Peran Sastra dalam Pembentukan Pribadi Anak Indonesia - Sunu Wasono

ADMIN SASTRAMEDIA 11/26/2019
Peran Sastra dalam Pembentukan Pribadi Anak Indonesia
oleh Sunu Wasono


Peran Sastra dalam Pembentukan Pribadi Anak Indonesia - Sunu Wasono

SASTRAMEDIA.COM - Mengawali kegiatannya, pengurus baru Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Hiski) Komisariat DKI di bawah pimpinan Dr. Panuti Soedjiman bekerja sama dengan Fakultas Sastra Universitas Nasional, pada tanggal 11 Desember 1989 mengadakan diskusi panel dengan mengambil tema “Peran Sastra dalam Pembentukan Pribadi Anak Indonesia.” Diskusi tersebut dilaksanakan di Aula I Kampus Universitas Nasional dengan menampilkan tiga pembicara: Murti Bunanta, S.S., M.A.: Agung Artini Mataram, S.S.: dan Soekanto SA. 

Murti Bunanta membahas pengertian sastra anak dan menjabarkan manfaat yang dapat diperoleh anak dari nilai intrinsik sastra yang baik. Berkaitan dengan soal yang pertama, Bunanta membedakan bacaan sastra dengan bacaan trivial (trivial literature). Bacaan yang settingnya begitu-begitu saja, tokoh-tokohnya tidak berubah, ceritanya tak digarap secara mendalam, dan jalan ceritanya mudah ditebak, bukan bacaan sastra. Bacaan demikian lebih tepat digolongkan sebagai bacaan pop atau bacaan massa. Selanjutnya, pakar sastra anak ini berpendapat bahwa buku yang mengandung perasaan sentimental dan nostalgia bukanlah buku untuk anak-anak. Buku bacaan anak yang baik menurutnya harus mempertimbangkan pembacanya (anak-anak). Isi bacaan anak dibatasi oleh pengalaman dan pengertian anak-anak, respons-respons tertentu dan respons psikologis tertentu di luar alam hidup anak. 

Berkenaan dengan soal kedua (manfaat), Bunanta mengatakan bahwa banyak nilai intrinsik karya sastra yang bermanfaat bagi anak, yakni (1) sastra memberikan kenikmatan: (2) sastra mengembangkan imaginasi, (3) sastra memberi pengalaman pengganti: (4) sastra mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia: dan (5) sastra menyuguhkan pengalaman yang universal. 

Pembicara kedua, Agung Artini Mataram lewat makalahnya berjudul “Usaha Melestarikan Warian Nenek Moyang Melalui Cerita Berbingkai” menawarkan ide kepada para penulis cerita anak untuk menggali dan memanfaatkan khazanah sastra lama dalam membuat cerita anak dengan cara mengisahkan kembali. Cerita berbingkai merupakan salah satu bentuk karya sastra lama yang memungkinkan untuk digarap. Di samping itu, masih banyak cerita lain seperti hikayat atau syair. Penulis cerita anak dalam hal ini dapat bekerja sama dengan para filolog. Apa yang ditawarkan Mataram ini mungkin (bisa) dilaksanakan: buktinya, pembicara ini telah melakukannya. 

Sementara itu, Soekanto SA yang berbicara dari sudut (kepentingan) penerbit mengutarakan bahwa dalam menerbitkan bacaan, penerbit mempunyai dua kepentingan: komersialisme dan idealisme. Berkaitan dengan idealisme, maka penerbitan bacaan tak lepas dari usaha ikut aktif mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena kebetulan pembicara ini juga seorang penulis cerita anak, maka ia banyak menyinggung juga soal cerita anak yang baik. Baginya cerita anak yang baik adalah cerita yang memberikan anak rasa senang, menghibur, dan tidak menggurui atau menjejali nasihat. Di bagian lain, Soekanto SA mengutarakan fakta yang dihadapi penerbit. Katanya, bacaan anak yang memenuhi kriteria dari segi idealisme di Indonesia ini belum sampai ke sasarannya, dalam arti buku itu kurang laku. Maka, berpalinglah penerbit ke buku-buku terjemahan. 

Demikianlah antara lain butir-butir pendapat yang penting dari tiga pembicara diskusi. Diskusi ini ternyata mendapat sambutan yang meriah. Peserta yang hadir bukan saja kaum Ibu, tetapi juga banyak dari bapak-bapak. Diskusi menjadi menarik karena dihadirkan dua pembaca cilik (anak) yang banyak memberikan informasi tentang segi-segi yang berkaitan dengan pandangan anak terhadap bacaannya. Dari wawancara dengan dua anak diperoleh informasi yang mengejutkan, dan kadang pengakuan anak yang jujur itu bertentangan dengan teori-teori yang dikemukakan (dianut) orang dewasa tentang bacaan anak, tentang kesukaan atau sifat-sifat anak. Anak ternyata suka juga terhadap cerita sedih atau cerita yang banyak nasihatnya. Keterangan ini bertentangan dengan apa yang dikemukakan Soekanto SA bahwa cerita anak harus menghibur, harus menyenangkan, dan tidak usah dibebani porpuse. Anak ternyata juga mempunyai alasan sendiri untuk menyukai jenis cerita yang bersetting desa. Seorang anak yang mengaku suka membaca cerita mahabarata mengemukakan bahwa lokasi peristiwa satu (letak kerajaan) dengan peristiwa lain yang jauh menjadi salah satu daya tarik dan alasan mengapa dia menyukai cerita itu. Mendengar pengakuan ini kiranya kita boleh menyangsikan anggapan sementara orang bahwa merajalelanya bacaan anak dari luar (terjemahan) itu dikarenakan anak lebih menyukai cerita terjemahan daripada cerita asli yang dikarang oleh penulis-penulis kita. Jangan-jangan soal itu lebih berkaitan dengan soal ongkos produksi daripada selera. 

Masih berkaitan dengan soal itu, pantas kiranya dalih Soekanto SA tentang usaha penerbitan bacaan anak dari mancanegara ditimbang kembali. Yang pantas diusut tentunya adalah betulkah usaha penerbitan bacaan anak dari mancanegara yang kini tengah merajalela itu dilandasi pertimbangan untuk menumbuhkan karya-karya asli dari pengarang Indonesia yang nantinya dapat dieskpor sebagaimana dilakukan Jepang? Inilah masalah yang pelik yang perlu dipikirkan jalan pemecahannya. Tentu, usaha penerjemahan bacaan anak sah dan tidak diharamkan, tetapi mungkin yang perlu diingat adalah porsinya. Usaha itu hendaknya jangan sampai mengancam atau mematikan kreativitas penulis dalam negeri. Sementara itu, hendaknya penulis cerita anak juga mau mawas diri dan tidak tinggal diam, cepat puas, atau menyerah. Dalam hal ini kiranya perlu didengar juga ide-ide yang ditawarkan Agung Artini Mataram untuk menggali khazanah sastra lama. Praanggapan bahwa kisah-kisah lama, kisah-kisah pedesaan, dan cerita rakyat kurang diminati anak tidak sepenuhnya benar.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »