Ibu Pergi ke Surga: Elegi Sitor pada Bunda - Omni S Kusnadi

Ibu Pergi ke Surga: Elegi Sitor pada Bunda
oleh Omni S Kusnadi
Ibu Pergi ke Surga: Elegi Sitor pada Bunda - Omni S Kusnadi

SASTRAMEDIA.COM - "Ibu Pergi Ke Surga" dapat dianggap sebagai cerpen terbaik yang pernah ditulis Sitor Situmorang. Cerpen itu buat Sitor merupakan kenangan yang mengharukan atas kematian bundanya. Kecintaan Sitor kepada ibunya juga dapat kita lihat pada sajak-sajaknya:
ketika ibu meninggal

kutulis sajak
tentang derita
dunia melupakannya
kemudian kutulis cerita
bagaimana ia naik ke surga
Dunia terharu
tentang duka tak sepatah

("Membalas Surat Bapak", Dinding Waktu, 21)

Kenangan akan ibunya muncul kembali jika melihat lukisan “Potret Ibu” karya Affandi yang memperlihatkan sosok wajah keriput dimakan kerentaan. Lemah, pasrah namun menyimpan lagu kehidupan. Maka lahirlah sajak-sajaknya “Potret Ibu” (Dalam Sajak, 20) dan “Potret Ibu Oleh Affandi” (Peta Perjalanan, 9). A. Teeuw sendiri menilai cerpen tersebut sebagai kisah yang mengerikan tentang kematian seorang ibu tua yang kesunyian di tempat asalnya (Tergantung Pada Kata, 246). 

Cerita dimulai dengan situasi yang mengharukan ... “Ibu akhirnya meninggal setelah mengidap penyakit dada satu tahun saja. Badannya yang tua dan aus pada usia 65taktahanlebih lama menolak rongrongan kuman-kuman yang merajalela di paru-parunya. Obat tak terbeli: makanan tak tercukupi di kampung jauh di pegunungan, apalagi perawatan yang semestinya. Setelah ia meninggal aku mengucapkan: Syukurlah! dalam hati. Terlalu penderitaan si tua itu.

Kematian ibunya bagi Sitor merupakan peristiwa yang semestinya, bahkan diharapkan pengarang. Mengingat penyakitnya dan kerentaan usia serta perawatan yang kurang, kematian adalah hal yang wajar untuk orang tua itu dan mungkin dapat menolong penderitaannya. Tetapi kematian ibu jelas mendatangkan kesedihan yang sangat. Siapa pun orangnya tidaklah dapat melupakan begitu saja kasih bunda pada anaknya (kecintaan yang tanpa pamrih). Begitupun dengan Sitor, ia merasa kehilangan, apalagi mengingat “karena hati penuh kasih' (Dalam Sajak, 30). 

Tak ada alasan sepertinya bagi si tua untuk bertahan hidup. Kesiapan menghadapi kematian, sebagai hal yang lumrah dari kekuasaan alam. Apalagi mengingat bersama bapak (yang jauh lebih tua)ia tak punya apa-apa lagi di dunia untuk menjadi alasan hidup terus. Kedua anaknya merantau. Rumah begitu besar terasa kosong, mereka mengembara dalam rumah seperti dalam ruang kuburan besar, betapa sunyinya! Kerabat dan sanak saudara tak ada yang mau singgah, karena apa yang hendak dipercakapkan si tua nyinyir serta istrinya yang sudah dekat mati? Demikianlah Sitor dengan berhasil menggambarkan situasi bathin dan kehidupan yang sunyi dari kedua tua renta itu. 

Kita dapat merasakan betapa sepinya hidup orang tua renta itu. Apalagi bagi si ayah, kesunyian macam apalagi yang dialaminya jika ia ditinggal pergi istrinya, teman hidup satu-satunya yang setia mendampinginya. Maka ketika anaknya yang sulung datang sendiri tanpa mengajak istri dan anaknya ia merasa tak ada lagi hiburan di dunia, lantas si tua itu pun berkata: “kalau ibumu mati, aku pun tak lama lagi hidup, sedang cucuku belum pernah kulihat.” (hal 90). 

Si ibu adalah jemaat yang sejati, pengunjung gereja yang setia dan pengikat persatuan jemaat. Tak percaya pada tahyul tetapi terkenal sebagai peramu obat-obatan tanpa mantra. Lain dengan si bapak, walaupun ia orang yang 'tirajakan' (sejak sebelum Zending dan kompeni datang) serta mempunyai hak istimewa di gereja (duduk dekat pendeta di atas kursi besar menghadapi jemaat) tetapi masih percaya kepada tahyul dan mantra-mantra. Sang ibu meninggal tepat pada malam Natal, malam yang dikuduskan umat kristen. Menurut tradisi orang yang meninggal di hari-hari besar apalagi hari suci petanda luhur hidupnya. 

Melihat struktur ceritanya yang hampir sempurna, penuturan yang lancar dan jernih serta plot yang menawan, tak pelak lagi kalau kita menganggap cerpen Sitor yang satu ini boleh mendapat pujian sebagai cerpen yang terbaik. 

Tetapi di luar dari semuanya itu, kita dikejutkan oleh sikap dari tokoh si anak yang tak betah dengan lingkungan keluarganya dan tak akrab dengan masyarakatnya, kentara dari ungkapan-ungkapan dalam cerita pendek itu seperti: 

“Lalu aku menyesal sedikit karena datang juga memenuhi panggilan. Hampir aku mau pulang saja lagi ke pekerjaan di pulau Jawa' (hal. 90). Juga ketika disapa oleh seorang tua (dari masyarakat kampungnya) yang ingin mengajaknya berkomunikasi, “Mari bercakap-cakap. Apa saja kabar dari Jakarta' Si anak tak memberikan respons sebagaimana layaknya orang yang rindu dengan kerabat sepulang dari rantau, malah si anak berusaha menghindar, 'saya minta maaf lalu pergi ke luar rumah' (hal. 92). 

Sikap-sikap seperti itu mewakilkannya sebagai orang asing di kampung halamannya sendiri, terlepas dari perbedaan suasana alam (kota ramai, sedangkan kampung sepi) atau suasana pergaulan (kota individualis sedangkan kampung familier). Ia lebih merasa sebagai “Si Anak Hilang yang tak betah di kampungnya dan tak berkampung di rantau. 

Parung, Desember 1986.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »