Pengaruh Chairil Anwar Pada Puisi Malaysia - Suripan Sadi Hutomo

ADMIN SASTRAMEDIA 10/13/2019
Pengaruh Chairil Anwar Pada Puisi Malaysia
oleh Suripan Sadi Hutomo

Pengaruh Chairil Anwar Pada Puisi Malaysia - Suripan Sadi Hutomo

SASTRAMEDIA.COM - Penyair Chairil Anwar sebagai tokoh penyair Indonesia modern tidak saja berpengaruh pada para penyair sesudahnya, misalnya pada penyair Sitor Situmorang, akan tetapi juga berpengaruh pada sastra Minor (sastra Indonesia berbahasa daerah), misalnya pada sastra Sunda dan sastra Jawa modern. Oleh para penyair sastra minor, teknik persajakan Chairil Anwar dianggap membawa pembaharuan. 

Sebenarnya pengaruh Chairil Anwar itu tidak ke dalam negeri saja, akan tetapi juga ke luar negeri: terutama ke negara Malaysia. Menurut Drs. Li Chuan Siu dalam bukunya Ihktisar Sejarah Pergerakan dan Kesusasteraan Melayu Modern (1945—1965), awal pertumbuhan puisi Malaysia modern sangat dipengaruhi oleh puisi Indonesia modern. Katanya, ”Sajak-sajak itu memberikan pengaruh yang besar kepada penyair-penyair muda di Malaya, mereka sangat tertarik oleh sajak-sajak gubahan Chairil Anwar ....” (hal. 346). 

Tentang adanya pengaruh Chairil Anwar dalam puisi Malaysia juga dikemukakan oleh Yahaya Ismail seorang kritikus sastra Malaysia. Dalam bukunya yang berjudul Sejarah Sastra Melayu Modern ia mengatakan: ”.... dua penyair yang terkemuka dari ASAS 50 mencontohi gaya puisi Pujangga Baru dari Indonesia dan selepas itu meniru pula teknik penyair pelopor Angkatan 45 Chairil Anwar......” (hal. 82). 

Yang dinamakan ASAS 50 oleh Yahaya Ismail adalah "angkatan” sastra dalam sastra Malaysia. ASAS 50 adalah singkatan dari Angkatan Sasterawan 50. Angkatan ini didirikan pada tanggal 6 Agustus 1950, di Singapura, yang pada waktu itu Singapura masih atau satu dengan Malaysia. 

Angkatan Sasterawan 50 atau terkenal disebut ASAS 50 itu mempunyai konsep dan slogan tertentu. Angkatan ini berslogan:”Seni untuk Masyarakat” atau "Seni untuk Rakyat”. Di sini masyarakat dan rakyat yang diperjuangkan adalah masyarakat dan Rakyat Melayu yang terdiri dari golongan rendah seperti petani, buruh dan manusia-manusia miskin lainnya. Dalam karangan-karangan mereka, penulis-penulis muda menulis cerita-cerita pendek yang membeberkan kepincangan, keburukan dan kekejaman yang dihadapi dalam masyarakat Malayu, baik di kampung atau di kota. Sikap menentang imperialisme Inggris dan golongan feodal Melayu pada waktu itu juga kelihatan dalam karya-karya angkatan ini.

Sikap para pengarang angkatan 50 yang demikian itu tidak mengherankan sebab mereka itu pada umumnya terdiri dari para wartawan, guru-guru sekolah Melayu dan lain-lain peminat sastra yang asalnya dari golongan miskin. Di samping itu ada di antara mereka itu yang terpengaruh oleh tokoh-tokoh politik nasionalis Melayu yang radikal pada waktu itu. Oleh karena itu pada perkembangan selanjutnya angkatan ini mengalami perpecahan karena ada di antara anggotanya yang kemudian menganut paham ”Seni untuk Rakyat”. Tentang hal ini dapat dibaca misalnya dalam karangan Wiratmo Soekito yang berjudul "L' pour I'art" dalam majalah Basis (No. 8, VIII, Mei 1959). 

Beberapa pengarang dan penyair ASAS 50 yang penting adalah Keris Mas (Kamaluddin Muhammad), Tongkat Warrant (Usman Awang). Masuri S. N., dan lain-lain. Di antara para penyair ASAS 50 yang dipengaruhi oleh Chairil Anwar adalah penyair Usman Awang dan Masuri S. N. Pengaruh itu pada umumnya terletak pada teknik persajakannya.

Penyair MasurijS. N. itu pada mulanya terpengaruh oleh teknik persajakan Angkatan Pujangga Baru. Teknik ini rasanya sudah ketinggalan jaman, lalu ia beralih pada teknik puisi Chairil Anwar. Ambillah misalnya puisinya yang berjudul Suasana yang dimuat dalam kumpulan sajak Warna Suasana (1982). Begini wujudnya: 

SUASANA

Kita mengikut segala cahaya
Merah-padam
Biru kelabu »
Di permukaan alam.

Kita jemu dengan ini:
Minta api membakar pulau
Kuda liar lepas lari 
Atau topan menggegar bumi.

Apa lagi!
Kenyataan mendatang
Rumah remuk dihantam ribut
Hangus bumi dicium api
Terbang gunung dialih gempa.

Apa lagi!
Beribu nyawa kekubur panjang
Udara keliling hanya keluhan:
Dimana bantuan
Dimana suara yang menggila meraung:
'Action-action'
Sekarang bungkem ditindas alam.

Setiap suasana mengubah rupa
Seribu cerita berubah kata.

Bila puisi di atas kita baca baik-baik, maka kita akan merasakan adanya pengaruh teknik persajakan Chairil Anwar. Selain teknik, juga terasa adanya pengaruh napas puisi Chairil Anwar. Ambillah misalnya perkataan "api membakar pulau”. Kata-kata ini mengingatkan kita pada kata-kata Chairil Anwar dalam puisinya yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela Dalam puisi ini ada baris yang berbunyi:"Irama ganggang dan api membakar pulau”. 

Seperti halnya penyair Masuri S5. N. penyair Usman Awang pada mulanya juga terpengaruh oleh teknik persajakan Angkatan Pujangga Baru dan kemudian terpengaruh oleh teknik persajakan Chairil Anwar. Ambillah misalnya puisinya yang berjudul Di Desa yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Gelombang (1961). Begini wujudnya:

DI DESA

Jika tangis sudah berbuah,
Dendam baru mengaut nanah,
Menyala api benchi membara,
Menelan semua membakar segala.

Yang pergi tiada kembali,
Yang mati tiada terchari,
Segala hilang, segala tumbang,
Segala lebur, segala gugur.

Sekali bangun sekali merempuh,
Semua mayat cedera melepuh.

Sedu rindu kadang terdengar,
Isak sayu kadang menghimbau.

Begini chara penuh di desa,
Api meradang membakar rata,
Buas-buas manusia berpesta,
Rebakan perang menchari mangsa.

Selari jalan setuju arah,
Sudah bertaut sama berpaut,

Sama bertulang, sama berbelulang,
Sama menentang, sama berjuang.

Bila kita perhatikan puisi di atas maka kita akan menemukan baris yang berbunyi: "Segala hilang, segala tumbang,/Segala lebur, segala gugur”, Baris ini mengingatkan kita pada baris-baris puisi Chairil Anwar yang berjudul Selamat Tinggal. Baris itu berbunyi sebagai berikut: "Segala menebal, segala mengental/ Segala tak kukenal/ Selamat tinggal...!!” 

Adanya pengaruh Chairil Anwar pada puisi Malaysia sebenarnya tidaklah mengherankan kita sebab para penyair Malaysia banyak membaca karya sastra  dari Indonesia. Bahkan karya sastra dari Indonesia — Itu dipelajari oleh murid-murid di sekolah. Dengan — demikian tidaklah mengherankan pula apabila banyak penyair Malaysia yang terpengaruh oleh teknik persajakan penyair-penyair Indonesia, sebagaimana — pernah ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dalam artikelnya yang berjudul: "Beberapa Contoh Pengaruh  Puisi Indonesia atas Puisi Malaysia" yang dimuat oleh mingguan Iribun (No.79, Th. IV, tahun 1975). 

Bagi penyair Malaysia apa yang dinamakan "'pengaruh” itu dianggapnya sebagai "'kesementaraan”. — Artinya, adanya pengaruh itu tidaklah terus menerus berlaku pada diri seorang penyair. Para penyair  Malaysia akhirnya juga menyadari bahwa mereka harus menemukan diri mereka sendiri. Oleh karena itu pada beberapa penyair yang sudah "mapan” pengaruh itu telah menghilang. Mereka itu telah menemukan kepribadian mereka sendiri. Penyair Chairil Anwar sendiri sebelum menemukan kepribadiannya juga banyak menerima pengaruh dari luar negeri: dan malah dia sampai hati berbuat plagiat, yaitu mencuri karangan orang lain. Memang, seseorang yang ingin jadi tokoh kepenyairan, pada umumnya kelihatan ulahnya yang bukan-bukan. Hal ini yang demikian haruslah dipandang sebagai jiwa yang belum "dewasa”.

Jadi bila demikian halnya maka kita tidak terlalu gegabah memandang rendah seorang penyair yang terpengaruh oleh penyair lainnya. Lebih-lebih pada masalah adanya pengaruh puisi Indonesia pada puisi Malaysia: sebab kata Ali Haji Ahmad dalam artikelnya yang berjudul: "Pertumbuhan dan Perkembangan Puisi Baharu Melayu di Malaya” : "Walaupun ada pengaruh oleh penyair baharu di Indonesia tetapi mereka punya pribadinya tersendiri berdasarkan latar belakang masyarakatnya pula.” (Dewan Bahasa November 1957).

Begitulah tentang pengaruh penyair Chairil Anwar pada puisi Malaysia.***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »