Tiga Hambatan dalam Menghayati Puisi - Sapardi Djoko Damono

ADMIN SASTRAMEDIA 10/01/2019
Tiga Hambatan 
oleh Sapardi Djoko Damono



SASTRAMEDIA.COM - Penyair mempergunakan bahasa untuk menyusun puisinya. Kita tahu, bahasa bisa dipergunakan sebagai bahan berbagai keperluan di samping untuk menyusun puisi, berita, informasi, uraian, bujukan, dan sebagainya bisa juga disusun dengan bahasa. Semua teks yang tertulis itu tampaknya memang sama saja. Dengan demikian, sangat mudah bagi pembaca untuk mengelirukan berita, misalnya, dengan bujukan, atau puisi dengan informasi. 

Ada tiga hambatan utama yang harus sedikit demi sedikit kita singkirkan dalam usaha kita menghayati puisi. 

Yang pertama adalah anggapan bahwa puisi memberi kita informasi dan fakta. Anggapan ini bisa sangat kuat sebab terus terang saja memang lebih mudah berbicara mengenai karangan informatif daripada mengenai karangan kreatif. Memang lebih mudah membaca koran daripada puisi, dan karena puisi juga disusun dengan bahasa seperti halnya berita di koran, mengapa tidak boleh memperlakukan puisi sebagai berita saja? Mengapa tidak boleh memperlakukan puisi sebagai pemberi informasi tentang berbagai hal? 

Anggapan semacam itulah yang mendorong kebanyakan kita membaca Pengakuan Pariyem Linus Suryadi Ag sebagai kumpulan informasi mengenai berbagai segi kebudayaan Jawa, khususnya mengenai pernyaian. Tentu saja informasi” semacam itu kita temukan juga dalam sajak tersebut, tetapi ia hanya satu unsur saja dalam jaringan rumit yang disebut puisi. Kalau kita menganggapnya sebagai karya sastra, Pengakuan Pariyem tentunya tidak bisa dibaca begitu saja sebagai sekadar karangan informatif, seperti halnya berita di koran atau laporan. Kita pun tentu tidak bisa memperlakukan Mahabharata sebagai sekadar berita mengenai peperangan yang pernah terjadi di India, atau sebagai sekadar uraian mengenai filsafat India. 

Hambatan kedua adalah anggapan bahwa puisi merupakan karangan yang persuasif, yang membujuk. Iklan, misalnya, adalah contoh yang tepat untuk karangan jenis ini. Iklan berusaha membujuk pembaca untuk berbuat sesuatu, dalam hal ini untuk membeli produk tertentu. Dalam jenis karangan ini pembaca memang sengaja dibujuk untuk bertindak. Jadi, unsur propaganda kuat sekali dalam iklan. 

Harus diakui bahwa unsur membujuk mungkin saja ada dalam puisi. Dalam sajak Rendra Nyanyian Angsa, misalnya, pembaca dibujuk untuk berpihak kepada kaum lemah. Namun, itu merupakan salah satu unsur saja dari jaringan rumit dan kaya yang disebut puisi. Setelah membacanya, kita tidak langsung turun ke jalan, melakukan tindakan nyata seperti menangkap pastur dan dokter, dan kemudian menolong pelacur yang kena sipilis. Keseluruhan jaringan yang disebut puisi tersebut tidak akan membenarkan tindakan kita. Jadi, jika kita membicarakan puisi sebagai bujukan, kita telah memperlakukannya dengan tidak semestinya. 

Dalam kaitannya dengan hambatan ini, banyak di antara kita yang tertarik membicarakan puisi hanya apabila di dalamnya terdapat baris-baris yang serupa baris-baris iklan atau propaganda. Pembicaraan semacam itu memang bisa mengasyikkan, namun biasanya kita lantas melangkah ke luar puisi itu sendiri dan berbincang-bincang mengenai tindak .an-tindakan. Ini tentu tidak lagi merupakan pembicaraan mengenai puisi. 

Hambatan yang terakhir adalah anggapan bahwa puisi itu tidak mempunyai tujuan yang sungguh-sungguh. Puisi ditulis untuk sekadar mempergunakan waktu luang saja, dan merupakan hiburan yang ''menyegarkan” bagi pembaca, tanpa tujuan yang sungguh-sungguh. Anggapan semacam ini tidak jarang berasal pembaca yang justru bersikap "terlalu bersungguh-sungguh”, mereka beranggapan bahwa dalam puisi tidak terdapat informasi dan bujukan, jadi tidak ada apa-apanya. Dengan kata lain, puisi tidak bersungguh-sungguh sebab tidak memuaskan kebutuhan mereka untuk diberi informasi dan dibujuk. Saya kutip sajak Taufig Ismail: 

SILHUET 

Gerimis telah menangis 
Di atas bumi yang sepi 
Sehabis pawai genderang 
Angin jalanan yang panjang Menyusup-nyusup 
Menusuk-nusuk 
Bayang-bayang berjuta 
Berjuta bayang-bayang. 

Sajak tersebut tentunya akan dianggap "tidak bersungguh-sungguh” oleh sementara pembaca, hanya karena tidak memberi informasi penting tentang peristiwa atau gagasan atau filsafat, atau apa pun: ia juga tidak membujuk pembaca untuk bertindak. Jadi, untuk apa sajak itu ditulis? Tentunya untuk bacaan di waktu senggang, bukan? Dengan kata lain kita menganggapnya tidak bersungguh-sungguh. Tidak ada informasi yang disampaikan, dan tidak pula berhasil membujuk pembaca untuk mengambil suatu tindakan. Jadi, puisi adalah bentuk komunikasi yang sebenarnya tidak efisien. Demikian kesimpulan hambatan yang ketiga. 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »