Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (1)

oleh Ahmad Tohari


 Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (1)

SASTRAMEDIA.COM - Novel saya Ronggeng Dukuh Paruk (RDP), Gramedia 1982 mendapat kehormatan dibicarakan oleh banyak pengamat dan ahli sastra. Sebagai pemain alam yang bahkan sukar melakukan studi kepustakaan, pembicaraan para pengamat dan ahli sastra tersebut amat menguntungkan saya. Jadilah saya seorang petatar yang begitu ikhlas dan setia mendengarkan ceramah para penatar. Semua saya lakukan demi peningkatan pengetahuan saya di bidang sastra.

Sikap ini secara konsisten saya pertahankan juga ketika membaca tulisan F. Rahardi (FR), "Cacat Latar yang Fatal” (Horison, Nomor 1 tahun 1984). Tetapi kemudian saya terkejut ketika membaca suara FR: "Sayang, sastrawan kita pada umumnya mau cepat melejit lalu hantam kromo begitu saja.”

Karena FR sedang membicarakan RDP, maka sayalah yang merasa paling terkena oleh pernyataan yang sangat tidak simpatik ini, sebuah pernyataan yang sama sekali tidak layak keluar dari seorang yang konon punya jabatan redaktur sebuah majalah yang berkeintelekan. Pernyataan itu bersahaja. Tetapi mengenai langsung hati seorang dusun — yang seperti demikian adanya — tak pernah bermaksud cepat melejit dan main hantam kromo dalam arti apa pun juga. Bahkan sebagai orang baru dalam penulisan novel, amit-amit, saya masih risih disebut orang sastrawan.

Baiklah. FR telah keluar garis objektif dalam kritiknya terhadap RDP, dan inilah kecerobohannya yang paling besar bila diingat FR pun seorang penulis. Maka saya pun telah diundangnya untuk berbuat sesuatu yang saya sendiri tak suka, menanggapi sebuah kritik sastra yang seharusnya ditulis "kritik sastra.” Tulisan FR tersebut sebetulnya telah dikirim ke Kompas 12 Oktober lalu sebagai surat pembaca. Kemudian saya dihubungi oleh Gramedia berkenaan dengan surat pembaca yang dikirim FR, agar saya menanggapinya. Ketika saya datang ke Gramedia, 3 November 1983 dengan surat tanggapan, ternyata FR telah mencabut suratnya sehari sebelumnya. Jadilah, draf surat pembaca yang sudah di-ACC itu gagal muncul di Kompas.

Saya kecewa menghadapi sikap FR yang tidak konsisten ini. Padahal ketika itu saya ingin menyatakan rasa terima kasih karena FR mau menunjukkan beberapa kesalahan saya yang bersifat pasti. Bersamaan dengan itu saya mengajak FR berdialog tentang hal-hal yang menurut FR adalah "'kejanggalan yang menyolok” tetapi menurut saya sama sekali tidak. Juga ingin saya buktikan bahwa seorang seperti FR masih bisa berpikir hitam putih, linier, bahkan tercium bau kepongahan akademiknya.

Kini setelah sedikit dipermak, tulisan yang semula dikirim FR ke Kompas, muncul di Horison dengan jiwa subjektif yang lebih menyolok. Sudah saya akui bahwa dalam menulis RDP saya melakukan beberapa kesalahan, antara lain pernyataan saya bahwa krokot adalah jenis kaktus, bahwa kodok termasuk reptil dan bahwa dalam hal membunuh manusia racun bongkrek telah mematikan sel-sel darah merah. Saya tak bisa lain kecuali meminta maaf kepada Gramedia dan para pembaca atas kekhilafan ini. Saya sebut kekhilafan sebab pada dasarnya saya juga pernah belajar biologi meski hanya sampai taraf sekolah dasar.

Rasanya tak pernah diragukan lagi bahwa faktor kebenaran ilmiah merupakan bagian penting yang menopang kemantapan sebuah karya fiksi. Saya yang masih baru pun menyadari betul hal ini. Lalu mengapa seorang seperti saya masih juga melakukan kesalahan, jawabnya tak usah berbelit-belit: manusiawi! Selagi sebagai pihak yang melakukan salah bersedia memperbaiki diri, dan pihak yang menunjukkan kesalahan (dalam hal ini FR) bertindak dalam garis kewajaran, maka kebaikan akan diperoleh oleh semua pihak. Habis perkara.

Atau, taraf kesalahan tertentu memang menjadi relatif bila dilihat oleh berbagai pihak. Misalnya, dalam terjemahan Laki-laki Tua dan Laut, Sapardi Djoko Damono menulis "'kura-kura”' yang seharusnya "penyu”. Dan Romo Mangun menyebut wijen termasuk jenis rumput. Kedua-duanya adalah kesalahan. Dan seorang redaktur majalah pertanian boleh berhiruk-pikuk dalam menanggapi kesalahan itu. Tetapi jangan salahkan awam dan tak usah ajak mereka berhura-hura. Sebab dalam hal fiksi bagaimana juga pesan sastralah yang terpenting, tanpa mengurangi kedudukan terhormat kebenaran ilmiah di dalamnya, dan tanpa mengingkari nilai ideal bahwa sebuah karya fiksi menjadi lebih baik bila tidak disertai kesalahan-kesalahan ilmiah.

Bukan hanya FR seorang yang mengetahui kesalahan Sapardi atau Romo Mangun, melainkan juga seorang dusun seperti saya. Lalu salahkah saya bila saya tak tertarik buat meributkan kesalahan kedua penulis tenar itu karena perhatian saya lebih terpusat kepada keindahan pesan sastranya? Tidak! Sebab saya sadar betul yang sedang saya hadapi adalah buku sastra, bukan buku pelajaran biologi milik adik saya. Antara keduanya pasti ada jarak meski — seperti yang sudah saya katakan — faktor kebenaran ilmiah tidak boleh diabaikan begitu saja.

Saya merasa sama dengan FR dalam hal penghargaan terhadap kebenaran ilmiah. Bedanya, sebagai anak dusun saya langsung belajar terhadap alam, sementara FR lebih banyak berdiri di atas tumpukan referensi dengan sikap yang pongah pula. Kepongahan itu terbukti dari anggapannya bahwa apa saja yang terdapat di dalam buku teks merupakan kebenaran mutlak, tanpa kecuali. Terdapat kesan pula bahwa FR menganggap kebenaran buku teks sudah meliputi semua aspek biologi dengan hukum-hukumnya yang tegar dan lurus.

Lanjut: Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (2)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »