Penyair Muda Jangan Dibantai - Ahmadun Yose Herfaryda

ADMIN SASTRAMEDIA 12/11/2019
Penyair Muda Jangan Dibantai
oleh Ahmadun Yose Herfaryda



SASTRAMEDIA.COM - “Dunia kepenyairan Yogya cukup potensial dan memiliki prospek yang bagus,” kata Bakdi Sumanto, "Yogya memilki dan pernah melahirkan penyair-penyair besar seperti Kirjomulyo, Linus Suryadi AG, Emha “Ainun Nadjib. WS Rendra : ' dsb.” 

“Tetapi” lanjut Bakdi, '”untuk melahirkan penyair-penyair yang besar seperti itu membutuhkan waktu  yang lama. Butuh proses yang intens dan berliku-liku. Jadi, kita tak perlu tergesa-gesa. Keliru kalau orang terlalu menuntut penyair-penyair kecil harus seperti Linus, Rendra atau yang lain. Mereka mesti berproses dulu. Momentum kelahiran mereka pun tidak sama. Penyair besar biasanya lahir pada momen yang tepat. Linus, misalnya, melahirkan Pariyem pada saat yang tepat. Kemunculan Linus sesuai dengan history naturality. Barangkali akan berbeda jika Linus melahirkan Pariyem sepuluh tahun yang dalu atau yang akan datang." 

"Kenapa penyair-penyair besar seperti Linus dan Emha lahir pada masa Umbu dengan PSK-nya? Barangkali pertanyaan ini dapat dikembalikan pada momentum tadi. Hanya kebetulan saja Umbu hadir pada momen yang tepat. Saat akan muncul penyair-penyair besar. Katakanlah, Umbu sebagai penemu Linus, Emha dsb. Bukan Umbu yang melahirkan mereka. Umbu saya kira hanya berhasil menciptakan iklim saja, dan pada saat yang tepat pula. Coba saja Umbu dipanggil kembali ke Yogya, saya kira belum tentu melahirkan penyair-penyair besar. Di Bali sendiri sekarang Umbu sudah melahirkan siapa? Yang penting untuk Yogya sekarang ini saya kira menciptakan iklim yang dapat menyuburkan ladang perpuisian Yogya. Nantinya akan tumbuh penyair besar atau tidak, tergantung pada intensitas penyair-penyair muda yang berproses di ladang itu. Kita buka kesempatan yang luas bagi penyair-penyair muda dan pemula untuk berdialog dan menampilkan  karya-karya. Kita dorong agar mereka terus meningkatkan kreativitasnya. Ini yang penting. Mereka jangan dibantai ketika baru saja muncul. Ini akan mematikan semangat mereka.” 

“Dan satu lagi,” lanjut Bakdi, penyair-penyair muda itu harus mau belajar pada kakaknya, seperti Linus dan Emha. Belajar pada intensitas mereka, ide, dan visi mereka. Belajar lewat dialog yang memperluas visi diri. Untuk kemudian beranilah muncul dengan visi baru, atau mempertanyakan kebenaran visi kakak-kakaknya. Sebab apa artinya kemunculan penyair-penyair muda itu kalau tak ada bedanya dengan penyair-penyair sebelumnya?"

-Sumber: Masa Kini, 3 Maret 1984

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »