Tiga Hal Terkait Kelahiran Karya Sastra

ADMIN SASTRAMEDIA 7/11/2019
Tiga Terkait Kelahiran Karya Sastra

SASTRAMEDIA.COM - Sumbangsi penting Wilhelm Dilthey dalam hermeneutika sastra saat dia berhasil memadukan kembali tiga disiplin ilmu, seperti psikologi, estetika, dan sejarah kebudayaan sebagai asas penelitian dan pemahaman sastra. Menurut Dilthey, dengan memadukan pengetahuan-pengetahuan tersebut kita akan dapat memahami karya sastra yang lahir dari periode-periode sejarah tertentu, dan dari tradisi budaya yang berbeda. Disiplin-disiplin ilmu seperti psikologi, estetika, dan sejarah kebudayaan diperlukan dalam hermeneutika sastra disebabkan tiga hal.

(1) Karya sastra dihasilkan melalui proses kejiwaan yang melibatkan imajinasi dan pandangan dunia (Weltanschauung) pengarang atau penyair.

(2) Karya sastra ditulis berdasarkan wawasan estetika tertentu yang berubah dan berkembang dalam periode sejarah yang berkelanjutan.

(3) Pandangan dunia dan wawasan estetika memiliki dan bersifat kesejarahan karena berkembang pada periode sejarah tertentu. Keduanya menandai semangat suatu zaman, dan karenanya mempengaruhi corak dan bentuk ekspresi.

Dalam kaitan dengan yang ketiga ini kita dapat mengambil contoh gerakan-gerakan sastra yang muncul dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern seperti Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45/Gelanggang, Lekra/realisme sosial, Angkatan 66, dan Angkatan 70 untuk menyebut beberapa yang ciri dan semangatnya jelas berbeda satu dengan yang lain. Semangat Pujangga Baru misalnya merupakan perpaduan romantisme, nasionalisme, dan mistisisme Timur, termasuk tasawuf sebagaimana tampak dalam karya Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Kajian Md. Salleh Yaapar tentang kepenyairan Amir Hamzah Myusticism and Poetry: A Hermeeutical Reading of the Poems of Amir Hamzah (1995) merupakan contoh yang baik betapa aspek kesejarahan teks berkenaan dengan pandangan dunia dan wawasan estetika mendapat tekanan khusus.

Begitu pula dengan kajian Subagio Sastrowardoyo sebelumnya tentang sastra Hindia Belanda, novel Atheis Achdiat K. Mihardja, puisi-puisi Chairil Anwar, Sitor Situmorang, dan pengarang lain merupakan contoh yang tepat walaupun Subagio tidak menyebut kajiannya bertolak dari hermeneutika sejarah. Kajian lain yang dapat dikemukakan ialah analisis Andre Hardjana atas novel Mochtar Lubis dan karya penulis Lekra. Dalam kajiannya itu wawasan estetika dan pandangan dunia penulis dijadikan landasan pemahaman untuk melahirkan penafsiran yang baik. Kajian Braginsky tentang sastra Melayu seperti tampak dalam bukunya seperti The Systems of Classical Malay Literature (1992) dan Keindahan, Faedah dan Kamal:

Sastra Melayu Abad ke-7--19 M (1998) juga dapat dijadikan contoh yang baik. Braginsky memadukan strukturalisme semiotik Lotman, strukturalisme hermeneutik Abdul Qahir al-Jurjani, dan hermeneutika sejarah sebagai landasan untuk memahami perkembangan kesusastraan Melayu klasik. Karena kesusastraan Melayu sangat dijiwai oleh tasawuf, Braginsky melengkapi kajiannya dengan pengetahuan yang mendalam tentang tasawuf dan estetika sufi.

Tidak jarang dalam suatu periode sejarah muncul bersamaan beberapa pandangan dunia dan estetika yang berbeda-beda, seperti tampak pada karya penulis 1970-an atau Angkatan 70. Akan tetapi, terdapat ciri umum yang dijumpai dalam sebagian besar karya Angkatan 70, terutama karangan-karangan prosanya. Pada umumnya prosa pengarang 1970-an menolak realisme formal yang memandang sastra sebagai representasi atau tiruan dari kenyataan di luar pengalaman batin pengarang. Lebih tepat bilamana karya sastra dipandang sebagai representasi simbolik atau simbolisasi (pemisalan) atas gagasan dan pengalaman batin mereka dalam kontaknya dengan berbagai realitas dalam kehidupan. Dari beberapa eksponen gerakan ini lahir cerpen-cerpen atau novel 'arus kesadaran batin (stream of consciousness) seperti tampak pada cerpen-cerpen Umar Kayam, Gerson Poyk, dan M. Fudoli Zaini. Ada yang cenderung absurd seperti tampak dalam karya-karya Iwan Simatupang, Budi Darma, dan Putu Wijaya. Ada yang menonjol semangat sufistiknya seperti karya Danarto, Kuntowijoyo, dan cerpen Fudoli Zaini. Ada yang cenderung surealis seperti tampak pada lakon-lakon Arifin C. Noer.

Menurut Dilthey, jika demikian persoalannya, tugas hermeneutika sejarah menjadi kompleks tetapi tetap penting. Tanpa hermeneutika sejarah, tidak mungkin sejarah kesusastraan suatu bangsa dapat ditulis dengan baik. Sejarah kesusastraan tidak bisa ditulis oleh teori-teori modern secara mandiri seperti New Criticism, Strukturalisme, Semiotik, Sosiologisme, Historisisme, dan Dekonstruksi.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »