Perihal Gendon dan Kawan-Kawannya - Budi Darma

ADMIN SASTRAMEDIA 3/30/2020
Perihal Gendon dan Kawan-Kawannya 
Oleh Budi Darma



SASTRAMEDIA.COM - Sastra Indonesia hampir tidak mengenal perbedaan pemain dan penonton. Pada waktu Kupluk membaca sajak misalnya, kita bisa menaruh curiga bahwa kemungkinan menjadi penyair atau kritikus sudah terbayang dalam otak Kupluk. Karena yang memisahkan pemain dengan penonton bukan fungsi, konsumen sastra Indonesia tidak pernah bertambah: begitu Kupluk tahu dia tidak mungkin menjadi pemain, dia mundur. Dan datanglah pelamar-pelamar baru. Dan pelamar-pelamar yang sudah menjadi pemain biasanya bernapas pendek - tanpa pamitan mereka mundur setelah bermain beberapa jurus, dan mereka meninggalkan sastra Indonesia atau pura-pura menjadi penonton. Dan dalam sastra tidak disediakan lowongan bagi pensiunan-pensiunan untuk menjadi pelatih seperti dalam olahraga, karena pemain sastra tidak memerlukan pelatih. Barang siapa mau menjadi pemain, maka dirinya sendirilah yang sebetulnya menjadi pelatih. Maka cepat berganti-gantianlah generasi-generasi dalam sastra Indonesia, meskipun mutu sastra Indonesia hampir tidak pernah melompat ke angkasa. 

Masih perlu dipertanyakan apakah keadaan sastra Indonesia akan berubah seandainya pemain-pemain terus main. Alasan pemain-pemain pensiun kadang-kadang berada di luar sastra. Gendon menjadi pegawai negeri, Benjol menjadi wartawan, atau Sarinah menjadi istri saudagar, terdengar enak dan masuk akal. Atau yang lebih hebat: tidak ada penerbit yang mau menerbitkan buku-buku sastra. 

Sementara kita bisa manggut-manggut mendengar alasan-alasan yang masuk akal, kita tahu bahwa dalam permainan-permainan pendek yang pernah mereka pertontonkan, kita jarang dibuat takjub. Maka alasan-alasan mengapa Gendon mundur dan kenyataan bahwa Gendon mundur dapat dijadikan teka-teki mana yang telur dan mana yang ayam. 

Mungkin saja kesempatan main beberapa jurus - dan siapa yang mengharuskan Gendon dan kawan-kawannya main beberapa jurus saja? – tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk mengerti sastra secara betul. Kesempatan yang pendek, yang disadari oleh pemain-pemain akan segera hilang -dan siapa yang menghilangkan kesempatan?-menyebabkan Gendon dan kawan-kawannya terburu nafsu untuk bercerita sebanyak mungkin. Dan cerita yang dalam sastra hanyalah alat telah berubah menjadi tujuan. Bacalah tulisan Gendon dan kawan-kawannya dan Saudara akan tahu bahwa nama cerita pendek yang sudah dipendekkan menjadi cerpen adalah cerita yang betul-betul pendek, dan novel adalah cerita yang panjang. Dan tanpa persepakatan, Gendon dan kawan-kawannya memanfaatkan kesempatan yang singkat untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, sehingga hidup biasa dianggap mematikan daya cipta. Seorang Gendon berkata: "Saya tidak akan kawin, karena kawin tidak memberi kesempatan kepada saya untuk mengabdi kepada sastra." Dan seorang Gendon lain berkata: "Saya tidak akan bekerja seperti orang-orang lain karena bekerja membunuh kebebasan saya." 

Maka maklumlah kita, begitu Gendon kawin dan bekerja, maka Gendon pun pensiun. Dan kesempatan yang pendek mendorong Gendon dan kawan-kawannya untuk bercerita mengenai dirinya. Maka lahirlah karya-karya sastra yang kurang matang karena antara pengarang dan tokohnya tidak terdapat jarak, demikian juga antara peristiwa sehari-hari dengan peristiwa dalam cerita. Karya sastra akhirnya hanya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pengalaman pribadi secara harfiah. Dengan pengamatan yang tidak tajam pun seseorang dapat mengetahui cita-cita dan kehidupan sehari-hari pengarang. 

Agaknya, bagi Gendon dan kawan-kawannya, bercerita mengenai diri sendiri kurang berwibawa apabila tidak disertai dengan ajaran nilai-nilai. Maka tidaklah mengherankan bila cerita-cerita dan ajaran-ajaran Gendon dan kawan-kawannya mirip dengan diktat tanya-jawab. Sayang, kesempatan vang pendek tidak memberi banyak peluang bagi Gendon dan kawan-kawannya untuk berbuat lebih banyak. Mereka pensiun sebelum mereka sempat belajar banyak. Perkembangan yang cepat dan tidak adanya kesempatan belajar menyialkan Gendon dan karya-karyanya: karya-karya mereka dalam waktu singkat tampak seperti tulisan remaja atau bukan tulisan sastra. 

Memang, sastra Indonesia tidak mengenal perbedaan pemain dan penonton. Setiap penonton berkepentingan untuk main dan setiap pemain berkepentingan untuk ditonton, dan masing-masing tidak dapat menganggap orang lain lebih bodoh. Seorang pengarang sastra daerah yang tidak perlu disebut namanya pernah berkata: "Saya menulis terus karena saya dapat membodohi pembaca-pembaca saya." Dan dalam sastra daerah tersebut pengarang dan pembaca memang dibatasi oleh fungsi masing-masing. 

Sayang -atau untunglah?- bahasa Indonesia cepat berkembang, keadaan-keadaan lain cepat berkembang, pelamar-pelamar baru cepat datang meskipun jumlahnya tidak banyak, sehingga seorang pengarang yang bermain di hadapan pemain-pemain lain akan cepat merasa kapan dia harus mundur. Dan kalau pemain-pemain baru pun bermain pendek, maka perkembangan-perkembangan dalam sastra Indonesia tidak sama dengan kemajuan. Sastra hanya mencatat nama-nama dan riwayat nama-nama tanpa kesempatan untuk mencatat nilai-nilai. Maka gampanglah bagi seseorang menyusun sejarah sastra Indonesia menyusun pemikiran dalam sastra. yang notabene masih muda tapi sulit.

1973

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »