Peranan Kata dalam Puisi: Pledoi Kecil terhadap “Perahu Kertas” Sapardi Djoko Damono - BY. Tand

ADMIN SASTRAMEDIA 10/06/2019
Peranan Kata dalam Puisi: Pledoi Kecil terhadap “Perahu Kertas” Sapardi Djoko Damono
oleh BY. Tand
Peranan Kata dalam Puisi: Pledoi Kecil terhadap “Perahu Kertas” Sapardi Djoko Damono - BY. Tand

1
SASTRAMEDIA.COM - Sudah lama saya berkeinginan melakukan pleidoi (pembelaan) terhadap buku sajak Perahu Kertas (PN Balai Pustaka, 1983) karya Sapardi Djoko Damono yang diserang habis-habisan oleh Sutardji Calzoum Bachri melalui makalahnya berjudul ”Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono Salah Satu Contoh Puisi Indonesia Mutakhir” yang dibacakannya pada Pertemuan Kritikus dan Sastrawan 1984 di TIM akhir Desember 1984, kemudian dimuat dalam majalah sastra Horison No. 2 tahun 1985. Tetapi keinginan itu terpaksa saya tunda untuk sementara, karena yang paling berhak melakukan pembelaan adalah Sapardi sendiri, tentunya melalui. media massa yang sama. Setelah saya tunggu sejak Horison No. 8 tahun 1985 sampai Horison sampai sekarang pembelaan dari Sapardi tak kunjung muncul, akhirnya dengan ketetapan hati melalui tulisan ini saya berusaha melakukan pleidoi sepanjang menyangkut tuduhan Sutardji dan materi yang saya kuasai mengenai sajak-sajak dan konsep kata Sapardi Djoko Damono sendiri. Alasannya bukan karena nama saya sebagai penyair disebut-sebut oleh Sutardji di antara nama-nama penyair lain seperti Adri Darmadji Woko, Kriapur, Heru Emka dan Beni Setia, sebagai terpengaruh gaya persajakan Sapardi Djoko Damono. Tetapi ada hal-hal yang saya kira paling prinsipil mengenai konsep kata Sapardi yang terus dipegangnya. Kemudian, sikap menyerang seorang penyair dari sudut konsep kepenyairannya tanpa memperhitungkan perjalanan kreativitas penyair tersebut yang banyak ditentukan ruang dan waktu, saya kira tidak adil dan tidak bijaksana. Ada beberapa kesimpulan yang saya catat dari makalah Sutardji Calzoum Bachri mengenai Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono tersebut. 

Pertama: Bahwa gaya persajakan Sapardi Djoko Damono cukup banyak memberikan warna dalam kecenderungan perpuisian dewasa ini, dengan menimbulkan pengaruh pada beberapa penyair kita yang relatif baru memunculkan karya-karya mereka seperti: Adri Darmaji Woko, Kriapur, Heru Emka, B.Y. Tand, Beni Setia, dan lain-lain. 

Kedua: Bagi Sapardi Djoko Damono bukan kata adalah segalanya dalam puisi seperti konsep kata yang ditulisnya dalam esainya "Puisi Indonesia Mutakhir Beberapa Catatan, 1969, tetapi imaji adalah segala-galanya dalam puisi (nya). Ketiga: Sajak-sajak Sapardi tidak memberikan makna kepada pembaca (setidaknya kepada Sutardji), tetapi malahan pembaca yang memberikan makna sebanyak-banyaknya kepada sajak tersebut. Bertolak dari beberapa persoalan yang saya sebutkan di atas, saya berusaha memberikan pleidoi kecil terhadap sajak-sajak Sapardi Djoko Damono yang terkumpul dalam Perahu Kertas tersebut. 

2
Masalah pengaruh dalam penulisan sastra bukan masalah yang baru, tetapi masalah yang sudah berabad-abad terjadi di dunia. Friedrich Nietzsche (1844—1900) misalnya. Bukunya yang pertama berjudul The Birth of the tragedy out the spirit of music yang terbit tahun 1872 kemudian diketahui dipengaruhi oleh buku The Word as Will and Idea karangan Schopenhauer. Igbal banyak dipengaruhi Jalaluddin Rumi dan Goethe, Albert Camus dipengaruhi Nietzsche, penyair Sufi AlKhalabadhi dipengaruhi oleh Al—Hallaj dan bahkan mengaku sebagai murid Hallaj. Di Indonesia Chairil Anwar dipengaruhi Marsman dan Slauerhoff, Sitor Situmorang dipengaruhi penyair simbolis Perancis Rimbaud, Rendra dipengaruhi Federico Garcia Lorca, Goenawan Mohamad disebut-sebut dipengaruhi Dickinson, Sapardi Djoko Damono disebut dipengaruhi sajak-sajak Cina. Klasik, Sutardji Calzoum Bachri dikatakan sementara kritikus dipengaruhi E.E. Cummings dan lain sebagainya. Kecenderungan pengaruh terhadap sajak penyair Indonesia lainnya yang relatif belakangan muncul secara nasional adalah hal yang logis saja. Kalau Sutardji menyebutkan sederetan penyair yang dipengaruhi gaya "keimajisan” sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, sajak-sajak mantera Sutardji juga telah memberikan warna kepada sajak-sajak mutakhir Indonesia seperti terlihat pada sajak-sajak Husni Djamaluddin. Tentang sajak Husni Djamaluddin lihat "Bila Tomanurung Balik Ke Langit dan ”Dengan Apa Kusebut Namamu: Toraja” (Horison No. 10/1985). Sajak-sajak protes sosial Rendra misalnya yang merupakan salah satu gaya persajakan Indonesia mutakhir juga telah memberikan bayang-bayang pada sajak-sajak awal Hamid Jabbar dan Diro Aritonang (Bandung) dan seterusnya. Dengan demikian saya kira masalah pengaruh mempengaruhi dalam sastra bukan masalah yang luar biasa dan perlu diperdebatkan secara panjang lebar. Pengaruh, kata kritikus HB Jassin mempunyai akibat positif dan negatif. 

Pengaruh positif akan menjadikan yang dipengaruhi menjadi seorang kreator, sedangkan pengaruh negatif akan menjadikan seseorang sebagai plagiator. Walaupun Sutardji dalam tulisannya tentang buku sajak Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono "Tidak mencela” masalah pengaruh tersebut, tetapi karena masalah tersebut merupakan salah satu tempatnya bertolak untuk menulis kritiknya terhadap sajak-sajak Sapardi dalam Perahu Kertas tersebut, perlu juga rasanya kita menyinggungnya sepintas lalu.

3
Sapardi Djoko Damono dalam esainya "Puisi Indonesia Mutakhir Beberapa Catatan,” 1969 mengatakan begini: "kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi. Kata-kata tidak sekadar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair, seperti peran kata-kata dalam bahasa sehari-hari dan prosa umumnya, tetapi sekaligus sebagai pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun perannya sebagai penghubung tidak bisa dilenyapkan, namun yang utama adalah sebagai obyek yang mendukung imaji. Hal ini yang membedakannya dari kata-kata dalam bukan puisi.” Dari konsep kata penyair ini jelas kepada kita sejauh mana peran kata dalam sebuah puisi. Bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi memang dibuktikan Sapardi Djoko Damono dalam puisi-puisinya, baik yang terkumpul dalam Dukamu Abadi (1969), Akuartum maupun, Mata Pisau (1974) dan Perahu Kertas (1983). Sebagai penyair imajis Sapardi Djoko Damono kelihatan berusaha secara intens menciptakan imaji-imaji visual yang kongkret dan jernih, sehingga pembaca sajak-sajaknya seakan-akan melihat dengan mata kepala sendiri sebuah kejadian yang digambarkan penyair itu bermain-main di depan matanya. Untuk menciptakan imaji visual yang konkret dan jernih itu penyair lebih dahulu menjinakkan kata-kata yang bertebaran di sekelilingnya kemudian memberinya makna baru sesuai dengan kebutuhan imaji yang ingin diciptakan untuk menyampaikan makna/ide penyair (pikiran, perasaan, wawasan, dan saran, serta kemungkinan-kemungkinan, yang unik, yang barangkali saja tidak terpikirkan dan terlihat dalam realitas obyektif atau luput dari pengindraan manusia). 

Sutardji dalam tulisan yang menyerang konsep kata Sapardi itu mengatakan: ”... Kalimat dengan kata-katanya hanya alat untuk membentuk imaji. Kata-kata menjadi tidak penting. Tidak perlu diusahakan untuk mandiri, karena bukan itu kebutuhan Sapardi dalam persajakannya yang imajis itu.” Dengan mencontohkan sajak Sapardi ”Pesan” seperti diwabah ini: 

Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan 
bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, 
dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan...

selanjutnya Sutardji mengatakan: "maka jika dalam sajak-sajak Sapardi (Perahu Kertas) sering kita temukan kalimat-kalimat yang tergantung, belum selesai ataupun tidak diselesaikan, itu mungkin bukan karena sang penyair tidak mampu mengungkapkan imajinya dengan kata-kata, tetapi karena penyair yakin dengan kata-kata yang sekian telah dituliskannya itu, sudah cukup padat melahirkan imaji yang diharapkannya.” Saya kira sajak Sapardi diatas yang ”dirisaukan” Sutardji sebagai prosa (menurut Sutardji sajak prosa ini sudah kelihatan sajak-sajak Sapardi tahun 1969-1971, dalam sajak-sajak Mata Pisau, 1974, dan menjadi dominan dalam. Akuarium), benar sajak dengan bahasa prosa. Apa lagi kalau kita mau menuliskannya dalam struktur prosa seperti ini.

4
”Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan.... "dan menyelesaikan kalimat itu dengan kata: "diam saja” misalnya. Sehingga kalimat itu seluruhnya berbunyi sebagai berikut: "Kaftau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan diam saja.” Kalau kalimat itu diselesaikan dengan kata "diam saja” atau dengan kata lainnya, saya kira kalimat itu bukan sebuah sajak. Dia hanya sebuah kalimat biasa yang berisi pesan kepada seseorang melalui orang kedua tunggal (kau). Sapardi adalah seorang penyair. Dia tidak akan menuliskan kalimat biasa (prosa) dan menyebutnya sebuah sajak. Saya kira kalimat itu sengaja digantungnya untuk memberikan kesempatan kepada pembaca menyelesaikannya berdasarkan gatra-gatra yang terdapat dalam kalimat tersebut. Justru ”tergantung” itulah maka kalimat tersebut "berhak” disebut sebagai sebuah sajak. Karena salah satu ciri seni modern adalah bagaimana melibatkan pembaca, penonton, pendengar, ke dalam peristiwa seni itu dan memberinya kesempatan menyelesaikan problem yang terdapat dalam peristiwa itu, menurut kemampuan intelektualitas, dan persepsi masing-masing. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip education SAS”, yaitu: Struktural Analitik, Sintetik. 

Setelah menurunkan beberapa sajak Sapardi sebagai contoh ketidaksetiaan Sapardi terhadap konsep kata, yaitu: Pesan, Setangan Kenangan, Seruling, Bunga 1, dan Di Tangan Anak-anak, maka Sutardji sampai pada kesimpulan bahwa: ”' Lantas jelaslah pula, bila Sapardi dalam esainya di tahun 1969 itu menuliskan kata adalah segala-galanya dalam puisi, maka sebenarnya yang dimaksudkannya imaji adalah segala-galanya dalam puisi (nya). Padahal kalau kita rumit konsep kata Sapardi tersebut jelas dikatakan: "kata-kata tidak sekadar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dengan ide penyair, seperti peran kata-kata dalam bahasa sehari-hari dan prosa umumnya, tetapi sekaligus sebagai pendukung imaji. dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair, dan seterusnya. 

Coba kita turunkan selengkapnya sajak Sapardi Seruling ini:

Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya menutup-membuka lubang-lubangnya menciptakan pangeran-pangeran dan putri dari Kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbavang: kan merdunya... 

Kalau kita mau memakai teori simbol Susanne xn. Langer misalnya. Dari konteks simbol diskursif (nalar) struktur sajak tersebut sebagai susunan kata-kata yang menjadi kalimat yang teratur, telah menghubungkan pembaca dengan ide penyair, yaitu keinginan penyair untuk memperlihatkan kepada pembaca, seruling bambu sedang membayangkan ada yang meniupnya menutup-membuka lubang-lubangnya, dan seterusnya. Dipandang dari konteks simbol presentasional (menghadirkan), kata-kata yang tersusun dalam kalimat-kalimat sajak tersebut berperan sebagai pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Yaitu suasana batin penyair yang diekspresikannya melalui imaji-imaji simbolik seperti: pangeran-pangeran dan putri kerajaan-kerajaan jauh. Imaji-imaji simbolik yang sekaligus menjadi imaji visual ini menyarankan semacam kecantikan/ keindahan, kemewahan yang tak terbayangkan merdunya, menyarankan: kesyahduan, kemesraan, kerinduan, Seruling bambu (benda mati yang tak berdaya apa-apa) yang hanya mempunyai lubang yang dapat mengeluarkan bunyi apabila ditiup dan lubangnya ditutup dan dibuka oleh orang lain, adalah simbol dari seseorang yang tak berdaya walaupun sebagai manusia dia eksis. Dia hanya dapat berfungsi untuk kepentingan, kepuasan hati orang lain yang memanfaatkan eksistensinya sebagai manusia. Inilah dunia intuisi penyair itu. 

Dengan demikian peranan kata dalam konsep kata Sapardi Djoko Damono yaitu: menghubungkan pembaca dengan ide penyair dan sekaligus pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair, secara konsisten kita dapati dalam sajak tersebut. 

Rasanya dengan mencontohkan sajak Seruling tersebut (yang juga dipakai Sutardji sebagai contoh), sudah cukup untuk membuktikan bahwa konsep kata penyair Sapardi Djoko Damono, bahwa kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi, secara konsisten tetap dipegangnya. 

Kemudian, kita harus terbuka terhadap sikap 'dan perkembangan wawasan estetik seorang, yang terus berkembang, sesuai dengan kesadaran ruang dan waktu. Kalau Sutardji membandingkan sajak-sajak Sapardi yang terkumpul dalam Dukamu Abadi (1969) dengan sajak-sajaknya sesudah itu sampai kepada Perahu Kertas (1983), dan menyebut sajak-sajak Sapardi dulunya (Dukamu Abadi) masih berstruktur konvensional, penuh dengan musikalitas, ritme, sedangkan sekarang (Perahu Kertas) adalah kalimat-kalimat prosa, saya kira adalah perkembangan wajar bagi seorang penyair kreatif. Kreativitas seorang penyair akan berhenti, apabila dia telah berhenti sebagai penyair. IV. Menyangkut masalah makna, Sutardji menyebutkan begini: "Salah satu hal yang penting dalam berurusan dengan puisi modern, ialah mendapatkan makna dari puisi itu yang sering secara menyaran ditampilkan penyair dalam sajak. Pembaca yang serius berusaha mendapatkan makna yang serius yang mungkin tersimpan dalam sajak. Namun tak urung pula bisa terjadi sebaliknya. Bukan pembaca yang mengambil makna dari sajak yang dibaca, tetapi malahan memberikan makna sebanyak-banyaknya pada sajak. Sajak yang baik bukanlah demikian, sajak yang baik memberikan (merangsang) kekayaan makna tak habis-habisnya kepada pembacanya, bukan karena diberikan makna oleh pembacanya. Sajak Seruling, misalnya. Saya bisa menghubungkan sajak ini dengan cerita rahasia yang diceritakan Nabi Muhammad pada menantunya Sayidina Ali yang rahasia itu menjelma jadi bambu. Tetapi apakah dengan menghubungkannya sejauh itu saya tidak berlebih-lebihan? Artinya saya tidak lagi mendapatkan makna dari sajak tapi malahan memberikan makna pada sajak!” 

Secara implisit sebenarnya Sutardji ingin mengatakan bahwa sajak Seruling Sapardi itu bukan sajak yang baik. Karena dia tidak mendapatkan makna dari sajak tersebut, tetapi memberikan makna. Tetapi bukanlah makna yang telah "”diberikan” itu merupakan akibat rangsangan kata-kata dan imaji dari sajak tersebut? Kalau "ya”, berarti sajak Sapardi tersebut telah memberikan (merangsang) kekayaan makna tak habis-habisnya kepada pembacanya, seperti yang digambarkan Sutardji sebagai sajak yang baik. Saya juga sebagai pembaca telah diberi makna oleh sajak tersebut. Makna yang diberikannya kepada saya (seperti yang disebutkan di atas tadi) berbeda dengan makna yang telah diberikan sajak tersebut kepada Sutardji. Perbedaan saya dengan Sutardji, barangkali terletak dari sudut mana kami memandang sajak tersebut, yang mengakibatkan “sudut” itu memberikan makna yang berbeda. Barangkali Sutardji memandang sajak tersebut "hanya" sebagai kalimat biasa dengan kata-kata yang denotatif. Sehingga sajak tersebut merangsangnya untuk memberikan/menerima makna sebagai cerita rahasia yang diceritakan Nami Muhammad kepada menantunya Sayidina Ali. Sedangkan saya memandang sajak tersebut dari sudut imaji-imaji (Sapardi -penyair imajis) yang terdedah di hadapan saya, tentunya dengan perhitungan kata denotatif dan konotatif. 

Barangkali pembaca lain akan menerima makna lain pula dari sajak tersebut. Dengan demikian terbukti sajak itu dan sajak-sajak Sapardi yang lain dalam Perahu Kertas itu, telah memberikan (merangsang kekayaan makna kepada pembacanya. Sajak yang baik memang bukan sajak yang mendedahkan begitu saja makna kepada pembacanya. Dia menyimpan makna yang majemuk. Dia hanya mendedahkan imaji-imaji dan simbol-simbol.***

>Sumber: Horison, November, 1986

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »