'Homoseksual' Para Pengarang Perempuan Indonesia - Dr. Wiyatmi, M.Hum

ADMIN SASTRAMEDIA 7/11/2019
oleh Dr. Wiyatmi, M.Hum

SASTRAMEDIA.COM - Berdasarkan pembacaan dan pengamatan terhadap sejumlah novel yang ditulis pengarang perempuan tampak bahwa fenomena seks yang digambarkan dalam novel-novel tersebut berhubungan dengan homoseksual, hubungan seks di luar nikah, perselingkuhan, hubungan seks dengan pelacur, hubungan suami istri, dan inses.
Fenomena homoseksual secara intents terdapat dalam enam buah judul novel, yaitu Garis Tepi Seorang Lesbian, Tabularasa, Dadaisme, Mahadewa­ Mahadewi, Saman, dan Larung

Dalam Garis Tepi Seorang Lisbian, homoseksual, khususnya lesbian, menjadi tema dan problem sentral tokoh. Dalam novel tersebut digambarkan bagaimana tokoh Asmora Paria yang memiliki hubungan lesbi dengan Rie Shiva Ashvagosha. Oleh keluarga Rie hubungan tersebut dipisahkan karena Rie dipaksa menikah dengan laki-laki pilihan keluarganya, Renne. Sejak perpisahan tersebut keduanya tidak pernah dapat bertemu, sehingga menimbulkan penderitaan yang sangat dalam pada diri Paria. Penderitaan Paria pun semakin bertambah berat ketika Paria pun oleh orang tuanya dipaksa menikah dengan Mas Wiryo. 

Di tengah frustasi dan kegalauannya antara tetap mempertahankan diri sebagai seorang lesbian ataukah harus mengikuti tuntutan keluarganya, Paria sempat berpura-pura menjalin hubungan cinta dengan seorang laki-laki, Mahendra. Pada akhirnya, Paria meninggalkan Mahendra, yang hampir dinikahinya, setelah mendapatkan surat dari Rie yang berada di Prancis dan telah mengakhiri hubungannya dengan Renne.

Dalam Garis Tepi Seorang Lesbian hubungan homoseks antara Paria dengan Rie, misalnya tampak pada paparan berikut:

Detik-setik menjadi sangat cepat. Menggapai sesuatu yang tergapai dalam saat. Aku meracau. Pedih dalam damai. Pengingkaran cinta atas namanya. Tuhan sekali ini maafkanlah aku…Sampai aku mengenal Rie Shiva Ashvagosha, saat... tak tahu bagaimana prosesnya, tiba-tiba aku sudah tenang berada dalam dekapan dadanya. Merasakan getaran hebat. Pertama kali sepanjang hidupku….Tanpa berkata apa-apa aku sangat percaya akan cintanya. Entah bagaimana, tapi ada semacam pohon, pohon yang menarikku untuk lebih erat memeluk tubuh yang menimbulkan andrenalinku orgasme....  

(Herlinatiens, 2000: 91–92). 

Pada kutipan tersebut tampak bagaimana kedua orang perempuan (Paria dan Rie) merasakan kenikmatan hubungan seks sesama jenis. Setelah pengalaman pertama tersebut, berlanjut dengan hubungan selanjutnya. Meskipun tidak menjadi tema sentral seperti dalam Garis Tepi Seorang Lesbian

Hubungan homoseks antara Raras dengan Violet dalam novel Tabularasa menyebabkan hubungan cinta heteroseks antara Galih dengan Raras berakhir, karena Raras memendam hasrat cinta dengan Vi, teman perempuannya. Keputusan Raras untuk meninggalkan Galih, yang telah menjadi kekasih dan menghamilinya juga diperkuat oleh keberanian sahabat Raras, seorang gay yang memutuskan menikahi pasangan gaynya (Ratih, 2003: 80).

Dalam Larung, adegan seks antara kedua orang perempuan dilakukan oleh tokoh Shakuntala dengan Laila (Utami, 2003: 132, 152–153). Dalam novel tersebut Laila, yang sangat mencintai Sihar mengalami frustasi karena rencana kencan dengan Sihar yang sudah ditunggu-tunggu dan dipersiapkan dengan penuh gairah gagal dilaksanakan karena ternyata Sihar datang ke Amerika dengan diikuti istrinya. 

Hubungan homoseksual dalam Dadaisme dilakukan antara tokoh Jing dengan Ken. Dalam hal ini, sebelum mengenal Jing, Ken sedang menunggu hari pernikahannya dengan kekasihnya (Sartika, 2003: 205, 207). 

Hubungan homoseksual dalam Mahadewa­ Mahadewi, dilakukan antara tokoh Gangga dengan Prasetyo (Yusuf, 2003: 60). Dalam Saman diceritakan sepasang laki-laki homo, Dhimas dan Ruben sedang terlibat dalam proyek bersama menulis sebuah novel (Utami, 1998: 2, 8).

Dari enam buah novel yang menggabarkan hubungan homoseksual, tiga buah memiliki kecenderungan memandang homoseksual sebagai hal yang penting untuk diakui eksistensinya, Garis Tepi Seorang Lesbian, Taularasa, dan Larung. Garis Tepi Seorang Lesbian dan Larung dapat dikatakan mendukung gagasan lesbianisme, sementara Tabularasa mendukung lesbianisme maupun gay. Walaupun Mahadewa Mahadewi, Dadaisme, dan Saman juga menggambarkan hubungan homoseksual (gay), keberadaannya tidak ideologis, apalagi kedua novel tersebut dapat dikatakan lebih banyak menggambarkan hubungan seks heteroseksual.

Digambarkannya hubungan homoseksual Dalam Garis Tepi Seorang Lesbian, Tabularasa, dan Larung dapat dianggap merefleksikan pandangan feminisme radikal. Feminisme radikal mendasarkan pada suatu tesis bahwa penindasan terhadap perempuan berakar pada ideologi patriarkat sebagai tata nilai dan otoritas utama yang mengatur hubungan laki-laki dan perempuan secara umum, yang menjadi akar penindasan perempuan. Perhatian utama aliran ini adalah kampanye menentang “kekerasan seksual” eksploitasi perempuan secara seksual dari dalam pornografi. 

Di samping itu, aliran ini juga menganjurkan gaya hidup lesbian karena dengan cara ini perempuan dapat terlepas dari penindasan kaum laki-laki (Dzuhayatin, 1998: 16–17).


>Sumber: Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia

Wiyatmi, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2012

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »