi mereka masih mempunyai kemauan untuk bertaubat.

Dengan demikin, walaupun ich (aku) merasa bahwa Tuhan telah menjulang jauh akibat perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan Tuhan, tetapi ia juga sadar bahwa Tuhan tidak akan henti-hentinya mengingatkannya untuk kembali ke jalan yang benar. Dalam kalimat “kini gemar kuhampiri”, menjadi bukti pernyataan ich (aku) bahwa ia sudah kembali ke aturan dan jalan Tuhan.

Kesimpulan konsep ausdruck pada bait kedua adalah ich (aku) merasa bahwa ia pernah merasa tersesat dijalan yang salah atau tidak sesuai dengan ajaran Tuhan, dan ia juga merasa telah terbuai dengan kenikmatan dunia yang membuatnya tenggelam ke dalam perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan Tuhan. Ich (aku) juga menyadari bahwa dengan perilakunya seperti itu, ia akan menjadi salah satu penghuni neraka, dia juga akan mengalami kehidupan yang sangat menderita dan kesusahan. Ich (aku) juga merasa bahwa dirinya telah jauh dari Tuhan, ia juga tidak dapat merasakan kasih Tuhan, akan tetapi walau ia merasa seperti itu, Tuhan akan berkebalikan dengannya. Tuhan akan tetap selalu dekat dengannya, sampai pada saatnya ia merasa bahwa Tuhan selalu memperingatinya dan kini ia telah berada di jalan Tuhan.

Bait ke-3


Ich fühl’ ein Grauen.
Vor der Sünde
Nachtgründe
Und mag nicht rückwӓrts schauen
Kann dich nicht lassen,
In Nӓchten schaurig,
Traurig
Seh’ ich auf dich und muss dich fassen.


aku ngeri
akan kedalaman malam
sang dosa
dan enggan kuberpaling
tak sanggup abaikanMu
di malam seram ngeri
dengan pilu
aku menatapMu, harus merengkuhmu

Pada baris ke-17, -18, -19, dan -20 Ich fühl’ ein Grauen (aku ngeri), vor der Sünde (akan kedalaman malam), Nachtgründe (sang dosa), und mag nicht rückwärts schauen (dan enggan kuberpaling) ich (aku) mengungkapkan bahwa ia ngeri akan kedalaman malam sang dosa dan ia tak mau berpaling. Kata ngeri dapat diartikan dengan takut, takut yang disebabkan oleh hal-hal yang negatif. Takut yang sering identik dengan hal-hal yang mistis. Dalam konteks puisi, halhal negatif diartikan sebagai dosa-dosa. Dosa-dosa yang akan membawa seseorang ke dalam tempat pertanggung jawaban dosa, tempat yang sangat ditakuti oleh semua orang karena disinilah mereka akan disiksa karena dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Tempat tersebut adalah neraka. Tempat yang tidak diinginkan oleh semua orang. Hal ini juga sudah dipaparkan pada ungkapan bagian pertama.

Selanjutnya pada baris ke -18 yaitu kedalaman malam, kalimat ini dikaitkan oleh ich (aku) dengan semua hal-hal yang berhubungan dengan perbuatan dosa, karena ia menganggap bahwa perbuatan dosa seringkali terjadi pada saat malam hari. Malam, seperti yang kita ketahui bahwa identik dengan gelap, tenang, bebas, sehingga membuat seseorang menjadi mudah terlelap atau terhanyut dalam kondisi yang mereka inginkan. Kedalaman malam juga dapat diartikan dengan malam yang sudah larut. Ungkapan ich (aku) pada baris ini dapat diinterpretasikan bahwa, ia merasa takut dengan apa yang telah ia lakukan selama ini, dan ia tidak mau mengulangi perbuatan-perbuatan yang sudah ia lakukan. Perbuatan yang sudah menyimpang dengan ajaran Tuhan, perbuatan yang menjadikannya jauh dengan Tuhan.

Und mag nicht rückwärts schauen (dan enggan kuberpaling) pada baris ke20 dapat diartikan bahwa ich mengungkapkan bahwa ia sudah tidak mau berpaling lagi dari TuhanNya, ia merasa takut dengan apa yang sudah ia lakukan.

Perbuatan-perbuatannyalah yang membuatnya merasa tidak ingin lagi jauh dari Tuhan. Kata enggan sendiri mempunyai makna sudah tidak mau, dan kata berpaling yaitu dapat diartikan dengan melupakan atau tidak menganggap.

Ungkapan ich (aku) pada baris -21 sampai -24 kann dich nicht lassen, (tak sanggup abaikanMu), in Nächten schaurig, (di malam seram ngeri), traurig (dengan pilu), seh’ ich auf dich und muss dich fassen (aku menatapMu, harus merengkuhMu) adalah, baris ke-21 kann dich nicht lassen, (tak sanggup abaikanMu) telah diungkapkan bahwa ia tidak sanggup untuk mengabaikan Tuhannya, ia tak sanggup menjauh lagi dari Tuhannya. Kalimat tak sanggup abaikanMu yang telah diungkapkan ich (aku), juga selalu diungkapkan oleh seseorang yang tidak ingin lagi melupakan Tuhan, tidak ingin lagi berpaling dari Tuhan. Setelah mereka melakukan kesalahan, melakukan perbuatan yang jauh dari ajaran Tuhan. ungkapan yang selalu diutarakan oleh umat Tuhan yang menginginkan pertaubatan.

Pada baris selanjutnya, in Nächten schaurig, (di malam seram ngeri), traurig (dengan pilu), seh’ ich auf dich und muss dich fassen (aku menatapMu, harus merengkuhMu) menjelaskan bahwa saat malam yang mengerikan, dengan pilu ia menatap Tuhannya, dan merengkuhNya. Kalimat di malam seram ngeri, dengan pilu aku menatapMu, harus merengkuhMu yang diungkapkan oleh ich (aku)  pada baris ke-22 sampai -24, dapat digambarkan bahwa pada kondisi malam hari, ich (aku) sedang mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan cara beribadah dan memohon do’a kepadaNya. Dalam do’anya, selain memohon segala sesuatu ich (aku) juga menyesali semua dosa yang telah ia lakukan. Kegiatan yang dilakukan ich (aku) ini, juga terjadi pada umat Tuhan yang sedang memanjatkan do’a kepada Tuhannya. Mereka berdo’a pada malam hari karena pada saat malam harilah suasana khusyuk, tenang, bisa mereka rasakan, dan membuat mereka merasa lebih dekat dengan Tuhan pada saat berdoa.

Seperti yang sudah dipaparkan pada baris ke-18 bahwa malam identik dengan gelap, tenang, dan bebas. Kebanyakan orang dan salah satunya adalah ich (aku) menggunakan kondisi malam yang tenang untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya, karena dengan kondisi itu mereka akan lebih nyaman dan lebih khusyuk (sungguh-sungguh) untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Ungkapan ich (aku) pada baris ini dapat diinterpretasikan bahwa ia tidak sanggup untuk melupakan Tuhannya, tidak sanggup untuk jauh dari TuhanNya setelah ia sempat tenggelam dengan kenikmatan duniawi. Ia merasa sedih, merasa menyesal dengan apa yang telah ia perbuat selama ini, dan penyesalan tersebut membimbingnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya.
 Kesimpulan konsep ausdruck pada bait ketiga adalah, ich (aku) merasa sangat takut akan semua kesalahan dan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Ia merasa sangat menyesal terhadap perbuatannya tersebut, dan ia tidak ingin mengulangi semua kesalahan dan dosa-dosanya.

Penyesalan yang membuatnya bertaubat kepada Tuhan dan selalu berusaha untuk tetap berada di pelukan Tuhannya.

Bait ke-4

Du bist so milde,
Treu und innig.
Herzinnig,
Lieb Sünderheilendsbilde!
Still mein Verlangen,
Mein Sinnen und Denken
Zu Senken
In deine Lieb’
an dir zu hangen.

begitu lembut engkau
setia, pengasih
maha penyayang
wahai, citra juru selamat!
kabulkan hasratku
sanggupkan cita pikirku
tenggelam dalam
ke kedalaman cintaMu,
biar erat terpagut padamu

Pada baris -25, -26, dan -27 du bist so milde, (begitu lembut engkau), treu und innig (setia, pengasih), herzinnig, (maha penyayang) ich (aku) mengungkapkan tentang kebaikan-kebaikan yang dimiliki Tuhan yaitu selalu memperlakukan umatNya dengan begitu lembut, lembut disini bisa diartikan dengan sangat baik. Tuhan akan selalu memperlakukan umatNya dengan segala kebaikan yang dimiliki Tuhan. Setia disini menjelaskan tentang janji-janji yang diberikan Tuhan kepada umatNya. Janji  kebaikan seperti pahala yang akan diberikan Tuhan jika umatNya menjalankan perintah yang telah diaturNya. Begitu juga sebaliknya yaitu, janji keburukan atau azab yang akan diberikan Tuhan jika umatNya tidak menjalankan perintahNya dan tidak mempercayai akan adanya Tuhan.

Selanjutnya kebaikan yang dimiliki Tuhan adalah maha pengasih dan penyayang. Tuhan akan selalu mengasihi dan menyayangi semua umatNya dan tak terkecuali. Tuhan tidak akan membeda-bedakan derajat umatNya. Miskin, kaya, pintar, bodoh, berwajah rupawan atau jelek, pengusaha, tukang becak, apapun yang menjadi latar belakang semua umatNya tidak akan mempengaruhi kasih sayang yang Tuhan berikan. Hanyalah keimanan yang membedakan derajat semua umat dihadapan Tuhan.

Pada baris ke -28 sampai baris terakhir lieb Sünderheilandsbilde! (wahai citra juru selamat!), Still’ mein Verlangen (kabulkan hasratku), mein Sinnen und Denken (sanggupkan citra pikirku), zu senken (tenggelam dalam), in deine Lieb’, an dir zu hangen (ke kedalaman cintaMu, biar erat terpagut padaMu) ich (aku) mengungkapkan tentang harapannya untuk dikabulkan hasratnya oleh Tuhannya, disanggupkan cita pikirnya, dan ia pun ingin tenggelam ke dalam cintaNya dan ingin selalu erat terpagut denganNya.

Kata selamat pada baris ke -28 mempunyai arti terbebas atau terhindar dari bahaya atau malapetaka. Ich (aku) menyebut TuhanNya sebagai juru selamat, karena ia yakin bahwa hanyalah Tuhan yang bisa menyelamatkannya dari semua masalah dan malapetaka. Kata juru selamat disini juga dapat dimaknai bahwa hanyalah Tuhan yang menjadi segala maha dan salah satunya adalah maha penyelamat, hanya Tuhan pemilik segalanya.

Berikutnya adalah kata hasrat yang terdapat pada baris ke -29 Still’ mein Verlangen (kabulkan hasratku). Kata tersebut dapat diartikan sebagai keinginan atau harapan yang kuat. Harapan dan keinginan disini tentu saja menginginkan dan mengharapkan semua hal yang bersifat positif dan baik. Harapan atau hasrat yang mereka sampaikan kepada Tuhan, mempunyai tujuan agar apa yang telah mereka harapkan dapat dikabulkan oleh Tuhan. Semua orang pasti menginginkan hal tersebut, salah satunya adalah ich (aku) yang telang mengungkapkan do’a atau harapannya dalam puisi ini.
Pada baris terakhir terdapat kata terpagut yang mempunyai arti terpeluk atau terdekap. Dalam konteks puisi ini, terpeluk dimaksudkan ich (aku) untuk menyampaikan keinginannya agar ia dapat lebih dekat dengan Tuhan. keinginan ich (aku)  pasti juga dirasakan oleh semua umat yang ingin lebih dekat denganTuhan. Ungkapan ich (aku) pada baris ke-28 sampai baris terakhir dapat diinterpretasikan bahwa ich (aku) menyadari akan semua kebaikan-kebaikan Tuhan. Ia  juga meyakini bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan segala sesuatu yang telah menimpa atau dialaminya.

Ich (aku) memanjatkan do’a dan memohon kepada Tuhannya untuk mengabulkan semua harapan yang ia inginkan. Ia juga ingin lebih merasakan cinta dan kasih sayang Tuhannya agar selalu dekat denganNya. Kesimpulan konsep ausdruck pada bait keempat adalah, ich (aku) menyampaikan segala keinginan dan permohonannya kepada Tuhan melalui do’a yang telah ia panjatkan dan berharap untuk dikabulkan olehNya. Ich (aku) juga berharap agar pertaubatannya diterima oleh Tuhan, agar dia bisa kembali meraih cinta Tuhan dan selalu berada di dekat Tuhan.

Kesimpulan konsep ausdruck keseluruhan dari puisi Du hast gerufen – Herr, ich komme adalah, ich (aku) mengungkapkan bahwa Tuhan telah menyerunya dan ia pun segera bergegas menjawab seruanNya dengan cara memperbaiki semua perilakunya selama ini terhadap Tuhan dan bertaubat. Seruan juga ia anggap sebagai hidayah, hidayah yang membimbingnya untuk bertaubat. Ich (aku) juga mengungkapkan semua kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat, sampai dengan penyesalannya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »