Cerita Rakyat Dan Sastra Indonesia - MS Hutagalung

ADMIN SASTRAMEDIA 4/09/2020
Cerita Rakyat Dan Sastra Indonesia
Oleh MS Hutagalung

SASTRAMEDIA.COM - Alangkah gembiranya hati melihat penerbit besar yang telah mencantumkan penerbitan cerita rakyat sebagai acara dalam penerbitan buku-buku sastranya. Beberapa buku hasil usaha Ajip Rosidi, yang baru maupun berupa cetak ulang dari cerita yang telah pernah terbit seperti: Jalan ke Sorga, Ciung Wanara, Mundinglaya di Kusuma diterbitkan oleh "Gunung Agung". Suatu jumlah yang menggembirakan bila kita ingat situasi penerbitan dewasa ini. 

Kegembiraan kita bukan karena begitu indah dan bagusnya cerita-cerita yang diterbitkan itu, melainkan karena tampak masih adanya usaha untuk menggali kesusastraan daerah kita. Selain gunanya seperti diutarakan oleh Ajip Rosidi "merupakan jembatan buat saling mengerti dan secara sadar hidup sebagai bangsa Indonesia yang padu", secara langsung atau tidak langsung penggalian dan penampilan sastra rakyat itu juga akan memberikan sumbangan bagi perkembangan sastra Indonesia. Tak perlu lagi dikemukakan gunanya bagi penelitian. Kini banyak sekali ilmu yang mencoba meneliti folklore pada umumnya, cerita rakyat pada khususnya, karena kini diinsafi bahwa cerita-cerita itu tidak sekadar sebagai pelipur lara, yang diciptakan untuk perintang-rintang waktu, tetapi ternyata ia juga dapat menggambarkan hal-hal yang lebih dalam mengenai pemikiran dan perasaan serta kepercayaan suku/bangsa yang memiliki cerita itu.

Saya berpendapat bahwa di samping kita harus terbuka terhadap kesusastraan dunia, kita juga harus mengarahkan pandangan kita pada kesusastraan kita yang kaya itu. Kita harus mengakui bahwa sastra Melayu klasik yang dianggap sebagai sastra Indonesia yang lebih modern tidaklah sekaya sastra Jawa misalnya, yang menyebabkan kita barangkali tak begitu antusias untuk menggalinya lebih jauh. Kita harus mengetahui pula bahwa banyak di antara yang kini kita sebut sebagai "sastra dunia", misalnya karya-karya Shakespeare banyak yang berdasarkan cerita rakyat. James Joyce, Camus, dan lain-lain pengarang-pengarang dunia yang lebih muda, banyak mendapat inspirasi dari mitologi Yunani. Tak terhitung pula pengarang-pengarang dunia yang menggali inspirasinya dari Alkitab yang telah berusia ribuan tahun itu. 

Dari pengalaman, misalnya dalam meneliti sastra rakyat Batak ataupun sastra Jawa, saya menjadi kaget membaca cerita-cerita yang sangat orisinal dan cukup hebat. Perbendaharaan bahasa Jawa misalnya, sangat kaya dan sanggup menimbulkan variasi yang mengesankan. "Tonggo-tonggo" atau doa orang Batak maupun andung-andung (ratapan) masih perlu sekali diteliti dan đitampilkan dalam bahasa Indonesia untuk melihat kedinamikan gaya yang mendekati serapah dan penuh dengan alitrasi dan asonansi itu. Dalam cerita rakyat Batak, kita temui cerita yang lebih hebat dari Oedipus Rex, tokoh dalam cerita rakyat Batak tersebut terlebih dahulu kawin dengan saudara kandungnya, kemudian kawin pula dengan anaknya sendiri. Tentu tak terhingga pula banyaknya cerita dan hasil yang mengesankan dari daerah-daerah lain yang saya kira tiap daerah punya keistimewaan sendiri-sendiri yang kiranya akan banyak manfaatnya bila semuanya ikut mewarnai sastra Nasional kita. 

Saya kira keberhasilan Sitor Situmorang atau Iwan Simatupang dalam menciptakan kombinasi kata yang seperti bermagi, selain dari yang diperoleh dari bahasa atau sastra asing, juga rasanya dipengaruhi oleh puisi rakyat Batak yang cukup dinamis seperti yang telah diterjemahkan oleh Braasem dalam bukunya Proza en Poezie uit de Heilige Meer der Batak. Demikian juga dengan kedinamikan bahasa yang dipergunakan Mansur Samin dalam sajaknya Si Singamangaraja. Keberhasilan Ramadhan KH. untuk menciptakan sajak-sajak yang sangat merdu dalam Priangan si Jelita dipengaruhi oleh lagu-lagu Sunda. Tak usah kıta sebut lagi Rendra atau Hartoyo Andangjaya. Sapardi Djoko Damono yang banyak mendapat inspirasi dari puisi Jawa. Kita melihat pula banyak orang luar negeri dengan sangat berhasil mengolah bahan cerita-cerita rakyat seperti antara lain: Jef Last yang mengolah cerita rakyat Bali dan Norma R. Youngberg yang mengolah cerita rakyat Batak. Tak perlu lagi kita sebutkan banyaknya buku ilmu pengetahuan tentang kebudayaan kita yang ditulis oleh orang-orang asing, sehingga mungkin kita perlu mempelajari kebudayaan kita sendiri dari orang asing. Banyak skripsi mengenai sastra Nusantara di fakultas sastra dan IKIP yang tinggal di lemari saja. Banyak karangan sastrawan kita mengenai bahasa dan sastra daerah yang mungkin nanti hanya orang asing yang dapat membaca dan mempergunakannya karena kita sendiri tak punya dana dan minat untuk mengumpulkan dan menerbitkannya. Apakah kita akan terus membiarkan situasi ini? Di tengah-tengah keluhan sering ada harapan. Dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan kini bagi penelitian dan pengembangan bahasa dan sastra pada umumnya, bahasa dan sastra pada khususnya, kita masih melihat orang-orang yang tak pernah mati semangatnya. Walaupun tidak melihat keuntungan, maka ada saja penerbit yang mau menerbitkan buku mengenai bahasa dan kesusastraan.

Memang kita hanya dapat berhasil bila pendukung-pendukung sastra memiliki semangat yang terus berkobar-kobar sampai pada suatu saat penguasa kita juga insaf bahwa hal-hal yang mengenai kebudayaan dan kesenian itu, juga sangat perlu untuk pengembangan bangsa. Tentu saja jalan yang pertama ialah dengan memperkenalkan sastra daerah seperti dilakukan oleh Ajip Rosidi terhadap sastra Sunda. Tetapi yang kita harapkan bukan sampai di situ saja: kita berharap sastrawan-sastrawan kita dapat menciptakan cerita yang baru sama sekali bersumber pada cerita rakyat itu. Walaupun banyak yang mengejek Rustandi Kartakusuma dan Slametmulyana yang mengarang cerita berdasar cerita rakyat sebagai "pahlawan kesiangan", sebenarnya kita melihat kekuatan pada drama-drama itu terutama pada drama Prabu dan Putri. Kita juga melihat kekuatan tersembunyi pada drama Ayirabas alias Poerwadarminta Bangsacara dan Ragapadni. Memang kekuatan sastra akan banyak bergantung pada ciri-ciri khas kita, pelukisan "warna setempat" kita. Dalam merenungkan hal-hal di atas, saya insaf bahwa orang-orang tua kita bukanlah hanya beromong kosong apabila mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia adalah puncak-puncak kebudayaan daerah. Dan apabila kita melihat betapa pekanya anak-anak muda kita terhadap kebudayaan luar, kita ingin lagi membaca polemik besar Polemik Kebudayaan yang disusun oleh Akhdiat, untuk mencari inspirasi dalam menghadapi zaman kita ini.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »