Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (3) - Ahmad Tohari

ADMIN SASTRAMEDIA 7/01/2019
oleh Ahmad Tohari
Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (3)

SASTRAMEDIA.COM - Kepongahan akademik FR tampak lagi ketika dia bicara soal burung alap-alap dan pipit. Dalam RDP saya tidak menulis alap-alap menyambar pipit dengan paruhnya, melainkan menggigit pipit dengan paruhnya. Bahwa sebelum menggigit mangsanya alap-alap itu lebih dulu menyambar dengan cakarnya, pasti benar. Tetapi apakah nalarnya buat menyalahkan pernyataan saya di atas? Atau kalau FR adalah anak Dukuh Paruk, maka akan sulit baginya menentukan jarak waktu antara menyambar dan menggigit itu. Hampir bersamaan! Betul alap-alap menyambar mangsanya dengan cakar. Tetapi pada detik yang hampir bersamaan paruhnya beraksi. Dan sesaat sebelum hinggap pada dahan, alap-alap harus memindahkan mangsanya dari cakar ke mulut. Kalau tidak, dia tidak akan bisa hinggap.

Sesuai dengan kemampuan RDP saya tulis pada taraf wawasan awam. Kala dua ekor bangkoang sedang bergendongan di dalam air, kami yang awam akan mengatakan kedua binatang itu sedang kawin. Tentu saja bukan hanya FR yang tahu bahwa bangkoang menempuh cara fertilisasi eksternal. Rasus pun tahu, meski dia hanya tamatan paket kejar. Masalahnya Rasus memperhitungkan bahwa kebanyakan pembaca adalah awam dalam biologi seperti dirinya sendiri. Lalu saya menulis: "Yang bersuara dengan selang waktu yang jarang adalah katak pohon.” Menurut logika FR maka tak ada katak dari species lain yang bersuara jarang atau lebih jarang. Aneh, siapa pula yang menyuruh FR berlogika demikian. Pernyataan saya di atas jelas tidak menutup pintu bagi pernyataan lain bahwa katak hijau, katak batu serta rana-rana lain juga bersuara jarang.

Dan pikiran linier FR muncul lagi beberapa kali. Saya katakan bahwa pohon dadap menyebar bijinya dengan kulit polong yang terbang berputar sebagai baling-baling. Bahwa yang mempunyai ciri demikian adalah jenis dadap srep, memang. Tetapi haruskah saya menyertakan keterangan bahwa ada dadap lain yang tidak demikian? Kalau misalnya saya menulis kerbau berkulit kehitam-hitaman, haruskah saya juga menyertakan keterangan selanjutnya bahwa: ada kerbau yang bule, bahkan belang? Menurut saya, sama sekali tidak perlu selama RDP adalah sebuah novel, bukan buku pelajaran biologi.

Sungguh membosankan mengikuti jalan pikiran FR. Tetapi saya memang ingin membuktikan bahwa sikap yang terlalu bersemangat hampir selalu membuat orang meninggalkan kewajaran. FR mempersoalkan kalimat saya: ''Langit pekat meski hujan belum turun. Selagi tanah basah jangkrik dan gangsir malas berbunyi.” Hujan belum turun, kenapa tanah sudah basah? Begitu pikiran FR. Begitu hitam putihnya jalan pikiran FR sehingga dia bertanya demikian. Menurut saya bisa terjadi bahkan banjir sepanjang hari meski pada hari yang sama tak ada jatuh hujan. Dari mana banjir? Tentulah dari hujan yang jatuh pada periode waktu sebelumnya. Mana yang rancu, kalimat saya atau logika FR?

Lanjut: Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (4)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »