Tiga Ciri Utama Bahasa Sastra

ADMIN SASTRAMEDIA 7/08/2019
Tiga Ciri Utama Bahasa Sastra

SASTRAMEDIA.COM - Bagi Paul Ricœur, hermeneutika merupakan strategi terbaik untuk menafsirkan teks-teks filsafat dan sastra. Sesuai dengan prinsip yang telah dikemukakan itu, dalam penafsiran sastra tahap pertama yang harus dilakukan ialah membedakan antara bahasa puitik, yang pada hakikatnya bersifat simbolik dan metaforikal, dengan bahasa diskursif nonsastra yang tidak simbolik. Menurutnya, ada tiga ciri utama bahasa sastra yang perlu diberi perhatian dalam hermeneutika:

1. Bahasa sastra dan uraian filsafat bersifat simbolik, puitik, dan konseptual. Di dalamnya berpadu makna dan kesadaran. Kita tidak dapat memberi makna referensial terhadap karya sastra dan filsafat sebagaimana terhadap teks yang menggunakan bahasa penuturan biasa. Bahasa sastra menyampaikan makna simbolik melalui citra-citra dan metafora yang dapat diserap oleh indra. Sementara itu, bahasa bukan sastra berusaha menjauhkan bahasa atau kata-kata dari dunia makna yang luas.

2. Dalam bahasa sastra, pasangan rasa dan kesadaran menghasilkan objek estetik yang terikat pada dirinya. Penandaan harus dilakukan dan tanda harus diselami maknanya, tidak dapat dibaca secara sekilas lintas. Tanda dalam bahasa simbolik sastra mesti dipahami sebagai sesuatu yang mempunyai peran konotatif, metaforikal, dan sugestif. 

3. Bahasa sastra dalam kodratnya memberikan pengalaman fiksional, suatu pengalaman yang pada hakikatnya lebih kuat dalam menggambarkan ekspresi tentang kehidupan. Oleh karena itu, bahasa sastra yang puitik tidak memberi kemungkinan bagi pembaca untuk mengalami dan memahami secara langsung apa yang disajikan. Berdasarkan kenyataan ini, kegiatan hermeneutik diperlukan.

Ricoeur menambahkan bahwa setiap teks memiliki komponen, struktur bahasa, dan semantik yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, setiap teks sastra memerlukan model hermeneutika yang berbeda-beda. Kendati demikian, prosedur umum dapat diberikan. Ricoeur merincinya sebagai berikut:

Pertama, teks harus dibaca dengan penuh kesungguhan, menggunakan imajinasi yang penuh rasa simpati (sympathetic imagination).

Kedua, orang yang menggunakan strategi hermeneutika mesti terlibat dalam analisis struktural bahasa teks, kemudian menentukan tanda-tanda simbolik penting di dalamnya dengan tujuan menyingkap makna batin tersembunyi. Setelah itu, baru menentukan rujukan dan konteks dari simbol-simbol yang menonjol. Dia juga harus mampu membedakan antara simbol dan metafora sebab keduanya merupakan peralatan penting sastra yang membuatnya berbeda dari wacana ilmiah. Bilamana tahapan ini dapat dilakukan dengan baik, sejumlah andaian dapat diajukan.

Ketiga, seorang ahli hermeneutika mesti melihat bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan makna dan gagasan dalam teks merupakan pengalaman tentang kenyataan nonbahasa yang dinyatakan dalam bahasa.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »