Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (2) - Ahmad Tohari

ADMIN SASTRAMEDIA 7/01/2019
oleh Ahmad Tohari
Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (2)

SASTRAMEDIA.COM - Sementara itu seorang anak Dukuh Paruk masih tetap dalam fitrahnya: menganggap hukum-hukum alam tetap bersifat nisbi karena hanya Sang Pencipta Alamlah yang punya sifat mutlak. Masih ada lagi, FR menolak kebenaran yang tidak disebutkan dalam referensi meskipun kebenaran itu merupakan pengetahuan elementer bagi anak-anak dusun. Aneh, seorang yang bangga dengan "yang serba ilmiah” berwatak integris demikian: suatu watak tertutup yang tidak bisa disebut sebagai ciri pikiran orang yang maju. Contohnya, dengan gaya mencemooh FR menolak pernyataan saya bahwa ular hijau memakan burung (dalam suratnya kepada Kompas yang ditariknya kembali). Saya tahu alasan FR satu-satunya, dia tidak menemukan keterangan demikian di dalam buku teks. Dan sikap pongah ini hanya mungkin diubah bila FR meninggalkan menara gadingnya, meninggalkan textbookthinking dan lebih banyak terjun ke lapangan. 

Saya berharap FR bukan hanya akan menjumpai ular hijau memakan burung melainkan juga kerbau yang "ngasin” makan tanah, tikus busuk (pemakan serangga) yang menangkap katak buat dimakannya, dan keblek (kelelawar yang "blakblek'' mengepakkan sayap di atas tanah halaman) yang mencari kepik tahi, tetapi pada akhirnya tahi kotok dimakannya juga. Nah, saya tidak tahu bagaimana sikap FR ketika membaca sajian King Features Syndicate yang pernah melalui The Ripley's True Life Adventures membuat kesaksian burung tekukur (pemakan biji-bijian) namun pada saat-saat tertentu ikut nimbrung makan laron. Protes? 

FR mengatakan dalam suratnya bahwa sulit bagi ular hijau buat menangkap seekor burung. Menurut alur pikiran demikian. maka akan jauh lebih sulit bagi burung hantu buat menangkap ikan karena 'burung itu jelas bukan jenis unggas air dan kakinya tanpa sirip, tidak seperti itik. Biarlah FR dengan semangat buku teksnya. Tetapi bagi anak-anak dusun memang demikian adanya. Burung hantu bisa menyelam dan menangkap ikan. Kami suka mengikat paruh anak burung hantu agar jatah ikan yang diberikan induknya utuh, buat kami.

Apabila FR memustahilkan ular hijau makan burung, maka tentu saja dia begitu heran mendengar kelelawar makan daun waru. Begini. Apabila kemarau terlalu panjang maka populasi serangga mestinya merosot. Maka kelelawar menyimpang dari kebiasaannya dan makan dedaunan, dalam hal ini daun waru. Saya hanya bisa mengatakan itu fakta. Bahkan ketika di kampung kami dilakukan penyemprotan hama wereng dari udara, maka, pada hari berikutnya bukan hanya daun waru yang dimangsa kelelawar, melainkan juga daun lembayung. 

Believe it or not, terserah kepada FR. Hanya saya yakin fakta penyimpangan itu tidak atau belum tercantum dalam buku-buku teks. Apabila sampai terjadi keterlambatan pencatatan fakta ilmiah semacam ini siapakah yang pantas dituduh teledor, anak dusun seperti Rasus ataukah seorang kutu buku seperti FR. Atau kalau saya bertanya mengapa ayam kampung sebagian besar menetaskan telurnya pada hari Jumat, apakah kira-kira FR bisa menemukan jawabnya dalam buku pelajaran biologi sekarang ini?

Lanjut: Kecongkakan Akademik dalam Kritik Sastra (3)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »