Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (5)

oleh Ahmad Tohari
Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (5)

SASTRAMEDIA.COM - Kadal memang merayap pelan-pelan ke arah mangsanya. Itu betul. Tetapi FR tidak akan bisa menjamin bahwa kadal akan berhasil menangkap mangsanya pada kesempatan pertama. Kalau terjadi demikian kadal akan terus mengejar capung atau belalang yang dilihatnya. Kadal juga akan berlari mengejar mangsa yang bergerak. Pokoknya soal kadal nyelonong mengejar capung, bagi siapa saja kecuali FR adalah perkara wajar, sungguh wajar. Justru takaran ini yang paling pantas dipakai oleh seorang penulis fiksi, bukan takaran para ahli tingkah laku binatang.

Ironisnya FR sendiri membuat kesalahan yang (apa namanya) ketika menulis sebuah cerpen dalam majalah ini. Dia katakan ada kucing yang selalu menerkam burung merpati. Nanti dulu, Mas. Kucing jenis apa itu. Soalnya kucing di kampung saya kok tidak mau menerkam anak ayam, yang justru lebih gampang daripada menerkam merpati. Tetangga saya memelihara segudang merpati, kucing dan anjing sekaligus. Mereka ayem-ayem saja. Apakah kucing dalam cerpen FR itu telah makan obat perangsang? Atau kucing hutan yang kesasar. Memang dalam cerpen FR dikatakan sang kucing sedang menyusui anak-anaknya, jadi biasanya lebih buas. Tetapi apa tak ada mangsa lain kecuali merpati melulu.

Masih tentang kucing tetapi di luar cerpen FR. Cobalah perhatikan kucing-kucing di kota-kota besar yang kurang bernafsu menerkam tikus lantaran banyak sisa makanan di bakbak sampah. Malah saya melihat dengan mata kepala ada kucing tenang tenang saja meskipun seekor tikus berlalu di dekatnya. Ini perlu saya kemukakan karena saya percaya bahwa dalam hidup ini selalu terjadi penyimpangan-penyimpangan. Saya juga percaya, penyimpangan demikian menjadi unsur penting dalam perkembangan berbagai bentuk dan aspek hayati. Pada kenyataannya teori evolusi bermula dari penyimpangan hukum biologi.

Jerapah, misalnya. Ketika makanan masih cukup tersedia di permukaan tanah, lehernya biasa. Tetapi karena terjadi perubahan maka makanannya harus didapatnya dari pohon yang tinggi. Dia beradaptasi dan sebagai konsekuensinya, lehernya molor demikian panjang. Konon, semua vertebrata di darat bernenek moyang di laut. Konon pula, homosapiens pada mulanya pinthecus, kemudian berevolusi menjadi pinthecanthropus yang tidak erectus, seterusnya menjadi pinthecanthropus erectus. Persetan dengan ada tidaknya the missing link toh banyak sekali orang percaya bahwa dari mamalia kelompok primatalah akhirnya terjadi bentuk homosapiens. Kita perhatikan, "pada awal cerita evolusi” pasti terjadi penyimpangan-penyimpangan norma biologi. Kalau demikian mengapa saya harus heran ada kelelawar melalap daun waru atau lembayung, atau tupai mengganyang si kaki seribu? Mengapa pula ada orang menganggap aneh ada bunga sedap malam tumbuh di Dukuh Paruk, apalagi bila diingat ronggeng di sana (sebelum Srintil tentunya) sering dibawa ke tempat plesiran seperti Baturaden dan kembali membawa kembang "elite” itu?

Akhirnya. Saya telah berkata kelewat banyak. Namun saya sesungguhnya hanya ingin berkata kepada FR, "'Wajar-wajar sajalah.” RDP tentu saja bukan sebuah masterpiece. Membandingkannya dengan The Old Man And The Sea, rasanya terlalu ekstrem dan tidak adil. Sama tidak adilnya bila saya membandingkan FR dengan pengamat sastra yang mana pun juga. Saya sendiri sejak semula sadar akan banyaknya kekurangan pada RDP dan makin banyak kekurangan yang saya ketahui setelah membaca resensi dan kritik terhadap RDP. Menunjukkan kesalahan dan kekurangan yang terdapat dalam RDP selalu saya terima dengan tulus dan rasa terima kasih. Namun persoalannya menjadi sedikit bergeser kalau ada orang mengatakan saya mau cepat melejit lalu main hantam kromo begitu saja.

Boleh jadi FR hendak menulis lebih lanjut setelah membaca tulisan ini. Silakan. Tetapi dari pihak saya, cukup sekali ini saja. Terus terang saya tidak bernafsu untuk melakukan polemik.

Tinggarjaya, 20 Feb. '84


>Sumber: Horison, Nomor 3, Tahun 1984

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »