Film Bumi Manusia sebagai Benalu untuk Novel Bumi Manusia - Dwi Pranoto

ADMIN SASTRAMEDIA 8/30/2019
Film Bumi Manusia sebagai Benalu untuk Novel Bumi Manusia
oleh Dwi Pranoto


“Novelnya dilarang. Sebagian pembacanya dipenjara bertahun2. Pengarangnya ditahan belasan tahun tanpa diadili. Lalu dibebaskan tanpa dibersihkan namanya. Tanpa maaf negara terhadap novelis dan keluarganya. Apalagi ganti rugi. Kini novelnya jadi komoditas”.
Ariel Heryanto di Twitter, 15 Agustus 2019

SASTRAMEDIA.COMKritik terhadap film adaptasi hampir selalu berulang pada membandingkan produk film dengan karya sastra yang diadaptasinya. Film adaptasi diposisikan sebagai produk kedua yang inferior terhadap karya sastra yang diadaptasinya. Kritik semacam ini melupakan bahwa produk film dan karya sastra menggunakan medium yang berbeda untuk berinteraksi dengan khalayaknya. Teks cenderung memberikan kebebasan lebih besar pada para pembaca untuk menumbuhkan imajinasinya. Berbeda dengan paduan gambar dan suara yang lebih menyajikan imaji-imaji yang definitif pada para penontonnya.

Adaptasi dalam dunia hewan, atau biologi pada umumnya, merupakan proses perubahan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tak jarang melahirkan jenis makhluk hidup baru. Begitu pun bila karya film mengadaptasi karya sastra. Karya film yang diadaptasi dari karya sastra adalah proses perubahan dimana penyesuaian dirinya mencakup proses menafsirkan sekaligus menerjemahkan (relasi interteksualitas). Menafsirkan berarti memaknai atau mamahami makna dengan cara membongkar kode-kode literer. Sedangkan menerjemahkan berarti mengalihbahasakan dari verbal-tulis ke visual-audial. Namun demikian, sebagaimana adaptasi, misalnya dari air ke darat, yang bukan hanya menyesuaikan diri dari medium cair ke padat, tapi juga harus mengahadapi pemangsa, temperatur, dan pemenuhan kebutuhan pangan; film adaptasi harus menghadapi persepsi khalayak, teknik cinematik, dan kekinian sebagai tantangan yang akan menentukan bentuk morfologinya.

Film berbeda dengan karya sastra, bukan hanya mediumnya, tapi juga lingkungannya yang merupakan ruang bagi persepsi khalayak, teknik artistik, dan kontemporeritas. Sebagaimana setiap film, film adaptasi Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo adalah produk kreatif. Sebagai produk kreatif, film Bumi Manusia tidak diukur seberapa tepat film tersebut memindahkan setiap elemen novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ke dalam gambar hidup. Film adaptasi bukan hasil fotokopi novel yang diadaptasinya. 

Melalui sudut penceritaan kisah cinta antara Minke dan Annelies, gagasan kesetaraan manusia yang menubruk tembok rasisme kolonial memperoleh jangkar penceritaan yang kokoh. Asmara tidak berhenti sebagai pengungkapan hasrat seksualitas, tapi mencakup histobiografi Minke dan Annelies yang diletakan dalam suatu fakta sosial kolonial yang sedang berlaku. Asal-usul dan status sosial menjadi faktor penentu bagaimana tokoh-tokoh harus bertindak dan bersikap dalam memainkan peran individual yang diharapkan dalam struktur sosial. 

Namun, sejumlah tokoh dalam film Bumi Manusia tidak berlaku konform terhadap norma dan nilai sosial yang sedang berlaku. Nyai Ontosoroh yang berdiri tegak di hadapan para tuan kolonial seperti hendak mengubur sebagian kepribumian Sanikem. Annelies yang menemukan sebagian dirinya dalam diri Sanikem berkeras membuang kebelandaannya dan membaur dengan para pribumi meski tak melepaskan statusnya sebagai juragan. Berkebalikan dengan Annelies, Robert Suurhof dan Robert Mellema berkeras membuang kepribumian yang menghalanginya untuk masuk ke dalam kelas atas masyarakat. Apa yang diekspresikan oleh duo Robert dalam pergaulan sosial ini juga dilakukan oleh Minke dalam pergaulan kecendekiaan. Minke yang digambarkan haus pengetahuan, dan tingkat kecendekiaannya tidak kalah dengan kaum elite kolonial menggunakan nama pena Max Tollenar. 

Para penonton, saya kira, dengan mudah dapat melihat gambaran stratifikasi sosial dalam film Bumi Manusia. Ketimpangan-ketimpangan dalam pergaulan sosial, seperti pengusiran Robert Suurhof dan Minke dari klub Eropa, menjadi lebih jelas ketika film berakhir dengan tragedi percintaan antara Minke dan Annelies yang bersama keruntuhan cinta itu runtuh pula dunia Buitenzorg yang dimiliki Nyai Ontosoroh. Namun, film bukan hanya alur dan plot naratif berupa rangkaian stockshot-stockshot yang menstruktur pengadeganan berdasarkan karakter-karakter dan peran-peran dalam penokohan. Film adalah gambar hidup; bagaimana gambar memproyeksikan gagasan juga melalui struktur elemen-elemen yang membentuk gambar. 

Kecuali bagian pertama film Bumi Manusia yang mencuplik rekaman dokumenter hitam putih kota Surabaya pada paruh pertama, hampir seluruh film dipenuhi oleh gambar warna-warni dengan tampilan glossy. Para tokoh, rumah-rumah, dan barang-barang lainnya seperti baru dibuka plastik pembungkusnya. Segalanya seperti baru. Menurut Hanung Bramantyo, melalui status akun facebooknya tanggal 21 Agustus 2019, gambar yang semarak warna-warni dan glossy tersebut sengaja diturunkan dari konsep keindahan lukisan moi indies. “Lagipula tahun 1890 itu adalah era tanah Indies disebut MOI INDIES yaitu Indies yang cantik. Saya dan pak HB Naveen menerjemahkan indies yang cantik dengan menampilkan bangunan warna warni seperti baru”, tulis Hanung pada akun facebooknya.  

Problemnya adalah apakah tepat menceritakan ketimpangan struktur sosial kolonial yang melahirkan rasisme itu dengan gaya lukisan mooi-indie atau hindia molek? Mooi-indie lahir dari perspektif kolonial yang memandang Indonesia sebagai kekayaan alam dan kultural milik kolonial yang diekspresikan melalui lukisan di mana penjelmaan paling akbar dan monumental dari konsep mooi-indie tersebut adalah anjungan Hindia Belanda pada Pameran Kolonial Internasional di taman Bois de Vincennes, Paris, tahun 1931. 
Pameran keindahan kolonial yang dikecam oleh majalah Timboel pada masa itu sebagai, “. . . kampung tiruan yang bagus tapi menyedihkan”. Mooi-indie adalah konsep keindahan yang menutupi ketimpangan sosial, penindasan dan penghisapan yang mengakibatkan kemiskinan, serta proyeksi dari sikap rasisme kolonial secara tersirat. Apa yang hendak diartikulasikan film Bumi Manusia karya Hanung Bramantyo yang menceritakan ketimpangan sosial dan rasisme dengan menggunakan gaya keindahan yang lahir dari sikap yang mendukung ketimpangan sosial dan rasisme?

Bila kita melihat gaya gambar film Bumi Manusia yang kontradiktif dengan gagasan yang diartikulasikan, pada posisi pengambilan gambar akan terlihat miskinnya imajinasi Hanung untuk menghubungkan antara perspektif gambar yang disajikan dengan gagasan. Boleh dikatakan seluruh posisi pengambilan gambar tidak berbicara apa-apa kecuali semacam variasi tekhnis yang lepas dari gagasan. Pada konteks ini film Bumi Manusia tak lebih seperti sinetron yang hanya mengandalkan kekuatan naratif yang direpresentasikan oleh hubungan antara tokoh-tokohnya. Padahal posisi pengambilan gambar dapat membentuk atau memperkuat karakter tokoh dan situasi pengadeganan, Sebagai misal, mungkin Nyai Ontosoroh dalam beberapa adegan film bisa disajikan dengan pengambilan gambar dari bawah untuk memproyeksikan ketinggian martabatnya atau mungkin pengambilan gambar adegan persidangan dapat diambil dari atas untuk melukiskan proses pengadilan yang menekan.

Film Bumi Manusia sebagai film “sejarah”, baik sebagai sejarah kolonial maupun keantikan novel Bumi Manusia, tampaknya tak lebih merupakan pajangan. Nilai historis sebagai pajangan terletak pada kelangkaan, originalitas material yang sulit didapatkan karena tak mungkin diproduksi lagi. Sebagai benda sejarah pajangan, film Bumi Manusia tak jauh berbeda dengan setrikaan arang ayam jago atau sepeda gazelle yang menjadi dekorasi cafe bergaya vintage. Nilai setrikaan ayam jago dan sepeda gazelle bukan terletak pada fungsinya, tapi pada keantikan yang berlandas pada narasi historis yang melekatinya. Film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo pada akhirnya belaka bersifat parasitis terhadap kekeramatan nama Pramoedya Ananta Toer dan gagasan perjuangan melawan rasisme kolonial dalam novel Bumi Manusia, sementara Pulau Buru sudah ditutup untuk tempat tapol dan napol pun juga kolonialisme Belanda sudah berakhir lebih dari setengah abad lalu. 

Alih-alih menyingkapkan penonton pada pengalamannya saat ini, Film Bumi Manusia justru mem-blok pengalaman penonton dengan menundukkan penonton melalui narasi historis yang tak terjangkau pengalaman. Karenanya, bila novel Bumi Manusia bersifat politis yang tumbuh bergelut dengan pengalaman, film Bumi Manusia mengasingkan pengalaman. Film Bumi Manusia seperti perangkat alat sablon yang menyablon gambar Pramoedya atau Minke atau Annelies pada kaos penonton. “Novelnya dilarang. Sebagian pembacanya dipenjara bertahun2. Pengarangnya ditahan belasan tahun tanpa diadili. Lalu dibebaskan tanpa dibersihkan namanya. Tanpa maaf negara terhadap novelis dan keluarganya. Apalagi ganti rugi. Kini novelnya jadi komoditas”, cericit Ariel Heryanto di Twitter.

Film Bumi Manusia garapan Hanung seperti meletakkan buku novel Bumi Manusia karya Pramoedya di dalam kotak kaca pajangan di tengah ruangan mewah ber-AC penuh dekorasi kolonial dengan kumandang lagu Indonesia Raya dan Ibu Pertiwi yang tak henti-henti. Sementara di luar ruangan eksploitasi pertambangan yang merusak lingkungan dan mengusir para penduduk lokal terus berlangsung. Di luar ruangan segala bentuk diskriminasi berdasarkan etnik, politik, dan agama dibiarkan atau bahkan disponsori negara. Di luar ruangan buku-buku dirazia dan dibakar. Seandainya, seandainya saja tokoh Minke tidak diperankan oleh seorang pemuda dari Jawa Timur, tapi diperankan oleh seorang pemuda dari Papua.****

Sumber: KAWACA.COM

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »