Puisi Prismatis dan Transparan - Sapardi Djoko Damono

ADMIN SASTRAMEDIA 10/02/2019
Prismatis dan Transparan 
oleh Sapardi Djoko Damono



SASTRAMEDIA.COM - Prisma adalah kaca atau barang kristal yang berisi banyak dan merupakan paralelogram yang mengubah cahaya putih menjadi warna-warna bianglala. Jadi, sajak yang seperti prisma adalah sajak yang bisa mengubah satu warna (putih) menjadi bermacam-macam warna. Dalam sajak prismatis, suatu peristiwa atau kata atau citra mampu memberikan berbagai macam "warna” -atau makna. 

Kita ambil sebuah sajak Armijn Pane sebagai contoh. 

HAMBA BURUH

Aku menimbang-nimbang mungkin,
Kita berdua menjadi satu:

Gaji dihitung-hitung.
Cukup tidak untuk berdua.

Hati ingin sempurna dengan engkau,
Sama derita sama gembira,

Kepala pusing menimbang-nimbang,
Menghitung-hitung uang bagi kita.

Aku ingin hidup damai tua,
Mikir anak istri setia:

Kalbu pecah merasa susah,
Hamba buruh apa dikata.

Dalam sajak ini penyair berusaha menyampaikan kesulitan hidup seorang buruh. Si aku-lirik menginginkan hidup bahagia dan damai bersama anak istri, namun kehidupannya sebagai buruh menyebabkan keinginan tersebut tidak mudah terlaksana. Apa dikata, ia hanya seorang buruh, kenyataan itu membuat ”kalbu pecah” dan "merasa susah.” 

Armijn Pane rupanya ingin berbicara langsung saja kepada pembaca: sajak yang diciptakannya itu menyampaikan maksud penyair seperti apa adanya, warna putih yang dipancarkan penyair, putih juga sampainya kepada pembaca. Dengan demikian sajak itu tidak mengubah "warna putih” menjadi "bianglala”: jadi ia bukan prisma. Sajak Hamba Buruh” tersebut tidak prismatis karena ia tembus cahaya alias transparan. Dalam sajak transparan, makna yang disampaikan penyair muncul seperti apa adanya. 

Dua larik terakhir bait pertama adalah "'Gaji dihitung-hitung/cukup tidak untuk berdua”, tidak ada maksud lain di samping yang disampaikan itu. Demikian juga larik-larik pada bait kedua yang berbunyi ”Kepala pusing menimbang-nimbang/ Menghitung-hitung uang bagi kita” yang maksudnya si aku-lirik merasa bingung menghitung gaji yang tidak cukup untuk hidup. 

Di samping menulis sajak yang transparan semacam itu, Armijn Pane juga telah menghasilkan sajak yang prismatis, salah satu contohnya adalah yang berikut ini.

KEMBANG SETENGAH JALAN

Mejaku hendak dihiasi,
Kembang jauh dari gunung.

Kaupetik sekarangan kembang,
Jauh jalan panas hari,
Bunga layu setengah jalan.

Si aku-lirik memiliki meja, ia berkeinginan menghiasi meja itu dengan kembang yang berasal dari jauh, yakni di gunung. Seseorang (”kau”) memetik sekarangan kembang di gunung itu, lalu membawanya melewati jalan panjang (jauh) ketika hari panas. Akibatnya, bunga tersebut layu di tengah jalan, sebelum sampai di meja si aku-lirik. 

Itulah peristiwa, atau warna”, pertama yang sampai kepada pembaca seusai membaca sajak Armijn tersebut. Namun, sebagai makhluk yang suka bertanya-tanya dan "'curiga”, kita meragukan penafsiran itu. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di sebaliknya. Kembang erat kaitannya dengan keindahan: jaci, mungkin sajak itu mengandung makna, si aku-lirik (berasal dari gunung), namun ternyata sebelum sampai di kediaman si aku-lirik keindahan yang didambakannya itu telah layu. 

Mungkin juga sajak ini menggambarkan keinginan.si aku-lirik untuk mempersunting seorang gadis yang masih murni, yang dilambangkan dengan kembang dari gunung yang jauh. Keinginan tersebut ternyata sia-sia sebab gadis yang murni dan segar itu, yang diharapkan bisa ''menghiasi” hidupnya, sudah berubah sebelum mencapainya. Dengan demikian ''kau” dalam sajak ini bisa berarti orang yang membantunya mendapatkan pasangan hidup. 

"Warna” lain dalam sajak ini bisa muncul jika ”kau” ditafsirkan sebagai gadis yang ingin memberi kesegaran alami bagi kehidupan si aku-lirik. Namun, maksud tersebut tidak sampai karena yang segar itu ternyata menjadi layu dalam proses pelaksanaannya. Dalam hal ini, sajak Armijn tersebut menggambarkan tidak sampainya keinginan orang kedua untuk menyegarkan kehidupan si aku-lirik. Jadi, jelas bahwa dalam "Kembang Setengah Jalan” Armijn Pane menyodorkan sebuah peristiwa, namun yang sampai kepada kita ternyata bukan hanya peristiwa itu. Dengan kata lain, warna yang disorotkan penyair dalam sajak tersebut telah berubah menjadi sejumlah warna. Itulah sebabnya sajak yang demikian tergolong prismatis, seperti prisma. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »