Sang Kritikus - Pamusuk Eneste

ADMIN SASTRAMEDIA 11/27/2019
Sang Kritikus
oleh Pamusuk Eneste
Sang Kritikus - Pamusuk Eneste

SASTRAMEDIA.COM - Pagi. Ketika petugas penjara datang ke selnya, salju masih turun di luar. Salju kali ini memang agak luar biasa, sekalipun tidak sebanyak tahun lalu. 
”Hallo”, kata petugas itu, ”Steh auf”*
Tak ada jawaban. 
”Hallo!” Juga tak ada jawaban.
 ”Hallo”, katanya lagi, 
“Ich babe fur dich einen Brief mitgebracht?”**
Tak ada suara. 

Lantas petugas itu melemparkan surat ke lantai, mengunci jendela sel, dan pergi. Tubuh itu tetap diam, tak bergerak. Tergeletak di atas bale-bale, tak berkasur, dan tak beralas. Aku masih ingat — sebagai wartawan yang ikut meng-cover proses pengadilan — ketika ia diadili beberapa tahun yang lalu, tanpa tuduhan yang jelas. Waktu itu, ia baru saja tiba di tanah air, setelah studi di luar negeri beberapa tahun.

Jaksa menuduh, bahwa Sang Kritikus sudah lama tidak lagi menulis kritik. Padahal, kritik sangat dibutuhkan dalam era pembangunan. Kebetulan, dialah satu-satunya (kritikus di Republik Anuland. 

”Dulu ketika Saudara masih mahasiswa rajin menulis kritik. Sesudah sarjana, Saudara jadi melempem. Apa sebab ?” Hakim Anggota bertanya. 

Sang Kritikus diam saja. ”Betul?,” sambung Hakim Anggota II, ”tempo hari Saudara sering mengkritik pejabat-pejabat, jenderal-jenderal, korupsi, kesewenang-wenangan dan sejenisnya. Tetapi setelah Saudara studi di luar negeri, Saudara hanya menulis catatan perjalanan, tentang keluar masuk museum dan semacamnya. Mengapa begitu?” Juga tak ada komentar. 

”Saya juga heran”, Hakim Anggota III menimpali, sepulang dari luar negeri Saudara tidak lagi menulis kritik berapi-api seperti dulu, padahal negara kita membutuhkan kritik guna menunjang pembangunan bangsa dan negara. Mengapa Saudara berubah begitu drastis?” 

Aku lihat Sang Kritikus tetap diam saja. Wajahnya pun tak berubah. Tenang, tapi dingin. 

Proses pengadilan berjalan tanpa perlawanan. Semua pertanyaan jaksa, maupun hakim tak ada yang dijawab Sang Kritikus. Di samping itu, Sang Kritikus pun tidak didampingi pembela, walaupun itu haknya dan tertulis dalam  undang-undang. 

Akhirnya, Majelis Hakim memutuskan hukuman seumur hidup untuk Sang Kritikus. Yang memberatkan tertuduh ialah tertuduh merasa tak bersalah sama sekali, dan tidak ikut melancarkan jalannya persidangan. Semua pertanyaan tak pernah dijawab atau dibantah. 

”Ini merupakan penghinaan besar terhadap pengadilan di Republik Anuland ini”, ujar Hakim Ketua ketika membacakan vonis, "yang berarti juga penghinaan besar terhadap negara.” 

Siang. 

Salju masih turun ketika petugas penjara datang lagi bersama beberapa petugas lainnya ke sel Sang Kritikus. Tubuh Itu masih tetap seperti pada posisi pagi hari. Tak bergeser sedikit pun. Bisu dan beku. 

Ketika pintu sel dibuka, petugas-petugas itu membaca tulisan di balik pintu: "Tapi aku bukan pahlawan...” Di lantai berceceran darah yang sudah beku, sementara pergelangan tangan Sang Kritikus robek dan menganga. 

Salju masih turun ketika petugas-petugas itu menggotong mayat Sang Kritikus dari sel.***

Catatan
*Bangunan
**Aku membawa surat buatmu

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »