Sekilas Kisah Irak - Sutardji Calzoum Bachri

ADMIN SASTRAMEDIA 9/11/2019
oleh Sutardji Calzoum Bachri



SASTRAMEDIA.COM - Di kalangan orang asing di Baghdad tersebar lelucon tak baru tapi tetap aktual: “Penduduk Irak 16 juta jiwa, dua juta di antaranya foto-foto Saddam Hussein”. Bandar udara internasional Baghdad, Saddam airport namanya. Ada bagian Baghdad yang disebut Saddam City. Ada Saddam Museum. Keluar dari bandar udara Saddam, sepanjang jalan bermunculan poster-poster Saddam Hussein dalam ukuran besar. Hampir sama seperti kita lazimnya menemukan poster-poster iklan dagang di kota-kota besar. Di toko-toko besar atau kecil, di lobby-lobby hotel, di ruang pertemuan, di pentas baca sajak Rasheed Theatre, selalu ada foto Saddam dalam ukuran yang menonjol. Orang bisa melihat wajah Saddam di mana-mana.

Perang Iran-Irak sudah lebih setahun usai. Di Teluk angin menyebarkan bau minyak semata, tak lagi bercampur aroma mesiu dan darah. Siapapun tahu perang yang berlarut-larut sampai sekitar delapan tahun itu tidak memenangkan salah satu pihak, entahlah kalau untuk masing-masing pemimpinnya. Tapi karena Khomeini akhirnya mau menerima resolusi Dewan Keamanan PBB yang meminta kedua belah pihak melakukan gencatan senjata, Irak merasa menang. Di Conference Palace tempat pembukaan Festival Puisi Mirbad ke-10 dan di Rasheed Theatre beberapa penyair mengobarkan kemenangan lewat kata-kata. Tradisi puisi Arab yang tak sepi dari puja-puji terhadap sultan, retorik yang cenderung berlebihan, dan perasaan menang ini meletup-letup ditembakkan di atas pentas pembacaan sajak. Seorang penyair Sudan — kemudian dianugerahi medali emas dari Presiden Saddam Hussein — mengucapkan baris sajaknya: Baghdad adalah Kakbah kebudayaan tempat orang Majusi bersujud”. Sambil menterjemahkan langsung, kiai-penyair Mustofa Bisri bilang” “Tentulah yang dimaksudkannya Majusi itu Iran”. Masih lagi dari penyair Sudan tadi: “Kalau tidak karena iman dan iktikad semua orang akan berhaji dan berumrah di Fao”. 

Berada di muara Shatt-al-Arab, bandar kecil Fao sangat dekat dari jangkauan Iran. Selama dua tahun tentara Iran menduduki kota strategis itu. Dalam mempertahankan dan merebut kembali Fao lebih dari lima puluh ribu serdadu Irak tewas. Di pihak Iran gugur seratus duapuluh ribu tentara. Begitu catatan Irak. 

Syahdan, di Baghdad ada sebuah monumen dengan jaring raksasa menjulang ke langit, penuh berisi ratusan topi baja berlubang kena sentakan peluru. Tak muat dijejalkan dalam jaring, puluhan mungkin ratusan helm perang itu dibiarkan muncrat bertebaran dari mulut jaring sampai ke seputar kaki monumen. Saya kira pastilah topi baja dari para almarhum serdadu Irak. Tapi Muhid pengantar kami dari KBRI menjelaskan, itu kumpulan topi baja tentara Iran yang berhasil mereka tewaskan. “Kalau begitu bisa pula jadi monumen bagi pihak Iran”, pikir saya untuk menenteramkan perasaan aneh yang muncul dalam diri melihat monumen ganjil itu.

“Beaucoup de politigue, peu de poetigue”, komentar seorang penyair Tunisia. Sungai Tigris mengalir ke satu arah, tapi ada juga yang berenang melawan arusnya. Seorang penyair Irak membacakan sajak: “Saya tak kenal para penyair Amerika, saya tak kenal penyair Rusia. Namun seandainya pimpinan-pimpinan pemerintahan di dunia ini diserahkan pada para penyair, saya ingin bertanya apa ada penyair yang tega membakar kebun penyair lain dan merobek-robek sajaknya, walau itu musuhnya?”. Begitu terjemahan langsung Mustofa Bisri. 

Festival Mirbad ini ditayangkan tivi lebih dari tiga jam setiap hari, selama festival berlangsung, 24 November sampai 1 Desember. Bahkan kadang-kadang ada yang disiar-ulang. Hebat memang perhatian terhadap puisi. Tapi penyair yang berenang ke hulu tadi tak muncul batang hidungnya di TV.

Kami diundang untuk menonton bukan untuk membacakan sajak. Meski lebih dari seribu penyair dan ahli sastra diundang dari berbagai penjuru dunia, ada terkesan festival ini memang diuntukkan bagi dunia Arab. Yang non-Arab tidak ambil bagian. Tidak ada terjemahan puisi dalam bahasa Inggris atau bahasa internasional lainnya. Semuanya cukup dengan bahasa Arab. Untung ada Mustofa Bisri. Kiayi penyair lulusan Al-Azhar ini banyak membantu kami. 

Setelah beberapa hari festival berlangsung, tiba-tiba ada acara tambahan: baca puisi oleh para penyair asing (non-Arab) di kampus fakultas sastra Universitas Baghdad. “Sejak festival Mirbad diselenggarakan, inilah pertama kalinya ada acara baca sajak untuk penyair asing”, ujar panitya. Karena waktu sangat terbatas hanya Taufig Ismail dan Abdul Hadi WM yang akan tampil baca sajak. Saya dan Leon Agusta mengambil peran enteng: jadi calon fotografer mereka. Sedangkan Hamid Jabbar dan Mustofa Bisri yang menginap di Philistine, tak sempat diberitahu panitya. Padahal di Sheraton, Philistine dan Baghdad Hotel tempat para penyair menginap selalu ada panitya. Maklum acara mendadak, barangkali. Karena kita diletakkan di urutan belakang, sedangkan waktu sangat terbatas, apalagi ada pula penyair Amerika Latin yang tak tahu diri baca sajak berlama-lama sampai habis waktu untuk dia sendiri sekitar setengah jam — padahal firasat saya pastilah dia penyair kelas empat di negaranya — maka kedua penyair kita tak kebagian baca.

Di Babylon duduk di bawah pohon kurma di halaman istana kerajaan Babylonia yang dipugar, saya memungut buah masak yang terus berjatuhan. Di sinilah salah satu kebudayaan pertama di dunia pernah tumbuh dan berbuah. Antara sungai Tigris dan Euphrat terbentang Mesopotamia yang pernah mencapai kegemilangan budaya. Kemudian di pinggir sungai Tigris, Abu Ja'far al-Mansur membangun Baghdad dan dibawah pemerintahan Harun al-Rasyid mencapai puncaknya sebagai metropolis yang memancarkan kejayaan kebudayaan Islam ke berbagai penjuru dunia. Terangsang oleh kehebatan masa lampau, Irak modern ingin bangkit kembali meraih kejayaan dunia Arab. Partai Baath (Baath artinya renaissance) berkuasa sejak kudeta 1968 memang mencita-citakan kebangkitan kembali Arab dan sosialisme. Untuk itu kebudayaan menjadi penting. Berbagai festival diselenggarakan tiap tahun, seperti Festival Babylon yang Indonesia juga diundang dan festival Mirbad ini. “Agresif sekali mereka dalam diplomasi kebudayaan”, ujar Taufig Ismail yang juga pengurus KIAS sambil membaca berbagai judul buku terjemahan yang dipajang dan boleh diambil gratis dalam pameran buku Festival Mirbad. Berbagai buku sastra terutama dari pwra “sastrawan dan penyair partai (pemerintah)” dan buku-buku politik, sejarah dan propaganda ditampilkan dalam berbagai bahasa: Arab, Inggeris, Prancis, Jerman, Parsi, Turki, Spanyol, Swedia, dan satu dua bahasa lain lagi yang saya lupa mengingatnya.


>Sumber: Majalah Sastra Horison, Nomor XXIV/473 Tahun 1990

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »