Sastra di Tengah Hutan Beton - Gerson Poyk

ADMIN SASTRAMEDIA 9/15/2019
Sastra di Tengah Hutan Beton
oleh Gerson Poyk
Sastra di Tengah Hutan Beton - Gerson Poyk

SASTRAMEDIA.COM - Kebudayaan, menurut filsuf Pitirim A. Sorokin " terdiri dari budaya ideologi, material, personal dan behavioral. Ia menggolongkan sastra ke dalam apa yang kurang lebih disebutnya dunia ideologi yang lahir dari semesta makna-makna yang digodok menjadi sistem. Politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya, seperti juga sastra, tergolong dalam budaya ideologi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa setiap kelompok atau fenomena budaya tak berdiri sendiri-sendiri. Selain memiliki kaitan dengan politik dan lain-lain aspek dalam kelompok sendiri (budaya ideologi) sastra hanya bisa dipelajari lewat budaya material, personal dan behavioral

Sastra memerlukan mesin tik, komputer, mesin cetak, kertas, tinta sebelum jadi buku. Semua ini adalah budaya material. Bukan saja sastra lisan memerlukan budaya personal tetapi juga sastra tertulis. Buku sastra perlu ditangani oleh para direktur, para manejer pemasaran dan lain-lain manusia. Mereka inilah merupakan budaya personal. Alangkah seronoknya bila terlibat pula budaya behavioral seperti upacara memecahkan gentong dan injak telor pada ekspor perdana buku-buku sastra Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Cina (Wah!) serta upacara pemberian hadiah sastra dan doa restu segala. Sastra Indonesia modern telah mengukir riwayat integrasi antara budaya ideologi dan budaya personal ketika para sastrawan Manikebu? dan tokoh politik serta militer di satu pihak melawan ideologi kiri di lain pihak. Benturan antar budaya ideologi menjalar ke pembunuhan beberapa jenderal kita yang merupakan tiang budaya personal bangsa. Di saat itu tampak bahwa perbuatan manusia menjadi absolut. Sungguh tragis. 

Tragedi itu mengajar bahwa musuh sastrawan adalah ekses absolut (excess of the absolut) yang bukan saja dapat timbul dari ideologi kiri informasi penting mengenai mana jalan menuju ekses dan mana jalan untuk menghindari ekses. Ada sastra yang merupakan karya estetis yang memberikan informasi etis tetapi juga ada sastra yang berbulu domba berhati singa. Sayang. Begitu banyak sekolah menengah, begitu banyak fakultas sastra tetapi begitu sedikitnya buku, buku sastra yang terbit. Kalau ada yang terbit pun, sekali dalam enam bulan sang sastrawan yang datang pada penerbit untuk menanyakan royalti mungkin akan pulang dengan tangan hampa melenggang di hutan beton kota memakai koteka.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »