Kata Pengantar Kritik Sastra Feminis karya Soenarjati Djajanegara - Sapardi Djoko Damono

ADMIN SASTRAMEDIA 3/31/2020
Kata Pengantar Kritik Sastra Feminis karya Soenarjati Djajanegara
Oleh Sapardi Djoko Damono


SASTRAMEDIA.COM - Ini terjadi di Amerika pada tahun 1960-an. Sebuah survei menunjukkan bahwa, dengan hanya beberapa pengecualian kanon sastra negeri itu merupakan tulisan laki-laki. Bahkan ditemukan, seperti yang diungkapkan dalam buku ini, bahwa "sejumlah besar bentuk sastra, kurun-kurun waktu, bahkan berabad-abad dalam sejarah sastra Amerika, tidak menyinggung satu orang pun penulis perempuan." Hasil survei ini tentu saja menyebabkan banyak pengamat sastra negeri itu termasuk, dan tentunya terutama, kaum perempuan bertanya-tanya mengapa. Yang terjadi kemudian adalah serangkaian usaha untuk menggali kembali kekayaan sastra Amerika, membongkar untuk mengetahui jangan-jangan ada karya-karya pengarang perempuan yang penting yang tidak tercatat gara-gara, antara lain, di zaman lampau yang menentukan bermutu atau tidaknya suatu karya sastra adalah kaum laki-laki. 

Dari sana muncullah semacam gerakan di bidang kritik sastra, menyertai gerakan yang sudah ada sebelumnya di kalangan kaum perempuan, yang kemudian kita kenal sebagai kritik sastra feminis. Yang ada di hadapan kita ini adalah sebuah buku pengantar jenis kritik sastra itu, yang ditulis oleh Soenarjati Djajanegara, guru besar kesusastraan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Dari awal sudah dinyatakannya bahwa acuan utama buku ini adalah Amerika, meskipun diakuinya bahwa kritik sastra feminis berkembang juga di beberapa negeri lain seperti Perancis, Inggris, dan Australia. Bahkan sekarang ini di hampir semua universitas utama di seluruh dunia kritik sastra ini dikembangkan, baik dalam bentuk perkuliahan maupun penelitian. Penulis menyusun bukunya dengan sistematika yang jelas. Dimulai dengan penjabaran ringkas mengenai gerakan feminisme, buku ini kemudian mengungkapkan awal mula kritik sastra feminis di Amerika. Bab itu kemudian disusul dengan pengertian kritik sastra feminis dengan segenap ragamnya. Bab selanjutnya menguraikan perbedaan antara tulisan perempuan dan tulisan laki-laki, dan buku ini diakhiri dengan penerapan kritik sastra feminis, secara ringkas tetapi jelas, atas dua buah karya sastra yang tokoh-tokoh utamanya yang ditulis oleh Henrik Ibsen dan Henry James keduanya pengarang.

Kritik sastra feminis, pada hemat saya, adalah suatu gerakan yang wajar dan penting. Masalah seperti yang ditemukan oleh survei yang dilakukan di Amerika pada tahun 1960-an itu mungkin juga merupakan masalah dalam sastra Indonesia juga. Setidaknya sampai dengan tahun 1970-an, jumlah pengarang perempuan di negeri ini sangat kecil. Namun hal ini, pada hemat saya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan larangan adalah perempuan, laki-laki atau hambatan bagi perempuan untuk mengungkapkan dirinya dalam sastra. Sejak sastra modern kita berkembang pada akhir abad yang lalu, perempuan sudah menulis dalam berbagai jenis sastra, meskipun jumlahnya sangat sedikit. Baru sejak tahun 1970-an, jumlah pengarang perempuan menjadi sangat banyak, tentunya ada berbagai hal yang menyebabkan itu terjadi. Mungkin kritik sastra feminis bisa membantu kita mengungkapkan masalah itu. 

Hal lain yang perlu disinggung adalah bahwa dalam kesusastraan kita sangat banyak tokoh perempuan yang diciptakan oleh pengarang laki-laki. Contoh yang segera muncul di benak saya adalah Sitti Nurbaya, Tini, Yah, dan Tuti semuanya diciptakan sebelum kita merdeka. Sitti Nurbaya adalah ciptaan Mh. Roesli, Tini dan Yah adalah ciptaan Armijn Pane, dan Tuti adalah ciptaan S. Takdir Alisjahbana. Tokoh-tokoh yang disebutkan tadi adalah "perempuan-perempuan perkasa" (kalau boleh meminjam istilah penyair Hartojo Andangdjaja dalam sebuah sajaknya) yang berpikiran maju jauh lebih maju dari tokoh-tokoh laki-laki di sekitar mereka, yang berusaha menjawab berbagai masalah yang muncul sebagai akibat dari apa yang kemudian kita kenal sebagai modernisasi. 

Baru pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an kita mulai menemukan tokoh perempuan penting yang diciptakan oleh pengarang perempuan. Karmila, dalam novel Karmila karya Marga T, adalah tokoh perempuan yang menghadapi masalah penting dan "modern". Sementara itu Sri, dalam novel Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini, adalah tokoh yang sangat mengesankan dan penting dalam perkembangan penokohan sastra Indonesia. Juga perlu kita amati beberapa tokoh perempuan yang diciptakan oleh Aryanti dalam Selembut Bunga dan Ayu Utami dalam Saman. Dalam pengamatan selintas saya –seorang laki-laki– tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan pengarang perempuan tampak lebih merupakan "manusia perempuan" dan bukan sekadar "konsep" mengenai bagaimana seharusnya menjadi perempuan (maju). Ini baru salah satu masalah saja. Masih banyak masalah lain. 

Dan saya berharap buku ini akan mampu menolong para pengamat sastra kita dalam menggali, memerikan, menguraikan, dan mengungkapkan sejumlah besar masalah yang berkaitan dengan hubungan-hubungan antara sastra dan perempuan dalam kesusastraan kita. Buku ringkas ini ditulis dengan tujuan yang sederhana, yakni memperkenalkan kritik sastra feminis. Prof. Soenarjati Djajanegara telah menyusunnya dengan sederhana dan objektif agar bisa benar-benar merupakan pengantar bagi pembaca umum, pengamat sastra, dan mahasiswa yang berminat pada masalah perempuan.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »