Puisi sebagai Karya Filsafat - Noor Aini Cahya Khairani

ADMIN SASTRAMEDIA 9/13/2019
Puisi Sebagai Karya Filsafat
oleh Noor Aini Cahya Khairani

Puisi Sebagai Karya Filsafat - Noor Aini Cahya Khairani

SASTRAMEDIA.COM - Pendapat puisi sebagai karya filsafat mungkin sementara ini akan mengundang suara, antara lain: “Jika puisi adalah filsafat, bukankah penyair adalah filsuf dan puisi mesti memuat makna filosofis? Bagaimana dengan penyair bukan filsuf yang puisinya memuat makna filosofis atau sebaliknya? Bagaimana mengetahui sebuah puisi memuat makna filosofis jika puisi adalah suatu yang tak mungkin dapat dimengerti secara keseluruhan karena terutama oleh individualitasnya? Bagaimana pula dengan adagium bahwa puisi adalah karya seni?” Aneka suara dapat bersahutan dan bergema, tapi marilah kita telusuri.

Puisi sebagai karya filsafat menjadi mungkin jika kita sepakat dengan Goenawan Mohamad bahwa: “Puisi adalah suasana hati, ide yang belum persis terumuskan”. Karena dengan demikian penyair dapat menjadi filsuf meskipun hanya untuk sesaat di dalam puisi, itu juga tergantung dari sikap penyair yang secara samar terbias dari puisinya, sikap filsuf: terbuka.

Keterbukaan seorang penyair sesungguhnya merupakan suatu yang wajar jika ia memaklumi esensi puisi, yang selalu ingin berjalan mengelilingi semesta. Tak pernah berhenti kecuali untuk perjalanan yang lain. Maka adalah menyiratkan fanatisme atau kesalahpahaman seorang penyair jika ia mengaduk ideologi, agama, sektarianisme yang dianutnya dan menyodorkan ini dalam puisi yang sudah jadi. Di sini perlu peletakan masalah pada tempat yang semestinya, antara lain bahwa puisi adalah suatu yang sendiri, karena itu bebas — dalam arti suatu dialektik.

Di sini konteks bahwa puisi adalah suasana hati, ide yang belum persis terumuskan menjadi lebih jelas: dalam proses penciptaan puisi, suatu yang wajar jika imaji penyair melihat suasana hati dan ide yang melintas sekilas dalam cuaca yang temaram kemudian hilang, melukisnya secara impresionis dengan katakata, dengan puisi. Katakanlah suasana hati dan ide-ide itu bernada filosofis. Lalu, ini dimungkinkan pula oleh suatu yang tampak paradoksal: di satu sisi sang penyair merasakan — jika tidak menyadari — bahwa puisi merupakan ekspresi diri yang memerlukan transformasi, kebebasan. 

Di lain sisi ia beranjak dari latar belakang fanatisme ideologi, dogmatisme agama, atau suatu sektarianisme — namun dalam proses penciptaan latar belakang itu terlupakan. Kemungkinan lain: sang penyair mengerti esensi puisi, ideologi, agama, dan sektarianisme, lalu meletakkan masalah pada tempatnya padahal ia bukan seorang filsuf. Kalau kemungkinan-kemungkinan ini disadari, maka orang tidak perlu menuntut tentang perbedaan kehidupan penyair di dalam puisi dengan kehidupannya di luar puisi, meskipun mungkin lebih jujur, lebih wajar, lebih serasi jika penyair juga seorang filsuf baik di luar maupun di dalam puisinya.

Namun harap mafhum pula, tak selamanya pendapat bahwa puisi adalah suasana hati, ide yang belum persis terumuskan akan melahirkan puisi yang filosofis oleh karena imaji sang penyair juga barangkali melihat dan melukis suasana hati serta ide-ide non filosofis yang melintas sekilas, kendati lukisan itu pun bergaya impresionisme. Tapi ini tak mungkin terjadi pada seorang penyair yang merangkap filsuf yang jujur. Pada penyair yang demikian di dalam dan di luar puisi sama. Ia lebih dahulu menjadi filsuf baru penyair.

Bagaimana mengetahui sebuah puisi memuat makna filosofis atau lainnya jika puisi merupakan suatu yang individualistis, terutama kalau puisi itu jenis prismatis?

Barangkali yang harus dimaklumi ialah: pengetahuan akan puisi dalam pembicaraan ini hanyalah berupa hipotesa, karena puisi selain individualistis juga sekaligus transendental dan misterius. Rasanya semacam kepongahan — jika bukan kesalahpahaman — bila seseorang mengatakan bahwa ia mengerti secara penuh sebuah puisi yang, apalagi prismatis. Puisi cuma bisa diduga dan seseorang lebih dewasa bila hanya menduga. Misteri puisi bagai kaki langit, tak pernah tercapai oleh penikmat. “Tapi misteri pun tidak sama dengan yang tak dapat dimengerti, sebab menyifatkan misteri sebagai yang tak mungkin dimengerti berarti mendekatinya dalam konteks problem. Misteri bukanlah teka teki yang tidak diketahui, karena orang belum mempunyai kunci yang dapat membukanya. Misteri melampaui kemampuan pemikiran bukan oleh kegelapannya, melainkan karena cahayanya, bukan karena bungkam, melainkan karena menyatakan terlalu banyak,” ujar Marcel. 

Tampaknya yang dimaksud cahaya di sini adalah silaunya, bukan terangnya. Memang puisi yang gelap nyaris tak mengundang apa-apa, juga puisi yang terang hampir tidak mengandung apa-apa. Apa yang mempesona pada manusia yang seluruhnya berselimut atau telanjang bulat? Dengan kata lain, puisi yang “baik” berada antara gelap dan cahaya, karena penikmat puisi cenderung tak mau berguru tapi ingin belajar. Ketertutupan tidak memikat minat belajarnya dan keterbukaan menganggapnya seorang murid. Tapi karena penikmat dan misteri juga merupakan suatu dialektik, maka mungkin ia menolak sekalian menerima keduanya walau dengan diam sekalipun. Yang dimaksud dengan puisi merupakan suatu dialektik barangkali sudah dimaklumi, tapi apakah penikmat juga? Penikmat sebagai suatu dialektik: disebabkan ia bisa menjadi sebuah pribadi, pun dapat menjadi majemuk, karena pribadi berbaur dengan pribadi lain. Maka terjadilah abstraksi. Kebebasan pun terbagi dan menempati daerah terjauh. Ia lebih sering hanya merupakan keinginan, lantaran dinding yang meskipun luas tapi tetap membatasi. Dinding ini membikin manusia kembali kepada manusia, kepada masyarakat. Lantas, terjadilah komunikasi. Lahirlah konvensi, karena ia tidak untuk sendiri. Di sini tidak berarti tujuan puisi adalah semata-mata penikmat, tapi tanpa penikmat puisi menjadi dusta — karena diri penyair sendiri termasuk penikmat. Betapa mungkin ia berkomunikasi dengan simbol-simbol yang tidak ia kenal?

Simbol yang asing, bisu dan mati. Kecuali bila arti puisi menjadi khusus: “puisi bukanlah apa yang diciptakan penyair, tapi yang dijalaninya dari lahir hingga akhir”. Dalam pengertian demikian barangkali benar, sebab sesungguhnya penyair tak berniat mencipta. Ia hanya “mengobati” dirinya yang “luka” dengan katakata. Puisi hanya tak lebih dari salah sebuah media untuk melepaskan sesuatu yang ingin keluar dari batinnya. Suatu “keterampilan” yang kebetulan mungkin ia senangi, yang fungsinya sama dengan membicarakan orang, mengkhayal, menangis dan lainnya, sebagai pelepasan dari beban psikologis, karena itulah sesudah “pengobatan” usai ia tak peduli apakah sesuatu itu disebut puisi, dipublikasikannya atau tidak, membuatnya jadi penyair atau apa. Malah sesuatu itu mungkin ia sendiri tak tahu, karena ia menulis dalam keadaan mabuk. Tidak, dalam pembicaraan ini puisi masih dianggap sebagai karya. Itulah sebab tulisan ini diberi judul: Pubis sebagai Karya Filsafat.

Namun, lantaran puisi yang sungguh-sungguh puisi berada antara gelap dan cahaya, maka masih terbersit kemungkinan untuk dilihat kendati samarsamar dan tak dapat ditangkap. Kecuali ini, puisi yang sungguh-sungguh puisi senantiasa menawarkan kejujuran, kewajaran, keterbukaan, dan pesona. Kejujuran menuangkan pengalaman batin, kewajaran menciptakan bentuk, keterbukaan mempergunakan jalan untuk “tujuan”, dan pesona estetis yang lembut dan tidak merebut. Dengan demikian puisi menjadi komunikatif walaupun ia prismatis, terutama jika “jalan” pendekatan si penikmat adalah jalan yang akan menemukannya dengan jalan si penyair. Dari komunikasi ini lahirlah hipotesa tentang makna puisi penyair yang meski tersirat tapi mewakili sikapnya: filosofis atau bukan. Namun juga harap diingat: sangat sulit menemukan jalan yang akan menemukan penikmat dengan penyair. Selain perbedaan jalan, juga seandainya satu jalan pun — jalan filsafat misalnya. Ini disebabkan kesalahpahaman penyair dengan penikmat tentang estetika yang dominan dalam puisi, terutama tentang simbol-simbol, ungkapan yang digunakan penyair. Maka pertemuan hanya dari jauh. Penyair melalui jalan dengan berjingkat dan kadang melompat, sementara penikmat berjalan biasa. 

Ada pula mulanya penikmat dan penyair berjalan seiring, tetapi sesudah perjalanan yang mesra dan jauh, di satu tempat salah seorang berhenti dan satunya terus. Ini karena salah satunya berangkat dari jalan agama yang dinamis: mistik. “Agama dinamis adalah mistik. Para mistisi bersatu dengan usaha kreatif yang berasal dari Allah dan barangkali malah dapat disamakan dengan Allah,” kata Bergson. Dalam puisi, batas yang tipis antara mistik dan filsafat nyaris menyatu. Apalagi kalau Allah mengalami transformasi menjadi tuhan atau bahkan transendensi lewat idiomatik dalam puisi. Sepotong puisi Ibnu Arabi dalam “Tarjumah alashwag” adalah salah sebuah contoh:

Hatiku telah mampu untuk setiap bentuk,
Dialah padang bagi kijang dan sebuah biara bagi Nasrani
Dialah pura bagi berhala dan Kakbah bagi berhaji
Dialah lembar dari Taurat dan kitab Quran yang suci

Di sini misteri puisi datang karena “tanah kelahiran” penyair hilang. Yang pasti menjadi mungkin, maka lahirlah hipotesa.

Beberapa kemungkinan respons yang moderat tentang puisi sebagai karya filsafat sudah dijawab walaupun barangkali ada yang masih tercecer dan belum memuaskan, namun respons berikut ini amat mengusik: bagaimana dengan adagium bahwa puisi adalah karya seni? 

Harap jangan berharap agar tulisan ini menolak puisi sebagai karya seni. Sesungguhnya hipotesa puisi sebagai karya filsafat hanya bermaksud mencoba menunjukkan kelebihan puisi daripada cuma sebagai sekadar karya seni. Tidak pula ini beranjak dari pemujaan terhadap puisi dan filsafat, namun hanya semacam penglihatan tak sengaja dari seorang pejalan akan sebuah keindahan yang hilang karena kelewat kerap terlihat mereka yang lalu lalang di sana, padahal orang-orang itu mungkin sesungguhnya “mencari” ini. Adakah keindahan ini hilang lantaran kelalaian atau kecintaan yang berlebihan dari orang-orang itu? Pejalan tadi tak pernah dan tak ingin tahu. Ia hanya hendak mengembalikan keindahan itu pada wadahnya semula: cakrawala. Menggumamkan letaknya pada mereka, kemudian kembali berangkat menuju jalan. 

Kelebihan puisi dari sekadar sebagai karya seni terlihat dari dimensi prismatisnya jika mau dibandingkan dengan sebagian karya seni lain yang menuding realisme sebagai esensi keindahan yang transparan. Di sini realisme tentang keindahan dalam karya seni harap dibedakan dengan realisme tentang keindahan di luar seni. Saya setuju dengan Tjernisevski yang mengatakan: “dibandingkan dengan warna sebenarnya dari tubuh dan paras orang, warna lukisan adalah kasar dan tiruan-tiruan yang miskin”. 

Namun dengan demikian tidak berarti keindahan di luar seni lebih tinggi daripada keindahan di dalam puisi. Saya sepakat dengan Goenawan Mohamad bahwa: “di dalam pengalaman langsung kita sesungguhnya tak pernah bisa memutuskan di manakah sebenarnya “keindahan yang benar, yang tertinggi": pada pemandangan itu atau puisi itu. Kita sama-sama dibikin terharu oleh keduanya”. Sayang Goenawan agak kurang tepat dengan menggolongkan puisi sebagai seni rupa, sehingga dia menganggap perbandingan Tjernisevski antara keindahan alam fisik dengan keindahan seni rupa sama dengan keindahan alam fisik dengan keindahan puisi. 

Inilah salah sebuah kelebihan puisi dari seni rupa yang menganggap realisme sebagai acuan keindahan, meskipun memang sulit ditentukan mana yang lebih indah jika dibandingkan dengan keindahan alam fisik. Bagi seniman dan atau penikmat seni yang bertumpu pada realisme sebagai nilai estetis sebuah karya tentu di sini sedang berlangsung suatu yang kontradiktif: dalam sesama karya seni saya menghalalkan perbandingan, namun ketika berhadapan dengan alam fisik tidak. 

Demikianlah, tapi tolong dicatat bahwa suatu perbandingan adalah mungkin jika masih terdapat “kelemahan” pada salah satu — atau lebih — yang menjadi objek, apalagi ia masih manusiawi. Itulah sebabnya keindahan puisi tidak dibandingkan dengan keindahan alam fisik yang berbeda sumbernya. Pada sesama karya manusia juga dapat direlatifkan bila demikian halnya. Artinya kalau telah berada dalam wilayah obyektivitas. Di sinilah istilah “relatif” digunakan moderat, sesudah melewati tahap alasan-alasan yang mungkin diterima. Tidak sebagaimana dalam semacam diskusi pop yang cenderung mengelak dan sembunyi pada istilah relatif dan subjektif setelah terpokok. Memang tidak ada yang tak bertolak dari subjektivitas, tapi untuk bisa diterima orang lain, pandangan, sikap, dan tindakan seseorang mesti melalui: objektivikasi. Jika tidak, sesudah kepepet berdebat, tak sulit untuk tak bertanggung jawab: “Ah, pendapat masing-masing kan subjektif, jadi relatif”. Tidak ada keharusan memang untuk bertanggungjawab, tapi ini cuma ilustrasi tentang kejujuran atau dusta, yang dapat membuat orang jadi moderat atau fanatik. Dan seni — apalagi puisi membutuhkan kejujuran, membutuhkan cinta. Sebab, ia tidak untuk menyusun dan menggunakan kekuasaan. Ia menawarkan, bukan memaksa.

Kelebihan lainnya pada puisi juga terlihat dari sifatnya yang transenden. Barangkali puisi adalah satu-satunya “media” dalam seni yang serasi berkomunikasi dengan transendensi. Puisi lebih esensial. Puisi adalah pencarian eksistensi sekaligus jejak transendensi. Puisi berpotensi menjadikan manusia mengerti bahwa mereka adalah manusia.

Tak apa dan dapat dimafhumi bila alinea ini mengundang senyum sekalian kecurigaan kembali akan pemujaan kepada puisi. Namun, cobalah membuka diri terhadap sebuah alternatif. Menyimak dengan cermat dan objektif suatu penawaran sebelum membeli atau tidak. Ini merupakan hal yang wajar dan dasar untuk lahir sebagai seorang seniman, penyair atau penikmat. Berkacalah dari puisi. Dari keterbukaannya menerima sekian penafsiran dengan diam. Dari geraknya yang bebas mengelilingi semesta. Dari nilai estetisnya yang etis. Tapi semuanya menjadi dusta tanpa cinta. Namun, istilah “cinta” yang beberapakali digunakan di sini punya makna khusus: cinta seorang dewasa yang sendiri, bukan cinta yang romantis dan kolektif. Sebab, jika cinta jenis sweet seventeen ini kreasi seni — apalagi puisi — akan cenderung artifisial dan tertutup. Andai ada kebebasan, maka kebebasannya ialah kebebasan yang mengancam, bukan kebebasan yang tenteram.

Kelebihan-kelebihan puisi dari karya seni mirip dengan “kelebihan” filsafat dari agama: samasama lebih 'esensial dan lebih universal. Kecuali ini, keduanya samasama bertitik tolak pada kebebasan. Samasama individualistis. Samasama hanya menawarkan. Samasama selalu berproses. Dan, samasama suatu dialektik. 

Hipotesa puisi sebagai karya filsafat tak mungkin mengelakkan pembicaraan tentang puisi dan filsafat. Namun adalah suatu yang barangkali sia-sia jika pembicaraan kedengaran nyaring dan senada, karena “pendengar” tidak tuli. Pembicaraan cuma mungkin seperti bisik atau sayup sampai. Misalnya dari laut ke cakrawala. Inilah sebabnya pembicaraan tentang puisi dan filsafat — utamanya pada tulisan ini — hanya membicarakan bagaimana, bukan apa. Andai bagaimana itu mirip apa, ini sekadar upaya komunikasi. Dan, pembicaran memang senantiasa bernada penerjemahan, kendati tak lebih dari sebuah suasana hati ke ide yang belum persis terumuskan. 

Banjarmasin, Agustus 1988

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »