Kelisanan dalam Keberaksaraan Kasus Puisi Indonesia Mutakhir (2) - Sapardi Djoko Damono

ADMIN SASTRAMEDIA 7/07/2019
oleh Sapardi Djoko Damono

SASTRAMEDIA.COM - Puisi modern ternyata masih sangat erat hubungannya dengan kelisanan; bahkan setelah segenap percobaan dalam tradisi tulis dan cetak, selalu muncul kecenderungan yang sangat kuat untuk kembali ke asa-usulnya itu. Berbeda dengan prosa yang tampaknya semakin memperhitungkan bermacam-macam aspek keberaksaraan, puisi hanya sekali-sekali saja berusaha untuk berpegang teguh pada prinsin-prinsip tradisi cetak, seperti misalnya yang terjadi pada suatu aspek perkembangan puisi konkret;[7] selanjutnya ia kembali lagi merapat ke kelisanan. Mungkin hakikat puisi memang kelisanannya, bukan keberaksaraannya. Sering kita katakan bahwa penyair bernyanyi, bukan menulis. Itu sebabnya maka tidak hanya pelisanan puisi yang berkembang di sini, tetapi juga apa yang disebut musikalisasi puisi.[8] Kita tidak perlu mengungkit-ungkit berbagai tradisi lisan kita seperti pantun dan mantra untuk menjelaskan hal itu; kita tahu bahwa sejumlah piranti puitik berasal dari tradisi lisan. Rima, irama, metrum, aliterasi, asonansi, repetisi, pun, paralelisme, onomatope, dan hal-hal Iain yang berkaitan dengan bunyi, merupakan aspek penting yang diuraikan jika kita berbicara mengenai puisi.

Ini tidak Iain menunjukkan bahwa sebenarnya kita masih memperlakukan puisi, yang sudah ditulis dan kemudian dicetak sejak ribuan tahun yang lalu, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kelisanan. Bahwa selama ini telah terjadi perubahan-perubahan besar dalam sastra sejak ia ditulis dan dicetak, itu sudah sangat jelas. Namun harus diakui juga adanya usaha terus-menerus untuk mengembalikannya ke arah tradisinya yang lama, yakni dengan melisankannya di depan khalayak. Kecenderungan tersebut tidak hanya berlaku untuk puisi, tetapi juga cerita rekaan. Beberapa kali kita mendengar tentang acara pelisanan cerita pendek dan bahkan beberapa bagian novel.

Gejala ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 1950-an, misalnya, Radio Republik Indonesia stasiun Yogyakarta memiliki acara pelisanan cerita berbahasa Jawa. Acara yang sangat populer pada zamannya itu antara Iain diselenggarakan oleh Pak Katno, bahan yang dilisankannya diambil dari cerita pendek atau cerita bersambung yang pernah dimuat di majalah-majalah berbahasa Jawa seperti Panyehar Semangat dan Jaya Baya. Jika kita menengok ke luar, pelisanan cerita rekaan juga dilakukan antara Iain di Inggris; konon Charles Dickens, novelis sangat populer pada zamannya, di tahun-tahun terakhir hidupnya suka melisankan novelnya di depan penggemarnya. Novel-novel Charles Dickens umumnya pernah dicetak sebagai cerita bersambung di koran, dan ia menjadi sangat populer tentunya karena masyarakat telah membacanya. Yang menarik perhatian kita adalah bahwa khalayak yang sudah pernah membaca karya novelis itu masih juga ingin mendengarkan sang novelis melisankannya.

Karya Dickens dan cerita-cerita Jawa yang dibaca itu merupakan naskah cetakan sebelum dilisankan. Jika kita membicarakan naskah tulisan, masalahnya menjadi sedikit berbeda. Dalam tradisi tulis, naskah yang dihasilkan hanya satu. Penyebaran naskah yang demikian tentu tidak bisa luas lewat pembacaan saja; itulah sebabnya penyebarluasannya dilakukan lewat pelisanan, dan dari mulut ke mulut, dalam bentuk tetap (fixed forms) yang mudah dihafalkan. Pasti sangat terbatas jumlah orang Jawa yang pernah membaca karya Ronggowarsito atau Yosodipuro. Di mana pula mereka membacanya jika naskah yang ada sangat terbatas dan hanya tersedia di beberapa tempat yang tidak mungkin dijangkau orang banyak? Hanya sesudah dicetak maka sastra tulis itu menyebar sebagai sastra cetak, tidak jarang sudah lengkap dengan tafsirnya.

Penyebaran secara lisan itu pun tentunya sepotong-sepotong, agar bisa dengan mudah dihapalkan dan mungkin memang sesuai dengan hakikat kelisanan, yakni episodik. Orang Jawa kenal dan hapal beberapa bait tembang karya pujangga Jawa, tetapi sama sekali tidak mengenal naskah-naskah itu seeara utuh. Mereka mungkin sekali lebih mengenalnya sebagai penyampaian lisan. Dalam pelaksanaan pelisanan tradisi tulis itu masih ada semacam hubungan antara khalayak dan pelisan, meskipun hampir bisa dipastikan bahwa pelisan itu bukan pujangganya yang dalam hal sastra Jawa tentunya sudah lama mati. Puisi, atau rekaman dan catatan ideologi yang dibuat oleh pujangga itu, cenderung diperuntukkan masyarakat yang terbatas, dan karenanya memerlukan penghubung penafsir agar bisa sampai ke masyarakat luas. Dalam tradisi tulis, naskah bisa "menyebar" —sama sekali tidak luas — lewat para penyalin. Patut dicatat bahwa, karena penyalin memiliki kebebasan sekaligus keterbatasan, setiap salinan merupakan naskah baru yang mungkin sekali berbeda ideologinya dengan yang disalin — dengan kata Iain, merupakan rekaman ideologi baru yang merupakan tanggapan terhadap ideologi yang termaktub dalam kitab yang ditiru itu.

Berbeda dengan novelis, sejak beberapa dekade terakhir ini penyair sangat sering diminta untuk melisankan puisinya sendiri. Dalam banyak kesempatan kita dengar acara melisankan puisi, tradisional maupun modern. Lomba melisankan puisi pun, dari tingkat RT sampai tingkat nasional, sudah merupakan hal biasa di negeri ini. Dalam banyak kesempatan bahkan para pejabat dan pemuka masyarakat tidak jarang diminta untuk membaca puisi — karangannya sendiri atau karangan penyair yang sudah banyak dikenal. Kegiatan semacam itu konon dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk memasyarakatkan sastra. Pandangan demikian seolah-olah mengukuhkan kecurigaan kita selama ini bahwa masyarakat kita memang masih mengikuti tradisi lisan, bukan tradisi tulis. Bahwa kebiasaan melisankan puisi memang ada di mana pun, kita semua tahu. Dalam tahun 1960-an, misalnya, di Amerika muncul gejala yang kuat dalam pelisanan puisi oleh para penyairnya sendiri di berbagai jenis pertemuan dan acara, mulai dari kampus sampai ke warung kopi; kadang-kadang dengan diiringi musik country atau jazz. Menurut seorang pengamat, gejala ini penting dalam perkembangan puisi Amerika modern sebab telah menciptakan hubungan langsung antara penyair dan pendengarnya. Katanya, “And their directness is not primarily a matter of content or tone but a matter of form, especialy of rhythms." [9] 

Di beberapa negeri maju bahkan ada usaha untuk merekam penyair melisankan puisinya sendiri atau aktor melisankan puisi penyair yang dianggap penting oleh masyarakatnya. Banyak di antara penyair kita yang berulang kali diundang ke negeri Iain untuk melisankan puisinya. Namun lomba melisankan puisi, saya kira, merupakan kegiatan yang belum banyak dikenal di negeri Iain. Ini setidaknya menunjukkan kaitan yang sangat erat antara tradisi cetak dan lisan, kalau tidak boleh dikatakan kecenderungan Yang sangat kuat dan nyata untuk kembali ke kelisanan, di negeri kita ini.

Perlu kita ingat bahwa dalam masyarakat cetak taraf tinggi pun, ada bahan-bahan tertulis — misalnya drama yang memang dimaksudkan untuk dimainkan, antara Iain dengan cara melisankannya. Dalam hal ini harus diakui bahwa peristiwa itu termasuk pelisanan bahan tertulis. Puisi pun tentu saja bisa ditulis dengan maksud untuk dilisankan; ia menjadi bagian kelisanan jika oral performance "pelisanan" menjadi kriterium utama. Dalam hal semacam itulah timbul kontradiksi antara dua kriteria, yakni teks tertulis dan pertunjukan. Masalah yang muncul di sini adalah apakah kemudian yang tinggal sebagai residu itu pertunjukannya atau teks tertulisnya. Masalah kelisanan ini sebenarnya menjadi tidak begitu sederhana lagi jika kita menyadari kenyataan bahwa yang kita lakukan sehari-hari sekarang ini pada hakikatnya adalah komunikasi yang merupakan campuran dari berbagai jenis media — cetak, tulis, lisan. Seperti dahulu ketika sebagian besar penduduk dunia masih buta aksara, sekarang ini ketika sebagian besar kita sudah melek aksara interaksi antara bahan tulis dan pelisanan itu tetap juga terjadi setiap hari,

Dalam pembicaraan kita mengenai puisi di masyarakat kita yang konon sudah modern ini yang ada tentu saja bukan lagi tradisi lisan tetapi penyampaian lisan.[10] Tradisi lisan terutama berdasarkan pada bahan yang disampaikannya, yakni kelisanan; ini hanya bisa berlangsung di dalam masyarakat yang belum mengenal aksara. Sementara itu penyampaian lisan bisa saja berdasarkan bahan tertulis. Penyampaian lisan itu bisa dilaksanakan oleh penyairnya sendiri, bisa juga oleh orang lain.

Dan pelisanan itu, yang di sini sekarang biasa disebut pembacaan atau reading harus dianggap sebagai suatu "teks" yang berdiri sendiri, yang merupakan gabungan antara: teks tertulis dan penyampaiannya. Dengan demikian, setiap pembacaan merupakan suatu teks tersendiri yang berbeda dari pembacaan lain di tempat atau waktu lain, yang disampaikan oleh pembaca yang sama maupun berbeda. Sama halnya dengan salinan dari naskah tertulis yang menjadi induknya. Sama juga halnya dengan pementasan yang bersumber pada naskah lakon. Dalam hal ini tentu saja khalayak juga merupakan faktor yang ikut menentukan "teks" tersebut. Dengan demikian, puisi lisan adalah teks yang hanya berlangsung sesaat, yang segera habis begitu selesai dibacakan. Keterampilan dan kepribadian aktor, reaksi dan jenis khalayak, konteks dan tujuan pertunjukan semuanya itu merupakan nilai artistik dan makna puisi lisan.

Di dalam penyampaian lisan, khalayak merupakan suatu kesatuan, suatu kelompok. Khalayak yang menghadiri pembacaan puisi akan merupakan suatu kelompok jika sama sekali tidak ada teks tertulis yang dibagikan untuk dibaca oleh masing-masing yang hadir. Ketika ada naskah tertulis yang dibagikan kepada khalayak maka keutuhannya pun terpecah, masing-masing masuk ke dalam dirinya sendiri. Inilah sebenarnya hakikat perbedaan antara puisi sebagai bunyi dan puisi sebagai aksara. Dalam menghadapi aksara, masing-masing pembaca sama sekali merupakan dirinya sendiri yang sama sekali terpisah dari pembaca lain, mungkin dalam waktu dan tempat. Jadi, sebenarnya pengertian pembaca sebagai "kelompok" itu tidak begitu tepat sebab pembaca itu bukan kelompok seperti halnya dalam tradisi lisan. Dalam hal membaca aksara, tentu saja konteks dan tujuan "pertunjukan" sama sekali tidak relevan dalam menentukan nilai artistik dan makna puisi.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »