Perumahan Hijau Royo-Royo - Kurniawan Junaedhie

ADMIN SASTRAMEDIA 10/07/2019
Perumahan Hijau Royo-Royo
Oleh Kurniawan Junaedhie


Perumahan Hijau Royo-Royo - Kurniawan Junaedhie

SASTRAMEDIA.COM - Karena sudah bosan kontrak, saya mulai berpikir untuk memiliki sebuah rumah sendiri. Dengan demikian, saya tidak direpotkan oleh urusan pindah kontrak setiap tahun. Mengingat perabotan saya setiap tahun pun pasti bertambah, hal-hal semacam itu memang sungguh keterlaluan. Jika dulu saya belum memiliki barang-barang elektronik,, sekarang hampir semua perabotan saya berlistrik semua. Tentu ini menuntut sebuah rumah kontrak yang punya watt tertentu. Di Jakarta, rumah-rumah kontrak yang memiliki aliran listrik besar sesungguhnya tidak susah juga dicari. Yang susah, terus terang saja, biayanya. Sebuah rumah kontrak —taruhlah paviliun — yang bisa dipasangi sebuah seterikaan listrik, sebuah kulkas, sebuah televisi, sebuah video dan sebuah tape-recorder saja, sekarang bisa mencapai Rp2,5 juta per tahun. Jadi, makin hari, makin tahun, ringkasnya, saya harus punya rumah sendiri. 

Gagasan saya itu, pacar saya sangat mendukungnya, bahkan calon mertua saya pun sangat mendukungnya, baik yang wanita maupun yang pria. Kesibukan baru pun segera muncul di antara kami. : Mertua, pacar dan saya sendiri mulai sibuk memburu-buru brosur perumahan kreditan dari BTN. Dari setumpuk brosur itu, pilihan saya akhirnya jatuh pada perumahan Hijau Royo-Royo yang terletak hampir 30 kilometer dari pusat kota. 

Tadinya saya mengira urusannya akan panjang berbelit-belit, ternyata gampang-gampang saja. Seminggu setelah saya menyerahkan KTP dan surat keterangan belum memiliki rumah dari lurah, ditambah rekomendasi dan referensi dari kepala bagian bahwa saya benar karyawannya, saya mendapat panggilan untuk membayar sejumlah uang muka. Saya melapor kepada kepala bagian dan dianjurkan agar menemui kasir perusahaan. Karena kasus saya bukan yang pertama kalinya dan ternyata itu sudah dilakukan teman-teman sekantor, urusan pun berjalan lancar-lancar saja. Perusahaan bersedia meminjamkan sejumlah uang untuk uang muka itu, dengan catatan, setiap bulan gaji saya dipotong. 

Rumah saya terletak di Blok Z persis di pinggir jalan utama yang selanjutnya saya lebih suka menyebutnya gang besar saja. Kenapa? Karena, perumahan Hijau Royo-Royo sesungguhnya lebih banyak dipilah-pilah oleh gang-gang kecil, dan jalan utama itu adalah satu-satunya gang yang berukuran lebih besar. Dan gang besar itu pun sesungguhnya dibagi dua jalur lagi. Hanya karena di tengahnya ada sebuah kali, dan bukan jajaran pepohonan rindang, saya merasa kecewa sekali, rumah saya tidak jadi terletak di sebuah avenue, padahal itu lebih keren. Lagi-lagi itu menyebabkan saya jengkel dan sebagai akibatnya saya 'suka mengolok-olok kali itu sebagai got besar saja. 

Lokasi itu sedikit-banyak toh membuat saya merasa beruntung. Pertama, karena sudah dipisahkan oleh got besar, saya tidak perlu berhadapan dengan penghuni depan rumah. Kedua, rumah saya akan aman karena kendaraan besar-kecil pasti akan berlalu-lalang di gang besar. Dan terakhir, karena gang besar dan got besar . itu niscaya rumah saya bernilai investasi tinggi. 

Sampai di situ segala urusan tampak lancar-lancar dan gampang-gampang saja. Begitu pula ketika saya harus meng-upgrade-nya, saya merasa segala kemurahan Tuhan mengucur untuk saya. Antara lain, saya tak butuh seorang arsitek pun untuk merancangkan desainnya. Saya cukup memotokopi gambar-gambar rumah dari majalah-majalah wanita dan dengan itu saya membuat desain sendiri yang sesuai dengan cita-rasa saya. Ketika pembangunan dilaksanakan pun, secara intuitif saja saya tidak memilih sistem borongan, melainkan mengupah tukang secara harian. Itu ternyata lebih menguntungkan mengingat tabiat saya yang cerewet. 

Begitulah urusan demi urusan rampung seperti diatur dari Atas. Sungguh seperti diberkati Tuhan saja. Yang tidak enak hati, hanya karena saya harus berhadapan dengan kasir perusahaan lagi. 

“Wah, belum saja mencicil, sekarang bon lagi," katanya mulai mangkel. 

Persoalan yang agak serius baru muncul ketika saya bersiap-siap akan menghuni rumah. Masalahnya saya buta lingkungan. Tapi lagi-lagi saya merasa beruntung karena saya bisa mendapatkan informasi dari cewek yang bekerja di kantor developer Hijau Royo-Royo. Misalnya, tetangga sebelah kiri saya adalah seorang wanita bernama Ny. Burda, seorang nenek, keturunan Indo. Selain dikaruniai tujuh cucu, Nenek Burda — begitulah akhirnya saya memanggil dia — dikaruniai 20 ekor. kucing yang lucu-lucu dari jenis angora. 

“Apakah ia tidak cerewet?" 
“Saya memang mau mengatakan itu. Tapi mana ada sih nenek yang tidak cerewet?" 
“Itu saya mengerti. Yang tidak saya mengerti, kenapa seorang nenek diperkenankan mengkredit rumah. Apakah pihak developer tidak khawatir kalau-kalau nanti ia...” 
“Mati? O, kan ada ahli warisnya? Tapi, saya rasa itu bukan wewenang saya untuk menjawabnya. Hanya satu lagi yang bisa saya beritahukan kepada Bapak, ia punya tiga anak yang sudah dewasa, tinggal di real estate P, terletak 90 kilometer dari Hijau Royo-Royo." “Jadi nanti ia akan tinggal bersama ketiga anaknya itu?"
“Saya sudah bilang, mereka tinggal di real estate P, 90 kilometer dari Hijau Royo-Royo.” 

Saya sudah membayangkan kerepotan yang akan ditimbulkan oleh tetangga satu ini. Apakah saya bisa diam saja, kalau pada suatu malam ia kedapatan sakit keras, sedang ketiga anaknya ada di 90 kilometer jauhnya? 

Saya lalu minta cewek itu membukakan file tentang tetangga sebelah kanan saya. “Namanya, Mrs. Hollywood. (Saya nyaris tertawa mendengar nama yang aneh itu, tapi, Itulah memang julukannya. Nama sebenarnya adalah Nyonya Sutinah. Tapi karena ia sangat cantik seperti artis Hollywood ia dijuluki Mrs. Hollywood. Tapi siapa yang menjuluki itu, jangan tanya saya.” 
“Apakah seperti Rebeca Gilling?” 
“Ya, kira-kira.” “Berapa umurnya?” 
“Kira-kira 40 tahun.” 
“Apakah ia tinggal bersama suaminya?”
“Wah, untuk itu tanyakan sendiri. Yang jelas dalam catatan saya, ia punya seorang suami. “Apakah sudah dikaruniai anak?”
“Itu pun sebaiknya ditanyakan sendiri saja sambil kenalan.” 
“Apakah ia cerewet? Maksud saya, apakah ia tidak lebih cerewet dari Nenek Burda.” 
“Itu saya tidak mengerti. Rasanya sih, tidak. Waktu ia membayar uang muka, seingat saya, ia tidak banyak omong. Yang banyak omong malahan saya, kok.” 
“Lho, kenapa bisa begitu?"
“Rupanya tadinya ia kurang mantap tinggal di Hijau Royo-Royo sehingga saya terpaksa ngecap panjang lebar sampai akhirnya Ia merasa mantap dan mengangguk. Pendeknya, sejujur-jujurnya saya mengatakan, Bapak termasuk beruntung punya dua tetangga kiri. kanan yang baik dan budiman.” 

Atas anjuran calon mertua, saya mengadakan sekadar selamatan dengan mengundang 20 tetangga — tak ketinggalan kedua tetangga saya di kiri-kanan itu — supaya perkenalan berjalan khidmat dan afdal. Ternyata selamatan itu tidak berjalan bagaimana mestinya. Sebab hingga jam yang ditentukan, tak seorang tetangga pun yang menampakkan batang hidungnya. Tidak juga Nenek Burda atau Mrs. Hollywood. Seolah-olah ulem-ulem saya dianggap angin lalu belaka. Karena saya kheki, saya panggil sejumlah tukang ojek dan tukang sayur, dan tumpengen itu saya serahkan pada mereka semua. Waktu itu saya benar-benar ingin melabrak, setidak-tidaknya Nenek Burda dan Mrs. Hollywood atas perlakuannya yang tidak senonoh dan tidak tahu etiket sosial itu. 

Rupanya memang kejadian itu pertanda buruk. Hingga sebulan saya menempati rumah pun, tak seorang tetangga mengunjungi saya, baik untuk menagih rekening kebersihan dan keamanan maupun untuk sekadar basa-basi. Memang saya sering melihat para warga melintasi rumah saya, tapi menoleh pun tidak. Hampir semuanya berjalan bergegas-gegas seperti sedang mencari dukun bayi. Suatu kali, pernah saya mencoba berdiri beberapa jam di depan rumah dengan maksud disapa, eh, tidak juga disapa. Benar-benar saya ini sudah dianggap beton saja atau sekadar pohonan peneduh. Lalu pernah juga saya berjalan berkeliling di perumahan itu, ternyata hampir semua rumah menutup pintunya. Dan barulah saya sadar bahwa rumah yang mempunyai jendela sebagaimana layaknya, hanyalah rumah milik saya. Karena gregetan, saya bolos seharian untuk melihat kegiatan para penghuni perumahan itu selama 24 jam. Hasilnya mengejutkan.

Pada pukul 05.00, saya dikejutkan suara berisik dari setiap rumah. Setengah jam kemudian, saya kaget oleh keriut pintu rumah yang dibuka beramai-ramai, seperti dikomando. Selanjutnya, para warga lelaki tampak bergegas-gegas memburu ojek untuk diantar ke halte terdekat. Kira-kira pukul 08.00, perumahan itu sudah sepi seperti kuburan. Hanya pada lagi. Hingga tengah hari, saya tak melihat kesibukan yang berarti. Baru pada sekitar pukul 16.00, keadaan sepi itu berubah total. Jalan utama yang saya sebut gang besar itu mendadak jadi marak seperti pasar malam. Babu-babu hilir-mudik dengan ganjen. Ada yang momong anak majikannya, ada yang kebut-kebutan dengan kaku seperti robot. Selanjutnya perumahan Hijau Royo-Royo kembali jadi kuburan. 

Peristiwa itu menyebabkan saya susah tidur sepanjang malam. Sebab sudah pasti, kalau rumah saya mengalami kebakaran, dijamin tak seorang pun tetangga yang mau menolong. Kehidupan sosial macam apa pula aa pukul 09.00 hingga pukul 10.00 saya catat, ada kesibukan baru. Para warga yang wanita serentak keluar rumah — seperti dikomando-mengepung para tukang sayur yang mangkal di beberapa blok jauhnya. Hanya dalam waktu singkat saja, kerumunan itu bubar meninggalkan para tukang sayur dengan gerobak sayurnya yang sudah ludes. Suasana menjadi hening sepeda mini, ada pula yang saling memoto dan ada pula yang sekadar bergenit-genit mencari perhatian entah dari siapa. Akhirnya, kira-kira pada pukul 20.00, gang besar di tepi got besar ramai lagi. Rupanya kaum pria sudah kembali dari kantor. Mereka berduyun-duyun melintasi rumah saya. Wajah-wajah mereka kusut seperti menanggung penderitaan berat. Leher-leher mereka juga sebetulnya yang sedang saya alami ini? Hanya kadang-kadang saya bertanya-tanya: apakah para warga itu selamanya akan betah dengan ritme kehidupan yang seperti robot itu? Untunglah, saya bisa melupakannya pada saat saya berada di: kantor, kecuali kalau jam kantor selesai dan saya harus pulang ke rumah, tiba-tiba saja badan saya seperti panas dingin. Sebenarnya timbul niat untuk menanyakan hal ini pada cewek di kantor developer itu. Tapi sejak ditandatangani akad kredit, secara formal, katanya, hubungan saya dengan cewek itu sudah putus. 

“Jadi kalau ada apa-apa, silakan Bapak berhubungan langsung dengan Bank Tabungan Negara," katanya. 

Keluhan saya ini akhirnya didengar teman-teman sekantor. 
“Sebaiknya menghubungi Kepala RT.” Ada juga yang menganjurkan, “Sebaiknya menghubungi Kapolsek.” 

Saya bilang, kedua-duanya saya tidak tahu terletak di mana karena saya warga baru, dan justru tak seorang pun sudi memberitahu hal itu pada saya. 
“Habis kau nggak jemput bola, sih,” kata pacar saya. “Jemput bola gimana? “Jemput bola ya jemput bola. jangan maunya nunggu. Aktif dan agresif dikit kenapa sih?” ujar pacar saya. “Cobalah berkenalan dengan Nenek Burda dan Mrs. Hollywood,” sarannya. 

Tak menyia-nyiakan kesempatan, malam itu juga begitu saya sampai di rumah tanpa sempat mandi, saya menyempatkan diri mengunjungi Nenek Burda. Sebagai pelicin hidup bertetangga, saya tak lupa membawa sekadar oleh-oleh berupa masakan yang saya beli sepulang dari kantor di restoran La Fontaine (asal tau saja, restoran itu tergolong restoran Prancis paling tersohor diJakarta). Kebetulan ia baru-saja menidurkan ke 20 ekor kucingnya sehingga ia tampak sangat santai. Saya diterima di teras rumahnya. Dan pada kesempatan pertama, saya serahkan oleh-oleh saya itu dengan berbohong sedikit bahwa itu buatan calon. istri saya, khusus untuk Nenek Burda, mengingat Nenek Burda tinggal sendirian di rumah. Tapi saya sangat kecewa, karena tanggapan Nenek Burda dingin-dingin saja. Sama sekali tidak menunjukkan surprise atau mengucapkan terimakasih. Nenek Burda hanya melongo dari kepala rantang, lalu seolah-olah melupakannya. Tapi yang membuat saya hampir tersinggung dan mau segera buru-buru pulang adalah karena saya sering dibiarkan bengong kalau saya berhenti bertanya. Contohnya begini: 

“Anak-anak Anda bergilir untuk memasakkan untuk Anda?” Dia hanya menjawab, “Tidak.” 
Karena saya tidak mengajukan pertanyaan baru, terjadilah jeda. Ini sangat tidak enak, membuat saya kikuk. Terpaksa saya mengajukan pertanyaan lagi, 
“Kalau begitu makan Anda bagaimana?” 
“Ada katering.” 
“Tidak repot?” 
“Tidak.” 

Karena saya tidak mengajukan pertanyaan baru, jeda lagi. Akhirnya tahu watak Nenek Burda, saya mencoba bertanya seperti mitraliyur. Begini: — 

“Dirumah, tidak ada pembantu. Bagaimana cara Anda membersihkan rumah dan lain sebagainya?” 
“Tidak apa-apa.” 
“Ada yang mengatur?” 
“Ya.” 
“Ada.” 
“Saya kok tidak pernah lihat.” 
“Setiap pukul 12 siang.” 
“Setiap hari?” 
“Hanya hari Minggu.” 
“Untuk apa?” 
“Membetulkan kran ledeng.” 
“Lalu?” 
“Menambal genteng bocor.” 
“Lalu?” 
“Memotong rumput-rumput.” 
“Lalu?” 

Tiba-tiba ia menguap dan tertidur sambil mendengkur. Pembicaraan yang makan waktu hampir tiga jam itu terpaksa diakhiri sampai di sini. Saya pulang, mandi dan selanjutnya tidak bisa tidur memikirkan tabiat Nenek Burda. 

Beruntunglah saya bukan orang yang gampang tersinggung. Esok paginya saya sudah bisa melupakan kejadian itu dengan gampang-gampang saja. Di bus yang mengantar saya ke kantor, saya malahan sudah bisa — seperti biasa — melamunkan adegan-adegan erotik dari wanita-wanita cantik yang saya temui di bus. Kenapa saya harus teringat pada wajah Nenek Burda? kenapa saya harus memikirkan perumahan yang buruk kehidupan sosialnya itu? 
“Bagaimana kalau rumah itu saya jual saja?” tanya saya pada pacar saya. “Biarlah saya kontrak lagi. Di rumah kontrak, saya tidak akan kesepian, meskipun kau juga tidak pernah datang.” 
“Jangan cepat putus asa. Sebaiknya dijajaki lagi dulu. Itu kan baru Nenek Burda. Bagaimana dengan tetangga sebelah kananmu?” 

Menyambangi Mrs. Hollywood bukan saya tidak mau. Tapi tidak mudah. Rumahnya hampir setiap hari sunyi senyap. Pun, di malam hari saat warga pria pulang kantor. Pada hari Minggu pun saya tak pernah melihat ada seseorang keluar dari rumahnya. Pintu pagarnya selalu terkunci rapat-rapat. Malah saya pernah memikirkan, barangkali Mrs. Hollywood sudah pindah. Sedang mau bertanya pada Nenek Burda, malas. 

Tapi pada suatu malam, ketika saya sedang asyik membaca Playboy, saya dengar suara kendaraan berhenti di sekitar depan rumah saya. Dari celah-celah gorden saya satu-satunya pemilik gorden jendela di perumahan itu — saya melihat seorang wanita jangkung turun dari sebuah taksi. Ia masuk ke rumah Mrs. Hollywood. Siapakah dia gerangan? Besoknya, waktu saya melanjutkan edisi Playboy berikutnya, lagi-lagi saya dikejutkan oleh hal yang sama. Dari balik gorden saya lihat, wanita yang kemarin, turun dari taksi, lalu masuk ke rumah Mrs. Hollywood. Esoknya, begitu pula. Ternyata peristiwa rutin. Pada hari keempat, saya nekad menemuinya, seturun wanita itu dari taksi. 

“Ada Mrs. Hollywood?” tanya saya. Wanita itu kaget melihat saya. Dan seperti melihat garong ia pun cepat-cepat menutup dan mengunci pintu rumahnya. Akibatnya, malam itu saya gelisah. Apakah ia benar Mrs. Hollywood? Kalau benar, apa kerjanya sehingga ia selalu pulang larut malam menyalahi ritme kehidupan perumahan Hijau Royo-Royo? Di mana suaminya? Di mana anak-anaknya? Mau bertanya pada Nenek. Burda, malas. Mau bertanya pada cewek di kantor developer itu, juga malas. Saya sudah menduga jawabannya, 

“Sebaiknya hal itu ditanyakan langsung pada Bank Tabungan Negara.” 

Paginya saya dikejutkan oleh ketokan di pintu pagar saya. Saya melihat wanita yang sering turun dari taksi setiap tengah malam itu berdiri di depan pagar saya. Saya persilakan ia masuk. “Maaf, saya mengganggu tidur Anda,” katanya. “Semalam saya susah tidur. Saya merasa telah menyakiti hati Anda. Soalnya semalam saya sangat kaget. Pada sangka saya, Anda seorang rampok atau semacam itu. Maklumlah zaman sekarang. Tapi sekarang saya sungguh-sungguh menyesal.”

Saya katakan, tidak apa-apa. Ia tak perlu merasa berdosa dan. meminta maaf seperti itu. “Tapi ngomong-ngomong, apakah Anda yang bernama Mrs. Hollywood?” tanya saya. Wanita itu terperanyak. 
“Betul. Betul. Kok Anda tahu?” Saya mencoba bercanda, “Nama Anda sangat terkenal.”

Wanita bernama Mrs. Hollywood itu tampaknya menikmati . pujian saya. 
“Rasa-rasanya saya pernah melihat Anda sebelumnya," katanya kemudian. 
“Oya? Di mana ya?” 
“Di rumah Nenek Burda.” 
“Ah, tapi itu sudah lama sekali. Dua bulan lalu, kira-kira tak lama setelah saya menghuni rumah ini." 

Perkenalan yang hangat itu, sayangnya tidak berlangsung lama, karena, “Saya meninggalkan rice cooker dan kompos gas dalam keadaan menyala.” Tapi yang paling menyenangkan hati adalah ajakannya, supaya saya mampir ke rumahnya pada hari minggu. 

Pada hari Minggu, sejak pagi hari saya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mrs. Hollywood. Maklumlah, ialah orang pertama yang menjadi kenalan saya di Hijau Royo-Royo ini. Tapi setiap kali saya melongok ke rumahnya, saya lihat pintunya masih tertutup. Bahkan lampu terasnya masih menyala pertanda ia belum bangun dari tidurnya. Sebagai iseng-iseng, saya mencoba membereskan kebun. Pada waktu itulah saya mendengar suara orang bersenandung dari arah rumah Nenek Burda. Karena ingin tahu saya melongokkan kepala saya melihatnya. Ternyata yang bersenandung adalah Nenek Burda sambil memandikan ke 20 ekor kucingnya di halaman. Dari jarak dekat itu, praktis, saya seperti mendengar orkestra, yaitu gabungan senandung Nenek Burda dan suara meongan kucing-kucingnya. 

“Selamat pagi, Nenek Burda,” sapa saya. Suara senandungnya berhenti. Ia mencari-cari datangnya suara. Saya ulangi lagi sapian saya. Nenek Burda menoleh ke arah saya. 
“Selamat pagi,” kata saya. Ia tersenyum dan mengangguk.
“Bolehkah saya meminta seekor daripadanya” tanya saya sekedar menggoda. Di luar dugaan, ia cemberut. 
“Tidak.” 
“Saya akan memelihara seekor anjing,” saya menggoda lagi. Ia melotot ke arah saya. 
“Apa katamu?” 
“Anjing.” 

Tanpa saya duga sama sekali, ia terbirit-birit mereyok batu-batu kecil di dekatnya, dan batu-batu kecilitu dilemparkan kepada saya. Saya berkelit di balik dinding. “ketika saya melongokkan kepala saya lagi, Nenek Burda sudah tidak tampak lagi, bersama ke 20 ekor kucingnya. Rupanya ia sudah masuk ke dalam rumah. 

Pada kesempatan saya diterima Mrs. Hollywood di rumahnya, tak lama sesudah ia bangun tidur, saya utarakan insiden itu padanya. Tapi Mrs. Hollywood tidak tertarik .sama sekali. Bahkan tanpa saya tanya ia menceritakan perihal dirinya sendiri. Umpamanya: Ketika membeli rumah di Hijau Royo-Royo ini, ia sama sekali tidak memberitahukan pada suaminya yang sejak dua tahun berselang berada di Berlin. Alasannya membeli rumah, karena tidak tahan tinggal bersama mertua perempuannya. Kenapa memilih tinggal di perumahan Hijau Royo-Royo, karena penghuninya diketahui, tidak suka mengosip seperti dialaminya dulu di rumah mertuanya. Singkatnya ia sangat kerasan tinggal di sebuah pemukiman yang warganya sangat individualistif. Dan tentang suami, mertua dan anak-anak, ia ngerocos begini.

“Kapan suami saya pulang? O, mungkin baru dua-tiga tahun lagi. Kemungkinan besar malah tidak pulang. Kenapa ia tidak pernah menulis surat atau menginterlokal saya dari Berlin, saya tidak tahu. Saya juga tidak pernah ingin tahu mengenai keadaannya. Banyak memang orang yang menganjur kan supaya saya ikut dia ke Berlin. Saya bilang, pokoknya nggak ada harapan deh. Saya sudah biasa hidup mandiri kok. Waktu kecil, saya sudah ditinggal orangtua saya. Waktu remaja, saya sering ditinggal pacar-pacar saya. Dan sekarang, sudah menikah pun, saya harus ditinggal suami. Ah, semua itu kan hanya soal-soal kecil saja? Kalau saya kesepian, ya tinggal telepon saja. Pacar-pacar saya pasti akan datang. Oya, Anda mau saya buatkan kopi atau teh manis? (Saya menggeleng). Ya, kadang-kadang memang saya kangen sama anak-anak. Anak saya dua. Tapi pikir-pikir itu juga baik untuk mereka. Tinggal bersama neneknya, itu juga baik dilihat dari satu sisi. Mereka jadi terlatih berdikari. Sebab hidup di zaman serba komputer ini, kan harus kuat? Kalau tidak dilatih dari sekarang, bagaimana? Susahnya juga kembali ke saya, sebagai orangtuanya, dong. Betul tidak? Eh, betul-betul Anda tidak mau saya buatkan kopi atau teh manis? (Saya menggeleng lagi). Memang ya, banyak yang bilang saya tidak pantas hidup sendiri, tanpa suami tanpa ana, padahal sudah menikah dan belum cerai. Saya jawab, sebodoh amat. Kenapa mereka tidak bilang sama suami saya, hidup sendiri, tanpa istri tanpa anak, padahal sudah nikah dan belum cerai? Soal seks? (Dia tersenyum) Sudah saya bilang tadi kan, no problem. O, pasti saya tahu, suami saya juga tidak tahan. Tapi itu urusan dialah. Benar-benar Anda tidak mau saya buatkan kopi atau teh manis? Tapi dipikir-pikir ya, hidup sendiri itu lebih enak, kok. Lebih manis, lebih praktis. Mau jungkir-balik, juga tidak ada yang ribut. Kita bisa menjadi diri kita sendiri, karena kita bebas berekspresi. Kamar saya tempeli poster-poster aktor kesayangan saya juga tidak ada ngomel. Yang memalukan adalah justru sebagai wanita kalau butuh apa-apa harus nebeng pada orang lain. Betul ini. Biar pun telat, saya mencoba mandiri. Tuhan itu maha adil, kok. Sejauh kita bisa memanfaatkan apa yang ada pada diri kita, Tuhan pasti memberi rezeki untuk kita. Bener, lho, saya tidak ngibul. Buktinya saya. Materi tidak kurang. Saya bahagia. Haha...” 

Esok paginya, begitu saya tiba di kantor saya menelepon pacar saya. Saya memberitahu padanya, dengan menyesal, bahwa keputusan saya sudah bulat untuk menjual rumah saya itu. 

“Karena Mrs. Hollywood juga memelihara 20 ekor kucing seperti Nenek Burda?” tanya pacar saya menyelidik. 
“Saya tidak tahu. Yang jelas, karena rumah saya terletak di gang besar dan di tepi got besar.”***

>Sumber: Horison, Oktober 1989

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »