Dilema Agama dalam Politik

ADMIN SASTRAMEDIA 7/03/2019
oleh Marz Wera
Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh

Judul : Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh
Penulis : Yogen Sogen
Penerbit : OASE Pustaka
Tahun : Mei 2019
Tebal : xxi + 117 hlm
ISBN : 978-602-457-215-0

Mengapa selalu ada ‘’kita’’ dan ‘’mereka’’ hari-hari ini?

Mengapa kita begitu gampang melupakan pandangan-pandangan dasar kita sendiri? Mengapa kita begitu mudah menggeser prinsip yang kita rumuskan sendiri? Mengapa kita begitu sulit bertindak dalam standar etis yang kita buat sendiri dan sering jatuh dalam hipokrisi?

Mungkin itu pertanyaan paling subtil ketika kita membaca buku karya Yogen Sogen ini. Lahirnya buku ini sebenarnya terinspirasi dari  situasi sosial budaya, agama, cinta pada sesama, sosio-politik dan panggung demokrasi yang kian tersekat. ‘’Kita’’ dan ‘’mereka’’ terjadi pemisahan yang bahkan kian berjarak dari akar bangsa kita sendiri. Simpul keberagaman mengalami kerusakan dari dalam. 

Bagi Yogen Sogen, akar dari semua itu karena keterasingan kita dari akar budaya. Kita lupa darimana kita berasal, makin redupnya kesadaran berbangsa, serta kegagapan kita pada peradaban modern yang membuat kita hidup dalam dunia seolah-olah. Baginya, itu terjadi karena kita tidak pernah sedikit pun memberi kesempatan untuk berefleksi. Inilah yang membuat suasana interaksi dan pandangan kita semakin kaotis dan bengis. 

Kita seperti terjebak dalam rezim tampilan yang menjadikan banyak diantara kita hidup dalam kepalsuan, manipulasi serta tergoda oleh berbagai aneka optik yang kian mempermainkan kita baik itu dalam hal budaya, sosial, sosio-politik bahkan cinta antara sesama kita, dan hidup beragama kita. Simtom tersebut bahkan membuat kita tak lagi respek dan sensitif terhadap apa yang penting dan tidak penting, apa yang prioritas dan tidak, apa yang esensial dan cuma main-main. 

Konteks yang demikian akhirnya bermuara pada otak menipu persepsi sendiri, berdebat tanpa subtansi diantara kita, saling caci maki, saling memisahkan dan menjaga jarak, bahkan tidak mau menerima realitas akar budaya kita yang sejak berabad-abad sudah terbukti. Sikap seperti inilah yang melahirkan bermacam sikap fanatisme, radikalisme, represif, gampang menyebarkan hoaks serta berbagai tindakan konyol lainnya.

Buku Di Jakarta Tuhan Diburu Dan Dibunuh, sebenarnya adalah kumpulan catatan reflektif yang bergerak dari gelagat destruktif situasi bangsa ini yang dirasakan oleh penulisnya. Yang menarik di sana adalah Yogen Sogen menyoroti situasi bangsa khususnya Jakarta sebagai begawannya metropolitan dengan mengajak pembaca untuk melihat dan merefleksi fenomena ini dari akar sosial-budaya kita terutama keterkaitannya dengan momen pesta demokrasi lima tahunan yang baru saja kita lewati.

Ketika peradaban modern lahir dengan perkembangan teknologi yang makin maju, kita sepertinya tidak siap hingga gagap menyambut sehingga serangan hoaks mampu membuat kita saling curiga, saling memisahkan dan menjaga jarak, rasa cinta akan tanah air dan sesama warga kian redup, korupsi kian masif dan menjalar, nafsu akan kekuasaan kian memperlihatkan panggungnya hingga cemas dalam jebakan aneka manipulasi yang menjadikan kita mengalami kekosongan batin dan secara intelektual kian dangkal, bahkan rasionalitas dibungkam oleh fanatisme buta khususnya dalam hidup beragama.

‘’Letargi’’ budaya
Mungkinkah kita sedang mengalami gejala letargi budaya atau agama?
Letargi, dalam penelitian sosiologi menemukan bahwa bentuk-bentuk perilaku sosial yang mana masyarakatnya sendiri sangat apatis, serba cemas, gaduh, tanpa gairah untuk hidup karena sudah saling menjaga jarak yang sebenarnya tidak pernah terjadi sebelumnya. Secara leksikal letargi diartikan sebagai kelelahan. Situasi dimana keadaan sebuah lingkungan masyarakat yang berbalik tidak seperti realitas sebelumnya. 

Mengadopsi pemikiran James V Schaal, yang secara dramatis bagi saya sejalan juga dengan apa yang diungkapkan oleh Yogen Sogen dalam buku ini bahwa letargi adalah gejala historis dalam perjalanan suatu kebudayaan dan peradaban ketimbang hanya sebatas perilaku. Sang Teolog Amerika tersebut mengungkapkan bahwa letargi merujuk pada soal mental, problem keterasingan sebuah komunitas hidup dari akarnya.

Yogen Sogen lewat teks Di Jakarta Tuhan Diburu dan Dibunuh, menyoroti hidup beragama kita yang kian berjarak, relasi sosial-budaya kita yang kian tersekat, rasa cinta yang mulai surut, sosio-politik yang kian pelik dan rumit karena demokrasi terjebak dalam arus populisme dan gerakan massa yang menuntut kepentingan kelompok tertentu. 

Menurutnya, kita begitu gampang melupakan akar kita berasal untuk tumbuh, bahkan kita mudah lupa pandagan-pandangan dasar kita sendiri, kita dengan mudahnya menggeser prinsip hidup kita sendiri, kita bahkan dengan gampang terus memberikan toleransi kepada pemimpin-pemimpin dan politisi yang suka berjanji, mengingkarinya lalu berjanji lagi dan mengingkarinya lagi, kita selalu gagal bertindak dalam standar etis yang kita buat sendiri lalu dengan mudah jatuh dalam hipokrisi.

Kita bahkan gagal menggerakkan kapasitas mental untuk mencari alternatif sebagai simpul bersama untuk mengatasi akad moral yang ambruk. Kita malah menghabiskan waktu untuk bertindak dan menutupi keburukan besar dengan hanya mengulangi melalui akumulasi keburukan kecil.

Lewat judul Di Jakarta Tuhan Diburu Dan Dibunuh, Yogen Sogen mengisahkan bahwa dalam politik posisi agama justru jadi branding paling laris untuk dijual, serta rumah ibadah sebagai pasar yang paling mewah untuk mencapai target penjualan. Dari kurik inilah konflik agama dalam demokrasi bermula. Dan muara demokrasi sebagai postulat akhir sejarah pun bermula. Apalagi negara plural seperti Indonesia. 

Fitrah manusia ber-Tuhan
Buku Yogen Sogen ini terbit di saat yang tepat. Hadirnya buku ini menyiratkan perlu ada pembedaan wilayah antara panggung politik sebagai proses demokrasi dan rumah ibadah sebagai panggung menumbuhkan spiritual. Lahirnya teks ini secara kontekstual mau mengatakan bahwa hidup beragama kita terjebak dalam politik imagologi. Agama menjadi produk yang paling laris dan rumah ibadah menjadi pasar yang paling nyaman dalam proses demokrasi saat ini. Sebab, kaum agamawan selalu berkelik apologetis, tapi disaat yang sama agama ikut merayakan ketika gerakan massa berlangsung.

Buku ini memuat sensitivitas sang penulis mengenai berbagai gejolak dan konflik sosial, berbagai fenomena ambruknya moralitas publik, keterasingan kita dari akar sosio-kultural, bungkamnya dialektika di ruang publik,  hilangnya penghargaan pada sesama serta pemisahan ‘’kita’’ dan ‘’mereka’’ yang kian tersekat. Semua ini tidak terlepas dari pengalaman sang penulis yang berpetualang dan menjelajahi nusantara. Pengalaman itu yang merangsang imajinasi dalam menemukan proses kreatif  hingga mampu merangkai makna setiap peristiwa lalu berkisah lewat puisi ini.

Yang jadi catatan untuk buku ini adalah ada beberapa bagian yang cenderung terjadi pengulangan, berikutnya tema-tema yang diusung tidak tertata dan terurut dengan baik sesuai dengan makna dan refleksi peristiwanya, sehingga dalam membacanya kita kadang jenuh dan lebih baik untuk melewati saja beberapa tema. Meskipun demikian, pada bagian tertentu Yogen Sogen justru berhasil membawa pembaca untuk masuk dalam proses kreatif yang ia ciptakan lewat lompatan alur cerita yang cukup menantang imajinasi pembaca dalam menghayati setiap makna peristiwa yang diungkapkan.

Bagi Yogen Sogen, agama sebagai sorotan utama mengatakan hidup beragama sama prinsipnya dengan demokrasi yakni universalitas. Universalitas membuka ruang perjumpaan untuk bertemu yang berbeda. Agama menyumbang agensi moral dalam demokrasi. Yang berbeda adalah perbedaan pendapat. Demokrasi sebagai titik temunya. Bahwa semua agama mengajarkan pentingnya penghargaan pada manusia, prinsip humanis. Demokrasi membuka ruang perjumpaan antara sesama, prinsip humanitas. Pada konteks yang lain, adanya usaha-usaha untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan bersama, prinsip humaniora.

Akhir-akhir ini, agama dihayati dalam kebisingan, diekspresikan dalam kegaduhan. Beranjak dari realitas seperti itulah, Yogen mengajak kita untuk kembali ke akar sosio-kultural lewat tema ‘’Firdaus dan puisi cinta’’ sebagai dasar darimana kita berasal, iman beragama tidak bisa ditafsir hitam putih, lalu ‘’kita Indonesia’’ sebagai rumah bersama, ‘’kebhinekaan’’ sebagai warisan sejarah, alamnya yang indah sebagai wahana bertabur makna. Bahwa Tuhan yang kita sembah tampak dalam laku hidup kita dengan sesama yakni tampak dalam kesederhanaan, relasi kasih serta rasa peduli pada kehadiran yang lain.

Dengan begitu, ‘’kehadiran yang lain bukan berarti harus menjadi milik kita atau jadi seperti kita, melainkan bersama-sama menarik diri dalam misteri iman keagamaan masing-masing, sebab, beragama itu soal bagaimana masuk dalam makna ini: pencarian ‘’antara Kau yang abadi dan aku yang fana, antara Kau yang misteri dan aku yang rahasia.’’ Selamat Yogen Sogen!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »