Tiga Model Penulisan Esai

ADMIN SASTRAMEDIA 8/22/2019
SASTRAMEDIA.COM - Berikut tiga model penulisan esai:

1. Definisi Luas

Definisi luas atau sering juga disebut definisi ensiklopedis adalah uraian panjang lebar, relatif lengkap, dan komprehensif, boleh juga secara luas dan mendalam tentang sebuah kata, istilah, konsep, ungkapan atau idiom. Sebutlah misalnya kata demokrasi. Kita dapat mengawalinya dengan penjelasan etimologis, yaitu tentang asal-usul kata itu. Selanjutnya ke makna leksikal atau definisi lesikografis, yaitu makna yang tercatat dalam kamus. Dari sana penjelasannya masuk ke maknanya yang menyempit atau meluas. Dari sini saja jelas apa yang diperlukan penulis. Ia berkewajiban membuka kamus. Dalam kamus lazim termuat asal kata tersebut dan makna leksikalnya. Jadi, menulis esai perlu bekal kamus, ensiklopedia atau buku referensi lain, bukan teori!

Demikianlah, menulis esai tidaklah berangkat dari kekosongan. Ia juga mutlak melacak referensi lain yang mendukung dan relevan. Jadi, kentara sekali di sini. Menulis esai tidak perlu berkutat dengan definisi tentang esai atau menderetkan berbagai macam jenis kelamin tulisan. Cukuplah ditawarkan model-modelnya. Untuk mengolah dan meracik model itu sebagai sebuah masakan esai, beri sinyal pemantiknya sebagai pintu masuk.
Contoh:

Demokrasi berasal dari bahasa Latin, demos 'rakyat' dan kratein 'hukum'. Jadi, makna sempit demokrasi adalah hukum atau kekuasaan rakyat. Pengertian umum mengenai itu adalah kedaulatan rakyat. Maksudnya, pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat. Dalam pengertian lebih luas, makna demokrasi menyangkut soal mentalitas, cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Sebagai sebuah esai, tentunya sekadar penjelasan tentang makna demokrasi, tidaklah menarik. Oleh karena itu, spiritnya mesti dikaitkan dengan konteks terjadinya fenomena sosial yang aktual. Misalnya dikaitkan dengan Pemilu, Pilkada atau kehidupan demokrasi di negeri ini (baik bermasalah atau tidak). Selepas itu, barulah dipikirkan, judul apa yang paling tepat untuk esai ini. Misalnya, “Demokrasi Genderewo” atau “Pecah Kongsi Demokrasi” atau apa saja yang memungkinkan pembaca tertarik pada esai itu.Perhatikan juga contoh berikut yang diambil dari esai bertajuk “Tentang Kata”

berikut ini.

DIKTATOR. Ini sebuah kata yang menakutkan. Maknanya pun bermacam- macam, bergantung konteks, situasi dan mayarakat pemakai. Secara etimologis, kata ini berasal dari bahasa Latin, dictatore, dictator (oris), dictare, dictatura (ae). Maknanya: perintah, komandan, pemimpin. Dalam kamus Latin— Indonesia (Ver Hoeven dan Marcus Carvallo, 1969), ada lima makna menyertai kata diktator, yaitu orang yang mengimlakan, yang berperintah, panglima tertinggi, diktator, panitera, pengarang, penggubah. Tetapi dalam dalam Webster’s Dictionary (1979) bahwa pada zaman Romawi kuno, diktator adalah seorang hakim yang diangkat oleh senat dalam masa darurat dan dilantik dengan hak mutlak.

Model definisi luas adalah salah satu pintu masuk menulis esai. Kuncinya, menempatkan kata itu dalam konteks kehidupan sosial politik yang sedang terjadi. Jadi, ada semacam aktualisasi, bagaimana sebuah kata dapat digunakan sebagai bahan menulis esai. Dalam hal ini, kamus, ensiklopedia atau sumber referensi lain—seperti suda disebutkan—, patut pula dimanfaatkan untuk menjadikan pesan esai itu tak melayang-layang dalam kehampaan. Dengan begitu, bahan menulis esai sesungguhnya bertebaran di mana-mana. Tinggal bagaimana kita mengolah dan meraciknya menjadi sebuah tulisan yang mengalir lancar, renyah, dan membuat pembaca jadi ngeh!

2. Analogi

Analogi adalah majas yang membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi dicari persamaan sifat dan fungsinya. Misalnya, genderewo dengan manusia; truk dengan perempuan; atau koruptor dengan tikus got, dan seterusnya. Berbagai bahan untuk memperbandingkan dua hal yang berbeda dan kemudian mencari persamaannya, tidaklah sulit dicari, karena mereka bertebaran di sekitar kita, berseliweran di depan mata, dan kadang kala nemplok pula di kepala kita.

Bagaimana majas analogi ini dapat dimanfaatkan sebagai model penulisan esai? Kembali, penting artinya kepekaan terhadap lingkungan, pengamatan terhadap perilaku dan kehidupan para politikus, atau rasa empati—antipati terhadap satu peristiwa. Maka, ketika kita hendak menyampaikan protes dan unek-unek, kejengkelan atau kegalauan,atau curhat yang berkaitan dengan kebrengsekan para politikus, pejabat negara, atau siapa pun, kita dapat menyalurkannya lewat esai yang mengambil model analogi. Kuncinya mengaitkan metafora lewat analogi dengan konteks kehidupan dan fenomena sosial-politik-budaya.
Contoh:

Siapa yang tak mengenal bunglon; makhluk sebangsa bengkarung yang piawai menyesuaikan diri dengan alam di sekelilingnya? Binatang melata berdarah dingin yang termasuk ordo lacertilia ini, tentu saja berbeda dengan kutu loncat, ngengat—sang koruptor atau kutu busuk, musuh dalam selimut, si pengisap darah.

Bunglon kadangkala bertindak bagai penguasa lalim. Ia tidak mengenal belas kasihan atas musuh yang menjadi mangsanya. Ia juga akan melakukan psycho- war jika muncul ancaman dari pesaingnya. Dengan cara memperagakan warna kulitnya yang gemerlap, ia akan segera menyatakan perang, jika wilayah kekuasaannya diganggu. Bersamaan dengan itu, sambil bergoyang-goyang, sisi badannya akan digembungkan, mulutnya menganga lebar memperlihatkan warna selaput lendirnya yang kontras. Semua itu sekadar untuk menakut-nakuti lawan atau jika perlu dilanjutkan dengan penyergapan dan penculikan seperti yang dilakukan rezim Orde Baru.

Dalam kehidupan manusia, bunglon sering dijadikan ibarat untuk menyebut orang yang bertingkah laku macam pucuk cemara (oportunis). Ia condong mengikuti arah angin, tak berpendirian, mencla-mencle dan senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan arus zaman. Pada waktu pendudukan Jepang, misalnya, mereka yang pada mulanya mendengungkan revolusi, tetapi kemudian malah menjadi pengikut propaganda Jepang, disebut bunglon. Kaum oportunis, konon juga termasuk kategori ini. Di Malaysia bunglon disebut sumpah-sumpah. Entah mengapa masyarakat Melayu mengatakan demikian. Boleh jadi lantaran sifatnya  yang cenderung licik dan pandai (lipan) itulah, ia menjadi tumpuan sumpah-serapah.

Di negeri ini, kini, selepas rezim yang penuh kongkalikong dan rekayasa dilanda badai reformasi, banyak pihak yang semula menyebut gerakan reformasi sebagai oknum antikemapanan, mendadak berubah dan menyatakan sebagai
pendukung gerakan itu.

Kembali, menulis esai tidak berangkat dari kekosongan. Selalu ada kegelisahan, dan kegelisahan itu memperoleh saluran yang pas lewat esai. Meski begitu, menulis esai tidak dapat pula sekadar mengandalkan imajinasi. Ia perlu data, perlu referensi, perlu menempatkan dan mencantelkannya dalam konteks kehidupan. Oleh karena itu, saya hendak menegaskan lagi, bahwa menulis esai, tidak perlu mesti berepot-repot mengawalinya lewat segala konsep teoretis atau deretan definisi agar terkesan ilmiah,tetapi cukup dengan membuka gerendel pintu yang menyediakan model-model. Apakah esai itu berjenis kelamin deskripsi, narasi, eksposisi atau argumentasi? Peduli hantu, tokh yang paling penting adalah esai itu menjelma masakan yang renyah dan gurih. Permainan bahasanya lincah, kata-katanya bisa begitu trengginas melompat-lompat, dan kalimatnya bisa bersayap-sayap. Kualitas penguasaan keterampilan berbahasa itu yang jauh lebih penting daripada sekadar pamer teori dan definisi.

Atas dasar pemikiran itu, saya berkeyakinan, bahwa esai adalah wacana yang berada di persimpangan jalan. Sebagai fiksi, ia bertumpu pada fakta empiris, sosiologis, dan historis. Sebagai nonfiksi, ia kerap memainkan segala macam diksi: metafora, analogi, simbolisme, dan majas lain yang dalam karya sastra menempati posisi penting. Terlepas dari perkara itu, esai menyimpan banyak hal: kritik, pemihakan, kemarahan, kejengkelan, empati atau bahkan ideologi. Di situlah kemenarikan esai mendapat batu uji: persuasi agak gombal atau menggoda secara mengasyikkan.

Berikut ini, contoh lagi esai dengan model analogi.

Makhluk sastra? Apakah sastra itu sosok makhluk yang hidup, yang berjiwa- bernyawa? Tentu saja judul itu hiperbolis, tetapi sekaligus juga sebagai usaha untuk menegaskan, bahwa (karya) sastra (yang baik) selalu hidup dalam pikiran dan imajinasi pembaca. Ia bukan sekadar sebuah teks yang pasif dan dingin seperti kedebong pisang atau artefak macam bongkahan batu yang beku. Ia sesungguhnya hidup ketika ada pembaca menghidupinya. Ia bisa menyedot atau memelantingkan imajinasi pembacanya entah ke mana, selari dengan pengalaman dan wawasannya. Semakin mendalam pengalamannya dan semakin meluas wawasannya, bertambah jauhlah sang imajinasi mencantelkan dan memaknai sosok makhluk yang bernama sastra itu. Jadi, dalam hal ini, sastra adalah “makhluk” yang dihidupkan oleh pembaca. Dari pembacaan itulah, makna sebuah karya (sastra) menyeruak, lalu menyelusup dan menempel pada hati dan pikiran pembacanya. Ia bisa menjelma pengganggu dan penggugat hati nurani.

Model analogi dengan dua contoh tadi sesungguhnya sekadar hendak menegaskan lagi, bahwa apa pun boleh disulap menjadi esai. Atau, esai bebas memasuki wacana apa pun, bebas pula bersentuhan dengan tulisan atau karangan yang berjenis kelamin apa pun.

3. Profil

Model lain yang dapat dimanfaatkan untuk menulis esai adalah profil. Ia menampilkan sisi lain dari kehidupan seseorang. Bahannya, bertebaran di sekeliling kita. Bagi saya, semua makhluk manusia, kaya-miskin, pejabat atau rakyat jelata, ustadzah atau pelacur, kiai atau bajingan, majikan atau buruh, pengusaha atau pengemis dan seterusnya adalah bahan menarik untuk diangkat menjadi esai. Jadi, model profil tidak terikat oleh status sosial atau gender. Yang paling penting adalah upaya mengangkat sisi kemanusiaannya. Bukankah orang-orang marjinal juga punya keinginan luhur untuk menjadi Manusia yang bermanfaat bagi manusia lain. Bukankah para bajingan juga punya nilai-nilai luhur kemanusiaan.
Contoh:

Mang Karta adalah sebuah dunia yang lain. Manusia dari golongan yang pasrah lantaran ditelan kebodohan. Kemiskinan yang menjadi sahabatnya, tak membuatnya cemas dalam menatap masa depan. Hidup dengan segala kebersahajaan telah membentuk jiwa yang pasrah. Mengalir seperti sungai. Tanpa ambisi. Tanpa cita-cita. Tanpa masa depan!
Di sisi yang lain, lelaki kelahiran Cigombong, 55 tahun yang lalu itu, seperti mengajari tentang makna solat. “Mang Karta tak bisa beramal. Tak bisa menunaikan rukun haji. Jadi, cukup dengan solat lima waktu,” katanya mantap. Maka, jika waktu solat datang, jangan coba-coba menyuruhnya mengerjakan yang lain. Ia akan segera meletakkan aritnya. Berwudu dan solat di mana saja. Tak peduli ia sedang bekerja di keluarga non-muslim. Bahkan, di halaman gereja pun, ia akan melakukan itu. Solat baginya adalah santapan rohani yang jauh lebih penting daripada makan atau apa pun. Solat adalah jiwa hidupnya. Mang Karta bagiku laksana potret hitam-putih. Tak ada warna lain. Ia akan
terus menggelinding sampai malaikat membawanya pulang!

Nah, begitulah. Esai dengan mamanfaatkan model profil mesti menguak, bukan cuma aspek human interest-nya belaka, tetapi juga spirit hidup untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bukankah para pengemis, anak-anak muda yang jadi Pak Ogah atau anak-anak jalanan yang menggelandang di pinggir-pinggir jalan pada dasarnya ingin hidup bahagia? Spirit untuk bertahan hidup, harapan ideal yang tak kesampaian atau mimpi hidup bahagia secara normal, sesungguhnya bagian penting dari perjuangan mereka. Tetapi, kenyataan tak sesuai harapan. Maka, bertahan hidup adalah satu- satunya jalan.Selain orang-orang marjinal, kita juga dapat memanfaatkan ketokohan orang- orang sukses, sastrawan besar atau siapa pun sebagai esai dengan mengambil model profil. Tetapi, tentu saja yang diangkat adalah sisi kemanusiaannya yang lain, yang mungkin tidak banyak diketahui orang.
Contoh:

Sebuah kisah kecil yang pernah disampaikan seorang mahasiswa tiba-tiba mencelat! Inilah kisahnya:

Saya lupa nama mahasiswa itu. Ia kelimpungan mencari cerpen-cerpen karya pemenang Nobel dari Mesir: Naguib Mahfudz untuk bahan skripsinya. Saya merekomendasikan nama Danarto. Mereka pun saling mengontak—tentu lewat telepon kantor atau rumah. Mahasiswa itu memohon agar Danarto meminjamkan buku karya Naguib Mahfudz itu. Ia akan mengembalikannya selepas difotokopi. Keduanya sepakat bertemu di satu tempat pada jam tertentu. Danarto datang lebih awal.

Lebih satu jam Danarto menunggu si mahasiswa. Ia cemas, khawatir ada sesuatu menimpa mahasiswa itu. Untunglah ia punya alamat tempat kostnya. Maka, Danarto pun meluncur ke sana. Sampai di alamat yang dituju, mahasiswa itu tergolek tidur. Ia lupa janjinya pada Danarto.

Menjelang sore, mahasiswa itu bangun. Ia terkejut. Di depan pintu kamar kostnya, tergeletak sebuah buku fotokopian, antologi cerpen Naguib Mahfudz. Itulah buku yang sekian lama pontang-panting dicarinya. Di antara lembaran buku itu, ada secarik kertas dengan tanda tangan Danarto. Isinya: “Tadi saya menunggu lama. Karena engkau tak juga datang, saya khawatir sesuatu menimpamu. Maka, saya memutuskan datang, mencari alamat tempat kostmu. Dan Alhamdulillah, ketemu. Saya sudah fotokopikan buku yang kau pesan. Semoga bermanfaat.” Tertanda: Danarto!

Setelah menyelesaikan skripsinya, mantan mahasiswa itu entah bekerja di mana. Tetapi, ia tidak dapat melupakan makhluk tawaduk yang bernama Danarto. Sebab, ketika ia minta maaf dan menanyakan biaya fotokopian buku itu, Danarto enteng saja menjawab: “Tidak apa-apa. Saya bahagia telah membantumu. Semoga skripsimu segera selesai!”
Saya takjub mendengar kisah mahasiswa itu. Dari matanya menetes bening bulir-bulir air mata.
Danarto …

Demikianlah. Banyak cara menuju Roma. Dan esai, boleh bebas-merdeka menuju kota mana pun. Ketiga model yang tadi dibincangkan, sekadar contoh. Tentu saja kita boleh menciptakan model sendiri. Jika model itu dianggap menyimpang dari teori, ya tidak apa-apa. Tokh kita berbicara tentang esai, dan bukan tentang teori. Biarlah perkara konsep teoretis itu menjadi kesibukan kaum teoretikus. Esai atau jenis karangan apa pun, hakikatnya adalah permainan bahasa. Oleh karena itu, seperti jugakehidupan, bermainlah dengan bahasa secara kreatif untuk menciptakan dunia kata- kata. Tetapi, ketika kita belum apa-apa sudah disodori berbagai macam teori dan deretan definisi, kita kejeblos, masuk penjara teori dan kerangkeng definisi. Keluarlah dari sana, keluarlah dari kotak muslihat itu: out of the box! Jadi, mohon maaf, saya memasabodohkan teori!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »