Konsep Seks dan Karya Sastra Bernuansa Seks - Dr. Wiyatmi, M.Hum

ADMIN SASTRAMEDIA 7/02/2019
oleh Dr. Wiyatmi, M.Hum

SASTRAMEDIA.COM - Di kalangan feminis, pada umumnya dibedakan antara istilah s3ks, gender, dan s3ksualitas, walaupun pada dasarnya pemahaman s3ksualitas bisa mencakup keduanya: s3ks dan jender (Munti, 2002: 2). Di samping itu, s3ks atau s3ksual juga dapat berarti ganda. Di samping mengacu pada perbedaan jenis kelamin, juga mengacu hubungan intim atau er*tis antara dua jenis kelamin yang berlainan. S3ksualitas juga mencakup seluruh kompleksitas emosi, perasaan, kepribadian, dan sikap atau watak sosial, berkaitan dengan perilaku dan orientasi atau preferensi s3ksual. Sementara itu, gen der lebih mengacu pada konsep maskulin, feminin atau androgini (ada unsur maskulin dan feminim), sebagai hasil dari suatu proses sosialisasi yang merumuskan peran-peran dan karakteristik-karakteristik yang beraneka ragam dan cara-cara yang dipertukarkan (Munti, 2000: 2)


Secara khusus s3ks dalam konteks ini mengacu kepada bagaimana hal-hal yang berhubungan dengan organ-organ (alat) kelamin dan aktivitas, serta pengalaman hubungan kelamin yang dideskripsikan dalam karya sastra.


Munculnya fenomena s3ks dalam karya sastra, khususnya sastra Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru. Hal ini karena, fenomena s3ks merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia secara riil. Karena sastra senantiasa bersumber dari kehidupan manusia riil, maka s3ks pun juga mewarnai cerita dalam karya-karya sastra.


Dalam hal kehadiran fenomena s3ks dalam karya sastra, sejumlah kritikus sastra telah banyak membicarakan. Dengan mendasarkan pada karya-karya sastra pada masa 1960-an, ketika ulasan/kritik dibuat, Satyagraha Hoerip (1969: 249–271) mengemukakan adanya perbedaan antara karya (cerpen) sastra dan nonsastra dalam menggambarkan s3ks dalam karya sastranya. Pada cerita nonsastra (maksudnya karya sastra yang bernilai rendah—[Peny.]) adegan s3ks acap kali dilukiskan dengan mendetail, malahan begitu mendetail sehingga—terutama bagi pecinta sastra—sering terasa memuakkan. Sebaliknya, dalam cerpen sastra akan dijumpai tiga ciri, yang akan membuat pembaca yang berharap memperoleh sensasi s3ksual selagi membacanya akan kecewa. 


Ketiga ciri tersebut adalah: 1) adegan s3ks pada cerpen sastra tidak dilukiskan urut sebagaimana dalam realitas, dari awal hingga berakhir. Pelukisan lazim berhenti pada tahap pengantar, sedangkan proses berikutnya pembaca di minta mengerti sendiri. 2) S3ks dilukiskan secara subtil, sugestif, terselubung atau bahkan simbolik. 3) S3ks (tak selalu da lam adegan terjadinya) hanyalah suplementer belaka dari sekian faktor yang ada, yang dalam totalitas cerpen itu justru faktor lain itulah yang terbukti akan lebih dominan.


Hampir sama dengan yang dikemukakan Hoerip, setelah mengamati munculnya fenomena s3ks dalam sastra Indonesia sebelum 1980-an, Goenawan Mohamad (1980) menyimpulkan adanya tiga pola sikap dari sastra Indonesia terhadap persoalan s3ks dan cara penggambaran s3ks. Pertama adalah karya-karya yang berusaha mempersoalkan s3ks, tetapi tidak berani menggambarkannya. Kedua, adalah karya-karya yang mempersoalkan s3ks dan menggambarkannya dengan cara meneriakkannya dengan keras-keras dan ada kecenderungan menggambarkan peristiwa er*tis secara “berlebihan”. Ketiga, adalah karya-karya yang mempersoalkan s3ks sebagai bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan menggambarkannya secara wajar pula. Untuk karya jenis ketiga ini, Mohamad mencontohkan cerpen-cerpen Umar Kayam dan puisi-puisi Sitor Situmorang.



>Sumber: Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia
Wiyatmi, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2012

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »