Tentang Keterampilan Berbahasa - Sapardi Djoko Damono

ADMIN SASTRAMEDIA 10/05/2019
Tentang Keterampilan Berbahasa
oleh Sapardi Djoko Damono

SASTRAMEDIA.COM - Salah satu tugas guru di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar adalah mengajarkan keterampilan membaca dan menulis. Tentunya hal itu didasarkan pada pandangan bahwa keterampilan tersebut akan dapat melancarkan proses diterimanya orang-seorang menjadi anggota masyarakat modern. Si buta huruf tentulah juga anggota masyarakat, namun rupanya kita beranggapan bahwa kemelek-hurufan memudahkan proses keanggotaan kita dalam masyarakat, di samping menentukan tempat kita di dalamnya. Bahkan, dalam kerangka pemikiran yang lebih jauh, kemelek-hurufan mungkin dianggap sebagai faktor penting dalam pelaksanaan demokrasi dan pengaturan hidup bernegara. Atas dasar itulah kita mengirimkan anak-anak kita ke sekolah agar bebas buta huruf, bebas dari semacam kegelapan yang tentu bisa menyulitkan hidupnya di kemudian hari. 

Keterampilan yang diterima anak-anak di Sekolah Dasar merupakan landasan yang kemudian harus terus dikembangkan di sekolah-sekolah yang lebih tinggi — dan juga terus dikembangkan di luar sekolah. Membaca tidak lagi berarti sekadar bisa membedakan huruf m dari huruf n, dan menulis tidak lagi berarti sekadar bisa membubuhkan titik pada huruf i. Membaca mencakup kemampuan yang semakin lama semakin tinggi untuk memahami dan menghargai berbagai macam karangan, dan menulis mencakup kemampuan yang semakin lama semakin unggul untuk menuangkan pikiran dan perasaan secara tertulis. Dalam pengertian semacam itu, melek huruf boleh dikatakan sama dengan terpelajar. 

Namun, dalam kenyataannya pengertian melek huruf tidak mengandung arti sejauh itu. Kalau dikatakan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia sudah bebas buta huruf, maksudnya tentu bisa membaca dan menulis sekadarnya saja. Anggota masyarakat yang digolongkan ke dalam "melek huruf” tersebut mungkin sekali masih mendapatkan kesulitan membaca berita utama harian Kompas, dan tentu masih mengeluarkan keringat dingin setiap kali menyusun surat lamaran pekerjaan. Para remaja yang duduk di sekolah menengah kita tentu tidak diharapkan menjadi anggota masyarakat semacam itu. Mereka dididik agar memiliki keterampilan berbahasa sebaik-baiknya demi lancarnya proses perubahan dan pembaharuan di negeri kita yang berkembang ini. 

Bahasa utama kita adalah Bahasa Indonesia: keterampilan mempergunakan bahasa itulah yang harus diusahakan sebaik-baiknya sejak awal. Dalam kenyataannya, usaha itu akan berlanjut terus sampal masa pasca-sekolah. Bahasa Indonesia hanya satu, tetapi banyak ragamnya. Yang dipergunakan untuk tawar-menawar di sebuah toko cita di bilangan Glodok Jakarta, tentu berbeda dari yang dipergunakan untuk khotbah di sebuah masjid di Bukittinggi. Yang dipergunakan untuk menyusun tajuk rencana Suara Karya tentu tidak sama dengan yang dipergunakan oleh seorang mahasiswa ketika menulis surat meminta kiriman uang tambahan kepada orang tuanya. Yang dipergunakan Amir Hamzah dalam puisinya lain pula. 

Bahasa Indonesia yang mana yang sebaiknya kita ajarkan kepada murid? Semuanya, kalau bisa. Dalam kenyataannya, mereka itu tidak hanya hidup untuk membeli cita saja, tetapi juga mendengarkan khotbah, membaca tajuk rencana koran, menulis surat ke orang tua, membaca cerita pendek, dan lain-lain. Namun, waktu dan kemampuan yang tersedia terbatas — oleh karenanya kita sebaiknya menentukan langkah-langkah terbaik dalam usaha memberikan keterampilan berbahasa tersebut. 

Tujuan pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah tentunya bukan hanya lulusnya murid dalam ujian. Mereka dibimbing dalam keterampilan berbahasa agar mampu memahami pelbagai karangan yang bisa menambah pengetahuan dan memperdalam pengalaman, agar tidak mengelirukan akta notaris sebagai puisi, agar mampu berkomunikasi dengan baik dan benar. Dan kalau kita berpendapat bahwa melek huruf itu mencakup keterampilan membaca dan menulis, tentunya sepasang kemampuan itu harus terus dikembangkan di sekolah menengah. Masyarakat pasti akan menyalahkan sekolah apabila ada anggotanya yang menulis skripsi penuh dengan simile, metafora, dan personifikasi, atau mengungkapkan pengalaman hatinya dalam bentuk yang sama dengan buku telepon

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »