Rokok - Seno Gumira Ajidarma

ADMIN SASTRAMEDIA 11/29/2019
Rokok
oleh Seno Gumira Ajidarma


Rokok - Seno Gumira Ajidarma

SASTRAMEDIA.COM - Sebenarnya saya anggap adalah suatu ketelanjuran ketika saya menuliskan judul di atas. Saya tidak begitu mampu membesar-besarkan soal mengenai rokok. Pengalaman saya rokok tidaklah banyak dan yang sedikit itu pun tidaklah hebat. Saya pun bukan perokok berat. Rokok yang saya isap tidak mahal, tetapi juga tidak sangat murah. Biasa saja. Bangun tidur setelah minum kopi atau sambil minum kopi saya merokok sebatang. Keluar rumah berjalan kaki dengan tangan kiri di saku celana yang tentu saja juga bagian kiri satu batang rokok saya isap. Setelah makan siang atau makan malam, masing-masing sebatang. Sedangkan di celah-celahnya, maksud saya waktu kosong sebelum makan siang dan makan malam, tergantung dari suasananya. Sebelum makan malam, yaitu senja kata orang, saya merokok ketika sedang temaram-temaramnya. Waktu warna langit nyaris menjadi hitam, tetapi belum menjadi gelap. Ketika lampu jalanan mulai menyala dan para penyair merenungkan puisinya. Pagi hari saya biasa berkumpul dengan beberapa teman hingga dengan sendirinya asap tak henti hentinya  keluar dari mulut dan hidung. Sedangkan malam hari saya merokok sekuat-kuatnya, maksud saya sekuat kemampuan kantong saya.

Ada beberapa kebiasaan yang berhubungan dengan rokok. Sebelum merokok saya biasa memandanginya lama sekali. Kadang-kadang saya jepit di tengah dengan tangan kiri atau saya pegang dengan ibu jari dan telunjuk pada ujung pangkalnya. Tidak ada apa-apa dalam pikiran saya, kosong saja. Saya bukan pelamun, saya tidak eksentrik dan saya juga bukan seniman. Itu semua hanyalah suatu kebiasaan. Setelah rokok terjepit di mulut dengan rahang bawah yang sedikit dimajukan, saya menyalakan korek pelahan-lahan. Saya pegang bagian belakangnya, kepala batang korek saya tempelkan pada tempat yang biasa dijadikan landasan untuk menggesek (maaf. saya sungguh-sungguh tidak tahu dengan nama apa bagian itu harus diberi istilah). Kemudian dengan sedikit aksi batang korek saya sentakkan agak keras dan saya tempatkan di bawah ujung rokok, tentu saja bila api sudah menyala. Dibuang, mulut mengisap. rokok ditarik dan asap pun keluar dengan kepul yang agak luar biasa. Demikianlah proses merokok sebatang rokok itu. 

Mungkin terasa sekali oleh Anda bahwa kebosanan-kebosanan mulai merayap ketika membaca akhir cerita tentang rokok dan lebih-lebih lagi adalah begitu tidak anaknya perpindahannya ke bagian yang ini. Saya sendiri merasa bosan dengan kebiasaan saya memandangi rokok  lama-lama itu. Terlalu sering kosong tak berarti, terlalu banyak saya  membuang-buang waktu. 

Akhir-akhir ini, ketika rokok sudah menyala dan saya memandanginya, ada beberapa pikiran yang berjoget di benak saya. Saya merasakan perlambangan diri saya dan bahkan mungkin diri Anda juga ada pada rokok itu. Saya lahir dan saya mulai dibakar oleh suasana lingkungan. Beberapa peristiwa menimpa diri saya, ada juga budi yang dilimpahkan kepada saya. Akibat beberapa peristiwa, reaksi saya adalah membalas budi, akibat beberapa persoalan, reaksi saya adalah memberi kenikmatan, mungkin berkarya (dalam soal karya, saya merasa belum pernah melakukan apa-apa, mungkin Anda telah melakukannya). Karena suasana, saya menghasilkan hal-hal yang tidak enak. Sementara, waktu terus berjalan.  Menggerogoti, menghabiskan dan  menghasilkan. Saya tidak bisa berontak ke luar dari lingkungan. Berontak pun, pada hasilnya, pada akhirnya saya merasa seperti mengikuti alur jalan yang sudah harus dilalui. Suasana dan waktu menghasilkan saya, saya memberikan rasa dan asap karena itu. Akhirnya yang tinggal adalah puntung. Mungkin masih berasap sebentar. Namun keadaan mengharuskan mati. Kecuali kalau dilemparkan ke arah bensin dan bahan bakar yang lain. Diri saya yang mati masih -berakibat. Rasa yang saya tinggalkan tergantung keadaan saya. Mungkin saya adalah sesuatu yang baik, tentu saja mungkin saya juga hal yang buruk. 

Sesuatu yang aneh terpikir (eh! tidak ! tidak aneh!). Saya sedang merokok, saya sedang mengisap rokok. Saya maklum sekali, bahwa sebenarnya rokok sedang mengisap saya. Semakin dekat nyala itu ke pangkal, sudah jelas bahwa saya pun semakin mendekati akhir kisah saya. Kisah saya dalam cerita, maupun kisah saya dalam CERITA. 

Sekarang saya sering tertawa, dan saya memang senang tertawa. Saya, mungkin juga Anda, terlalu sering membesarkan persoalan. Seperti juga tentang rokok yang biasanya tetap tinggal sebagai rokok. Kita memang sedang berjalan-jalan. Dalam perjalanan itu sudah tentu bahwa kita melewati jalan. Kalau tidak, lewat mana? Lewat langit?

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »