Variasi pada Tema Maut - Subagio Sastrowardoyo

ADMIN SASTRAMEDIA 9/29/2019
Subagio Sastrowardoyo
Variasi Pada Tema Maut
Variasi pada Tema Maut - Subagio Sastrowardoyo

I
Kerinduan menusuk sampai ke sungsum
yang menyebabkan mataku basah berlinang

Sungguh aku tak mau jadi cengeng
Biar bahagia melumatkan segala rasa

dan aku lupa kepada kehadiran
Aku mabuk kepayang dalam maut

Kenikmatan terdapat dalam kekosongan
yang melarutkan sayang dalam keabadian

II
Yang menakutkan hanya air
-bukan kematian-
yang menetes di bak mandi sepanjang malam
(dari keran yang lama karatan)
Berapa lama masih tidur terganggu
oleh air itu
yang menghitung umur
sampai tak terdengar tiba-tiba suatu pagi
tanpa aku tahu
mengapa tak menetes lagi
air yang tak bisa diam itu
air yang menakutkan

III
Pada hari terakhir
setiap nyawa jadi penting
bahkan bunga tanpa nama
yang gugur dari tangkainya
dipungut dari pasir.
Gamelan menyambut dari jauh
lembut seperti tak pernah terdengar oleh telinga.
Yatim, kau akan berjumpa lagi dengan bapa.

IV
Petualangan menimbulkan muak
pada selera. Sudah berpuluh
perempuan kucampakkan :
dekat jendela yang habis kuhisap
lezat madunya. Hanya di alam maut
barangkali ada perempuan sempurna
- dengan rambut bergelombang saja
menutupi telanjangnya-
yang bisa melipur aku dalam pelukannya
sehingga aku terlena.

V
Bagimu orang tua ini
masih anak, Tuhan. Begitu
takut aku kepada maut
dan aku lupa garis nasib
sudah tersurat di tanganku.
Aku telah bersembunyi di kolong
ranjang, tapi akhirnya ketahuan
juga. Aku main kucing-kucingan
dengan dia dan tak kusangka
kukunya menerpa ke dadaku
tepat di mana jantungku
berdentang. Yang berhutang janji
harus segera melunasi.
Sampai aku tak sempat
melambaikan tangan
untuk menyampaikan salam
berpisah. Inna lillah!

VI .
Kesunyian menggedor-gedor pintu hatiku
minta diperhati
Aku bukan dewa atau hewan yang
sanggup hidup sendiri
Kurenggut kasih dari pangkuan
yang menyerah
Tapi perempuan hanya mampu mengorbankan
darah sepi
Bayangan maut membuntuti aku dari dini
Bisakah ia menjadi kawan berbincang
mengusir sunyi?

VII
Jariku meraba buku yang berderet
sepanjang dinding.
Banyak yang belum selesai kubaca
dan sepenuhnya mengerti:
Igbal, Wittgenstein, Ronggowarsito.
Kalau aku mati, kalau aku mati
aku akan menyesal tidak sempat
mengenal kebudayaan masa kini.
Dan negeri-negeri di dunia
begitu banyak yang belum pernah kukunjungi:
Mexico, Rusia, Nepal.
Kalau aku mati, kalau aku mati
aku akan menyesal tidak sempat
memasuki daerah-daerah asing
di atas bumi.
Dan rahasia perempuan yang menghimbau
sebelum habis kujelajahi. .
Kalau aku mati, kalau aku mati
aku boleh kembali ke dunia lagi

VIII
Perempuanlah yang melahirkan
aku di bumi. Perempuan juga
yang mengajar aku
menikmati nafsu tak terkendali.
Tapi perempuan yang membuat
aku putus asa dan mendorong
melakukan bunuh diri. Perempuan
yang mengajak aku tidur
abadi tanpa kawatir apa yang
bakal terjadi esok hari
Perempuan adalah ilham untuk
hidup dan ilham untuk mati

IX
Langkah lelah tertampung
di kampung tak berhuni. Tak terdengar tangis
bayi.
Berita duka yang tertayang
tidak menentukan bila malam panjang
akan berakhir.
Tinggal menyerah tanpa bertanya atau mencari.
Makna sudah lama terkubur. Hilang semua arti.
Nafsu hidup telah berhenti
bersama nyanyian anak
yang surut tatkala nyala bulan redup mati.
“Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis semilir.....”

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »