Manusia Agung - Friedrick Nietzsche

ADMIN SASTRAMEDIA 9/30/2019
Manusia Agung menurut Friedrick Nietzsche

TENTANG MANUSIA AGUNG FRIEDRICK NIETZSCHE
Terjemahan: HB. Jassin dari Also sprach ZarathustraFriedrich Nietzsche


Ketika aku pertama kali datang kepada manusia, aku melakukan ketololan seorang pertapa, ketololan yang besar : aku berdiri di tengah pasar. Dan ketika aku berbicara dengan semua orang, aku berbicara dengan tidak siapa-siapa. Tapi malam hari kawan-kawanku adalah penari tali, mayat-mayat: aku sendiri pun hampir sesosok mayat. Tapi dengan menyingsingnya pagi baru kebenaran baru datang padaku: aku belajar mengatakan, ”Apa peduliku dengan pasar dan rakyat jelata, apa peduliku dengan hiruk pikuk dan kuping panjang rakyat jelata itu! Kamu manusia agung, terimalah pelajaran ini daripadaku: di pasar tidak ada orang yang percaya kepada manusia-manusia agung. Dan bila kalian hendak bicara di sana, silakan! Tapi rakyat jelata itu mengedipkan mata, "kita semua sama”. ”Kalian manusia-manusia agung, — demikian si jelata mengedipkan mata — tidak ada manusia-manusia agung, kita semua sama, manusia adalah manusia di depan Tuhan — kita semua sama. Di depan Tuhan! — Tapi sekarang Tuhan sudah mati. Namun di depan rakyat jelata, kami tidak mau dianggap sama. Kamu manusia-manusia agung, enyahlah dari pasar!

Di depan Tuhan! Tapi sekarang Tuhan itu sudah mati! Kalian manusia-manusia agung, Tuhan itu merupakan bahaya yang paling besar bagi kalian. Sejak ia berbaring di dalam kuburan, kalian baru saja bangkit kembali. Sekaranglah baru tiba hari yang besar, sekaranglah baru manusia agung — menjadi Tuan! Mengertikah kalian perkataan ini, saudara-saudaraku? Kalian terkejut: pusingkah kalian di dalam hati? Apakah di sini menganga jurang di depan kalian? Apakah di sini anjing neraka menyalak di depan kalian? Mari, ayolah, kalian manusia-manusia agung! Sekaranglah baru gunung masa depan manusia mengalami rasa sakit melahirkan. Tuhan sudah mati: sekarang kita, kita ingin—hiduplah Manusia Utama, manusia Ubermensch.

Masalah-masalah mencemaskan sekarang ini ialah: ' bagaimana supaya manusia bisa bertahan?” Tapi Zarathustra bertanya sebagai satu-satunya penanya dan penanya pertama: "bagaimana manusia bisa dikalahkan?” Aku cinta kepada Manusia Utama, ialah yang pertama dan satu-satunya bagiku, — dan bukan manusia: bukan yang dekat, bukan yang paling miskin, bukan yang paling menderita, bukan yang paling baik. — Wahai saudara-saudaraku, apa yang dapat kucintai pada manusia, ialah bahwa ia merupakan peralihan dan keruntuhan. Dan juga pada diri kalian banyak yang membuat aku cinta dan mempunyai harapan. Bahwa kalian mengenal kebencian, kalian manusia agung, itulah yang membuat aku punya harapan. Sebab orang yang membenci dengan kebencian yang besar, itulah orang yang bisa menghormati dengan kehormatan yang besar. r Bahwa kalian bingung dan berputus asa, banyak yang bisa dipuji dalam hal itu. Sebab kalian tidak mengajarkan bagaimana menyerahkan diri, kalian tidak mengajarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan kecil. Sebab sekarang ini orang-orang kecil menjadi tuan: mereka itu mengajarkan penyerahan diri sepenuhnya dan kerendahan hati dan kebijaksanaan dan kerajinan dan rasa hormat dan sederetan panjang dan sebagainya-dan sebagainya kebajikan-kebajikan kecil. | Apa yang bersifat wanita, apa yang berasal dari budak-budak dan khususnya segala macam campur aduk rakyat jelata: semuanya itu sekarang ingin menjadi penguasa atas nasib semua manusia—sungguh memuakkan! memuakkan! memuakkan '! Mereka itu bertanya dan bertanya dan tidak-jemu-jemunya bertanya: "bagaimana manusia bisa bertahan, paling baik, paling lama, paling menyenangkan?” Dengan demikianlah—mereka menjadi tuan-tuan masa kini. : Tundukkanlah tuan-tuan masa kini itu, wahai saudara-saudaraku, -orang-orang kecil ini : mereka itulah bahaya paling besar bagi Manusia Utama! Tundukkanlah wahai manusia-manusia agung, kebajikan-kebajikan kecil, kebijaksanaan-kebijaksanaan kecil pertimbangan-pertimbangan sebutir pasir, gerimit-gerimut semut-semut, kesenangan yang memelaskan, "kebahagiaan kebanyakan orang. Dan lebih baik putus asa daripada menyerahkan diri. Dan sungguh, aku cinta kalian karena itu, karena kalian tidak tahu bagaimana harus hidup sekarang, wahai manusia-manusia agung! Sebab demikianlah hidup kalian -hidup yang sebaiknya.

Beranikah kalian, wahai saudara-saudaraku? Apakah kalian berani? Bukan keberanian sebagai saksi, tapi keberanian sebagai pertapa dan sebagai burung rajawali, yang juga tidak diawasi lagi oleh Tuhan? Jiwa yang dingin, binatang bagai, orang buta, orang mabuk, aku katakan mereka itu tidak berani. Yang hatinya berani, ialah yang mengenal takut, tapi takut yang mengendalikan: orang yang melihat ju-rang, tapi dengan tabah. Orang yang melihat jurang, tapi dengan mata burung rajawali, orang yang dengan cakar-cakar rajawali menjangkau jurang: itulah orang yang berani.

Manusia Itu jahat — demikianlah orang-orang paling bijaksana menghiburku. Ah, sekiranya itu masih benar sekarang ini! Sebab kejahatan adalah kekuatan manusia yang paling baik. “Manusia harus jadi lebih baik dan lebih jahat” e demikianlah aku mengajarkan. Yang paling jahat diperlukan untuk kebaikan Manusia Utama. Barangkali memang baik bagi tukang khotbah untuk orang-orang kecil itu, bahwa ia menderita dan memikul dosa-dosa manusia. Tapi aku bergembira dengan dosaku yang besar sebagai hiburanku yang besar. — Tapi ini tidak boleh aku katakan di depan kuping-kuping yang. panjang. Memang tidak setiap kata cocok dalam setiap moncong. Ini adalah hal-hal bagus yang jauh: cakar-cakar binatang domba tidak boleh menjangkaunya.

Wahai manusia-manusia agung, apakah kalian mengira bahwa aku ada di sini, untuk memperbaiki apa yang salah kalian lakukan? Atau bahwa aku selanjutnya akan membenahi tempat tidur untuk kalian yang menderita? Atau untuk menunjukkan kepada kalian, orang-orang yang tidak teguh pendirian, orang-orang yang sesat, orang-orang yang salah mendaki, jalan-jalan setapak yang baru, yang mudah? Tidak! Tidak! Sekali lagi tidak! Harus tambah banyak dari jenis kalian yang binasa, terus tambah banyak, yang lebih baik dari kalian, yang lebih baik, sebab kalian akan menghadapi keadaan yang terus tambah buruk, tambah keras. Hanya dengan demikianlah — hanya dengan demikianlah manusia tumbuh ke arah ketinggian, dimana petir menyambar dan menghancurkannya: cukup tinggi untuk petir! Indraku dan kerinduanku mendambakan yang sedikit, yang panjang, yang jauh: apa peduliku dengan kesengsaraan kalian yang kecil, yang banyak, yang sebentar! Kalian masih kurang menderita, kupikir. Karena kalian menderita oleh diri kalian sendiri, karena kalian belum lagi menderita karena manusia. Kalian berdusta, kalau mengatakan yang selain itu! Kalian semua tidak menderita penderitaan yang aku derita-

Tidak cukup bagiku bila petir tidak lagi menimbulkan kerugian. Aku bukan hendak menangkalnya: ia harus belajar bekerja untukku -bekerja. -Kearifanku sudah lama terkumpul laksana awan, ia menjadi tambah senyap dan tambah gelap. Demikianlah setiap kearifan yang sekali waktu akan melahirkan petir dan kilat. '” Bagi manusia masa kini aku tidak mau jadi cahaya, dan aku tidak mau disebut cahaya. Mereka — akan kusilaukan matanya: petir kearifanku! Cungkillah keluar mata mereka!

8
Jangan inginkan yang di luar kemampuan kalian, ada kecurangan yang sangat berbahaya pada mereka yang hendak menjangkau di luar kemampuannya. Terutama bila mereka menghendaki hal-hal yang besar! Sebab mereka membangkitkan curiga terhadap hal-hal yang besar, tukang-tukang pemalsu uang dan pemain komidi yang pandai itu: — — Sampai mereka akhirnya curang terhadap dirinya sendiri, bermata jereng, dilepa dimakan ulat, diselubungi dengan kata-kata besar, dengan kebaikan-kebaikan menurut iklan, dengan karya-karya palsu gemerlapan. Maka berhati-hatilah kamu, sangat berhati-hati, wahai manusia-manusia agung! Bagiku tidak ada sesuatu sekarang ini yang lebih berharga dan lebih langka dari apa yang sesuai dengan akal sehat. Bukankah masa kini kepunyaan rakyat jelata? Tapi rakyat jelata tidak tahu apa yang besar, apa yang kecil, apa yang benar dan masuk akal: dalam segala kepolosannya mereka curang dan licik, dan selalu berdusta. 

9
Bersikaplah curiga sekarang ini, wahai manusia-manusia agung, manusia-manusia berani. Orang-orang yang berterus terang! Dan alasan-alasanmu, rahasiakanlah!: Sebab masa kini adalah milik rakyat jelata. Apa yang telah diterima rakyat jelata tanpa alasan, siapakah yang dapat meruntuhkan kepercayaannya dengan alasan? Dan di pasar orang meyakinkan orang lain dengan gerak-gerik berisyarat. Tapi alasan membuat rakyat jelata curiga. Dan apabila kebenaran beroleh kemenangan, maka bertanyalah kepada dirimu sendiri dengan curiga: "kekeliruan kuat manakah yang memenangkan mereka?” Waspadalah pula kalian terhadap orang-orang terpelajar! Mereka membenci kalian: sebab mereka mandul! Mata mereka dingin dan kering, di depan mereka burung terkapar tanpa bulu: Mereka sesumbar bahwa mereka tidak berdusta: tapi ketidakmampuan untuk berdusta sama sekali belum berarti cinta akan kebenaran. Waspadalah! Bebas dari demam panas sama sekali belum berarti ada wawasan dan pengertian! Aku tidak percaya pikiran yang dingin seperti es. Orang yang tidak bisa berdusta, tidak tahu apa kebenaran.

10 
Bila kalian hendak mendaki tinggi, pergunakanlah kaki sendiri! Janganlah kalian minta didukung ke atas, janganlah kalian minta didukung di atas punggung orang lain atau dijunjung di atas kepala orang ain! Anda menunggang kuda? Anda naik cepat ke arah tujuan? Baiklah, kawanku! Tapi kakimu yang lumpuh pun turut naik kuda! Bila anda telah mencapai tujuan, bila anda melompat turun dari kuda: justru di tempatmu yang tinggi, manusia agung, -anda tersandung!

11 
Kalian manusia pencipa, kalian manusia agung! orang hanya mengandung anak sendiri. Janganlah kalian percaya apa kata orang, janganlah kalian percaya bujukan orang. Siapakah sesama kalian yang dekat? Dan sekalipun kalian bertindak untuk "sesama”' -kalian tidak mencipta untuknya, bukan? Lupakanlah kata ''untuk” itu, hai para pencipta: kebaikan kalian justru menghendaki, bahwa kalian tidak melakukan sesuatu “untuk”, atau "demi", atau "”karena”. Tutuplah kupingmu terhadap kata-kata kecil yang palsu itu. Ungkapan "untuk sesama” hanyalah kebaikan orang-orang kecil: antara mereka berlaku "yang sejenis saling mencari” dan "tangan yang satu mencuci tangan yang lain” -mereka tidak mempunyai hak ataupun kekuatan atas kepentingan kalian! Untuk kepentingan kalian, hai para pencipta, untuk kepentingan kalianlah kehati-hatian dan persiapan-persiapan untuk kandungan. Apa yang belum seorang pun melihatnya dengan mata, yakni buah. mu: sudah dilindungi dan dihormati dan diberi makan oleh seluruh cintamu. Di mana seluruh cintamu berada, pada anakmu, di sanalah pula seluruh kebaikan berada! Karyamu, kehendakmu, itulah sesamamu?'' yang dekat dengan kalian: janganlah orang memasukkan nilai-nilai palsu kepada kalian!

12 
Hai para pencipta, hai manusia-manusia agung! Siapa yang akan melahirkan, merasakan sakit: tapi siapa yang telah melahirkan, kotor. Tanyakanlah kepada wanita-wanita: mereka tidak melahirkan untuk kesenangannya. Kesakitan membuat ayam dan penyair berkotek. Hal para pencipta, banyak kotoran melekat pada kalian. Itu diseYabkan karena kalian seharusnya menjadi ibu. Anak yang baru lahir: o, betapa banyak kotoran baru turut besertanya di atas bumi! Menyingkirlah! Dan barangsiapa telah melahirkan, hendaklah membasuh jiwanya bersih-bersih!

13 
Janganlah kalian baik di luar kemampuanmu! Dan janganlah menuntut sesuatu dari dirimu yang berlawanan dengan kemungkinan! Ikutilah jejak yang telah ditempuh para leluhurmu yang baik! Bagaimana kalian hendak membubung tinggi, jika kebaikan leluhurmu tidak menyertaimu membubung tinggi? Tapi barangsiapa hendak jadi yang pertama, hendaklah ia berusaha jangan pula menjadi yang terakhir! Dan di mana ada dosa-dosa leluhurmu, janganlah kalian hendak berlagak jadi orang suci! Barangsiapa yang leluhur-leluhurnya punya hubungan dengan perempuan-perempuan, minuman anggur keras dan babi hutan: bagaimana bila ia ingin hidup suci? Itu sungguh gila! Sungguh, aku kira sudah banyak bagi orang semacam itu bila ia jadi suami sedrang, dua orang, atau tiga orang perempuan. Dan sekalipun ia mendirikan biara-biara dan menuliskan di atas pintu: "Jalan kepada yang suc!'. -aku tetap berkata: untuk apa! Itu satu kegilaan lagi! Ia mendirikan bagi dirinya rumah penjara dan rumah pelarian: Selamatlah baginya! Tapi aku tidak percaya. ) Dalam kesepian tumbuh apa yang dimasukkan orang ke dalamnya, juga binatang di dalam diri. Dengan demikian kesepian tidak cocok bagi banyak orang. Apakah sampai sekarang ada yang lebih kotor di atas bumi daripada orang suci padang pasir? Sekitar mereka bukan hanya setan dilepaskan, tapi juga babi utan.

14 
Takut-takut, malu, canggung, laksana macan yang salah lompat: demikianlah hai manusia agung, sering kulihat kalian menyisih, mengendap-endap pergi. Satu lontaran gagal kalian lakukan. Tapi pemain judi, itu tidak apa-apa! Kalian tidak belajar bermain dan mengejek bagaimana seharusnya orang bermain dan mengejek! Bukankah kita selalu duduk di meja ejekan dan permainan yang besar? Dan bila sesuatu yang besar gagal kalian lakukan apakah karenanya pun -gagal? Dan meskipun kalian sendiri gagal, apakah karenanya gagal pula — manusia? Tapi apabila manusia gagal: tak apa! bangkitlah! 

15
Semakin tinggi jenisnya, semakin jarang sesuatu gagal. Kalian manusia agung di sini, bukankah kalian semua -gagal? Tetaplah gembira, itu tidak apa-apa! Betapa banyak yang masih bisa dilakukan! Belajarlah menertawakan dirimu sendiri, sebagaimana orang harus tertawa! Alangkah mengherankan pula bahwa kalian gagal dan setengah gagal, hai orang-orang yang setengah patah. Tidakkah mendesak-desak dan mendorong-dorong dalam diri kalian -masa depan manusia? Yang paling jauh bagi manusia, yang paling dalam, yang paling tinggi setinggi bintang, tenaganya yang dahsyat, tidakkah semua itu membusa dalam diri kalian? Sungguh ajaib bahwa lebih dari satu diri yang pecah! Belajarlah menertawakan diri kalian sebagaimana orang seharusnya menertawakan diri. Kalian manusia agung, o betapa banyak masih kemungkinan! Dan sungguh, betapa banyak sudah yang berhasil! Betapa kaya bumi ini dengan hal-hal yang kecil, yang baik, yang sempurna, hal-hal yang berhasil dengan baik! Kitarilah dirimu dengan hal-hal yang kecil, yang sempurna, kalian manusia-manusia agung! Kematangannya yang kencana menyembuhkan hati. Yang sempurna membangkitkan harapan.

16 
Apakah yang di bumi ini sampai sekarang merupakan dosa paling besar? Bukankah itu perkataan orang yang mengatakan, "Waspadalah terhadap orang-orang yang tertawa di sini!” Apakah ia tidak menemukan di dunia ini sendiri alasan untuk tertawa? Kalau begitu ia hanya salah mencari. Anak kecil pun di sini masih menemukan alasan. Orang itu — tidak cukup mencintai: kalau ia cukup mencintai tentu ia juga mencintai kita, orangorang yang tertawa itu! Tapi ia menghina dan mengejek kita, ia menjanjikan tangisan dan gigi gemertap bagi kita. Maka haruskah orang segera mengutuk-ngutuk, jika orang tidak mencintai? itu -aku kira selera yang buruk. Tapi itulah yang dilakukannya orang yang mutlak-mutlakan itu. Ia datang dari rakyat jelata. Dan ia sendiri hanya tidak cukup mencintai. Jika ia cukup mencintai, ia pasti tidak begitu banyak marah-marah, karena orang tidak mencintainya. Semua cinta yang besar tidak inginkan cinta: -yang diinginkan lebih dari itu. Menyingkirlah dari jalan orang yang mutlak-mutlakan seperti itu! Mereka adalah jenis manusia yang miskin yang sakit, bangsanya rakyat jelata: mereka dengan geram melihat hidup, mereka mempunyai pandangan yang buruk terhadap bumi ini. Menyingkirlah dari jalan semua orang mutlak-mutlakan seperti itu! Kaki mereka berat dan hatinya hangat pengap: -mereka tidak dapat menari. Bagaimana bumi bisa ringan buat orang-orang seperti itu!

17 
Dengan bungkuk semua yang baik-baik tiba pada tujuan. Seperti kucing membungkukkan punggungnya, dadanya gemuruh mendengkur menyongsong bahagia, -semua yang baik-baik tertawa. Langkah seorang sudah menunjukkan apakah ia sudah menunjukkan jalan yang harus ditempuhnya, maka lihatlah aku berjalan! Tapi barangsiapa mendekati tujuannya, ia menari. Dan sungguh, aku tidak menjadi patung, aku pun tidak tegak berdiri, kaku, tumpul, seperti batu, seperti tiang: aku suka berjalan kencang. Dan sekalipun di atas bumi ada rawa-rawa dan dukacita yang pekat: siapa yang kakinya ringan, masih berjalan cepat di atas lumpur dan menari seperti di atas es yang licin di sapu. — Angkatlah hati kalian, saudara-saudaraku, tinggi-tinggi! lebih tinggi lagi! Dan jangan lupa pula kaki kalian! Angkatlah pula kaki kalian, wahai penari-penari yang baik, dan lebih baik lagi: berdirilah pula di atas kepala kalian!

18 
Mahkota orang yang tertawa ini, mahkota karangan bunga mawar ini, aku sendiri menyatakan tawaku suci. Tidak ada orang lain yang kuanggap cukup kuat untuk itu sekarang. Zarathustra sang penari, Zarathustra si ringan kaki, yang menggamit dengan sayap-sayapnya, siap untuk terbang, menggamit semua burung, waspada dan cekatan, tidak kenal risau dan berbahagia: --Zarathustra si peramal yang suka tertawa jujur, yang sabar, yang tidak mutlak-mutlakan, orang yang suka meloncat dan meloncat-loncat ke kiri dan ke kanan: aku sendiri mengenakan mahkota ini di kepalaku! Angkatlah hati kalian, saudara-saudaraku, tinggi-tinggi! lebih tinggi lagi! Dan jangan lupa pula kaki kalian! Angkatlah pula kaki kalian, wahai penari-penari yang baik, dan lebih baik lagi: berdirilah pula di atas kepala kalian! Pun dalam bahagia ada binatang-binatang yang berat, ada yang kakinya kasar dari semula. Mengherankan bagaimana mereka bersusah payah, seperti gajah yang berusaha berdiri di atas kepalanya. Tapi lebih baik gila karena bahagia daripada gila karena celaka, lebih baik menari dengan kasar daripada berjalan tidak berdaya. Ambillah kearifanku ini sebagai pelajaran juga hal yang paling buruk mempunyai dua muka yang baik.--Juga yang paling buruk mempunyai kaki-kaki penari yang baik, maka ajarilah dirimu sendiri, wahai manusia-manusia agung, berdiri di atas kakimu yang lurus! Jauhkanlah segala keluhan dukacita dan segala kesediahan jelata! Wahai, betapa menyedihkan masih kurasa sekarang ini pelawak-pelawak jelata! Tapi masa sekarang adalah kepunyaan rakyat jelata.

19
Berbuatlah seperti angin, apabila keluar angin, apabila ia keluar dari gua gunung—gunung tempatnya bermukim: menurut caranya sendiri ia akan menari-, laut-laut gemetaran dan melompat-lompat di bawah jejak kakinya. Yang memberikan sayap kepada keledai-keledai, yang memeras susu singa betina, segala puji bagi jiwa yang baik ini, jiwa yang tiada terikat, yang datang kepada masa kini dan rakyat jelata laksana angin badai —yang memusuhi duri dan gatal-gatal dan semua daun layu dan rumput-rumput: segala puji bagi semangat badai yang baik, liar dan merdeka ini, yang menari di atas rawa-rawa dan duka nestapa seperti menari di atas padang! — Yang membenci anjing-anjing merana rakyat jelata dan segala makhluk hina dina yang gurem, yang cacat rupa: segala puji bagi semangat semua orang yang berjiwa merdeka ini, badai yang meledakkan tawa, yang meniupkan debu ke dalam mata sekalian orang yang berpandangan hitam, yang berhati gelap! Hai manusia agung, yang paling buruk pada kalian ini ialah: kalian mengajari semua orang menari dengan cara yang tidak semestinya -yaitu menari melewati diri kalian sendiri! Tidak mengapa bahwa kalian gagal! Betapa banyak masih kemungkinan-kemungkinan! Karena itu belajarlah menertawakan diri seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Angkatlah hati kalian tinggi-tinggi, penari-penari yang baik! lebih tinggi lagi! Dan janganlah lupa tertawa dengan baik: Mahkota orang tertawa, mahkota karangan bunga mawar ini: kepadamu, saudara-saudaraku, aku lemparkan mahkota ini! Tertawa aku nyatakan suci: kalian manusia-manusia agung, belajarlah --tertawa!


>Sumber: SASTRADUNIA.COM

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »