Pengantar Buku: Dari Sunyi ke Bunyi - Goenawan Mohamad

ADMIN SASTRAMEDIA 8/14/2019
oleh Goenawan Mohamad


                                        

SASTRAMEDIA.COM Melalui pengalaman, saya tahu bahwa penyair-penyair yang buruk adalah penyair yang menulis prosa yang buruk. Puisi kadangkala menyesatkan. Gairah yang menggerakkan seseorang untuk menulis sajak memberinya alasan yang sah buat menyusun sesuatu yang tidak terlampau urut, terang, dan padu -yang oleh orang Inggris disebut lucidity-. Di hadapan sebuah sajak kita tidak mempertengkarkan apa yang dikatakan seorang penyair, bagaimana proses diskursifnya, apa pula argumentasinya untuk sampai kepada suatu pernyataan, suatu kesimpulan. Ini tidak berarti bahwa puisi tidak memerlukan sebuah koherensi. Puisi menuntut disiplin agar koherensi itu terjaga, dalam imaji, bunyi, sugesti, kontras, dan keseimbangan. Hanya saja prosesnya melintasi jalan yang berbeda dengan prosa. 

Tidak mengherankan bila mereka yang tidak memiliki daya untuk menjadi koheren dalam menulis puisi, -satu hal yang diperlukan dalam menulis puisi- pada akhirnya akan dapat diketahui dalam tulisannya yang lain. 

Hartojo Andangdjaja adalah salah satu penyair Indonesia yang dengan segera dapat diketahui mutunya justru melalui esai-esainya. Ia menulis sajak sejak akhir tahun 1940-an. Ia lebih dikenal sebagai penyair. Namun bagi saya telaahnya tentang puisi, pemikiran dan pendapatnya tentang itu, merupakan model lucidity yang dalam kesusastraan Indonesia modern pada masanya hanya ditemukan dalam tulisan Sutan Takdir Alisjahbana dan Asrul Sani (setelah Hartojo Andangdjaja nama yang harus disebut di sini agaknya ialah Sapardi Djoko Damono). 

Kekhususan Hartojo ialah bahwa ia sepenuhnya memikirkan puisi, dan tidak nampak mempunyai ambisi untuk menulis pelbagai hal lain di luar itu dengan gagasan-gagasan besar. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa gayanya -yang bukan saja jernih, tetapi juga merupakan suatu gelombang kalimat yang teratur- menunjukkan bahwa ia memang seseorang yang menulis dengan puisi terngiang-ngiang di kepalanya terus-menerus.

Saya mengenal Hartojo di tahun 1962. la baru datang dari Sumatera Barat, tempat ia pernah hidup dan mengajar sebagai guru. Yang memperkenalkan adalah D.S. Moeljanto, agaknya satu-satunya orang di Indonesia yang mengenal betul penyair yang agak misterius ini, karena mereka pernah hidup satu kota di Surakarta, dan Moeljanto praktis merupakan orang tempat ia berdialog sejak mula.

Dengan reputasinya sebagai penyair yang sudah berpengalaman, Hartojo agak membuat saya gentar mula-mula. Ia tidak banyak berbicara. Tubuhnya kecil dan kurus seperti orang yang menderita sakit. Tetapi ada kerapian dalam penampilannya yang sederhana dalam puisi dan prosanya. la bukan sosok yang liar dan garang, tetapi ia nampak dalam seperti sungai yang tidak banyak riak. 

Dan ia memang dalam, perspektif, peka, -dan hampir semua percakapan kami hanya mengenai puisi. la, sepulang dari Sumatera Barat, mendapatkan kerja di majalah Si Kuncung, sebuah majalah kanak-kanak terkemuka waktu itu. Ia juga tinggal di sebuah kamar di kantor majalah itu, di Jalan Madura (kini Jalan Muhammad Yamin) no. 2, tempat dulu, sebelumnya, majalah Kisah juga berkantor. Saya sering datang ke sana, terkadang ikut menumpang tidur di dekatnya: sebuah kamar sempit yang panas, 2 x 4 meter persegi, tanpa ranjang. Bila malam, Hartojo tergeletak di atas tikar di lantai. Di dekatnya buku-buku. la selalu membaca. Ia agaknya -kerapian yang juga nampak dan hampir semua menyimpan beberapa buku sendiri, dan terkadang meminjamnya dari kamar kumuh Wiratmo Soekito yang tinggal tidak jauh dari sana, di Jalan Cikini.

Puisi dan kesusastraan bagi Hartojo nampaknya merupakan fokus hidupnya, meskipun ia praktis tak mendapatkan apa-apa dari itu, selain pengakuan dan rasa kagum dari segelintir orang. Ia tidak banyak bergaul, selain dengan sejumlah teman sastrawan, terutama Gerson Poyk. Hartojo lebih sering menyendiri; saya bahkan jarang tahu bagaimana dan di mana ia sarapan dan makan siang dan makan malam. Makan, dan kebutuhan biologis lain, nampaknya sesuatu yang marginal dalam hidupnya. Tubuhnya yang ringan itu, yang dibungkus pakaian seadanya tetapi bersih, seakan-akan hanya berisi "rasa". Bila kami berbicara politik satu hal maka hal itu pasti ada kaitannya dengan puisi. Tidak mengherankan bagi saya bila Hartojo cemas akan kecenderungan waktu itu, ketika suara paling kuat ialah "mengabdikan kesusastraan untuk Revolusi" dan pendirian yang jarang pendirian "realisme-sosialis" diumumkan dan mereka yang bersikap lain, seperti Hartojo dan saya dan sejumlah teman, didesak untuk setuju atau dicerca. Itulah sebabnya kemudian ia, dan saya, termasuk orang yang menjadi penanda tangan Manifes Kebudayaan, yang menegaskan bahwa kesusastraan tidak bisa dikendalikan oleh kekuasaan politik.

Saya bergembira, bahwa Hartojo kemudian menuliskan pikiran-pikirannya di saat itu, seperti yang terdapat dalam kumpulan esai ini. Di tahun 1965 saya berpisah dari dia. Saya ke Eropa, dan sampai dengan tahun 1967 Indonesia bergolak hebat. Saya tidak mendengar apa yang terjadi dengannya. Kemudian saya tahu bahwa kembali di Surakarta ia berkeluarga dan mempunyai anak keadaan yang sangat bersahaja di tengah pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Bukunya terbit: kumpulan sajaknya dan terjemahannya atas Tagore, atas usaha Ajip Rosidi yang memimpin penerbitan Pustaka Jaya. Namanya akan dikenang sebagai penyair dan penerjemah puisi yang mengagumkan. Kumpulan esainya ini akan membuktikan, bahwa ia tidak dan hidup dalam hanya akan dikenang karena itu saja. Sebab, di dalan kumpulan ini kita akan menemukan pemikiran yang serius tentang persajakan Indonesia, dengan uraian yang bisa menunjukkan bagaimana besarnya cintanya kepada puisi.

Yang lebih menarik, Hartojo (dalam esai-esai yang sudah dan belum pernah diterbitkan) menguraikan, dengan jujur dan gamblang, proses penciptaan puisinya yang terkenal. Terus terang, dalam suasana sekarang, saya ragu tidakkah orang seperti dia terasa sebagai sebuah anakronisme: seseorang yang hanya menekuni sajak-sajak ketika di sekitar orang berbicara tentang soal-soal lain yang lebih "riil", seseorang yang melihat puisi sebagai keindahan tersendiri yang harus dirawat ketika orang memperlakukannya sebagai hanya alat komunikasi di pentas. Tetapi, kalau pun dia akan nampak sebagai anakronisme, saya yakin bahwa hal itu, seperti pilihannya untuk menyendiri, mengandung yang heroik. Membaca esai-esai ini bagi saya bukan hanya mengenang sebuah periode yang menarik, tetapi mendapatkan inspirasi bahwa ada hal yang sangat berharga dari percintaan Hartojo Andangdjaja dengan puisi.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »