Sajak-Sajak Idrus Tintin

ADMIN SASTRAMEDIA 10/09/2019
Sajak-Sajak Idrus Tintin

Sajak-Sajak Idrus Tintin


SIANTAN 1942

Kapal besi
di sela gunung gelombang
Laut Cina Selatan.
Di anjungan
Nakhoda berkacak pinggang
Tubuhnya dari tembaga
bersimbah asin pengalaman
dan kebencian kepada sang tuan
yang telah memerintah sekian abad.
Angin yang garang
topan musim utara
hujan tak mau reda
membaurkan angan-angan
kini dan nanti, sana dan sini
Nakhoda tembaga rindukan juga
anak-anaknya di tempat jauh
di balik sekian ribu gunung gelombang
di balik hari-hari yang melaju.
Berbisik sejenak dari gumpalan sepi
perlahan pintu laut menguak
angin laut membusakan buih
ke arah pantai dan bukit-bukit batu,
tanah Siantan.
Pasang mencium bibir air
bagai isak dan sedan
janda
yang suaminya mati tenggelam.
Kapai besi
nakhoda tembaga
menyusur pantai.
Rindu melekat di bukit terjal
yang tak kuasa ditanggalkan
merekam suara isteri dan anak-anak
seperti burung luka
mengucapkan kata-kata perpisahan
Bisik angin terlalu merdu
kicau murai terlalu sendu
amis darah amis laut
itulah rindu yang melekat
seperti burung kedidi yang menari
di pancang-pancang sepanjang teluk
wajah Siantan
di suatu pagi.

1987

KUALA ENOK 1949

Kisahkan lagi kepadaku, ibu
tentang bintang terang yang jatuh
mendadak, mendedas '
di atas Kuala Enok dulu
dalam badai mengamuk puncak
laut yang mabuk
bercampur maung mesiu
Lelaki harimau tebing bakau
tersungkur dalam hujan peluru
Ketika badai reda
angin pun berbisik
di langit putih
atas laut yang penuh bercak
darah
alun kecil-kecil menyanyikan
selamat tinggal
Ibu,
Sambil membisu
kau siapkan
seratus hari kenduri
untuk anak lelakimu yang
syahid
Ratip seratus magrib
la ilaha illallah la ilaha illallah
Dan dari kuala yang senyap
harimau tebing bakau itu
berubah menjadi
seekor burung hijau
terbang membumbung
menembus awan
menembus ruang dan waktu
ke tempat tertinggi

sebagaimana janji Mu

1987


NYANYIAN ANGSA

Seperti embun .
di ujung daun
segeser dari hampir
segaris dari nyaris
setitik dari sisi
sedetik dari sepi
Angsa jelita itu
menjulurkan lehernya.
alangkah dingin mata belati
alangkah silau matahari
dari hulu semua rasa
cuma seucap bunyi

RENUNGAN MENJELANG TIDUR

jangkrik mengorek. malam
bintang-bintang berbisik
angin dan dahan mengusap kaca jendela
tongkat yang bersandar di dinding
rebah sendiri
menimpa sepatu malu
kaca mataku kabur
uban di kepala tersipu
kerah dan lengan baju alangkah longgar
kopi di cangkir terlalu hambar
tiba-tiba
tiba-tiba saja
tibalah dia
garis vertikal miring mencong
mana yang horizontal
cahaya lampu lumer mencair
malam menjadi gunung besi hitam
suara
rupa
benda
bersatu
membersihkan tubuhku cuci-cuci
jangkrik terus mengorek malam
bintang-bintang bersiul perlahan
suara, rupa, benda, kembali ketempat semula
pangkal, tengah, dan ujung, awal dan akhir
semuanya sama

SAMPAI TIBA GILIRAN

Cerita tua tentang sebuah pohon tua
dan ini bukan dongeng )
Di negeri maha tinggi sepuluh dimensi
Pada malam lima belas bulan ke delapan
Sya'ban yang benderang
bulan bulat yang entah kenapa sekali ini
enggan membagi senyum
Tangan tangan para malaikat
menggoncang menggegar pohon tua
dan ini bukan dongeng
lalu daun-daun yang terpilih untuk gugur pun
gugurlah
bertuliskan nama orang-orang yang terpilih
untuk mati
Cerita tua tentang sebuah pohon tua
daun-daunnya bertuliskan nama manusia sedunia
salah satu di antaranya namaku
dan ini pasti bukan dongeng.

1987.

MALAM QADAR

Tadarus mengalir sejak petang
Seratus nama pilihan
Dan sebuah pelita di samping pintu
Kelap kelip untuk memberitahu
Kepada roh ibu bapaku
Di rumah reot inilah aku
Malam seribu bulan
Tahun depan belum tentu
Aku masih bersamamu
Sebagai tanda bagiku nanti
Pada malam seperti ini
Bacakan nama-nama pilihan itu
Dan tadaruslah sejak petang
Sebuah pelita di samping pintu
Kelap kelip untuk memberitahu
Kedatanganku ke rumahmu
Anak-anakku!

Rohku akan bertengger
Di kelopak mawar
Di kuntum melur mekar
Di getar sedap malam
Yang kalian pelihara
Sepanjang tahun


JENDELA

Sepuluh ribu kali selamat pagi
Sepuluh ribu kali selamat malam
Kicau murai, fajar dan embun
Uap asin dari laut yang. jauh
Bancuhan ketawa

air mata
mabuk
dan

doa khusyuk
bersatu dengan derit engsel berkarat
jendelaku yang ramah
Setiap kali kubuka
Selamat pagi dunia!
Setiap kali kututup
Selamat malam! Selamat malam!
teka teki sepanjang hari r
teka teki sepanjang hidup
bersatu dengan derit engsel berkarat
jendelaku yang ramah
duniaku yang tak pernah marah
Selamat pagi! Selamat malam! Selamat pagi! Selamat
malam!

1987


JEMBATAN
Al-mautu jasrun bainul habibi wal habib*

Nafiri melengking
gema bersambung sambung
di lembah ngarai dan gunung
melayah rendah:
di atas tegalan dan padang lalang
ujung gaungnya
memasuki kampung dan kota
mengetuk tiap pintu
Nafiri berbunyi
dan angin menghanyutkannya
membeku bisu
semua lagu dunia
semua kata-kata
membeku membisu
Nafiri berbunyi
dan sebuah jurang menganga
memisahkan
aku
dengan
Dia
Akulah si pencinta itu
yang kini tinggal sendiri
sesat dalam rimba lebat
Rahasia kami terpendam
dalam jurang
dalam jurang dalam
rahasia kami berdua
terpendam
dalam jurang ini
Nafiri berbunyi
dan jembatan pun terbentang
di antara
kami

*Kematian ialah jembatan di antara si pencinta dengan kekasihnya. (Hadis)


CAMAR DUKA

Musim berganti
dan sekawan camar
terbang menghindar
Kelabu semua kaca jendela
sekawan camar terbang pergi
dan sekawan lagi pergi
Ketika musim memang sudah berganti
seekor camar luka tinggal sendiri
mematuk-matuk kaca jendela
cit-cit cit-cit suaranya merendah
mematuk-matuk jendela hati
Camar luka camar duka
Kalau lukamu kering besok
Boleh engkau terbang lagi

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »