Inmemoriam Penyair Hartojo Andangdjaja - Slamet Sukirnanto

ADMIN SASTRAMEDIA 11/28/2019
Inmemoriam Penyair Hartojo Andangdjaja
oleh Slamet Sukirnanto


Inmemoriam Penyair Hartojo Andangdjaja - Slamet Sukirnanto

SASTRAMEDIA.COM - Saya bertemu kembali dengan mas Hartojo (demikian aku sering memanggilnya) tahun 1963 di Jakarta, ketika saya lulus dari SMA Negeri II Solo, datang ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah di Universitas Indonesia. Hartojo Andangdjaja tinggal di kantor majalah anak-anak Si Kuncung, di jalan Moh. Yamin, di kawasan Menteng. Ia menempati kamar paling belakang dekat kamar mandi. Ruang kamar tidak begitu luas, namun cukup longgar untuk dihuni satu orang. 

Kantor majalah Si Kuntjung tidak besar, bentuknya memanjang. Kamar depan yang merangkap sebagai kamar tamu dijadikan kantor redaksi. Dua kamar di tengah untuk gudang majalah yang belum beredar dan kamar yang satu lagi untuk gudang barang bekas. Di sinilah untuk sementara, sebelum saya menemukan rumah famili, tempat saya menumpang. Kemudian hari saya ketahui di kantor majalah inilah para seniman berkumpul tiap hari, di samping Balai Budaya, di kantor majalah Sastra, Mantu ek atau di rumah Wiratmo Sukito yang mondok di rumah musisi Binsar Sitompul. Di tempat inilah setiap saat, khususnya sore Geri hingga mencapai tengah malam berkumpul Goenawan Mohamad, Arief Budiman, Trisnoju, Furnawan Tjondronegore, pelukis Syahwil dan lain-lainnya. 

Kesan pertama yang saya tangkap dari penampilan penyair Hartojo Andangdjaja (meskipun saya sudah mengenalnya selama di Solo dan sudah membaca beberapa puisinya sejak lama), dia senantiasa tampak berwajah murung, seperti banyak yang dipikirkian, pendiam dan serius, sedikit bicara dan suaranya lirih dan lambat. Berpakaian sederhana, selalu memakai baju putih lengan pendek. Di kamar, ia selalu memakai piama atau jas kamar, saya belum pernah melihat dia memakai sarung. 

Kalau terjadi perdebatan atau perbincangan seru ia lebih banyak diam dan mendengarkan, namun sekali bicara sangat prinsipal dan pendapatnya selalu diperhatikan kawan-kawan yang lain. Sepintas lalu penampilannya acuh tak acuh dan kalau banyak kawan yang kumpul, ada perasaan terganggu, tetapi tidak diucapkan. 

Di kamarnya, di meja belajar yang kecil bertumpuk buku-buku puisi karya Jan Jacob Slauerhoff (18981936), seorang dokter-pelaut dan pengembara, Hendrik Marsman (1899-1940) penyair individualis dan nihilis yang meninggal tenggelam bersama kapal yang ditumpanginya waktu ia berlayar menuju Inggris. Kedua penyair ini telah mempengaruhi persajakan Chairil Anwar. Juga karya Willem Elsschot (1882-1860) dan Herman Gorter (1864-1927) dan sejumlah majalah-majalah dalam bahasa Belanda. Juga karya-karya Tagore dalam bahasa Inggris dan banyak poket Book, berisi kumpulan cerpen dan puisi dalam bahasa Inggris. Nampaknya, ia sangat menguasai bahasa-bahasa itu dan sedang mengadakan studi mendalam. 

Dalam berbagai kesempatan ia selalu berbicara tentang Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Saya, karena cara saya membawakan diri sebagai anak muda waktu itu, yang sedang belajar sastra dan menulis puisi, secara khusus banyak mendapat kesempatan dan penjelasan tentang masalah-masalah puisi, dan bagaimana memahami puisi, bagaimana proses menulis puisi. Bagaimana ia berbicara tentang Tagore dan karya-karya puisinya, tentang Slauerhoff, Marsman, Chairil Anwar dll. Dan percakapan berdua ini biasanya di kamar atau di taman Lembang (Menteng) di tepi telaga buatan. Di sanalah, di tengah malam kami berdua menghabiskan waktu, kadang hampir menjelang pagi. 

Ada suatu cerita yang mengharukan, yaitu seringnya kami kesulitan uang dan makan. Zaman itu sungguh masa penderitaan lahir dan batin. Kami sering kali makan hanya sehari sekali, terlalu banyak minum untuk menahan lapar. Kadang hanya makan singkong goreng atau singkong rebus, minum bajigur atau teh tawar saja. Pada suatu ketika, berhari-hari kami menahan lapar karena tidak makan. Namun, suatu malam ketika kami lemas di kamar, datang pelukis Syahwil dengan gaya dan sikapnya yang selalu optimis, tanpa bertanya, hanya memandangi kami berdua, langsung merogoh saku, menjatuhkan setumpuk. uang (pada zaman itu zaman inflasi) diatas tempat tidur. Wajah kami berubah karena gembira. Langsung mandi dan pergi ke jalan Surabaya yang jaraknya hanya dua puluh meter, memesan makanan yang enak, sate dan yang lain, pesan kopi. Kami berdua makan sekenyang-kenyangnya seperti ada naluri untuk persediaan seminggu. Memang pada saat itu, kawan-kawan dari Sanggar Bambu (di Jalan Muria) selalu jadi juru selamat, selalu menjadi tempat kami mencari makan atau meminta uang. Bahkan ketika saya akan masuk dan mendaftar (setelah lulus testing) pada jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI, karena kiriman terlambat, mendapat bantuan dari pelukis Sunarto Pr (sekarang bermukim kembali di Yogya). 

Setelah andrawina (makan kenyang di pinggir jalan Surabaya), kami berdua menuju Taman Lembang di Menteng, berbicara lagi tentang kesusasteraan, seni, sosial politik atau sosial budaya. Tapi yang lebih intens adalah berbicara tentang puisi. Seolah-olah kita tidak memikirkan bahwa sebelumnya kami berdua lemas karena lapar di kamar. Dan anehnya kami juga tidak pernah memikirkan sungguh-sungguh dihari-hari mendatang hidup (mencari makan) dari mana. Memang kehadiran kami masing-masing di Jakarta, lebih terpusat pada merebut ruang hidup dalam seni dan kebudayaan, mengejar sesuatu yang sesungguhnya secara jujur, formulasinya belum jelas. Namun, ada sesuatu yang sedang kami geluti dan kami perjuangkan. 

Dalam gelanggang sastra, ia dikenal sekitar tahun 40-an dan 50-an di kota kelahirannya Solo. Ia ikut mewarnai kegiatan sastra di kota kebudayaan ini. Bahkan pencetus Hari Puisi bersama-sama Armaya, Mansur Samin, Mulyanto DS, Elanda Rosi DS dll. Bahkan pada zaman ini, puncak ketenaran penyair Kirdjomuljo yang bermukim di Yogyakarta memberi pengaruh pada para sastrawan Surakarta. Karya-karya penyair Hartojo Andangdjaja telah banyak dimuat di berbagai media sastra. Pada zaman itu, ja telah terpengaruh dengan puisi-puisi Rabindranath Tagore yang halus dan lembut bernada Ketimuran yang propetik itu. Dan pada masa ini sudah terbit karya-karya Tagore dalam terjemahan Bahasa Indonesia, baik yang diterjemahkan oleh Amir Hamzah Setanggi Timur atau terjemahan lengkap dari Gitanyali yang diusahakan oleh Amal Hamzah seorang penyair masa Zaman Jepang, adik Amir Hamzah). Puisi awal dari Hartojo bernada lembut, landasan kemanusiaan dan manis, temanya tidak melukiskan sesuatu yang nyata, tapi merupakan tanggapan jiwa. Seperti puisi yang berjudul Orang Asing, saya turunkan di sini:

Dia datang dalam kehijauan pagi
datang dari hati musim semi
dibawanya melati dan cactus berduri
di jemari kanan, di jemari kiri.

Hari-hari dia bekerja ditepi telaga
tempat keramat daerah kami
mengisi gendi sambil bercerita.

dinegeriku
kerajaan bunga dan warna
bertahta suatu kuasa
dahaga.

Dan penghabisan kali pergi” mengayun lenggang di kebun ini ditanamnya sekuntum putih: hadiah bagiku yang penghabisan kali (dari Medan Sastra dan dikutip dari Agenda Seni Sastera 1954 diterbitkan oleh Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Kem. PP&K, Yogyakarta). Atau puisi yang berjudul Pemburu, seperti berikut:

Seperti katamu kita pemburu menapak di perbukitan
di bawah menggelombang kemilau hutan
dengus kijang harum bau musang
menusuk rangsang
dan dijauhan burung-burung berkejaran
kita berjalan dan sekali tertegun dalam bimbang: 
dipundak kanan memberat hitam senapan
dipundak kiri kita sandang kasih sayang
tapi merak berteriak dikejauhan
memanggil panjang: pemburu, lemparkan
buang kasih sayang, dimukamu hutan menggelombang
dan liar kita buang kasih sayang
kita menuruni perbukitan menembus kelubuk hutan
dan hidup dalam rangsang deram letusan, jerit
kematian hewan-hewan
dan diakhir perburuan terkejut kita menatap 
nyalang
sendiri, seperti terjaga dari mimpi
ditengah bangkai-bangkai berkaparan dan sia-
sia mencari
kasihsayang yang jauh hilang

(puisi ini kemudian dimuat dalam antologi bersama penyair lain seangkatannya dalam buku Manifestasi, penerbit Tintamas Jakarta, 1963, dengan kata pengantar Ali Audah). 

Dua buah puisi Orang Asing dan Pemburu adalah merupakan puisi awal dari kepenyairan Hartojo Andangdj aja, yang banyak diilhami semangat dan Jiwa dari puisi Tagore. Hartojo yang ikut merintis terselenggaranya Rubrik Sastra RRI Solo dalam setiap pembukaan acara selalu didahulu pembacaan puisi Mukadimah karya Hartojo Andangdjaja. Tahun 60-an ketika saya masih sekolah SMA dan mulai berminat dalam penulisan puisi, selalu ikut siaran membaca puisi di RRI dalam asuhan penyair Mansur Samin, Elanda Rosi DS, Mochtar Hadi, Budiman S. Hartojo, Sutarno Prijomarsono. Sebagai sastrawan (penyair), ia selalu mempertanyakan dan sekaligus merumuskan hakikat dan pemahamannya tentang sastra maupun tentang puisi (sajak), seperti halnya yang dilakukan oleh Sanusi Pane, Rustam Effendi atau Tatengkeng. Tentang puisi ia berkata dalam sebuah puisinya yang berjudul Sajak, ia berkata:

Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari jejakmu,di dunia
Ia mengelana di tanah-tanah indah
lewat bukit dan lembah
dan kadang tertegun tiba-tiba, membaca
Jejak kakimu di sana

Sementara di mukanya masih menunggu
yojana biru
kakilangit yang jauh
jarak-jarak yang harus ditempuh

Ia makin rindu/dalam doa, dan bersimpuh:

Tuhanku...

Sajak ialah kenangan yang tercinta
mencari Jejakmu, di dunia.

Tidak berlebih-lebihan kiranya pada pembicaraan diatas kami sebutkan bahwa. Hartojo mempunyai kecenderungan propetik dalam penulisan puisi yang paling sadar dan paling awal, seperti halnya pada puisi Mohammad Saribin Afn., Suparwata Wiraatmodjo atau yang lebih senior Bachrum Rangkuti dan yang lain. Sejak semula, demikian yang menjadi landasan kepenyairannya, sajak adalah upaya mencari jejak Tuhan di dunia, dalam kehidupan dan dalam alam. Konsepsinya tentang puisi sangatjelas dan sederhana, namun kentara mendalam. Dalam landasan yang propetik itulah sentuhannya pada manusia, alam dan kehidupan sebagai upaya mencari jejak Tuhan di bumi sering menemukan arus kemanusiaan yang mendalam, menghayati dan menggali arti cinta kasih pada sesama, dan bersatu dengan mereka yang menderita dan yang bergulat dalam mencari dan mempertahankan hidup. Maka, tidak heran apabila ia selalu dekat dengan orang kecil yang lemah, seperti dalam puisinya Buat Saudara Kandung, coba perhatikan:

Kemanakah engkau,saudara
Orang-orang lemah dan ladang-ladang tidak
berbunga
dan anjing,yang mengais siang hari
malam-malam menangis panjang sekali

lenguh lembu dikejauhan
menyebar kabar kemurungan
sebuah dusun yang tenggelam
kampung merana kekeringan
cinta. Wajah-wajah menengadah cawan:
kami kehilangan

dan kota mengepul debu /didadanya oto dan ra
dio menderu
seperti biasa:
kesana kita, saudara

Sesudah sekian ketika
ladang tidak berbunga
orang-orang lemah dan mereka
jalan sudah begini jauhnya
(Kisah).

Kota kelahirannya, dengan warna kehidupan dan corak hidupnya yang tenang tetapi penuh pergolakan hidup selalu membayangi dirinya dan selalu mengingatkan dalam menemukan sumber inspirasi yang pokok, khususnya tentang keperkasaan perempuan dalam bergulat dengan hidup, perempuan-perempuan desa di sekitar kota Solo, Kalioso, Sukohararjo dan sekitarnya, yang pagi hari telah meneteskan keringat membawa beban dagangannya menuju kota. Perhatikan puisi Perempuan-Perempuan Perkasa, yang dimuat dalam majalah Horison, Th. I No. 2, Agustus 1966. Saya kutip seluruhnya (lihat hal. 773 Red). Adapun pemukimannya selama di Pasaman Sumatera Barat telah memberi kesan yang mendalam tentang alam tanah Minang dan pencariannya yang kaya dan inovatif bentuk pantun, kentara dalam puisinya Pantun Tidak Bernama, saya kutip pada bagian ke 3 yang bertutur:

Ada pantai diujung Pasaman
ada bukit melingkar hutan
Ada sangsai diujung angan
ada sakit dilingkar rawan

Ada bungan meratap di ladang
tertinggal jauh nun diseberang
Ada mata menatap berlinang
tertinggaljauh dibalik kenang

(Sastra, Th.I No.2, Juni 1961) atau sajaknya yang sangat bagus Pantun Di Jalan Panjang (Pasaman-Bukittinggi):

Mobil tua merangkaki jalan panjang
mengerang disepanjang bibir tjurang
Dari jendela berlepasan mimpi-mimpi kebalik
kenang:
sebuah ladang, dua hati dan satu bisikan: ah
abang

Mesin tua bergegar mendaki tanjakan
roda-roda meraba jalanan berhujan
Cinta lama terkibar dalam angan:
dua bersua,satu meminta, lain memesra: ja
ngan
Bangsi terdengar di kaki bukit
nyanyian menyangsai kelengkung langit
Janji tersebar didangau alit
tangan melambai mengucap pamit

(dikutip bait 1,2 dan 3 dari SastraTh.II,No.7,1962).

Puisi-puisi yang bernada pantun, ini lahir dari studi tentang pantun seperti yang pernah diungkapkan dalam esainya Pola-Pola Pantun Dalam Persajakan Modern (dimuat dalam Sastra, TI, No.6,1962) atau esainya tentang Haiku (lihat hal. 769 — Red). Sebagai seniman dan intelektual ia pada masa sulit tahun 60-an, dan memuncak tahun 1964 berbicara tentang keterbatasan berbicara dan keangkuhan kekuasaan pada zaman Orde Lama, seperti tergambar dalam 'puisinya 1964 (lihat hal. 772-Red) dan Sebuah Lok Hitam, saya turunkan selengkapnya:

Sebuah Lok Hitam
buat Sang Pemimpin
Sebuah lok hitam
terlepas dari gerbong
sendiri melancar dalam kelam
ia menderam ia melolong ”
Ada lok hitam melancar sendirian
Kami yang melihatnya bertanya keheranan:
ke manakah lok berjalan
adakah stasiun penghabisan
Jauh di depan tak ada sinyal kelihatan
Jauh di depan hanya malam terhampar di jalan

Dari tema-tema ini yang paling terkenal dan sering dibacakan adalah puisinya yang terpanjang yang ditulis di Tanah Minang. ialah: Rakyat (lih. hal. 773 Red) 

Puisi-puisi Hartojo Andangdjaja ialah secara tidak langsung, namun sadar menjawab konsep kepenyairan dari keadaan saat itu, seolah-olah ada keterlibatan dan kesadaran kemanusiaan dan merupakan puisi gelap seperti yang dilontarkan oleh golongan Lekra/PKI. Dari puisi Hartojo jelas bahwa masalah kemanusiaan, kemasyarakatan dan kejelasan puisi bukan monopoli dari mereka. Puisi Hartojo jelas, sederhana, mudah ditangkap dan tidak kehilangan kadar puisi dan kepenyairan. Bahkan ia bisa mengungguli mereka yang menuduh golongan Manifes Kebudayaan. Meskipun, pada periode selanjutnya tahun 70an Hartojo Andangdjaja tidak mengikuti perubahan-perubahan dalam pengucapan puisi kontemporer. Tetapi ia telah menyumbangkan terjemahan yang sangat berharga: Tukang Kebun puisi Rabindranath Tagore, Kubur Terhormat Bagi Pelaut puisi karya J. Slauerhoff, Musyawarah Burung karya puisi sufi Faridu'ddin Attar. Semua diterbitkan penerbit Pustaka Jaya. Sepanjang pengetahuan saya, Hartojo sebagai penyair belum ditempatkan semestinya dalam perkembangan puisi modern dan dalam sastra Indonesia baru. Banyak generasi sekarang yang kurang memahami latar belakang kepenyairan sastrawan ini.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »