Mari Kita Kurangi Mengutip-Ngutip - Satyagraha Hoerip

ADMIN SASTRAMEDIA 10/03/2019
Mari Kita Kurangi Mengutip-Ngutip 
oleh Satyagraha Hoerip


Mari Kita Kurangi Mengutip-Ngutip - Satyagraha Hoerip

1/
SASTRAMEDIA.COM - Memang benar, pada prinsipnya saya tak bergeser pendirian. Hanya saja, perasaan saya silih berganti membaca jawaban Wiratmo Soekito (WS) yang judulnya begitu insinuatif: "Satyagraha Hoerip atau Apologi Pro Vita Lekra".[1] Untung jawabannya tersebut dimuat langsung di belakang bandingan saya, yang dengan sengaja saya beri judul santai namun langsung ke sasaran itu: Mari Kita Kurangi Bergurau[2] Hingga mudah buat pembaca untuk menyimpulkan sendiri, siapa yang sebenarnya misreading: WS ataukah saya?

2/
Yang tentunya menakjubkan saya ialah, bahwa jawaban sepanjang itu oleh WS ternyata cuma dia ketik dengan sebelah tangan. Itu pun sesudah sadar bahwa ruang di Horison serba terbatas. Berapa kali lagilah panjang jawabannya, sekiranya kedua tangan WS sama sehat, plus WS tak ingat bahwa ruang di Horison memang terbatas. Di Indonesia zaman sekarang, juru ketik profesional pun tidak banyak yang setinggi itu semangat juang-nya. 

Tapi terus-terang selain itu saya ada juga merasa menyesal. Yakni kalau ingat akan nadanya yang begitu emosional. Catatan kakinya no. 5 misalnya, sampai begitu bunyinya: "Saya akan menghina pengetahuan bahasa Amerika Utara SH bila saya harus menerjemahkan kutipan (sic-S.H.) dari Bestor ini.”[3] Catatan kaki ini mungkin dimaksud buat mengejek saya, bukan menghina. Tak apalah, sebab memang hak dia buat mengejek. Tapi jadinya saya justru iba kepadanya, sesudah merasa menyesal itu. 

Ya, betapa tidak! Sebab sejak dulu kala saya amati bahwa WS memang konsekuen bangga, dengan kutip-mengutip! Terutama opini orang Barat, peduli orang yang masih hidup ataupun sudah (lama) mati. Seakan-akan makin banyak dia memajangkan kutipan, kian puncaklah kepuasan batinnya. Mungkin dia pikir bahwa para pembaca akan kagum oleh kehafalannya di luar (maupun di dalam) kepala. Sesuatu hal yang kita duga bisa dia katakan dengan sederhana dan langsung, oleh WS ternyata disampaikan justru dengan mengutip.

Padahal, sejak dulu kala pula, saya kenal beberapa orang intelektual kita yang ingin sekali menegur WS: Supaya berani memulai mengembangkan pemikiran sendiri. Artinya, baru mengutip kalaulah memang terpaksa. Ya, memang, mula-mula akan sulit dan kurang hebat. kalaulah dibandingkan dengan kutipan-kutipan itu, tapi lambat-laun bukan mustahail WS jadi terbiasa berpikir otentik, langsung dan gamblang. Siapa tahu WS bahkan tumbuh jadi penulis, yang jikapun mengutip namun bisa cocok konteks. Jadi tidak asal kelihatan ”westernized” saja.[4]

Apa lacur, tahun 50-an telah lama silam dan mustahil kembali. Dan para intelektual kita itu ada yang kini bergelar Ph.D., ada yang mendapat penghormatan Pena Emas tingkat antar bangsa dan sebagainya agaknya tak kunjung tega menyampaikan teguran mereka, meskipun maksud mereka jelas baik. Itu nyata benar dari makalah WS di diskusi TIM tgl. 26 Oktober yang lalu, Kelahiran Seorang Sastrawan, Pemulihan Fungsi Intelektual[5], berikut jawabannya kepada saya tersebut di atas. Begitu banyak ia mengutip orang-orang Barat, sampai susah buat saya untuk membedakan ”mana lalang mana rumput”.

Ya, begitu banyak kutipan di tulisan-tulisan WS, sehingga tatkala satu di antaranya menyebut bahwa masa sekarang banyak “sastrawan tapi kurang sastranya, banyak pemikir namun kurang pemikiran”, langsung saja seseorang teman lamanya menyambar: "Banyak kutipan kosong pikiran”.

3/
Dalam suatu tulisannya Goenawan Mohamad menyebutkan, bahwa "Di zaman ini bukan sekadar tuntutan 'sopan-santun jika kita meminta kaum intelektual untuk tidak mudah ngandelaken kapinteranipun (mengandalkan kepandaiannya)” [Goenawan Mohamad, "Keberanian Intelektuil, Penghianatan Intelektuil, Dst.” dalam Budaya jaya No. 7 Tahun I, Hal. 402.]

Sayang dia tidak menjabarkan, apakah mengutip-ngutip tergolong kepandaian juga atau sekadar ketukangan, atau siapa tahu bahkan semacam penyakit setingkat kelatahan, begitu. Yang jelas, saya cocok dengan pikiran GM itu. Makanya sengaja saya jadikan moto jawaban (terakhir) saya ini. 

Pertama, agar diingat oleh kaum intelektual Indonesia semuanya, tanpa terkecuali, dan kedua, agar kita kian yakin bahwa masyarakat selain bosan juga kritis pada omongan gede-gede tapi "jauh panggang dari api”. Masyarakat lebih suka kalimat yang sederhana, polos namun didukung oleh perbuatan pengucapnya: dari pada kalimat hebat tapi tidak ditopang oleh tindak-tanduk pengutipnya. 

Blak-blakan saja, waktu mendengar WS membacakan makalahnya di TIM ”... Kami tidak setuju dengan pendapat saudara-saudara, tetapi hak saudara-saudara untuk mengatakannya akan kami bela sampai mati...” dan seterusnya, saya tahu bahwa itu bukan asli pendapat WS. Dan bahwa itu kutipan dari Voltaire. Karena selagi zaman Orla Presiden Soekarno membubarkan Liga Demokrasi, Prawoto Mangkusasmito memprotes pembubaran tersebut di antaranya dengan mengutip ucapan dahsyat Voltaire itu. Karena juga kagum kepada kalimat tersebut maka saya teringat terus sampai sekarang. 

Saya menduga, sebab terpesona oleh kehebatannya maka WS yang punya hobby mengutip itu merasa sulit untuk tidak mengutip kalimat itu. Tanpa ingat bahwa ada beda seru antara dirinya dengan Voltaire. 

Akibatnya sewaktu saya tanggapi kutipannya itu yang semula tidak dia katakan bahwasanya kutipan (walau tidak langsung) barulah dia mem”buka”kannya. Andaikata saja saya tidak memasalahkannya, besar kemungkinan WS tetap menutup-nutupi dan membiarkan orang lain terkagum-kagum karena tetap mengira bahwa itu adalah kalimat WS yang otentik. Saya ingat benar, Prawoto berterus terang bahwa dia mengutip Voltaire ketika mengucapkan kalimat yang heroik tersebut. 

Tetapi, bagaimanakah sekiranya dengan mengutip kalimat itu WS padahal serius? WS padahal tidak bergurau, sebagaimana yang saya duga? Tidak bisa tidak maka ucapannya itu mengingatkan saya pada dalih kaum Co alis kaum Federalis di akhir tahun 40-an. Orang-orang ini rajin/patuh bekerja di kantor-kantor Belanda, menyanyi Wilhelmus pada setiap kesempatan resmi: teratur sarapan roti bermentaga dan minum susu cokelat setiap pagi dan sore: Namun begitu Belanda kabur ke negerinya sesudah Pengakuan Kedaulatan, tak malu-malunya mereka mengaku-aku bahwa bekerja pada Belanda dulu itu "hanyalah taktik”. Tak lain karena kalau bukan mereka, tentulah jabatan itu akan dipegang oleh orang-orang lain yang benar-benar berjiwa pengkhianat, sedangkan mereka sendiri “tetap berjiwa Republikein”. Padahal, sementara mereka subur-makmur itu, para gerilyawan sipil maupun militer tak henti-henti dibrondongi mortir dan mitralyur oleh pasukan-pasukan Belanda, disiksa apabila ketangkap, dan disetrum jika tetap ogah membocorkan rahasia RI. 

Dengan mengungkapkan itu semua, maksud saya ialah: Mudah saja kita mengaku-aku ”membela sampai mati”, padahal sesungguhnya yang kita perbuat adalah sangat minim, terlebih-lebih jika dibanding dengan derita yang sesungguhnya dialami oleh orang lain. Oleh karena itu, janganlah di lain kali mengaku-akukan sesuatu perbuatan padahal kita tak ada berbuat sesuatu.

4/ 
Yang membuat saya terkejut/kecewa, ada juga. Yaitu pengakuan polos WS setelah saya kenal sekian lama, bahwa salah seorang konseptor utama Manifes Kebudayaan itu ternyata sukarelawan dinas rahasia angkatan bersenjata. Ini terbaca dari kalimat WS, ”.... Oleh karena ketika itu 'bekerja' secara sukarela pada dinas rahasia angkatan bersenjata, saya ...” Saya rasa, bukan hanya saya yang kaget dan heran oleh pengakuannya yang tersimpan sampai sekian belas tahun kemudian ini. Melainkan juga banyak para eks-Manifestan lainnya, baik di ibu kota maupun di daerah-daerah. Untung bahwa masalah Manifes ini bagi banyak para eks-Manikebuis lainnya sudah lebih merupakan masalah "the past” daripada "the present”. Lebih merupakan masalah yang kalaupun sekarang masih terjumpai unsur-unsurnya, maka tidaklah lagi semembara dulu di tahun 60-an. 

Ini wajar. Sebab seperti kita maklumi, manusia justru normal apabila dia melakukan suatu pembedaan gradual terhadap segala pengalamannya. Kasmaran kepada seorang gadis misalnya, lama-kelamaan akan berubah bentuk dan berbeda gratnya apabila gadis yang dicintai itu sudah sekian puluh tahun menjadi istri kita. Demikian juga sebaliknya duka cita kita yang tulus disertai tangis sekalipun atas wafatnya seseorang anak tunggal kita misalkan, tak usah diartikan kita harus sedih terus menerus.... sepanjang hidup kita yang berikutnya. 

Terus-terang, andaikata saja saya tak mampu melakukan hal yang seperti itu terhadap Manifes, agaknya rasa kecewa bahwa WS ternyata informan(?) sukarela pada dinas rahasia angkatan bersenjata (sekalipun!) tak mudah saya pendam dengan hati yang ikhlas. Andaikata kita tak sanggup membedakan antara masa silam dengan masa kini, maka saya rasa akan sulitlah kita untuk menghapus dendam dan hasrat ingin membalas terhadap orang-orang Lekra cs, yang dahulu telah nyata-nyata ”mengganyangi” kita para kaum eks-Manikebu. 

Sekali lagi, andaikata saja kita tak arif membeda-bedakan grat antara masa silam dan masa kini, maka itu artinya bahwa kita sukarela menjadi korban kebodohan kita sendiri, dendam kesumat kita sendiri yang tentunya bukan akan mendewasakan kita melainkan sebaliknya kian membuat kita kerdil.[6]

Padahal, seperti saya tulis dalam bandingan saya itu, Mesir saja bukitnya bisa, berdamai dengan Israel. Kendati seorang besar bernama Sadat harus menebus perdamaian itu dengan jiwanya, namun buat seorang arif dan besar seperti Sadat, hal itu sungguh takkan menggeser pendiriannya, bahwa bangsanya memang perlu untuk berdamai dengan Israel. Tidakpun sekarang, maka kelak tentu sejarah akan menilainya tinggi-tinggi, bahwa Sadat memang orang besar negarawan arif bijaksana. 

Demikian pula bangsa kita dengan Belanda misalnya, atau rasa hormat yang tinggi dari Prof. Schermerhorn kepada Sutan Sjahrir lawan utamanya dalam perundingan RI-Belanda mengajarkan kepada kita bukan saja bahwa kita perlu membedakan antara masa silam dari masa sekarang ini, melainkan juga mengajarkan bahwa permusuhan pun bisa saja digantikan oleh saling menghormati, saling membantu dan saling belajar. 

Adapun contoh dari nenek-moyang misalnya, sering kita temukan dalam lakon wayang kulit Bharata Yudha. Setiap kesatria yang gugur, oleh lawannya selalu dipujikan dengan mengheningkan cipta, agar arwahnya lancar lurus lempang ”kondur ing alam kasidan jati”. (Sungguh, saya akan menghina pengetahuan bahasa Jawa WS bila saya masih harus menerjemahkan kutipan ini, ha-hahaa...SH.) Tapi sudahlah, wayang dicipta oleh orang Timur dan ”kuno” pula, apakah akan mempan buat seorang intelektual yang sepandai WS dalam hal hafal menghafal dan kutip-mengutip. 

Namun yang paling mengagetkan saya ialah, bahwa WS justru mengutip kembali Penjelasan Manifes yang berbunyi ”Sejahat-jahat manusia namun ia masih tetap memancarkan cahaya llahi”, tapi tidak sanggup membayangkan bahwa itu juga bisa terjadi dengan kaum eks-Lekra sekalipun. Dan sebaliknya, bahwa juga kaum eks-Manikebu bisa saja memendam unsur-unsur kejahatan, kendati mereka mengira bahwa diri mereka berada dalam pihak yang benar. 

Pengutipan kembali Penjelasan Manifes yang aneh juga bahwa dilakukan oleh WS ialah terhadap yang ini: ”Musuh kami bukanlah manusia, karena, kami adalah manusia. Musuh kami adalah unsur-unsur yang membelenggu manusia, dan karenanya kami ingin membebaskan manusia itu dari rantai-rantai belenggunya. Dalam perlawanan kami terhadap musuh-musuh kami itu, kami tetap berpegang teguh pada pendirian dan pengertian, bahwa sejahat-jahat manusia namun ia masih tetap memancarkan cahaya Ilahi, sehingga konsekuensinya, kami harus menyelamatkan sinar-cahaya Ilahi tersebut”. 

Andaikata saja WS tidak misreading dan tidak terlalu emosional, bahkan sempat menghayati lagi kutipannya itu, maka dia akan melihat bahwa belenggu-belenggu itulah yang saya sebenarnya ingin lepaskan dari dia: Belenggu dendamnya kepada Lekra, belenggu kebanggaannya pada kutip-mengutip. Agar supaya: mampu melihat, bahwa even Lekra patut-patut saja untuk kita pelajari kembali. 

Tapi sebaliknya, apabila nanti ternyata bahwa mereka mau mengada-ada lagi dan yang berkemungkinan mencelakakan bangsa dan negara, sudahlah pasti bahwa kita pun harus kembali mengambil sikap yang tegas. Bahkan, mungkin, lebih tegas lagi.

5/ 
Setelah saya pikir-pikir kembali, kenapa WS sampai seemosional itu, dan juga misreading separah itu terhadap bandingan saya, ternyata inilah jawabannya. Pertama, karena dia tak mampu melihat bahwa perbedaan pendekatan antar dia dan saya dalam hal Kelahiran Seorang Sastrawan, Pemulihan Fungsi Intelektual, bukan dilihatnya sebagai perbedaan pendekatan dan cara saja, melainkan sebagai perbedaan yang hakiki. Dan kedua, bahwa WS belum bebas dari belenggu traumanya pada tahun-tahun 1960-an. Ini saya bisa pahami, walaupun terpaksa dengan iba hati.

Pada yang pertama, saya memang melihatnya selaku perbedaan cara pendekatan terhadap tema. Jika masalah Kelahiran Seorang Sastrawan, Pemulihan Fungsi Intelektual oleh WS didekati dengan pertama: menjauhi kemungkinan bertemu dengan pihak Lekra, dan kedua: dengan mengutipi sejumlah orang(-orang) Barat: maka saya mendekati masalah itu dengan pertama, memberanikan diri melihat kemungkinan yang positip kalau-kalau ada yang bisa diambil dari pihak Lekra: dan kedua: berangkat dari kenyataan-kenyataan kongkret yang bertebaran di masyarakt kita akan tetapi sejauh ini belum (banyak/kunjung) terungkapkan dari realitas dan bukan dari kutip-mengutip itulah, maka WS tak sanggup melihat perbedaan kami. Sehingga jika dia perlu menyebut Sartre, misalnya, maka saya menyebutkan Sengkon-Karta, dan sebagainya. 

Tapi apa yang saya sebutkan dalam bandingan saya itu, salahlah apabila lalu di”cap”, di'tuduh” kekiri-kirian. Sebab saya yakin bahwa melawan keserakahan, memusuhi kebengisan, memprotes kesewenang-wenang, melabrak pemerasan, mendobrak korupsi dan sebagiannya, adalah logis dan sejalan benar dengan falsafah bangsa-dan-negara maupun UUD 45 kita. 

Buat saya: tujuan utama kita memang tetap ”memperoleh karya sastra Indonesia yang bermutu, tapi sekaligus juga memihak kepada para yang menderita”[7], Oleh karena itu, saya belum rela jikalau sastrawan-sastrawan kita sampai kalah dari para wartawan kita, dalam hal melabrak serba kebobrokan, ketimpangan kecurangan dan lain-lain yang ada di tubuh kita. 

Atau seperti kata Bung Sjahrir: 
”Kesusastraan kita tidak mesti direndahkan ukurannya hingga dapat memuaskan keperluan rohani rakyat yang belum diasah, yang masih primitif: akan tetapi kesusastraan kita harus dapat mendidik rakyat banyak supaya dapat menghargakan perasaan dan pikiran, kesusastraan yang halus pun jua. Kesusastraan kita harus dapat menghela pikiran dan perasaan rakyat pada tempat yang lebih tinggi. Kesastraan untuk rakyat harus bersifat sosial. Dan untuk dapat memahamkan penghidupan sosial tadi, kita harus mempunyai penglihatan tajam dan awas, pengertian dingin dan bersih, kita harus realistis.”[8]

Ya itulah, maka saya sekarang cenderung pada adanya humanisme sosialis.

Cipinang Muara, 26-12-82

Endnote:

1. Baca Horison No. 11/1982 hal. 345-349

2. Idem, hal.341-344 meskipun dengan beberapa salah cetak yang cukup mengganggu 
3. Saya sendiri tidak sangsi akan kebolehan WS dalam berbahas Inggris. Itulah sebabnya ketika diundang mengajar Modern Indonesian Literature and Culture di Ohio University, Amerika Serikat, musim panas 1982, saya usulkan WS atau MRK agar di lain tahun diundang Mengajar juga. Menurut Direktur ISSI (Indonesian Studies Sunimer Institute) MIRK dahulu sudah pernah menyajar walaupun ISSI belum ditempatkan di kota Athcns. Jadi tinggal W$, kalau dianggap memenuhi persyaratan. Nah, muari kita “wait and scc”.
4. Lihat misalnya “Manusia, Sastra dan Politik”. makalah WS dalam Simposium tentang Sastra dan Politik di aula Universitas Indonesia, Jakarta, pada hari Minggu 19 April 1959, dimuat kembali Jalam Sejumlah Masalah Sasura, cdidng Satyapraha Hocrip, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1982, bal. 21-45.
5. Horison Nu. 9/1942 hal. 237-243.
6. Bandingkan dengan pidato Presiden yang dibacakan WaPres Adam Malik tgl. 28 Oktober sore di pelataran Monas, Jakarta: ” ... persatuan dan kesatuan bukan saja tidak boleh mengendor, malahan harus kita tingkatkan. Dalam hubungan ini saya menyerukan agar kita semua meninggalkan untuk selama-lamanya pertentangan-pertentangan ideologi di antara kita yang pernah merobek-robek tubuh bangsa kita sendiri.” (Sinar Harapan, 28 Oktober 1982, hal. 1).
7. Baca kembali bandingan saya “Mari Kita Kurangi Bergurau" yang saya baca di TIM anggal 26 Oktober 1982 dan dimuat dalam Horison No. 11/1982 meskipun dalam keadaan dipersingkat, atas permintaan Ketua Redaksi Hariannya.
8. Mochtar Lubis, "Pejuang, Pemikir dan Peminat Sastra” dalam buku Mengenang Sjahrir, editor H. Rosihan Anwar, P.T. Gramedia atas kerjasama dengan Soedjatmoko, Ketua Panitia Penerbitan, cetakan kedua 1980, hal. 206.


>Sumber: Horison, XVIII/21

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »