Mengenang Chairil Anwar - Abdul Hadi W.M.

ADMIN SASTRAMEDIA 10/11/2019
Mengenang Chairil Anwar
oleh Abdul Hadi W.M.

SASTRAMEDIA.COM - Chairil Anwar adalah penyair anarkis individualis yang kemudian tumbuh menjadi penyair religius yang mengesankan. Ia pada akhirnya dapat menemukan Tuhannya tanpa bimbingan dogma-dogma , agama yang kaku, namun melalui pengalaman batinnya sendiri yang otentik atau kesadaran kosmiknya. Sajak-sajaknya yang awal meledak-ledak, tidak begitu dalam. Namun ia berubah setelah kawin. Sajak-sajaknya setelah kawin menjadi lebih matang, lebih memperhatikan bentuk dan semakin dalam. Ia banyak belajar dari Amir Hamzah dan pengaruh Amir Hamzah tak bisa diabaikan bagi perkembangan kepenyairan Chairil seperti pernah saya katakan dua tahun yang lalu. Ia belajar ”penghancuran yang kreatif” terhadap kata-kata dari . Amir Hamzah, dan ini diakui oleh Chairil sendiri . walaupun tidak secara terus terang. 

Tanpa mengurangi kebesaran Chairil, bagi saya sebenarnya jauh lebih banyak sajak Amir Hamzah yang lebih dalam dari sajak-sajak Chairil Anwar. Ini mungkin disebabkan karena sajak-sajak Amir Hamzah jauh lebih banyak yang kontemplatif (dan beberapa di antaranya profetik) dibandingkan sajak-sajak Chairil Anwar. Seandainya pengetahuan dan pemahaman Chairil tidak terbatas pada kesusastraan Barat, tapi juga meluas pada kesusastraan Timur (Persia, Arab, India, Cina, Jepang, Jawa, Melayu) tentulah akan lain perkembangannya. Namun Chairil punya kelebihan dibanding Amir Hamzah dan sastrawan Pujangga Baru lain. Amir Hamzah sajak-sajaknya kurang memiliki variasi karena ia terkungkung dalam romantisme semata-mata, sedang Chairil mengenal gerakan-gerakan perpuisian modem lain di luar ekspresionisme yang mula-mula dianutnya. 

Yang menarik dari Chairil Anwar adalah vitalitasnya sebagai penyair, semangat kepenyairannya yang tak mengenal politik "dagang sapi”. Ia mau berkorban dan menderita demi cita-cita dan kepenyairannya yang menyatu dalam dirinya. Inilah tanda dari cinta sejati yang kita perlukan sekarang ini. Cinta sejati adalah cinta kepada cita-cita hidup. Cinta semacam itu hampir mirip dengan iman. Ia mendorong seseorang untuk selalu merealisasikan ide-ide dan pikiran-pikirannya seraya menyadari pentingnya pengorbanan diri. Ia selalu mendorong kita untuk senantiasa menghidupkan gagasan-gagasan dan keyakinan-keyakinan kita. Atau dengan lain, ia selalu mendorong kita untuk merealisasikan diri dan mengekspresikan diri. Karena itu sebagai penyair Chairil Anwar bersungguh-sungguh, tidak bersikap 'angek-angek tahi ayam'. Ia pun konsisten terhadap apa yang ia katakan”. Orang semacam itulah yang berhak berkata "Aku lebih memiliki hidup dari kalian. Aku lebih berjiwa.” Cinta sejati semacam itu pulalah yang membuatnya tumbuh menjadi ”pribadi yang merdeka” atau "jiwa yang merdeka”. Chairil seharusnya tidak berkata "Sekali berarti sudah itu mati”. Sebaliknya mestinya ia berkata, "Jika kalian hanya hidup satu kali saja, maka aku hidup berkali-kali.” 

Semangat yang dimiliki Chairil ini jarang dimiliki oleh penyair-penyair lain yang kebanyakan "angek-angek tahi ayam”. Pun Chairil beda dengan beberapa penyair kita yang kemudian arrive. Setelah arrive atau merasa arrive, beberapa penyair kita kemudian mundur semangatnya dan pudar vitalitasnya karena godaan duniawi dan kedudukan. Ia tak mau berkorban demi cita-cita atau sastra yang pernah membesarkannya. Malah setelah kaya dan mapan, mereka cenderung mengejek sastra. Contohnya Goenawan Mohamad (kalau Goenawan mengejek sastra, Tempo tentu tidak menjadi donatur tetap Horison — Red) Menurut saya gejala ini psikologis sifatnya. Dengan mengejek sastra dan bersiasat menghambat pertumbuhan sastra, bahkan kalau perlu mengacaukan perkembangan sastra (ingat kasus penjurian buku puisi terbaik DKJ 1977), kita mudah menebak, bahwa, kepenyairan yang telah dicapainya tak ingin dilampaui oleh yang lebih muda. Saya tak tahu mental ini mental apa namanya. Yang jelas dengan cara begitu, apabila berhasil, ia ingin mengatakan bahwa setelah dia tak ada penyair hebat lagi. Atau, ia ingin mengatakan : "Sudahlah, perkembangan sastra Indonesia sudah selayaknya berhenti setelah kehadiran saya sebagai penyair.” Itulah dorongan yang membuat dia mengacaukan penilaian sastra. Mereka itu lebih suka merangkul eks-Lekra daripada ikut memberikan jalan kepada sastrawan-sastrawan yang lebih kemudian, karena beberapa keuntungan yang diperolehnya. Pertama, citra internasional (yang kini didominir kaum kiri) terjaga dengan baik. Kedua, memberi kesan bahwa mereka sangat humanistis. Dan masih banyak lagi tentunya. 

Tentu saja dengan apa yang saya katakan di atas tidak berarti bahwa saya memiliki wawasan kepenyairan yang sama dengan Chairil Anwar. Chairil Anwar tumbuh sebagai penyair di tengah-tengah penindasan fasisme Jepang dan gemuruh revolusi kemerdekaan. Dari sudut kebudayaan kaum intelektual Indonesia sangat terkagum-kagum pada kebudayaan Barat dan memicingkan mata terhadap kebudayaan Timur seperti kebudayaan Hindu, Islam dan Sino-Jepang. Karena itu apabila mereka itu menyebut sastra universal maka yang dimaksud adalah sastra yang penuh semangat Barat. Mereka lebih kenal Andre Gide, TS Eliot, Albert Camus, Marsman, Slauerhoff, Du Perron, Ibsen, Chekov dan McLeish daripada penyair-penyair Timur. Penyair Timur yang mereka kenal paling-paling Li Po, Omar Khayyam, Kahlil Gibran dan Tagore. Generasi saya hidup di tengah suasana habisnya kepercayaan terhadap ideologi-ideologi Barat, termasuk sosialisme, kapitalisme dan komunisme. Kami menghadapi peristiwa yang tak kalah besarnya dibanding zaman Chairil atau generasi 66. Yaitu munculnya neo-feodalisme, proses despiritualisasi dan dehumanisasi besar-besaran dalam kehidupan, dan materialisme yang berlebih-lebihan. Kalahnya Amerika di Vietnam dan Iran, serta politiknya yang menyakitkan hati di Timur Tengah sehubungan dengan masalah Palestina, membuat kepercayaan kami kepada Barat pudar secara drastis. Begitu pula dengan pendudukan dan pembantaian Uni Soviet di Afghanistan memberikan pengaruh yang sama bagi kami. Bila generasi saya bicara sastra universal maka bukan Barat semata-mata yang kami maksudkan, juga bila kami bicara kebudayaan dunia maka yang kami maksudkan termasuk kebudayaan-kebudayaan besar bangsa Asia. Generasi saya lebih mencintai kebudayaan Timur, oleh karena itu apabila Arief Budiman mengatakan bahwa sastrawan kita ”kebarat-baratan” maka yang dimaksudkan adalah sastrawan yang segenerasi dengan dia, termasuk dia sendiri. Ini namanya "penyesalan diri” yang berlebih-lebihan. Generasi Chairil dan Arief Budiman tidak membaca Jalaluddin Rumi, Iqbal, Attar, Hafiz, Kabir, Maarri, Ibnu Arabi, Kalidasa, Ghalib, Tukaram, Ahmad Saugi, Mahmoud Taymur, Premchand, Aurobindo dan lain-lain. Namun saya membacanya. Nah, yang saya sebutkan inilah salah satu ciri Angkatan 70, yang berbeda dari Chairil dan Generasi Gelanggang-nya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »