Perihal Chairil Anwar - Dami N. Toda

ADMIN SASTRAMEDIA 10/10/2019
Perihal Chairil Anwar
oleh Dami N. Toda

SASTRAMEDIA.COM - Chairil Anwar satu contoh seniman Indonesia yang mampu menciptakan satu tradisi kepenyairan di Indonesia. Tiap seniman besar di dunia memang senantiasa ditandai kemampuan menciptakan tradisi kepenyairan itu, yang bisa berkembang lebih melembaga menjadi satu madzhab (schola). Lihatlah Ronggowarsito, Hamzah Fansuri, Shakespeare, Goethe, Valery, Hemingway, Thomas Mann, misalnya yang menjadi model atau pijakan kepengarangan dalam kurun tertentu. 

Dan Chairil Anwar... pun telah menjadi batu pijakan perjalanan sejarah perpuisian Indonesia. Sikapnya yang tegas terhadap diksi puisi yang dinyatakan dalam pidato radio 1943, 1946 dan esai-esainya, ternyata bukan cuma perjanjian bersifat slogan atau kredo dari sebuah tahap proses kreatif. Bahkan lebih dari sekadar puisi Indonesia modern, kharisma persajakan Chairil Anwar telah menjadi model zamannya (Angkatan 45), seperti kesaksian Artati Sudirdjo dalam tulisannya pada akhir 1940-an. 

Dengan jujur penyair Goenawan Mohamad pun kemudian mengaku "belajar” dari tradisi persajakan Chairil Anwar (lihat: Penyair Muda Sebagai Si Malinkundang, 1972), betapapun jasad Chairil Anwar telah menjadi debu sejak 1949.

Subagio Sastrowardojo, Sutardji Calzoum Bachri memang banyak menyorot "orientasi budaya” Chairil Anwar yang kebaratan, tidak berbumi di sini. Sorotan ini bukan baru, karena Nugroho Notosusanto telah memperdengarkannya juga sejak awal 50-an. Bahkan untuk tujuan yang tidak sastra, Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) telah melembagakan kecaman seperti itu untuk menghancurkan musuh-musuh non-komunisnya dan kenyataan memang karya-karya Chairil Anwar, Jassin dan "manikebuis” dilarang dibaca di Indonesia. 

Alasan-alasan sastra borjuis, neofeodalisme, melemahkan revolusi, musuh revolusi, musuh rakyat, dan lain-lain dari perbekalan istilah PKI (Partai Komunis Indonesia) dan Lekra, sering kita dengar. 

Hanya saja, masalah 'orientasi budaya” ataupun yang bersifat kredo seorang penyair, saya kira merupakan perbendaharaan slogan tahap proses kreatif. Saya menerimanya sebagai "janji”, seperti juga orang lain boleh berslogan 'orientasi budaya' Timur, bahari ataupun slogan-slogan sastra revolusioner dari Lekra dahulu. Sajak (karya) yang dilahirkan sebagai “dirinya sendiri” dari orientasi budaya manapun itulah yang lebih penting! Begitu menjadi karya, ia tak bisa lagi berbohong, tak bisa hanya berslogan. Ia telah menjadi sebuah dunia bulat tersendiri. 

Chairil Anwar jelas "orientasi budaya” dunia kepenyairannya lain dari Sutardji Calzoum Bachri dari tahun 10-an. Dengan WS Rendra yang mulai bersajak sejak 50-an saja lain. Disiplin diksi puisi yang dirasionalkan Chairil Anwar mulai bergeser dengan kesederhanaan baru model WS Rendra, yang ternyata mampu memadati sebuah sajak dengan imaji dan 'gerak' teatrikal yang luar biasa, seperti dalam master piece Rendra: Khotbah, Nyanyian Angsa, Disebabkan oleh Angin

Sedangkan Sutardji Calzoum Bachri yang sangat vokal dengan 'Kredo Puisi'-nya (yakni dapat dimasukkan dalam jenis 'orientasi budaya” untuk pergumulan kreatif), bahkan lebih dari pada sekadar alternatif telah membalikkan punggung lain dari rasio diksi puisi Chairil Anwar. Dimensi magis dari perbendaharaan estetika bahari dari bumi Indonesia sendiri diapungkan dan disahkan Sutardji Calzoum Bachri, sebagai jawaban telak pada Chairil Anwar. 

Tentu saja Sutardji membuktikan hal itu dalam puisinya (baca: pendapat saya yang lebih lantang dalam 'Puisi-puisi Luka Sutardji Calzoum Bachri', Hamba-Hamba Kebudayaan, 1984). Namun dalam peta perjalanan puisi-puisi Indonesia, saya tidak melihat kasus ChA dan SCB itu sebagai pembenaran dan koreksi. Dua-duanya memberikan kebenaran estetika tersendiri. 

Oleh sebab itu dalam suatu ceramah di FSUI tahun 1977, saya menyebut dua titik ekstremitas itu sebagai mata kita yang kiri dan yang kanan. Dan kehadiran keduanya dalam perpuisian kita melengkapkan penglihatan kita terhadap hakekat perpuisian pada umumnya. 

Lalu pada penulis sejarah kesusastraan Indonesia saya usulkan mencatat fenomena tersebut sebagai momen estetika yang penting, yang entah disebut apa, Angkatan 70 juga boleh. Penamaan Angkatan 70 agaknya lebih beralasan bila kita tidak hanya melihat perjalanan dunia puisi Indonesia, tetapi juga dunia novel (Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Budi Dharma, dan lain-lain, cerpen (Danarto, Julius Syiranamual, Arswendo, dan lain-lain), sastra drama dan teater pada umumnya (Rendra, Arifin C. Noer, dan lain-lain), bahkan ditunjang pula oleh dunia musik (Slamet Abdul Syukur, Suka Hardjana, dan lain-lain puluhan komponis muda), seni tari (Sardono W. Kusumo, dan lain-lain) dan seni rupa, (Hardi, Jimi Supangkat, Dede Es dan lain-lain) yang kesemuanya mencirikan pencarian estetika yang lain dari pakem-pakem realisme formal sejauh ini. 

Dan yang paling penting, kebangkitan estetika itu semuanya terjadi secara sinkron dalam tahun 1970-an, tatkala Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki serta Dewan Kesenian plus Institut Kesenian Jakarta memungkinkan seni-seni bersangkutan bisa sampai pada kita. Dengan menyebutkan TIM dan Dewan Kesenian Jakarta tentu saja saya tidak mengecilkan sinkronnya kebangkitan yang sama di daerah-daerah lain, seperti Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Padang, Medan, Ujung Pandang, Banjarmasin dan lain-lain.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »