Chairil Anwar, Sebuah Kenang-Kenangan - Mochtar Lubis

ADMIN SASTRAMEDIA 10/12/2019
Chairil Anwar, Sebuah Kenang-Kenangan
oleh Mochtar Lubis



SASTRAMEDIA.COM - Di tahun-tahun pertama perang kemerdekaan Indonesia, sebuah nama penyair Indonesia yang memeledak dan melangit dengan amat cepat adalah nama Chairil Anwar. Waktu itu umurnya masih muda sekali. Pertama saya bertemu dengan dia di rumah almarhum Bung Sjahrir. 

Yang paling berkesan pada saya adalah matanya, yang besar, dan selalu merah, tetapi menyala. Badannya kurus, kerempeng, rambutnya senantiasa seakan tak kenal dengan sisir, pipinya cekung. Tetapi jika dia sudah mulai berbicara, maka semangatnya yang bergelombang-gelombang tercermin dalam gerakan wajahnya. 

Kami cepat jadi teman dekat. Waktu itu saya sudah kawin. Dia belum. Dan Chairil termasuk seorang anak manusia, yang punya perut tanpa dasar, alias merasa lapar terus menerus setiap waktu. 

Dia pandai mengatur waktunya untuk datang ke rumah saya di Jalan Bonang. Selalu ketika waktu kami akan makan siang, maka akan muncullah Chairil Anwar. Tapi bukan dia tidak menyumbang pada suasana makan siang. Sering dia mengeluarkan sepotong kertas dari sakunya, dan membacakan sebuah sajak yang lagi digarapnya. Belum selesai, belum selesai, dia akan menggerutu, dan memasukkan kertas kembali ke dalam sakunya. 

Di kala itu pun telah kelihatan betapa Chairil Anwar hidup, merasa, berkarya, dengan penuh intensitas. Saya sering mendapat kesan, dia seakan sebuah lilin yang menyala sekaligus di dua ujungnya. Kesehatannya tidak pernah baik. Atau dia batuk, atau dia merasa lelah, atau lagi masuk angin. 

Tetapi semangatnya tetap meluap-luap. 

Biasanya setelah makan siang, saya harus kembali ke kantor majalah Mutiara di Jalan Pecenongan. € Kalau lagi tidak punya uang, saya naik sepeda. Dan Chairil Anwar selalu akan minta supaya saya bonceng dia hingga ke jalan Nusantara. Dia selalu akan ("membeli" buku di toko buku Belanda "Van Dorp” salah sebuah toko buku yang besar di Jakarta di kala itu.

Pada suatu hari saya ikut masuk toko buku dengan Chairil. ”Saya ingin mencari buku tentang juri nalistik,” kataku padanya. Tetapi hari itu buku yang kucari tidak ada. Ketika kami ke luar toko buku, dan Chairil dan aku telah jauh dari toko, Chairil menepuk perutnya, dan sambil tertawa berkata, "Coba tebak, ada apa di sini?”

Saya pegang perutnya, wah, keras.

Dengan tertawa Chairil membuka kancing kemejanya, dan mengeluarkan dua buku tipis. Aku tak ingat lagi judul dua buah buku yang ”dibebaskannya” dari wilayah Belanda tadi. Tapi aku merasa kagum juga melihat keberaniannya beroperasi di wilayah musuh. Karena waktu itu Jakarta telah diduduki oleh serdadu kolonial Belanda, dan di mata kami orang Belanda dan semua milik mereka adalah sasaran yang syah dari semua pejuang kemerdekaan Indonesia. 

Sejak itu saya berlangganan dengan Chairil untuk membebaskan buku yang saya ingini dari wilayah Belanda toko buku Van Dorp di Jakarta. Saya akan memeriksa dahulu kalau ada buku yang saya ingini, kemudian saya berikan namanya pada Chairil, dan dalam beberapa hari, pasti buku akan sampai ke tanganku. 

Imbalannya Chairil selalu diterima dengan senang hati ikut makan di rumah, dan sesekali dapat ”meminjam” uang jika saya lagi ada uang, yang tak pernah dibayar kembali, tetapi cukup dengan buku saja.

 Sasaran pembebasan buku Chairil yang lain adalah perpustakaan USIS. Saya akan mencatat dahulu buku-buku jurnalistik yang ingin saya baca, saya serahkan pada Chairil, dan seminggu atau beberapa hari kemudian pasti Chairil akan berhasil membawa buku pada saya. 

Bagaimana caranya dia berbuat demikian, tidak pernah saya tanyakan padanya. Dan saya tidak pernah mau ikut dengan dia, sedang dia melakukan operasi pembebasan buku. 

Mungkin dia berhasil menjinakkan gadis-gadis penjual buku Van Dorp, atau gadis-gadis penjaga perpustakaan USIS, yang banyak di antara mereka kami kenal pula.

Sebuah krisis dalam hubungan persahabatan kami hampir terjadi, ketika pecah pertengkaran antara Chairil dengan Jassin mengenai tulisan Jassin yang menyebut sebuah sajak yang diakui Chairil adalah ciptaannya, ternyata adalah salinan yang bagus ke dalam bahasa Indonesia dari sajak seorang penyair asing. 

Pertengkaran mereka hampir meledak ketika perkumpulan sandiwara Maya sedang mengadakan pertunjukan di Gedung Kemidi. Para penonton tidak menyadari, bahwa di belakang layar sedang terjadi pementasan yang lebih seru. Jassin malam itu memainkan sebuah peran. Tetapi hampir adu jotos antara dia dengan Chairil, sama sekali tidak mengganggu permainannya. Malahan dia berperan lebih meyakin kan lagi. 

Kami berhasil melerai mereka berdua. Dan esok. nya Chairil bertanya terus terang pada saya, apakah j pendapat saya mengenai sajaknya yang dikatakan Jassin salinan dari penyair asing? 

Jelas, kamu melakukan plagiat Chairil, kataku tegas dan tanpa diplomasi padanya, kamu kan sudah diakui sebagai seorang penyair yang kreatif dan orisinil, buat apa kamu mengaku sajak orang lain sebagai hasil ciptaanmu? 

Dia melihat pada saya agak lama, tanpa berkata sesuatu apa, dan kemudian tiba-tiba mukanya dihiasi sebuah senyum. "Saya tidak marah kau berkata begitu,” katanya,” memang benar. Tapi kau harus akui salinanku lebih bagus dari aslinya!” 

Dan kami berdua tertawa. 

Tetapi ketegangan antara Chairil dan Jassin cepat juga pulih kembali jadi hubungan persahabatan mereka yang lama. 

Saya mengikuti dari dekat perkawinannya, dan kemudian ketika dia meninggal dunia, masih dalam usia muda. 

Kepergiannya meninggalkan kesepian dan kekosongan dalam dunia sastra Indonesia, yang cukup lama baru -terisi kembali oleh tokoh-tokoh penyair baru.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »