Bentuk dan Kritik Perselingkuhan dalam Sastra - Dr. Wiyatmi, M.Hum

ADMIN SASTRAMEDIA 7/04/2019
oleh Dr. Wiyatmi, M.Hum

SASTRAMEDIA.COM Perselingkuhan adalah hubungan yang terjadi ketika salah satu atau kedua-duanya dari pasangan selingkuh tersebut telah terikat hubungan pernikahan dengan orang lain. Hubungan tersebut dikatakan sebagai perselingkuhan karena pada umumnya pasangan resminya tidak mengetahui hal tersebut. 

Perselingkuhan ini bisa kita jumpai tidak hanya dalam kehidupan nyata, tetapi juga dalam karya sastra, misalnya novel. Ada empat novel Indonesia yang sudah populer mengandung sisi perselingkuhan tokohnya, seperti Dadaisme karya Dewi Sartika, Jendelajendela (JJ) karya Fira Basuki, Larung dan Saman karya Ayu Utami.


Dalam JJ perselingkuhan terjadi antara June dengan Dean, sahabat suaminya, juga June dengan Dani, teman kerjanya. Dalam Dadaisme perselingkuhan terjadi antara Tresna dengan mantan pacarnya, juga antara Isabela dengan mantan pacarnya (Asril). Dalam Saman dan Larung, perselingkuhan terjadi antara Sihar dengan Laila, Yasmin dengan Saman. 

Dalam JJ June berselingkuh dengan Dean dan Dani karena suaminya, Jigme terlalu sibuk bekerja, sehingga June kesepian. Pada saat seperti itu June sering bertemu dengan Dean. Sementara hubungan dengan Dani terjadi ketika keduanya sedang meliput acara di Bali. Lingkungan Bali yang bernuansa seks bebas mendorong keduanya untuk berselingkuh.

Perselingkuhan yang dilakukan oleh Tresna dan Isabela dalam Dadaisme, dapat dikatakan untuk mengritik hubungan perkawinan yang tidak dilandasi cinta. Isabela yang sudah memiliki kekasih Asril oleh orang tuanya dipaksa menikah dengan Rendi, sementara Tresna yang merupakan istri kedua Asril tidak dapat memiliki anak dengan suaminya, maka kembalilah dia menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya.


Perselingkuhan antara Sihar dengan Laila dalam Larung, dan Yasmin dengan Saman dalam Saman, dapat dikatakan untuk menunjukkan rentannya hubungan perkawinan. Sihar yang sudah menikah, tetapi belum memiliki anak, dengan mudah dapat jatuh cinta kembali pada seorang perempuan yang mencintainya. 


Sementara hubungan antara Yasmin, seorang pengacara yang sudah bersuami, dengan Saman, yang waktu itu masih seorang pastor muda. Dalam kasus tersebut dapat dipahami sebagai “kekurangajaran pengarang” untuk mengritik institusi kepastoran yang menganut hidup selibat.

Kasus perselingkuhan yang digambarkan dalam novel dan realitas yang banyak terjadi dalam masyarakat tidak dapat dipisahkan dengan kasus sebelumnya, seks bebas (di luar pernikahan), yang sama-sama mempertanyakan kembali lembaga perkawinan, yang sering kali tidak dapat dinikmati oleh mereka yang terikat dalam lembaga tersebut.


Selain itu, misalnya dalam Saman digambarkan seorang tokoh pelacur bernama Diva. Di samping menjadi pelacur dengan pelanggan orang-orang kaya dan berpendidikan, Diva juga seorang peragawati dan konsultan psikologi di sebuah situs internet. Dalam Saman digambarkan hubungan seks antara Diva dengan seorang pengusaha, Nanda dan seorang guru besar, Margo.


Dari perspektif feminisme, meskipun seorang pelacur Diva menunjukkan otoritas dan eksistensinya sebagai perempuan. Meskipun Nanda dan Margo membayar untuk dapat berkencan dengan Diva, tetapi keduanya tidak dapat memperlakukan Diva sebagai objek seks. Keduanya, malah menunjukkan kelemahannya. Nanda merasa bersalah, sementara Margo impoten (Utami, 1998: 47, 49).


Perselingkuhan yang terjadi dalam fiksi (novel) bisa jadi juga terjadi dalam fakta (kehidupan nyata). Bisa jadi pula, keduanya adalah saling berkaitan, hanya pindah wahana saja.


>Sumber: Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia
Wiyatmi, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2012

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »