Kelisanan dalam Keberaksaraan Kasus Puisi Indonesia Mutakhir (1) - Sapardi Djoko Damono

ADMIN SASTRAMEDIA 7/05/2019
oleh Sapardi Djoko Damono

SASTRAMEDIA.COM - Perkembangan puisi kita akhir-akhir ini berada dalam ketegangan antara keberaksaraan dan kelisanan; para penyair yang sepenuhnya tumbuh dalam tradisi cetak mempunyai dorongan yang kuat, dari dalam dirinya sendiri maupun dari lingkungannya, untuk melisankan apa yang sudah susah-susah ditulisnya.

/1/
Dalam 20 tahun terakhir ini ada beberapa hal penting terjadi dalam pembicaraan mengenai puisi Indonesia; yang paling menonjol adalah kerisauan kita tentang rendahnya apresiasi dan masalah penerbitan. Berbagai usaha telah kita lakukan untuk meningkatkan apa yang kita sebut sebagai rendahnya apresiasi sastra, terutama puisi, yang antara lain berkaitan erat dengan pokok pembicaraan kita tentang kelisanan. Hal itu pun bersangkut paut juga dengan masalah rendahnya jumlah buku sastra yang ditawarkan dan dibeli di pasar. Namun dalam hal ini kita harus mengakui juga bahwa teknologi percetakan dan komputer sudah sedemikian jauh sehingga pencetakan buku puisi tampaknya bukan menjadi masalah lagi. Berbeda dengan novel, puisi tidak begitu merepotkan kita; jika perlu dengan biaya yang sangat kecil pun - dengan jumlah halaman dan eksemplar terbatas buku puisi bisa terbit. Cara penyebarluasan buku puisi pun bermacam-macam; penerbit besar seperti Grasindo menyebarluaskannya lewat jaringan toko buku, sementara penerbitan yang ditangani pribadi, yang tirasnya kecil dan ujudnya sering sangat sederhana, disebarluaskan terbatas di kalangan peminat - biasanya dalam acara peluncuran buku puisi. Penerbitan semacam itu sama sekali tidak mengecilkan artinya karena seandainya toh diterbitkan dalam jumlah besar buku puisi belum tentu juga mudah dipasarkan. Ini adalah perkembangan yang sehat, yang memang seharusnya terjadi seperti yang juga terjadi di mana pun. Dengan proses penerbitan yang mudah, kemungkinan munculnya bakat baru bisa segera diketahui.

Meskipun. penerbitan buku puisi umumnya dianggap proyek rugi, seperti Pustaka Jaya, Pustaka Firdaus, Balai Pustaka. dan Grasindo telah menerbitkan sejumlah buku puisi akhir-akhir ini, tidak hanya yang ditulis oleh penyair yang sudah dikenal luas seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Dodong Djiwaptadja, Subagio Sastrowardoyo, Taufiq Ismail, Toeti Heraty. Sitor Situmorang, Piek Ardijanto Suprijadi, dan Goenawan Mohamad, tetapi juga penyair yang lebih muda seperti Gus tf, Ulfatin CII, Acep Zamzam Noor, dan Radhar Panca Dahana. Kebanyakan buku itu macet pemasarannya sejak cetakan pertama, tetapi ada satu dua di antaranya - seperti buku puisi Emha Ainun Nadiib- yang mengalami cetak ulang beberapa kali dalam waktu yang relatif singkat.[1] Sementara itu di begitu banyak kota di Indonesia terbit ratusan buku puisi baik yang diselenggarakan oleh penyair-penyair itu sendiri maupun oleh komunitas, yayasan, dan badan yang memberikan perhatian terhadap perkembangan puisi.

Yang perlu dicatat dalam penerbitan buku puisi dua dekade terakhir ini. terutama tahun 1990-an, adalah timbulnya kesadaran untuk menerbitkan sepilihan sajak penyair yang sudah sekian puluh tahun lamanya menulis. Tentu mengherankan bahwa di zaman yang konon sama sekali tidak mengindahkan sastra, jumlah penyair yang setia kepada pena, mesin tik, dan komputernya ternyata semakin banyak. Penerbitan sajak-sajak pilihan mereka penting sebab penerbitan buku akan membantu kesinambungan pelkembangan sastra kita; penerbitan puisi di majalah sulit untuk menjamin terciptanya tradisi puisi yang kokoh. Kita sekarang masih bisa belajar dari Chairii Anwar dan Amir Hamzah karena buku puisi mereka masih beredar di pasar, tetapi buku puisi Roestam Effendi, misalnya, sepanjang pengetahuan saya tidak terbit lagi sehingga kita tidak bisa belajar darinya. Kita juga tidak bisa belajar dari St. Nuraini, S. Rukiah, atau Isma Sawitri karena karya tiga perempuan penyair ini tidak bisa kita dapatkan dalam bentuk buku.

Munculnya berbagai jenis kelompok atau komunitas sastra dan budaya di begitu banyak kota juga mendorong diterbitkannya buku puisi, terutarna yang berupa antologi bersama.[2] Usaha ini menolong kita dalam membaca perkembangan puisi di koran dan majalah. Yang belum kita Iakukan selama ini adalah usaha penyeleksian dan penerbitan sejumlah sajak terbaik yang diterbitkan di majalah dan koran di seluruh Indonesia setiap tahun. Penerbitan semacam itu bisa memberikan gambaran garis besar mengenai perkembangan puisi kita tahun demi tahun. Perkembangan puisi kita terjadi di seluruh negeri; dalam hal ini pembicaraan mengenai pusat, daerah, pinggiran, pedalaman, dan semacamnya sama sekali tidak beralasan. Benar bahwa sebagian besar majalah dan koran terbit di Jakarta, tetapi di media massa itu terutama dimuat puisi dari luar Jakarta. Tambahan lagi, di luar Jakarta terbit semakin banyak koran yang luas jangkauannya dan menyediakan ruang juga untuk puisi. Di samping itu komunitas sastra yang mendukung penerbitan puisi tidak hanya terdapat di Jakarta. Dan yang paling penting, kuantitas dan kualitas puisi yang diterbitkan tampaknya merata; bahkan untuk sementara boleh dikatakan bahwa, terutama di kalangan penyair-penyair yang lebih kemudian, sajak-sajak yang baik justru dihasilkan oleh penyair-penyair yang tinggal di luar Jakarta.[3]

Secara khusus perlu juga disinggung mengenai masih sedikitnya perempuan yang berminat menerbitkan puisi. Pengamatan sementara saya menunjukkan bahwa perempuan pengarang kita ternyata lebih suka menulis fiksi daripada menulis puisi. Perempuan tidak suka menerbitkan puisi mungkin karena merasa tidak semestinya memamerkan perasaannya kepada khalayak ramai, atau mengalami kesulitan menuliskannya karena perasaannya begitu rumit sehingga menuntut sistem perlambangan yang tidak begitu mudah diciptakan dan, kemudian juga, diuraikan. Perempuan yang menulis puisi memang semakin banyak, tetapi dibanding dengan perempuan novelis atau Iaki-laki penyair, jumlah perempuan penyair sangat sedikit. Beberapa di antara mereka itu seperti Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, Ulfatin Ch, Abidah EI Khalieky, telah melanjutkan tradisi penulisan puisi yang ditempuh oleh Toeti Heraty, Isma Sawitri, dan St. Nuraini.

Perhatian terhadap penerbitan buku puisi ternyata sejalan dengan semakin pentingnya kegiatan melisankan puisi dalam masyarakat kita. Ini ditunjang oleh banyaknya komunitas sastra yang suka sibuk menyelenggarakan berbagai kegiatan, antara Iain sejumlah pembacaan puisi. Dalam hal ini pembacaan tidak jarang sama fungsinya dengan penerbitan; melisankan puisi adalah menerbitkan puisi; menerbitkan buku puisi biasanya diiringi dengan pembacaan puisi, atau bahkan musikalisasi atau penyanyian puisi. Keinginan melisankan puisi itu belum tentu bersumber pada penyair, tetapi sering pada penerbit atau pendengar. Kita berhak menaruh kecurigaan bahwa pendengar lebih banyak jumIahnya dari pembaca puisi di negeri ini. Khalayak yang datang mendengarkan pelisanan puisi belum tentu memiliki buku puisi, belum tentu juga tertarik membaca puisi sendiri dalam kamarnya.

Barangkali kecenderungan itu merupakan bukti bahwa kita ingin kembali ke kelisanan atau, seperti kata banyak orang, kita memang belum pernah sepenuhnya masuk ke keberaksaraan. Jika demikian halnya maka dalam proses penciptaannya, penyair kita masih belum jauh dari tradisi lisan. Jika dalam tradisi lisan penyair menciptakan puisi langsung di depan khalayak, maka dalam tradisi tulis sekarang ini penyair menulis puisi sambil membayangkan dirinya berada di hadapan khalayaknya. Jadi, ia tidak "hanya" menulis, tetapi "juga" melisankan sajak yang sedang ditulisnya, la, tentu saja, juga membayangkan tanggapan langsung khalayak ramai. Khalayak penyair sebenarnya sangat terbatas, yakni sejumlah orang yang memiliki kemauan baik untuk menghayati dan memahami puisinya. Sementara khalayak ramai itu carnpur aduk, sebagian besar sebenarnya bukan khalayak penyair, atau setidaknya bukan khalayak sastra cetak. Agar pelisanan puisi berhasil, penyair harus menggunakan sejumlah konvensi dan formula yang bisa diterima oleh semakin ramai orang.

Pendengar pelisanan puisi adalah orang yang hidup dalam tradisi urban dan industri, yang oleh seorang penyair Inggris, W.B. Yeats, digambarkan sebagai Without the memory of beauty and emotional subtIety.[4] Dalam menghadapi khalayak semacam itu, penyair tentu tidak merasa perlu menawarkan kualitas artistik yang kompleks yang biasanya dikaitkan dengan puisi, tetapi mengatur pikirannya sedemikian rupa sehingga sejajar dan sejalan dengan apa yang diharapkan oleh orang ramai yang menjadi khalayaknya. Kita pertimbangkan saja puisi yang ditulis untuk dilisankan dalam berbagai kesempatan seperti peringatan-peringatan dan peristiwa-peristiwa politik seperti yang beberapa kali terjadi di republik kita ini. Berbagai peristiwa telah menggoda penyair untuk menulis puisi dalam cara yang konvensional; penyair dengan berbagai cara telah menyelaraskan pandangannya dengan pandangan khalayaknya terhadap masalah sosial sehingga tidak jarang terpaksa mengorbankan kedalaman pandangannya sendiri mengenai masalah tersebut.[5] Penyair menulis puisi yang dibayangkannya akan bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin khalayak jika dilisankan. la membatasi diri pada gaya dan masalah yang terbatas jangkauannya, sementara khalayaknya bertepuk tangan dengan sikap yang sama sekali tidak kritis.

"Komposisi" yang konvensional ditempuh lantaran kelisanan mengubah puisi menjadi peristiwa yang cepat berlalu dan tidak bisa diulang lagi. Agar bisa mudah dipahami, kelisanan mensyaratkan puisi yang sangat ritmis, memiliki keseimbangan pola, penuh pengulangan dan antitesis, menggunakan aliterasi dan asonansi, disusun dalam ungkapan dan peribahasa yang klise, dan menampilkan latar tematik yang baku. Dengan demikian pendengar dapat segera menangkap maknanya, sebab berbeda dengan aksara, bunyi tidak bisa menetap. la lenyap begitu diucapkan, dan tidak bisa diusut kembali seperti halnya aksara.

Apa yang sudah diuraikan dengan ringkas itu menunjukkan kepada kita bahwa perkembangan puisi kita akhir-akhir ini berada dalam ketegangan antara keberaksaraan dan kelisanan; para penyair yang sepenuhnya tumbuh dalam tradisi cetak mempunyai dorongan yang kuat, dari dalam dirinya sendiri maupun dari lingkungannya, untuk melisankan apa yang sudah susah-susah ditulisnya -atau, seperti halnya penulis naskah Iakon, menyiapkan teks tertulis untuk suatu pertunjukan pembacaan puisi Hakikat keberaksaraan adalah interiorisasi, yakni pengembangan gagasan, pemahaman, dan penghayatan yang terjadi dalam benak pembaca yang tidak bersumber pada pengutaraan lisan. [6] Keberaksaraan juga membayangkan teks yang sama sekali terpisah dari pengarangnya, yang mengembara melintasi waktu dan tempat. Tradisi cetak juga tidak memperhitungkan suatu hal yang sangat hakiki dalam kelisanan, yakni kontak langsung antara penyair atau pelisan dan pembaca. Dalam sangat banyak peristiwa pelisanan puisi akhir-akhir ini, penyair yang sudah menyerahkan karya tulisnya kepada masyarakat untuk ditafsirkan sering sekali bertindak juga sebagai mediator dan penafsir puisinya sendiri. Dengan demikian penyair kita mempunyai peran ganda, mencipta dan kemudian menafsirkan ciptaannya sendiri. Teks yang dilisankannya bisa saja tetap, tetapi peristiwa pelisanan itu sendiri berubah dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat, demikian juga tentu saja tafsirnya - semua itu tergantung sepenuhnya pada khalayak dan maksud pelisanannya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »