Wiji Thukul (1963 - Entah)

ADMIN SASTRAMEDIA 6/01/2019
Wiji Thukul menulis puisi sejak di bangku SD. Dia lahir 26 Agustus 1963 di Sorogenen, Solo. Dia berasal dari keluarga tukang becak. Dia berhasil menamatkan SMP (1979) dan masuk SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, tetapi tidak selesai karena DO (1982). Dia sempat berjualan koran, sebelum bekerja menjadi tukang pelitur. Di sinilah dia kerap membacakan puisinya di hadapan teman-teman kerjanya.

Melalui teater JAGAT (Jagalan Tengah), bersama rekan-rekannya dia keluar masuk kampung ngamen puisi, mulai dari Solo, Yogya, Klaten, Surabaya, Bandung, sampai Jakarta. Dia juga pernah menyasarkan diri sampai ke Korea dan Australia.

Dia juga pernah menjadi wartawan MASA KINI meski cuma tiga bulan pada tahun 1988. Akhirnya, dia fokus membantu istrinya yang membuka usaha jahitan pakaian sambil menerima orderan sablonan kaos, tas, dan lainnya.

Perkenalannya dengan dunia pergerakan, bermula pada tahun 1992 saat turut demo pencemaran lingkungan oleh sebuah pabrik tekstil di kampungnya. Sejak itu, sejak serangan atas markas besar PDI-P Megawati Soekarnoputi (1996), dia tercatat sebagai salah seorang buruh yang menentang rezim Soeharto (1966-98), hingga akhirnya dia hilang dalam pelarian sampai hari ini.

Wiji Thukul sempat menerima WERTHEIM ENCOURAGE AWARD (Belanda) selain Rendra. Sajak-sajaknya yang berserakan diterbitkan oleh Indonesia Tera pada tahun 2000 dengan judul Aku Ingin jadi Peluru. Kemudian, pada tahun 2017, Yosep Anggi Noen membuat film tentangnya dengan judul "Istirahatlah Kata-Kata" di mana sosoknya diperankan oleh Gunawan Maryanto. Sebagai film semi-dokumenter, film tersebut lumayan sukses di pasaran.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »