Sastra di Sekolah: Sedikit Lagi Catatan - Sapardi Djoko Damono

ADMIN SASTRAMEDIA 12/14/2019
Sastra di Sekolah: Sedikit Lagi Catatan
oleh Sapardi Djoko Damono


SASTRAMEDIA.COM  - Di kebanyakan Taman Kanak-kanak kita bisa menyaksikan guru mengajar murid-muridnya menggambar, menyanyi, membaca sajak, dan bercerita. Taman Kanak-Kanak bukanlah sekolah kesenian, bukan semacam akademi yang diharapkan menghasilkan seniman-seniman kreatif: namun demikian tampaknya kegiatan sehari-hari yang sangat menonjol dalam sekolah itu adalah usaha guru mendorong murid-muridnya agar mau dan mampu menyatakan dirinya dalam berbagai bentuk kesenian. 

Tentu kita buru-buru ingin menambahkan keterangan bahwa bagi murid (dan juga kebanyakan guru, mungkin), kegiatan semacam itu dianggap sebagai sekedar “permainan' dan bukan 'kesenian', apalagi kalau huruf k dalam 'kesenian' itu ditulis dengan huruf kapital. Kebanyakan guru-guru di sekolah semacam itu bukan pula seniman, bukan pula ahli seni. Namun satu hal yang pantas dicatat adalah bahwa mereka itu tidak merasa rendah diri mengajarkan kesenian: bukan karena yang diajar anak-anak kecil yang mudah “dibohongi', tetapi karena berkesenian merupakan salah satu syarat bagi anak-anak untuk menjadi anggota masyarakat -dan sudah menjadi tugas guru untuk mengajarkannya. 

Di Taman Kanak-kanak didorong untuk mengekspresikan dirinya lewat berbagai cabang kesenian: sastra, yakni sastra lisan dalam bentuk “bercerita' atau 'berpidato', dianggap sebagai alat untuk menyatakan diri. Dalam hal ini ia sederajat dengan menggambar dan menyanyi. Murid-murid tentu saja tidak pernah diberitahu nama-nama pengarang lengkap dengan riwayat hidupnya dan daftar karyanya untuk dihafal demi ujian. Sastra, dalam bentuknya yang dasar, dianggap sebagai permainan -suatu anggapan berdasarkan pendekatan yang benar. 

Namun keadaan sedemikian tersebut berubah sama sekali begitu anak-anak duduk di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Jelas bahwa anak-anak Itu datang ke sekolah tidak hanya untuk 'bermain-main” -yang bagi pelbagai pihak merupakan arti terselubung bagi 'berkesenian'. Mereka di sekolah menuntut ilmu. Bercerita di depan kelas dan membaca sajak tentu bukan ilmu: dan kalau anak-anak sudah pandai menulis, mengarang cerita atau sajak juga bukan ilmu. 

Meskipun terjadi perubahan anggapan yang menyolok terhadap sastra, di sekolah dasar guru masih suka membimbing murid-muridnya mengarang cerita —tentu ada juga yang mengarang puisi. Harap dicatat bahwa sejak sekolah dasar, sastra menjadi bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia. Kita semua menyadari bahwa bagi sebagian besar guru kerepotan dicurahkan untuk mengajar bahasa Indonesia “yang baik dan benar', itu bukan tugas yang mudah bagi guru yang penguasaannya atas bahasa nasional itu sendiri masih pantas dijadikan bahan pemikiran. 

Di sekolah menengah, sastra muncul sebagai ilmu merupakan bagian dari Bahasa Indonesia. Buku-buku sastra untuk sekolah menengah penuh dengan nama-nama pengarang, daftar karya mereka, riwayat hidup mereka, istilah-istilah sastra, dan amat sangat sedikit contoh. Bahkan murid tidak usah membaca karya asli, misalnya Sitti Nurbaya, karena sudah diterbitkan berbagai buku yang berisi ringkasan novel-novel Indonesia. Pujangga Baru, Chairil Anwar, Belenggu, personifikasi, pantun berkait, soneta, dan tema adalah serangkajan nama dan istilah yang harus dihafal sebagai syarat lulus ujian. 

Di beberapa kota besar, beberapa guru Bahasa Indonesia yang mempunyai minat terhadap! sastra mengundang sastrawan untuk berceramah di depan murid-muridnya. Usaha ini mungkin bisa membantu usaha guru-guru tersebut dalam meningkatkan perhatian anak didiknya terhadap sastra. Namun tidak jarang guru-guru tersebut juga berpendirian bahwa hanya sastrawanlah yang mampu mengajar atau membimbing murid-murid mengarang cerita atau puisi. Beberapa sekolah mungkin pernah menyelenggarakan program 'sastrawan masuk sekolah” atau memiliki guru Bahasa Indonesia yang juga sastrawan: dalam sekolah-sekolah semacam itu tentu perhatian terhadap sastra sebagai usaha menyatakan diri murid-murid lebih diperhatikan. Dengan kata lain, ada usaha sungguh-sungguh untuk menaruh sastra di tempatnya yang wajar -yakni sebagai salah satu cabang kesenian. Yakni sebagai permainan. 

Karena di hampir semua sekolah menengah guru Bahasa Indonesia bukan sastrawan, permainan tersebut tidak ditawarkan kepada murid: padahal, siapa tahu mereka menyukainya. Padahal permainan yang lain, seperti menggambar dan menyanyi, tetap ditawarkan meskipun guru menggambarnya bukan pelukis dan guru menyanyinya bukan penyanyi. Dan sebenarnya -sebagai permainan- gambar, menyanyi, dan mengarang boleh menjadi milik semua murid, yang pintar matematika maupun yang goblok berhitung, yang IPA maupun yang IPS. Tidak diperhatikannya sastra sebagai kesenian di sekolah menengah antara lain disebabkan karena guru merasa rendah diri karena bukan sastrawan, atau guru merasa kegiatan semacam itu tidak ada manfaatnya -baik bagi ujian maupun dalam kaitan-nya dengan pelajaran Bahasa Indonesia. 

Ada baiknya apabila guru-guru bahasa tidak perlu merasa rendah diri mengajar dan membimbing murid-muridnya mengarang cerita atau puisi, meskipun bukan sastrawan. Di depan kelas, yang diperlukan adalah kualitas sebagai guru, bukan sebagai sastrawan. 

Dan dalam hal 'kesenian' yang juga “permainan ini, yang penting adalah sikap memberi dorongan kepada murid. Saya yakin bahwa murid yang biasa mendapat tugas mengarang di kelas (maupun di rumah), lama kelamaan akan bisa lebih mudah menyerap sastra yang berupa ilmu yang isinya istilah-istilah dan nama-nama. Dengan mudah ja akan bisa mengenali metafora dalam sajak Sanusi Pane, misalnya, apabila ia sudah biasa menulis puisi. Dan apabila guru bisa menyadarkan muridnya bahwa mengarang itu sama gampang dan menyenangkannya dengan menggambar dan menyanyi, mund tidak akan memiliki prasangka terhadap sastra sebagai kegiatan yang pelik dan susah. Mengarang adalah bermain-main. Dan dalam mengarang, dalam bermain-main dengan bahasa, murid bisa lebih akrab dengan bahasanya, lebih mengenal seluk-beluknya, lebih menyukainya, dan lebih mudah mempelajarinya. Dengan demikian sastra, yang kreatif, akan sangat membantu pengajaran Bahasa Indonesia. Dan apabila mengarang sudah menjadi kebiasaan di sekolah, minat membaca bisa diharapkan meningkat: siapa pun yang biasa menulis membutuhkan bacaan. Dan seterusnya. 

Jadi, bagaimana kalau sekarang kita mulai lagi beranggapan bahwa sastra adalah salah satu cabang kesenian, seperti halnya menggambar dan menyanyi, di sekolah dasar dan menengah -sesuai dengan pendekatan yang telah dirintis sejak Taman Kanak-kanak? 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »