Puisi sebagai Jalan Pulang - Joko Pinurbo

ADMIN SASTRAMEDIA 8/24/2019
oleh Joko Pinurbo
Puisi sebagai Jalan Pulang

SASTRAMEDIA.COM - Pulang merupakan salah satu tema favorit para penyair dari dulu sampai sekarang. Sitor Situmorang, misalnya, banyak menulis sajak yang melukiskan pengembaraan seorang perantau yang akhirnya merindukan kepulangan ke kampung halaman. Dalam puisi Sitor pulang merupakan akhir atau malah puncak pengembaraan. Dan Sitor, penyair kita yang meninggal di Belanda, jasadnya dikebumikan di kampung halamannya. Kita pun teringat larik-larik sajaknya “Tatahan Pesan Bunda”: “Bila nanti ajalku tiba / Kubur abuku di tanah Toba / Di tanah danau perkasa / Terbujur di samping Bunda.” 

Jauh sebelum Sitor, Amir Hamzah sudah menulis sajak tentang pulang. Dalam sajaknya “Padamu Jua” kita baca bait ini: “Habis kikis / Segala cintaku hilang terbang / Pulang kembali aku padamu / Seperti dahulu.” Pulang dalam sajak Amir Hamzah adalah pulang dalam pengertian rohani, yaitu meredanya gejolak dan hasrat untuk menembus selaput misteri yang menyelubungi hubungan antara manusia dan Tuhan. Simpul permenungan dalam sajak Amir Hamzah ini dipertegas oleh Chairil Anwar dalam sajaknya “Derai-derai Cemara” ( “aku sekarang orangnya bisa tahan / sudah berapa lama bukan kanak lagi / tapi dulu memang ada suatu bahan / yang bukan dasar perhitungan kini”) dan ditandaskan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam sajaknya “Walau” (“dulu pernah kuminta tuhan / dalam diri / sekarang tak”).

Sajak-sajak Weni Suryandari bergerak di antara dua jenis kepulangan: kepulangan fisik dan kepulangan rohani. Dan pulang dalam sajak-sajak Weni tampaknya tidak dimaksudkan sebagai semacam eskapisme, melainkan lebih sebagai upaya pemurnian dan penyegaran diri agar manusia tidak kehilangan orientasi. Itulah sebabnya, puisi Weni kadang membaurkan dua jenis kepulangan tersebut: dalam kepulangan fisik terdapat kepulangan rohani.

Sajak yang judulnya dijadikan judul buku puisi ini merupakan salah satu sajak yang dengan jelas melukiskan kepulangan fisik si “aku” yang merindukan kampung halaman. Tentu saja mengharapkan suasana kampung halaman sebagaimana tergambar dalam kenangan masa kecil adalah ilusi. Bagaimanapun zaman sudah berubah. Mengingkari dan menyesali perubahan zaman merupakan sebentuk romantisme yang dapat melemahkan jiwa. Karena itulah, kepulangan fisik segera berganti menjadi kepulangan rohani yang tidak memerlukan bekal apa pun selain kemampuan untuk berdamai dengan nasib dan realitas hidup. Kepulangan terasa indah ketika manusia tidak kehabisan rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah dilakoni dengan segala getir dan manisnya.

Dalam mengolah tema kepulangan, sajak-sajak Weni banyak bermain dengan citraan laut dan citraan-citraan lain yang berkaitan dengan laut (ombak, pantai/pesisir, nelayan), suatu kecenderungan yang sudah kita lihat dalam sajak-sajak Abdul Hadi WM terdahulu. Laut dalam sajak-sajak Weni adalah laut yang bermakna ganda: laut faktual yang menghiasi kampung halaman si “aku” dan laut metaforis yang melambangkan tubuh dan jiwa manusia. Laut itu pun laut yang ambigu: kadang melambangkan gairah dan gejolak hidup manusia, kadang menggambarkan hamparan kesunyian yang mencekam. 

Mengapa si “aku” merindukan kepulangan dan mengapa pula ia merindukan laut? Puisi Weni setidak-tidaknya memberikan dua jawaban. Pertama, kehidupan urban yang riuh dan gemerlap acapkali menyeret manusia ke dalam hidup yang kering, semu, dan hampa. Kedua, keluasan ilmu dan pengetahuan kadang membawa manusia ke dalam kebingungan, kegagapan, dan keterasingan.

Ah! Rinduku retak di meja kafe
Segelas anggur dan croissant
kutelan pelan pelan bersama
angan yang berjatuhan
dari mataku

(Sajak “Ilusi”)

Kurenangi tasawuf dan filsafat untukmu
Namun aku selalu tersesat di tengah-tengah
Burung ababil memanggil-manggil
Di paruhnya batu sijjil, disepuh air laut

(Sajak “Pencarian”)

Syukurlah, meskipun di sana-sini membawa kita ke dalam suasana melankolis, sajak-sajak Weni tidak mengunci kegundahan dan kegalauan kita dengan sikap sesal dan putus asa. Puisinya masih mampu menawarkan cara sederhana untuk membebaskan diri dari kebekuan dan kehampaan, yaitu menghidupkan kembali jiwa kanak-kanak.

Berlayarlah berlayar perahu kertas
Mainan masa kanak, waktu belum mentas
Menjemput langit berwajah laut
Saat matahari hampir merah, bersama afwah

(Sajak “Hujan Januari”)

Semestinya puisi memang tetap menyediakan ruang bagi keasyikan dan kegembiraan bermain kata-kata untuk menghadirkan kembali keasyikan dan kegembiraan masa kanak. Mengenang serta meraih kembali kegembiraan masa kanak merupakan salah satu tujuan penting pulang. Dan puisi dapat menjadi jalan pulang.

Yogyakarta, September 2016

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »