Puisi Konkrit - Sutardji Calzoum Bachri

ADMIN SASTRAMEDIA 11/06/2019
Puisi Konkrit
Oleh Sutardji Calzoum Bachri

SASTRAMEDIA.COM - Salah satu elemen yang menyebabkan timbulnya puisi konkrit ialah ide untuk membikin kata atau bunyi menjadi berwujud dan kehadiran kata yang tidak begitu saja mau menerima susunan yang konvensional di samping huruf sebagai gambar dari kata-kata diusahakan tidak bersifat netral untuk mengantarkan kata-kata. 

Kata-kata diletakkan dalam suatu konstelasi baru yakni berupa kelompok kata-kata di mana kata-kata di dalam susunan taru bisa menimbulkan suatu kehadiran kreatif dan komunikasi baru yang intens diharapkan didapat. Tetapi tidaklah berarti susunan kata konvensional ditolak, hanya saja setiap susunan-susunan yang konvensional diuji lagi dalam kehadirannya yang baru.

Tulisan sebagai gambar dari kata-kata atau bunyi yang diusahakan secara maksimal bisa menghasilkan komunikasi yang diharapkan, bukanlah hal yang baru. Para penyair konvensional sering berhati-hati dan kadang-kadang cerewet memilih huruf-huruf dalam penerbitan sajaknya, atau memberikan huruf tertentu (huruf besar, huruf kecil, 1talics dan lain-lain) untuk kata-kata tertentu dalam sajaknya. Maksudnya agar dengan gambar kata: kata atau tulisan yang khusus itu bisa didapatkan nuansa atau aksentuasi tertentu. 

"Kecerewetan-kecerewetan” semacam ini sudah menunjukkan adanya semacam konkritisasi dari kata yang dihadirkan penyair konvensional, suatu benih yang secara teknis mengarah pada puisi konkrit.

Dalam puisi konkrit gambar atau bentuk atau simbol kata-kata atau bunyi atau tanda baca yang dimanifestasikan dalam bentuk-bentuk huruf atau tulisan tertentu bisa berperan begitu maksimal dan bisa pada akhirnya menentukan nuansa kehadiran kata yang direpresentasikannya. Bahkan pada bentuk yang paling ekstremnya gambaran kata itulah, bentuk tulisan itulah kata itu sendiri. Di sini tulisan atau huruf bukanlah hanya tidak lagi mengantarkan kata secara datar atau netral, tetapi tulisan atau bentuk huruf itu menjadi benda konkrit yang khusus seakan-akan sebuah kata baru atau benda baru yang menimbulkan komunikasi khusus atau tertentu yang diharapkan. "Coca-Cola”, “Levi's” misalnya menggunakan bentuk huruf tertentu untuk menciptakan suatu kehadiran yang unik dan khas. Memanglah unsur-unsur dari puisi konkrit banyak mempengaruhi kehidupan praktis, seperti dalam periklanan. Tetapi mungkin lebih tepat dikatakan kehidupan modernlah yang mempengaruhi dan merangsang timbulnya puisi konkrit. Abad modern menuntut komunikasi yang cepat dan padat (intens) dan puisi konkrit dengan konstelasi dan visualisasi kata-kata yang padat adalah sesuatu yang pantas untuk zaman kini dan akan datang. Jika orang menyibukkan otaknya untuk menjawab seni masa depan, saya kira puisi konkrit adalah salah satu jawabannya, Unsur terpakai (applied) yang sering dituntut jika puisi ingin eksis dalam keseharian, dan segi sofistikasinya serta misterinya bisa bersatu dalam puisi konkrit. 

Tidak seperti penyair-penyair konvensional yang hanya mempunyai kesadaran meletakkan kata-kata pada kertas folionya, para penyair puisi konkrit sadar pada situasi tertentu di mana kata-kata atau sajaknya diletakkan. Seperti telah saya tuliskan di atas, para penyair puisi konkrit sadar bahwa makna sebuah kata bisa banyak ditentukan oleh wajah huruf (tulisan) yang menghadirkannya. Kata BATU akan mempunyai makna berbeda jika huruf "B”-nya copot bagian atasnya. Penyair puisi konkrit sering menggunakan teknik pencopotan sebagian huruf untuk mendapatkan konkritisasi tertentu. Di samping kesadaran visualisasi ini, penyair puisi konkrit juga sangat sadar tempat di mana kata-kata (sajak) diletakkan. Dia tidak hanya sadar pada kertas folio tempat sajak dituliskan, tetapi bahwa sajak bisa ditulis di tempat lain dan bisa menimbulkan nuansa makna atau komunikasi yang lain. Kesadaran semacam ini penting jika sajak ingin menjadi puisi yang terpakai (applied poetry). Kata "STOP yang dituliskan besar-besar di aspal sebuah high way, akan menimbulkan komunikasi yang berbeda dengan sebuah kata "STOP” yang ditempelkan pada pantat jeans seorang gadis yang bahenol.

Situasi di mana sajak diletakkan akan bisa memberikan nuansa-nuansa tertentu bagi komunikasi estetis yang diharapkan. Sebuah puisi "O” yang saya ciptakan hanya dari satu huruf O yang saya bubuhkan pada satu sudut kanvas, akan menimbulkan nuansa komunikasi yang berbeda bila O diletakkan agak ke tengah dalam kanvas yang lain dan akan berbeda pula kalau O diletakkan lebih ke lengah dan agak ke atas pada kanvas yang lain lagi. Dan selanjutnya akan lain lagi nuansa yang didapat bila O diletakkan di pojok kiri atas pada kanvas yang lain. Dan akan lain lagi kalau O keluar dari kanvas, Dan akan lain lagi nuansa yang didapatkan kalau O masuk dan terletak dalam kanvas yang lain. Dan semua kanvas-kanvas yang terbubuh O dengan O yang di luar kanvas dalam kesatuannya akan menimbulkan suatu konstelasi yang menimbulkan komunikasi yang lain pula. 

rienn aura lieu 
     exepte peut-etre 
      une 
        constellation
           (Mallarme) 

Tak ada yang lain terjadi kecuali barangkali suatu konstelasi, kata Mallarme salah se-orang tokoh puisi ko1krit. Konstelasi ialah kelompok kata-kata dengan ordenya sendiri seperti sekelompok bintang-bintang dalam perbintangan dengan ordenya. Dalam konstelasi itu kata-kata mempunyai individualitasnya tapi juga terkait dengan kata-kata lain. Dalam ruang lingkup konstelasinya kata-kata melakukan aktivitas individuilnya sepanjang yang dimungkinkan oleh konstelasinya. 

Eugen Gomringer dalam tulisannya "Vom vers zu Konstellation. Zweck und Form einer neuen Dichtung”, dalam Konkrete Poesie, Philipp Reclam Jun. Stuttgart, yang diterjemahkan musikus Frans Haryadi, memberikan contoh bagaimana konstelasi dibikin berdasarkan enam kata Spanyol sebagai material: averidas (jalan), flores (bunga), mujeres (perempuan), admirador (pengagum, y (dan), un (suatu). Konstelasi yang disarankan Eugen Gomringer ialah sebagai berikut:

avenidas 
avenidas y flores 

Hores g 
Hores y mujeres 

avenidas 
avenidas y mujeres 

avenidas y Flores y mujeres 
y un admirador

Penyair kanvas-kanvas yang terbubuh O dengan O Penyair bisa menciptakan konstelasi berdasarkan perpaduan cara-cara mekanis dam intuitif Penyair konkrit yang lebih visual akan menekankan segi visualnya dal: m menciptakan satu konstelasi, untuk itu beberapa kata bisa terpangkas atau terpotong-potong pada pinggirnya demi visualisasi. Saya ambilkan contoh puisi konkrit dari penyair Reinhard Dohl yang ingin menyampaikan image apel (Apfel) dengan seekor ulat (Wurm) di dalamnya begini:





Apakah puisi konkrit berasal dari Barat? Kesadaran kembali terhadap konkritisasi kata-kata dalam puisi dengan tokoh-tokohnya seperti Apollinaire, Mallarme, Arno Holz, Ezra Pound, Carlos Williams, cummings, dan lain-lain dalam permulaan abad dua puluh menunjukkan Barat mengambil inisiatif pertama dalam puisi konkrit, tapi banyak diilhami huruf-huruf konkrit dari Timur. Ezra Pound misalnya tahun 1920 menerbitkan esai Ernest Fenollosa yang ditulis tahun 1908 berjudul “Chinese Written Character as A Medium for Poetry”.

Bagi saya, Mentera adalah puisi konkrit paling berakar dan orisinil yang kita miliki. Konstelasi kata-kata atau bunyi dari mentera menimbulkan bentuk yang unik yang hanya berfungsi dalam keutuhan konstelasinya sendiri dan bisa diharapkan menimbulkan komunikasi atau efek tertentu. Situasi (tempat) di mana mentera itu diletakkan (tertulis) atau diucapkan banyak menentukan sampai atau tidaknya komunikasi atau efek yang diharapkan. Mentera adalah puisi terpakai (applied poetry) yang pada masa kini peranannya antara lain diambil alih oleh puisi konkrit dalam periklanan. 

Dalam usahanya untuk mendapatkan komunikasi estetis yang kreatif dan intens, puisi konkrit tidak puas mengonkritkan dirinya secara konvensional. Apalagi kalau puisi konkrit itu bukan untuk diterbitkan tetapi untuk dipamerkan dalam suatu ruang pameran. Kemungkinan adanya dimensi-dimensi lain dan bukan hanya pada selembar kertas yang datar (flat), menyebabkan puisi konkrit menjabarkan konkritisasinya sesuai dengan dimensi yang tersedia untuknya. Maka sebuah puisi konkrit yang menyebut burung bisa dilengkapi dengan “alat peraga” berupa burung-burungan dari kertas atau burung yang benar-benar hidup (bernyawa).***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »