Apa - Putu Wijaya

ADMIN SASTRAMEDIA 11/07/2019
Apa
oleh Putu Wijaya
Apa - Putu Wijaya

SASTRAMEDIA.COM -  “Apa sebenarnya yang hendak kau pertahankan?” tanya Samijo pada dirinya sendiri. Ia tertegun tak bisa menjawab. Langkahnya yang tadi ringan jadi seret dan kemudian berhenti. Ia seakan-akan baru terbangun dari mabuk panjang. Matanya bundar seakan-akan tak memiliki kesalahan. Seolah-olah nasiblah yang terlalu kurang ajar memburunya terus, jadi bukan karena ia malas, teledor atau bikin banyak dosa. 

“Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu menghadapi ini semua”, jawab Samijo kemudian. Tapi ia sendiri merasa jawaban itu tidak bagus. Cepat-cepat ditambahinya. 

“Aku ingin mengalahkan semua ini. Biar saja segalanya mempermainkan diriku, aku akan meladeninya dengan sabar dan tenang. Toh pada suatu saat nanti segalanya akan punya akhir. Kalau toh tidak, barangkali memang bagianku sudah ditakdirkan begini sebegini”. 

Untuk sementara ia puas. Lalu mulai melangkah lagi. Kini ia mencoba mengingat siapa sebenarnya yang telah mengeluarkan pertanyaan itu untuk pertama kalinya lalu ia ingat seorang wanita, temannya ngobrol ketika menunggu bus di jalan Setiabudi. Entah kenapa keduanya sama-sama menceritakan penderitaan yang mereka alami. Wanita itu mengakhiri pertemuan itu dengan pertanyaan yang sebenarnya ditujukan pada dirinya sendiri. “Untuk apa semua usaha-usaha kita ini?” 

Samijo menarik napas panjang, lalu membelok ke tukang warung Tegal. Ia melahap nasi setengah dengan dua potong tempe dan tahu goreng. Kecap dan cabe hijau ditelannya banyak-banyak. Sementara itu ja teringat pada anak dan istrinya. Kedua mereka itu kini sedang menunggu di rumah. Uang yang baru saja diterimanya dari penjualan emas perhiasan tadi di Pasar Senen, mereka butuhkan untuk mudik ke Yogya. Menjenguk eyang yang menurut suratnya sudah kangen sekali pada cucunya. 

Samijo ingat lagi, bukan sekali ini saja ia berbuat baik untuk anaknya, istrinya dan keluarga istrinya. Hampir sepanjang tahun, sepanjang umur perkawinan mereka. Ia merasa selalu berkorban. Selalu berusaha untuk menyenangkan hati mereka. Ia bahkan tidak banyak punya waktu untuk mengurus pekerjaannya sendiri. Apalagi mengurus keluarganya sendiri. 

Sering waktu sendiri Samijo dibuntuti oleh bayang-bayang muka ibunya, adik-adiknya serta bapaknya yang sudah lumpuh. Mereka semua membutuhkan pertolongan. Tapi Samijo jangankan menelpon, memikirkan keadaan mereka pun tak sempat. Malahan sering mengirim surat untuk mengeritik dan menyalahkan saudara-saudaranya yang terlalu mengandalkannya. 

Sambil meneguk secangkir kopi kemudian Samijo teringat juga bagaimana ia melarang keluarganya untuk datang. Tetapi untuk pulang, ia juga tak mau. Diam-diam sebenarnya ia sudah memutuskan hubungan. Diam-diam ia sudah makin banyak menempel ke tubuh keluarga lain, tubuh keluarga istrinya. Ini memang tak bisa dihindari karena Samijo selalu merasa punya kewajiban untuk menjaga ketenangan. Sedikit saja istrinya merengut, sedikit saja anaknya kelihatan tak senang, ia sudah bingung. Ia langsung menyalahkan diri sendiri. 

“Aku malu. Aku sebenarnya telah membiarkan diriku jadi budak”, kata Samijo sambil mengambil sebuah pisang goreng Ia mengangguk dan mulai mengata-ngatai dirinya. “Aku ini tolol. Tak punya sikap. Lemah. Selalu mengalah. Tak berani mengambil tindakan. Suk: disakiti. Maunya enak terus. Terutama sekali pengecut. Terutama sekali pengecut. Terutama sekali pengecut dan tidak mau menderita sedikit tidak mau menderita sedikit”. 

Tetapi sesudah ia habis-habisan menghina dirinya, ia kemudian membeli dua puluh potong tempe goreng, sepuluh biji pisang goreng untuk dibawa pulang. Pada akhirnya selalu begitu. Setelah ia mengeritik dirinya sendiri, ia kembali meneruskan tanpa peduli apa yang barusan dikritiknya. “Ini barangkali memang bagian dari nasibku'', katanya menerima uang kembalian. Ia memeriksa dompetnya dan kemudian memanggil sebuah becak untuk mengantarnya pulang. 

Aneh sekali setengah jam ia menunggu, tak ada becak, tak ada Bajaj, tak ada angkutan yang lain. Ia mencoba mencari di tikungan yang lain, tapi selalu penuh. Akhirnya ia nekat mencari taxi. Hebatnya taxi juga penuh. Ada beberapa yang kosong, tapi ketika ia menyebutkan tujuannya, tak ada yang mau. Mungkin karena terlalu dekat, atau arahnya bertentangan dengan daerah taxi. 

“Aku merasa aneh”, kata Samijo. “Belum pernah seperti ini”. 

Setengah jam berikutnya dengan berganti-ganti pojokan ia menghadang lagi. Kosong. Orang-orang yang berdiri di pinggir jalan untuk mencari kendaraan banyak sekali. Makin banyak saja, karena saat pulang kerja. Samijo menyumpah-nyumpah. Kemudian ia terpaksa mengalah dan berjalan. 

Langit kelihatan hitam. Hujan besar agaknya sudah mau menerkam jalan-jalan. Di jalur lambat kendaraan bermotor melesat dengan gila-gilaan. Samijo jadi pusing. “Sialan, nasib orang kecil memang selalu begini”, ujarnya. 

Tiba-tiba sekali sebuah mobil mengerem di dekatnya. Samijo tersentak, hampir saja memaki. Sebuah kepala yang dikenalnya menjulur ke luar. “Samijo!” “He kamu Soleh!” “Mau ikut tidak?” “Ke mana?”
“Ke Arab!" Samijo tercengang. “Ke mana?” “Arab!” 

Samijo tertegun. Banyak pertanyaan masuk kepalanya. Tapi entah kenapa kemudian ia mengangguk. “Tapi bagaimana...?” “Ah beres nanti diatur. Naik!” Samijo naik. Di rumahnya anak bininya menunggu dengan sia-sia. 

Dan seorang Dewa menulis di buku catatannya. “Hampir saja ia menggagalkan rencana kita. Untung kemudian segalanya berjalan menurut rencana. Selanjutnya tak ada kesulitan, semua berjalan dengan normal. Semua bisa dikuasai. Semua bisa diatur sebagaimana biasa”. 

Jakarta, 7 Januari 1981

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »